Sabtu, 25 Februari 2012

Membangun Cerita Fantasi

Ada sesuatu yang berbeda kemarin (25/2). Writer's circle kedatangan tamu seorang komikus Kairo yang tinggal di Kanada, bernama Marwan El Nashar. Ia berbagi tentang pengalamannya menulis cerita fantasi dalam komik yang tentunya bisa diaplikasikan dalam karya bentuk dan genre apapun: novel, cerita pendek, thriller, romance, dan lainnya.

Sesi sharing

Pada awalnya, Marwan bercerita tentang karya yang sedang ia kerjakan dan akan ditawarkan pada penerbit. Ia memperlihatkan tentang hak cipta, ulasan per chapter, serta sinopsis cerita secara keseluruhan. Contoh sinopsis cerita itu bisa kita lihat di bagian belakang buku. Menurut Marwan, semakin pendek (misalnya lima hingga delapan baris) dan semakin to the point, maka akan semakin mudah mendapatkan perhatian penerbit . Jangan lupa memberi tanda (seperti bold) pada kata kunci dalam sinopsis.

Dari komik yang diperlihatkannya, Marwan memperlihatkan sebuah gambar yang menggunakan panel. Maksudnya agar pembaca bisa lebih fokus dan ada efek perubahan (morphing effect). Dalam karya visual seperti komik, untuk membuat sebuah efek seperti itu bisa dilakukan dengan membuat panel. Sementara di film bisa menggunakan lensa. Lalu bagaimana di novel? Tentunya permainan kata-kata dalam penggambaran, punch line, atau juga ketegangan (suspense) dapat menggambarkan efek perubahan atau efek fokus pada cerita.

Contoh kerangka karangan yang sistematis dan terogranisir

Marwan memiliki dua plot utama dengan beragam sub-plot di dalam karyanya. Sub-plot ini cerita yang paralel dengan cerita utama yang bisa dijadikan hook dan twist.  Cara agar keseluruhan ceritanya tetap berhubungan bisa dilakukan dengan menggunakan timeline, membuat kerangka karangan yang sistematis dan terorganisir. Justru kerangka karangan ini merupakan hal yang penting karena merupakan fondasi dari sebuah cerita dan tentunya agar tidak melebar kemana-mana. Dan hal yang terpenting dari membuat sebuah cerita adalah ketahui dulu akhir ceritanya.

Membangun cerita fantasi tidak mudah karena harus menciptakan sesuatu yang baru namun setting atau karakter harus terasa masuk akal. Maka penulis harus membuat cerita yang detil tetap melakukan riset jika ingin membawa isu tertentu. Marwan sendiri melakukan riset dengan membaca Al-Quran dan Injil untuk ceritanya ini.

Untuk karyanya, Marwan bisa membuat hingga 18 tokoh dengan karakter tersendiri. Wah, bagaimana caranya agar karakternya tetap kuat dan tidak membingungkan membaca? Untuk hal tersebut, Marwan memilih untuk membayangkan tokoh dengan karakter yang dekat dengan kesehariannya seperti teman atau orang-orang yang pernah dikenalnya. Setelah dari itu, ia hanya menambahkan detil-detil lainnya misalnya bagaimana tokoh berperilaku dan berkata di beragam situasi dan seterusnya. Agar lebih realistis, tentu tokoh tidak melulu memiliki sifat baik. Ia harus memiliki sifat buruk agar tetap terlihat lebih manusiawi.

Senin, 06 Februari 2012

Susu

Hari ini (04/02) berbeda. Kursi-kursi di Reading Lights sudah diatur sedemikian rupa, microphone serta kabel bertebaran di pojok ruangan. Hari ini hari yang berbeda karena Reading Lights akan mengadakan coffee sharing yaitu membahasa tentang kopi serta perjalanan kopi di Reading Lights sebagai coffee corner. Saat saya datang, salah satu pegawai bilang bahwa sudah ada Theo (penyiar radio MGT FM) di belakang. Theo, yang pernah ikut beberapa sesi writer's circle, akan membawakan acara hari ini.


Sementara orang-orang mulai berdatangan dan suasana semakin ramai, sebuah kelompok kecil yang dihadiri Farida dan Fadil sedang sibuk menyalin dan membicarakan film. Setelah Dani, Sabiq, dan David Hutahuruk datang, akhirnya kami mulai sesi nulis dengan tema 'susu' yang ditulis Dani. Alasan Dani mengambil susu sebagai tema adalah ia melihat booth susu Greenfield di depan Reading Lights yang menjadi bagian sempurna dari kopi produk Reading Lights yaitu capuccino.

Susu sebenarnya tema yang gampang-gampang susah. Membikin cerita tentang susu yang biasa itu gampang, tapi membikin cerita tentang susu yang out of the box atau luar biasa itu sulit. Buktinya beberapa peserta agak kesulitan mencari wangsit ketika waktu 30 menit sudah ditetapkan untuk membuat satu cerita selesai. Bahkan Sabiq yang sudah mondar mandir, bakar rokok, baru bisa membuat cerita saat 15 menit telah berlalu.




Saya yang membacakan cerita pertama kali karena enggan dapat giliran terakhir. Saya menulis kisah tentang seorang pemuda tanggung bernama Hasyim yang sedang memerah susu sapi. Saat memerah susu sapi, pikirannya membayangkan ke fase kanak-kanak dan membayangkan air susu sapi ini sebagai air susu ibunya. Keinginan infantil ini bisa dibaca lebih lanjut di blog saya.

Dani menulis tentang kisah yang belum jelas bercerita tentang apa dan mau dibawa kemana. Bercerita dengan setting (yang boleh dipersepsikan) penculikan, seorang perempuan bernama Dira dipaksa untuk meminum susu oleh seorang lelaki. Akhirnya ia meminum susu itu sambil bertanya-tanya dia ada dimana, sedang apa, dan mau apa. Lalu lelaki berbeda datang mengganti segelas susu baru. Kesal karena tidak boleh keluar, Dira melempar gelas susu yang baru tersebut kemudian ia meronta sehingga perlu ditenangkan oleh kedua susu tersebut hingga ia pingsan. Saat terbangun, gelas susu ke tiga sudah hadir tepat di depan matanya.

Sabiq menulis tentang dua orang bernama Kemarau dan Hujan. Dengan deskripsi yang detil tentang latar belakang setiap karakter, mereka dipertemukan secara sengaja dengan kejadian-kejadian yang selalu bikin mereka bersama oleh suster yang menyusui mereka saat di rumah sakit. Singkatnya, Sabiq bercerita tentang fenomena saudara sesusu.

Berbeda dengan Sabiq yang begitu naratif, David menuliskan cerita dengan senjata utamanya: dialog. Ia bercerita sebuah percakapan antara manusia bernama Pak Dasep dengan kuda yang sedang diperahnya bernama Horsi. Setelah bercakap-cakap dengan Horsi dan juga Miun--seorang anak SD--mereka pindah kandang selanjutnya untuk melanjutkan percakapan perbedaan sapi, kuda, dan domba.

Perpaduan narasi dan dialog dibawakan oleh Farida. Ia bercerita tentang pasangan suami istri dimana sang istri menolak menyusui anaknya karena enggan badannya rusak. Jika alasannya protein, sang istri memilih memberikan anak tersebut dengan susu sapi yang dijual di toko-toko. Perdebatan yang menarik antara suami dan istri yang menyentil logika ini bisa dibaca langsung di blog-nya Farida.

Fadil membacakan awal ceritanya dengan suasana murung, terutama deskripsinya yang membuat kemurungan semakin nyata. Diceritakan tentang seorang remaja perempuan yang sedang memandang cermin dan merasa tidak suka dengan dirinya karena ia merasa tidak sempurna seperti Mia, teman sekelasnya cantik, pandai olahraga, punya banyak teman, dan sempurna. Kemurungan berakhir ketika ibunya menyuruh ia mengambil segelas susu panas dari ibunya. Susu adalah pelengkap pola makan yang membuat kita sehat dan sempurna--terngingat ucapan gurunya di pikiran si tokoh. Setelah susu diteguk, ia merasa sempurna.

Kekayaan gaya menulis (dialog, deskripsi, narasi) pada setiap peserta mencerminkan kekayaan yang terkandung dalam susu secara harfiah atau filosofis. Maka, pertemuan ini mencerminkan bahwa hal keseharian yang biasa ditemui juga bisa menjadi ide kepenulisan itu sendiri.

Untuk pertemuan minggu depan (Sabtu, 11/02) Fadil akan menjadi fasilitator dengan membawakan potongan cerita pendek dimana peserta harus membuat kelanjutan ceritanya. Bagi yang ingin mengikuti workshop, silahkan datang pukul 16.30 di Reading Lights. Tanpa syarat dan tanpa bayaran. Sampai jumpa minggu depan!



Nia Janiar

Jumat, 20 Januari 2012

Rohani dalam Tulisan


Kira-kira sudah jam 16.00 kala itu, ketika saya sampai di Reading Lights. Belum ada tanda-tanda kehidupan dari anak-anak Reading Lights Writer’s Circle (RLWC). Tak satupun anggota klub yang telah menunjukkan batang hidungnya. Jangan diartikan secara harfiah lho, kalo cuma batang hidungnya yang nongol, ya, percuma aja nggak bakalan bisa nulis juga.

Wah, jangan-jangan, nggak ada kegiatan nih, atau mungkin pindah tempat, pikir saya. Maklum, sudah terlalu lama tidak datang jadi, nggak tahu soal pengumuman apapun. Saya memang sudah terlalu lama membolos dari klub yang baik hati ini karena tak pernah memecat anggotanya yang doyan membolos, hehehe.

Entahlah, mungkin mereka sedang sibuk dengan kegiatan lainnya padahal, cuaca lagi bagus-bagusnya, dan tidak ada macet berkepanjangan sama sekali. Lama menunggu, Sabiq pun tiba tentu lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak hanya batang hidungnya. “Belum pada dateng, nih?” tanyanya. “Belum nih, kacau.” “Wah, gimana nih, nggak ada ide, euy.” “Tauk, deh.” Parahnya, orang yang biasa jadi fasilitator, tidak ada yang bisa hadir semua. Nia, sedang ada kegiatan di Jakarta, Andika juga tidak bisa hadir. Wah, galau cuman berdua doang. Jadilah kita membentuk band The Galauers kalau hanya berdua, alamat main catur ini, sih…

Menurut Sabiq, rekannya ada yang mau ikutan bergabung dengan klub. Jika temannya itu jadi datang, kita sepakat untuk memulai kegiatan. Sekira pukul 5 sore, rekannya yang bernama Audry itu, tiba. Sembari menunggu kedatangan anggota lainnya, biasalah, ngobrol-ngobrol perkenalan dan tak lama, Sapta pun datang. Suit suit, cieh, cieh tak seperti biasanya, Sapta rapi banget sore itu pake kemeja, dimasukkin lagi. Udah gitu, pake sepatu lengkap dengan kaos kaki yang matching sama warna sepatunya. Katanya sih, resolusi 2012, tampil rapi. Okelah kalo begitu…

Seperti biasa, jika belum ada tema untuk menulis, maka, sistem yang dipakai adalah sistem “Dikocok Tegang”. Eits, jangan berburuk sangka dulu ya, maksudnya, setiap peserta diharuskan menulis tema di sepotong kertas, kemudian, diundi dengan cara dikocok. Lalu, timbul perasaan tegang, harap-harap cemas, tema siapa yang akan dipilih untuk dijadikan bahan menulis. Ya, betul sekali, sistem yang dipakai mirip dengan sistem arisan. Setelah melalui proses undian, yang terpilih adalah tema dari Sabiq yaitu, rohani.

Sesuai dengan proses undian, maka, berturut-turut peserta membacakan karyanya. Peserta yang mendapat giliran pertama membacakan karyanya adalah, Audry, The New Rookie of the Year. Audry menulis tentang kegiatannya yang dilakukannya saat dini hari ketika semua orang sudah terlelap dan menurutnya, mengasyikkan karena ia bisa lebih ‘khusyuk’ karena heningnya suasana. Kurang lebih sih, begitulah. Sorry ya, kalo salah dan terlalu banyak interpretasi hehe. Jika ditinjau dari susunan kata dan tata bahasanya tulisan ini pada prinsipnya, baik. Saya sependapat dengan komentar Sapta kalo tulisan Audry itu lebih mirip seperti jawaban dari pertanyaan”Describe yourself.” Yah, selalu ada awal dari sesuatu. Kali ini, kita maafkan lain kali, jangan begitu, ya hehe bercanda kok, Audry, tenang aja. Jangan kapok untuk datang ke mari ya, Bos!

Sapta mendapat giliran selanjutnya. Tulisan Sapta menurut saya adalah tulisan yang paling bagus di antara peserta yang hadir, nggak percuma deh, kemeja dimasukkin (hehe, apa hubungannya?). Yang menarik dari tulisan ini adalah, karena tokohnya malaikat, suatu sudut pandang yang baru. Dikisahkan kalau sang malaikat, sedang mengawasi dunia dari kejauhan. Saya suka dengan tulisan ini karena banyak analogi-analoginya, pengandaian-pengandaiannya tapi, tetap mudah dipahami. Akhir ceritanya juga tidak mudah ditebak. Inti dari cerita ini adalah orang suka sekali mengambil dan menerapkan sesuatu dan menjiplak mentah-mentah tentang apapun termasuk agama, tanpa memperhatikan apakah hal tersebut cocok untuk diterapkan katakanlah di Indonesia, misalnya. Bagusnya lagi, ceritanya membuat orang untuk penasaran untuk membacanya sampai selesai dan sehabis membaca, barulah orang tahu kalau si tokoh adalah malaikat. Well Done, dude! Hei, penonton kok, pada diem aja? Tepuk tangannya mannaa? Jangan bengong aja, ayo, kita elu-elukan Sapta, “Elu, elu, elu!”

Berikutnya, sang pencetus ide, Sabiq. Inti ceritanya adalah seorang ibu yang anaknya tertular virus HIV AIDS karena diperkosa seorang pria pengidap pedofili. Awalnya, perasaan sang ibu bercampur-baur antara kesal dan sedih atas kejadian anaknya tersebut. Namun akhirnya, sang ibu tetap mengupayakan yang terbaik bagi kesembuhan anaknya tapi, sang anak tetap tak terselamatkan nyawanya. Prinsipnya, cerita ini bagus mungkin hanya perlu perbaikan sedikit dan juga sedikit riset tentang masa inkubasi virus HIV AIDS.

Terakhir, adalah cerita karangan saya. Inti ceritanya, tentang seorang perempuan yang hendak melakukan penebusan dosa karena ia berzinah dengan pacarnya kepada pendeta di bilik pengakuan dosa. Bukannya mendapat pencerahan, ia justru disuruh kembali berzinah dengan pacarnya itu. Alasan sang pendeta karena di manual hanya tercantum sanksi berupa denda jika telah dua kali melakukan perzinahan sementara, sang gadis baru melakukan satu kali perzinahan. Jangan serius kali coy! Ini benar-benar murni gurauan belaka. Maaf berribu maaf jika ada yang tersinggung tidak ada maksud apa-apa kecuali hanya untuk melucu, melemaskan urat syaraf yang tegang.

Sekian dan sampai jumpa. Salam!



Satyo Aji Karyadi, lebih akrab disapa Aji, adalah peserta writers' circle yang kedatangannya paling sulit diprediksi. Kadang ia datang setiap minggu, tetapi kadang-kadang ia lama tidak muncul hanya untuk muncul lagi dan membuktikan kebertahanannya. Pria tinggi dan berkacamata ini sebetulnya pendiam, tetapi ada tiga fakta yang patut diketahui tentangnya. Pertama, Aji telah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Kedua, seperti yang diakuinya, Aji suka menulis tentang politik dan sepak bola (Kadang-kadang tajuk tulisan politiknya cukup ajaib.

Minggu, 15 Januari 2012

Dogma


Pertemuan pertama RLWC di tahun 2012 (sekaligus pertemuan ketiga saya setelah berbulan-bulan tidak nongol) dimulai dengan tema ‘Dogma’. Apakah dogma itu? Jujur saja, saat mendengar kata itu yang pertama kali saya pikirkan adalah Gereja Kristen di abad pertengahan. Di abad pertengahan setiap perkataan Sang Pendeta adalah sabda Tuhan yang absolut. Tidak mempedulikan rasionalitas. Yah, itulah salah satu versi dogma. Sebuah kepercayaan atau doktrin yang mempunyai kekuasaan atas suatu kelompok dan tidak boleh dipertanyakan. Versi dogma yang lainnya adalah, ‘pamali’ atau ‘saru’ dalam Bahasa Jawa.

Kak Sapta yang mengutarakan tema tersebut, adalah yang pertama untuk membacakan ceritanya. Tentang seorang gadis Sunda yang menikah tanpa restu orangtuanya. Gadis tersebut bersama suaminya mencoba untuk mempunyai anak, tapi sang gadis tak kunjung hamil. Sampai akhirnya sang suami merasa muak dan menuduh istrinya mandul. Alhasil, dia sering membawa wanita pulang untuk dihamili dan istrinya hanya bisa pasrah. Setelah berhasil menghamili salah satu wanita yang dia bawa pulang, dia pun menceraikan istrinya. Perempuan yang dulunya adalah bunga desa itu, langsung mengalami ‘breakdown’ (apa bahasa sunda-nya yah? Hm...) dan mengutuk tuhan-tuhan yang disembahnya. Setelah dia tertidur di tempat pertapaan, tiga orang yang lewat tertarik pada tubuhnya dan langsung memperkosanya. Dia pun hamil, membuktikan bahwa dia tidak mandul. Tetapi anaknya yang sekarang sudah dewasa meninggalkannya karena tidak tahan dengan ibunya yang selalu diam setiap kali sang anak ingin mengetahui siapa ayahnya.

Cerita kedua adalah milik Kak Angie. Masih bertokoh utamakan seorang gadis desa. Gadis tersebut selalu mempertanyakan ‘pamali-pamali’ yang diberitahu orangtuanya. Dia ingin tahu kenapa ini tidak boleh dan itu dilarang. Akhirnya dia tidak tahan dan pergi ke kota bersama saudaranya dari kampung lain. Awalnya dia senang tinggal di kota, sampai akhirnya dia mengetahui bahwa tempat itu tidak selalu gemerlap. Dia bekerja sebagai pembantu, berkali-kali diusir karena kesalahan kecil, dan majikan lelakinya sudah sering menggodanya. Akhirnya dia pun menyadari bahwa pamali yang ditanam di dalam dirinya sejak kecil adalah untuk melindunginya, dan gadis itu sangat menyesal sudah meninggalkan Desa Badui tempat asalnya.

Selanjutnya Kak Farida yang membacakan cerita. Seorang wanita akan dihukum rajam dan tidak ada seorang pun yang mau mendengarkan pembelaannya. Yah, karena dia adalah seorang wanita. Dia dituduh berselingkuh dengan pria lain. Cerita ini ditulis melalui sudut pandang tetangganya yang tahu bahwa sang wanita tidak bersalah dan suaminya berbohong tentang perselingkuhannya. Hal itu karena suami wanita yang akan dihukum ingin mengambil hartanya dan menikahi wanita lain. Bagaimana tetangga tersebut bisa tahu? Karena dialah wanita yang ingin dinikahi sang suami.

Nah, makin lama makin tragis, inilah cerita dari Kak Riri. Lagi-lagi tokoh utamanya adalah seorang gadis. Orangtuanya sudah meninggal sejak kecil dan dia diurus oleh pamannya. Di mata orang lain, dia adalah paman baik hati yang mau mengurus keponakannya. Sementara di mata si gadis, dialah orang bejat yang merampok keperawanannya tiap malam (eh, tunggu, emang keperawanan bisa dirampok berkali-kali yah?). Dia sudah berkali-kali ingin membunuh si paman, tapi tidak pernah dilakukannya karena agama yang dianutinya mengatakan bahwa dia tidak boleh mengambil nyawa orang lain. Maka dia pun mengambil nyawanya sendiri, walau dia tahu itu pun dilarang oleh agama, setidaknya dia tidak harus hidup dicerca.

Yang terakhir adalah puisi buatan saya sendiri (dundundun!). Tidak tragis seperti yang sebelum-sebelumnya, tapi tetap tentang dogma. Karena yang pertama kali saya pikirkan adalah agama, maka saya membuatnya memakai sudut pandang seorang anak yang tumbuh di lingkungan yang sangat kental elemen agamanya. Anak itu mempertanyakan apa yang dianggap para orang dewasa normal, dan dengan rasionalitas pula. Tapi para orang tua yang bingung dengan pertanyaannya malah menyuruh anak itu untuk diam dan mengikuti semua apa adanya.

Kesimpulan:

Cerita Kak Sapta dan Kak Angie adalah tentang pamali, dan bahwa pamali itu sebenarnya dibuat untuk melindungi kita.

Puisiku dan cerita Kak Farida mengambil dari sudut agama, dan bahwa kita pun harus rasional mengenai dogma.

Dan cerita Kak Riri... err, walau sama-sama tentang agama tapi take-nya beda yah? Unik dan yang paling bikin merinding. Mengambil masing-masing sudut pandang dari kedua type di atas dan menyatukannya.

Setelah pertemuan itu, saya berpikir bahwa dogma pun bisa diterima, tetapi kalau menerimanya tanpa bertanya dan berpikir rasional, maka kita semua adalah orang bodoh. Yup, inilah jurnal pertama saya di blog ini. Terima kasih sudah memberikan kesempatan!




Destiyara Putri

Minggu, 08 Januari 2012

Apa yang Kamu Lihat?


Dalam tes Psikologi, ada tes Rorschach dimana kamu melihat pola percikan tinta tertentu dan menyebutkan apa yang kamu lihat dari gambar itu. Katanya, itu bisa menunjukkan siapa dirimu.
Mungkin itu juga yang terjadi pada sesi Reading Lights tanggal 24 Desember 2011. Sebetulnya tidak tepat seperti itu juga, karena saat itu, dengan Uli sebagai fasilitatornya, para penulis melihat sebuah katalog lukisan. Kemudian, setiap orang menuliskan lukisan favoritnya pada selembar kertas. Kemudian Uli mengambil satu kertas, dan nama lukisan yang tertera di kertas itu yang dipilih.

Lukisan yang terpilih berjudul “Gazing at the sunrise”. Ada sebuah pelabuhan, dengan aktivitas berbagai orang di sana. Ada yang berdagang, tidur, melamun, dan sebagainya. Peserta bisa menulis apa saja yang ingin mereka tulis berdasarkan interpretasi mereka tentang lukisan itu. Mungkin saja, apa yang mereka lihat akan menunjukkan seperti apa diri mereka :p

Jadi, inilah tulisan-tulisan yang akhirnya dibuat:
Nama penulis
Isi tulisan
Apa yang mereka pikir?
Bagian tulisan yang diambil
Kiki
Deskripsi tentang desa Majapahit, aktivitas secara garis besar.
Seperti deskripsi awal sebuah cerita.
Sepertinya keseluruhan isi lukisan, pelabuhan dan sejarah, dan aktivitasnya.
Sapta
Kehidupan di pasar melalui sudut pandang matahari. Menceritakan karakter-karakter di pasar.
Deskripsi karakter dan twist yang tidak disangka dipuji.
Karakter-karakter yang ada di lukisan.
Uli
Nelayan yang berada di situasi hidup mati, dan akhirnya membunuh temannya. Dia takut mati dan akhirnya menghindari malaikat maut dengan melakukan kejahatan.
Bagian gantian kayu saat terapung di laut mengingatkan pada Titanic.
Nelayan.
Regi
Di pantai kota, Aini yang tinggal di sana, diajak menikah. Tapi pasangannya ternyata gay.
Romantis tapi seperti sinetron.
Cewek berkebaya.
Rey
Peringatan tsunami, tentang anak yang berkabung atas kematian ayahnya.
Menarik karena dekat dengan Indonesia.
Tidak tercatat, nampaknya keseluruhan kesan tentang kapal, atau anak dalam lukisan
Sabik
Tentang istri yang cerita tentang kehidupan orang-orang yang ditinggal suami penjual ikan yang sudah meninggal.
Bagus deskripsinya.
Mbok-mbok yang sedang duduk menatap matahari.
Nia
Ada hujan angin besar, ayahnya sedang melaut dan karakter utama takut. Terakhir ayahnya pulang.
Lupa tidak tercatat, maaf T_T
Anak kecil dan ibu-ibu mendatangi bapak-bapak yang membawa keranjang.
Farida
Anak SD yang mempertanyakan arti dari ibunya yang melihat matahari ketika sedang sedih.
Dipertanyakan apakah itu asli anak SD atau flashback.
Keseluruhan ide tentang orang-orang yang menatap matahari.
Mahel
Orang yang dianggap gila dan memperingatkan ada badai yang akan datang
Senang dengan cerita yang kita menebak-nebak apakah seseorang benar-benar gila atau tidak.
Impresi keseluruhan dari lukisan

Jadi seperti itulah. Akhirnya sesi menulis selesai sekitar pukul 7 malam dan saya pulang duluan karena sudah ada janji, jadi tidak tahu ada apa setelah itu :p




Farida Susanty adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran yang kecanduan siaran televisi berlangganan. Gadis serius ini tubuhnya akan terpaku di depan televisi apabila ada film-film seru di channel HBO. Genre film favorit Farida beragam di kisaran indie, teen-flick, drama, dll. Meskipun membenci klise dan pretentiousness, gadis yang besar di Tasikmalaya sudah menelurkan 4 buah buku yaitu Dan Hujan Pun Berhenti, Karena Kita Tidak Kenal, serta dua antologi. Kunjungi blognya http://lovedbywords.tumblr.com/