Selasa, 26 Agustus 2008

Kepompong

Mimpi aneh itu datang lagi. Kenapa orang-orang yang dekat denganku mati dengan tidak wajar. Dicungkil dari dunia dengan paksa.

Pukul 15:30
Kukuatkan hati ke the writers' circle. Uang seribu kurogoh dalam saku jeans tua buat ibu-ibu pengemis di pasar Simpang Dago untuk mengusir sial. Tapi entah kenapa di rembang petang itu ibu dan anak-anak mereka hilang seperti ditelan waktu.

Di Reading Light sore itu masih seperti senja yang lalu-lalu. Bohlam lampu yang bernaung dalam tudung yang muram. Dua meja panjang yang mungkin telah bertahun-tahun menjadi budak. Meja dengan desain kaku dan sebuah jam dinding yang senantiasa menunjukan pukul satu.

Para kepompong datang satu-satu. Andika, aku, Indra, Erick, Nia, Uli, dll. Sambil menunggu anggota lain, Indra mengabarkan kalau ia telah bekerja sebagai editor di Jakarta. Kabar ini seperti efek domino, Andika bilang kalau ia ditawarkan bekerja di toko buku seperti impiannya. Myra kerja sebagai script writer dan Devi yang dipanggil wawancara untuk jabatan editor di penerbit pemerintah.

Pertemuan kali ini tampak tak biasa karena Erick ‘bule’ sebagai moderator mengarahkan kami untuk menganalisa sebuah novel: Twilight. Setelah Andika membaca sepenggal cerita dari dua bab yang berbeda kami berlatih menjadi ‘kritikus sastra’. Mencoba menganalisa, barangkali terdapat beberapa varian yang dapat dipilih dan dikembangkan untuk mempertajam, minimal mempercantik tulisan.

Gwyneth Paltrow: “Brad, kenalin ini anak gua.”


Dan, ya ampun! Di sela-sela itu seorang perempuan berkaca mata besar dan lebih nampak sebagai pengembira nyelonong masuk, Maknyes. Selamat bergabung! Lengkap sudah.

Nia bilang kalau latar yang dipilih kurang cocok. Seharusnya cerita vampir punya suasana latar yang agak kelam. Lalu Indra (kacamata) mengatakan kalau novel Twilight terlalu remaja. Kalau diarahkan dalam alur yang kuat dan dalam (filosofis) novel imajinatif ini akan menjadi lebih menggigit.

Lain dengan yang lain, senyum Indra mengembang saat mencium bau kaki


Si pink, Myra menemukan kalau kalimat-kalimat pengaguman tokoh perempuan yang cinta mati kepada vampir ganteng itu lebih merupakan kalimat penulis. Tokoh hanya sebagai alat untuk menumpang. Dan Erick lebih suka kalau ceritanya dibikin komedi. Sang gadis yang ceroboh dan punya sifat obsesif kompulsif jatuh cinta pada vampir.

Sementara menurut Uli latarnya tidak detail. Sama seperti Ina, Devi bilang novelnya kurang romantis. Dan Andika yang telah membaca habis novel Twilight mengatakan kalau ia sangat tidak suka jika cinta dimunculkan hanya karena fisik semata.

Oh Tuhan, hampir aku lupa, Maknyes nyerocos kalau bahasanya terlalu formal seperti orde baru. Pola kalimatnya S-P-O-K. Dan menurut dia lagi, wanita yang patah hati tuh nggak pening tapi sesak napas. 

Perkataan Andika memancing komentar. Cinta adalah pilihan. Cinta adalah wilayah rasa. Begitu kata Myra. Peserta yang lain urun rembug. Diskusi menjadi semakin hangat

Aku rasa sebaiknya para kepompong memperhatikan lingua franca. Dalam diskusi ketika hendak menyerang pendapat orang lain sebaiknya menggunakan logika kalimat bukan menyerang psikologis agar tidak jatuh dalam kesalahan logika.

Pukul 18:10
Diskusi selesai.

Ketika menulis ini entah kenapa aku bisa membaui seperti apa suasana ketika kelompok Frankfurt duduk untuk bertukar pikiran. Mereka berdiskusi, membaca, merenung lalu kembali bertemu untuk bertukar pikiran, sesekali ditemani secangkir coklat panas yang mengebul (ngomong-ngomong kemarin ada roti keju, ). Tak heran kelompok ini melahirkan Karl Marx dan Webber di kemudian hari atau Limited Group di Yogyakarta yang melahirkan tokoh-tokoh nasional sekarang, Dawam Rahardjo, Johan Effendi, Kuntowijoyo, dan pemikir pemberontak yang pikirannya melebihi jaman, Ahmad Wahib.

Mungkinkah?

Wallahu ‘allam.

Anas Gembu

Wajah Anas adalah salah satu dari wajah-wajah lama di the writers’ circle. Meskipun sudah keluar dari Universitas Islam Bandung dengan predikat sarjana, lelaki penyuka hal-hal berbau islam ini masih bisa dijumpai di kamar kos-nya di Jalan Tubagus Ismail. Bertanyalah pada Anas tempatnya berasal di Bima, Nusa Tenggara Barat, kalau anda beruntung ia akan menceritakan mulai dari perwatakan masyarakat sampai para joki kecil.


Anas ketika mengemukakan pendapat

1 komentar:

Twelve Red Monkeys mengatakan...

maknyes itu siapa sih?
gue taunya Dinyet gwihihih