Jumat, 23 Maret 2012

Meneruskan Cerita dari Ronggeng Dukuh Paruk

Sabtu sore di Reading Lights, banyak juga orang yang datang untuk menulis. Selain saya, ada Dea, Nia, Farida, Indra, Sapta, Dani, Sabiq, Audrey, dan Almer. Beberapa dari mereka baru saya kenal, sementara yang lain sudah bertahun-tahun. Dan ketika sejumlah teman sudah lama tak saya jumpai, saya berjumpa dengan yang lain beberapa kali dalam seminggu. Kami semua menghadapi tantangan menulis yang sama: membuat cerita meneruskan sebuah paragraf.


Paragraf pembuka cerita kami dicuplik dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sedang dibaca oleh Nia. Saya belum membaca buah pena Ahmad Tohari tersebut, tetapi saya ingat pernah membaca resensinya beberapa tahun silam saat novel yang mulanya terbit dalam tiga buku ini mulai diterbitkan dalam satu buku. Sampulnya oranye, si peresensi tak kehabisan kata-kata sanjungan. Tahun lalu rilis film Sang Penari yang terinspirasi dari cerita Dukuh Paruk. Saya sempat menonton lalu pulang dengan perasaan kagum dan senang. Ronggeng Dukuh Paruk yang dibawa Nia pada hari itu adalah edisi terbaru, yang mana sampulnya bergambar aktor dan aktris dari film Sang Penari. Tanpa berpanjang-panjang lagi, beginilah paragraf yang mengawali cerita kami:

Salah satu gubuk yang tersisa ketika terjadi kebakaran besar di Dukuh Paruk terletak hampir terkurung rumpun bambu. Isinya seorang nenek yang kini tak pernah lagi membuka matanya. Dia hanya bergerak bila ada yang mengangkat tubuhnya agar segala kotoran di bawahnya dapat disingkirkan. Sudah lima hari nenek Rasus tidak makan atau minum apa pun. Orang-orang Dukuh Paruk bergantian menjaga nenek yang dipercaya sudah hampir ajal itu. 

Setelah Nia membacakannya beberapa kali, segera kami berkutat dengan bolpen dan kertas masing-masing. Dea selesai ketika tangan kebanyakan dari kami masih sibuk mencari titik terakhir. Gagal memikat Dani jadi teman bicaranya, Dea pun membalik kertas dan mulai menggambar. Tak seberapa lama, ponsel Nia berdering. Waktu menulis sudah habis. Sekali lagi Dea jadi yang pertama membacakan tulisannya yang singkat tetapi menyentil:

Padahal maksud pembakaran gubug itu adalah “membakar semangat”. Tapi mungkin segala sesuatu yang tidak diperhitungkan kadarnya akan membawa dampak yang berbeda, bahkan bisa jadi sebaliknya. Karena terlalu lama dan dengan api yang terlalu besar, upaya “bakar semangat” pada gubug menimbulkan kegosongan. Akibatnya semangat yang harusnya membara dan menghidupkan malah mendekatkan Nenek Raus pada kematian. Ia jadi tak lagi punya cukup semangat untuk bergerak atau membuka mata sekalipun.

Sambil menjaga nenek, Rasus menangis tersedu-sedu menyesali tindakannya yang kurang berhitung. “Neneeek ... ketika membakar gubug ini aku hanya ingin membakar semangatmu. Aku ingin engkau sehebat Titik Puspa atau Laila Sari … “

Gambar di balik kertas Dea, gambar Rasus?


 Disentil Dea, yang lain tak mau kalah ingin cepat-cepat membaca. Dani pun membacakan ceritanya dengan suara sedih. Tulisan Dani merupakan monolog dari sudut pandang sekumpulan penduduk yang memandang penuh sesal ke arah kampung mereka yang telah dilalap api. Sebelum membaca, Dani menyatakan bahwa ceritanya bernada galau. Namun pada akhirnya hanya saya yang berpikir demikian. “Tapi terlepas dari galau/nggak galau gue tetap suka tulisan lu,” komentar Dea.

Sapta menawarkan diri membaca selanjutnya. Dikisahkah Abbas adalah seorang pemuda yang mendapat giliran menjaga nenek Rasus karena kebetulan sedang menganggur. Begitu Abbas menjejakkan kaki di dalam gubuk nenek, kata yang tiada henti didengarnya adalah “Haus … haus … haus ….” Mulanya Abbas merawat nenek Rasus dengan perhatian. Pemuda itu bercerita kepada nenek tentang perempuan yang akan ia nikahi. Nenek Rasus pun melihat Abbas tidak seperti melihat warga lain yang menjaganya. Akan tetapi, ketika datang seorang warga desa yang memberitahu Abbas bahwa gilirannya menjaga nenek diperpanjang, Abbas mengabaikan kata “Haus … haus … haus ….” Ketika kata-kata itu tidak lagi terdengar, Abbas memukul kentongan mengabarkan warga desa bahwa nenek sudah meninggal. Ia lantas bersiap menikahi perempuan idamannya.

“Ceritanya lengkap,” puji Indra. “Ada karakter, plot, dan ending.” Saya menyetujui. Farida menyukai cerita ini karena plotnya digerakkan tindakan karakter. Namun Audrey tidak suka karena menganggap logikanya tidak masuk. Dalam paragraf pengawal cerita, digambarkan sebagian besar rumah di Dukuh Paruh sudah rata dengan tanah. Ia membayangkan lingkungan di sekitar desa itu sudah dalam keadaan nol, di mana tidak ada kehidupan sehari-hari seperti pernikahan atau pekerjaan. Tanpa ada lapangan kerja, Audrey percaya yang menganggur seharusnya bukan hanya Abbas. Kritik Audrey ini menarik, karena justru menunjukkan perbedaan interpretasi masing-masing peserta terhadap paragraf paragraf pembuka cerita.

Perbedaan ini bisa dilihat ketika membandingkan cerita Nia dengan cerita Almer. Ketika mendengarkan Nia membacakan tulisannya, saya menangkap bahwa ia terpengaruh latar cerita yang sudah dibacanya. Dalam cerita yang berfokus pada nenek ini, Nia tidak lagi detil menggambarkan Dukuh Paruk, ia hanya menulis, “Rasus pergi meninggalkan kebobrokan Dukuh Paruk.” Sapta pun merasa terkhianati karena sebelumnya tak tahu bahwa Rasus bukanlah nama nenek, melainkan nama cucunya. Sebaliknya pembacaan Almer mengejutkan semua orang karena nenek Rasus dalam ceritanya digambarkan segar bugar. Nenek Rasus tidak mau dirawat warga bahkan mengajak berdebat seorang warga yang apes mendapat giliran. Almer menulis serta membacakan perdebatan ini dengan baik. Di satu sisi perdebatan antara Nenek Rasus dengan protagonis Almer terasa absur karena tidak mungkin terjadi di Dukuh Paruk. (“Gua rasa terjadinya mungkin di Jerman,” ujar Dani. “Soalnya logika-logika neneknya, mirip logika Heidegger.” “Hai, seger,” sahut Dea.) Namun di sisi lain, ini termasuk momen menyenangkan  writer's circe: ketika sebuah tantangan menulis memunculkan sebuah tulisan yang lain dari tulisan peserta lainnya. Meskipun - secara halus - Indra mengatakan bahwa pesan-pesan dalam dialog Almer dapat juga disampaikan dengan tak begitu tersurat, tulisan Almer menjadi personal favorite saya pada sore itu.

Berikutnya saya ingin membandingkan cerita Sabiq dengan Audrey. Masing-masing menunjukkan potensi, walaupun sore itu keduanya kurang luwes menggulirkan cerita. Sabiq mengaku sebelum sesi menulis ia memiliki ide menulis tentang badut. Walhasil, Sabiq menulis tentang seorang warga Dukuh Paruk yang menjadi badut setelah mendapat saran dari nenek Rasus. Sebetulnya cerita Sabiq cukup masuk akal, tetapi kurang ada greget atau penggambaran yang logis bagaimana itu bisa terjadi. Tulisannya pendek, kalimatnya banyak bersifat narasi, ketika selesai di benak saya muncul pertanyaan, “Lho, sudah beres lagi?” Begitupun dengan cerita Audrey yang berawal dari ide yang rumit. Audrey menulis tentang pertentangan warga dalam memaknai tradisi Ronggeng Dukuh Paruk. Banyak jeritan dalam dialog Audrey. Padahal dialog menjerit (jeritan yang bersahut-sahutan) cukup sulit dilakukan di writer's circle. Selain karena kita membacakan tulisannya sendiri, dialog menjerit perlu didahului latar belakang cerita untuk menjelaskan mengapa dialog itu diperlukan.  Biasanya penggambaran latar belakang yang jelas sulit dilakukan dalam setengah jam sesi menulis. Padahal tanpa itu, dialog semacam ini jadi kehilangan maknanya. Audrey mengaku ceritanya terpengaruh resensi Ronggeng Dukuh Paruk yang dibacanya di majalah Tempo beberapa waktu silam.

Apabila dalam menulis perhatian kebanyakan dari kami tertuju pada nenek Rasus, Rasus, atau warga yang mendapat giliran menjaga nenek Rasus, perhatian Indra tertuju pada kebakaran yang terjadi di Dukuh Paruk. Alih-alih dialog, cerita Indra banyak menggunakan kalimat berita. Ceritanya jadi seperti wacana. Alasan Indra adalah ketika sesi menulis dimulai ia sempat menanyakan di mana letak Dukuh Paruk. (“Jawa,” jawab entah Nia atau Dea.) Rupanya Indra merasa tidak percaya diri bisa menulis dialog berbahasa Jawa. Padahal dalam novelnya dialog sebagian besar justru menggunakan bahasa Indonesia dengan sedikit selipan bahasa Jawa. Seperti komentar Dani, Indra benyak berfilosofi. Begini ceritanya berakhir: Adalah bohong bila kebakaran tersebut mengangkat seluruh warga Dukuh Paruk hingga bangkit dari kenestapaan. Namun, paling tidak, ia membantu membuat warga Dukuh Paruk menyadari bahwa hidup memang penuh derita dan tidak ada yang pantas dilakukan dalam hidup kecuali disertai dengan pembongkaran, penghapusan, pembangunan kembali, pengkajian ulang, penyusunan, pembangunan ulang, pengerjaan ulang, pembentukan kembali, dan segala macam bentuk upaya manusia lainnya yang tak pernah usai dan tak pernah sempurna.

Tulisan Indra

Pembacaan Farida membuat kami sulit berkata-kata. Dalam paragraf pengawal cerita dideskripsikan bahwa Nenek Rasus tidak pernah lagi membuka matanya. Setelah delapan orang dengan karya masing-masing, Farida mengangkat bagian yang belum disentuh yang lain: mimpi-mimpi nenek Rasus. Tulisan Farida campur aduk antara masa muda nenek, pengalaman menyenangkan,  ingatan buruk, kondisi saat ini. Semua yang ada dalam kepala nenek tertuang lewat pilihan kata yang apik. Ketika banyak di antara kami yang mengakhiri cerita dengan kematian atau kepergian nenek Rasus, Farida justru membiarkan beliau dalam keadaan bermimpi. Satu jempol dari saya untuk Farida.

Sebagaimana tulisan Farida, tulisan saya juga membuat orang sulit berkata-kata. Saya curiga bukan karena hasilnya sebagus Farida, melainkan karena memang kata-katanya sudah habis saja. Saya adalah pembaca cerita kesepuluh. Dan tema ceritanya pun menurut saya biasa. Kalaupun ada yang terkesan, maka itu adalah saya sendiri. Kesan saya bukan pada tulisan saya, melainkan pada latihan menulis ini. Sudah lama saya tidak menulis cerita pendek, dan kali ini saya menulis agak panjang. Almer bilang bisa membayangkan apa yang saya deskripsikan. Ini membuat saya senang, karena ketika awal-awal ikut writer's circle kemampuan deskripsi saya bukan sesuatu yang jadi bahan omongan.

Saya lupa kapan terakhir menulis jurnal RLWC. Eh, tunggu dulu. Sekarang saya ingat. Kalau tidak salah waktu itu tema latihannya adalah bercerita tentang akhir suatu masa. (Paling tidak begitulah rencananya, pada akhirnya semua peserta menulis tentang cinta.) Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mesti menyampaikan betapa senangnya saya mendapat giliran mengisi lagi jurnal ini. Awalnya saya ragu, tetapi rupanya mendengarkan cerita teman-teman kemudian menceritakannya lagi adalah suatu kesenangan. Saya harap semua orang datang lagi minggu depan.



Andika Budiman adalah mahasiswa HI Unpar ini suka sekali dengan kegiatan menulis, terlepas dari bentuknya, apakah cerpen, essay ataupun artikel. Dengan selera musik dan karya yang cukup non-mainstream, kritik serta saran-sarannya sangat berguna dalam diskusi setiap minggu. Saat ini ia sedang berusaha tetap hidup.

Senin, 12 Maret 2012

Cinta Altruistik

Awalnya tema dipilih karena saya sempet bercerita mengenai buku tentang seorang kakek yang mengajari banyak hal kepada cucunya yang autis melalui surat-surat. Dan salah satu surat tersebut membahas mengenai cinta altruistik.

Sampe sekarang saya nulis jurnal pun, saya googling mengenai cinta altruistik hasilnya masih belum se-khusus apa yang dibahas buku yang saya baca tersebut, mungkin memang frase ini masih belum dikenal umum kali yah, karena di wikipedia versi Inggris hanya memiliki konten altruism saja. Dan bukunya ilang dikamar, jadi saya masih belum sempet membaca ulang buat definisi cinta altruistik tersebut :|

Yah, yang intinya cinta altruistik itu lebih ke arah memberi kasih sayang tanpa mengharapkan kasih sayang tersebut berbalas. Sempat dibahas mengenai batasan batasan cinta altruistik dengan unrequited love itu sampai mana batasannya. Karena menurut beberapa penulis (termasuk saya, masih kurang mengetahui batasan yang real cinta altruistik dan cinta tak terbalas)

Untuk mengambil contoh cinta altruistik itu mungkin adalah kasih sayang orang tua kepada anaknya, yang kalau tidak salah saya baca pada buku tersebut.


Kali ini, kita mendapatkan teman baru bernama Rangga. Rangga menulis cerita seorang lelaki dan gadis buta. Penuturan cerita rangga cukup langsung dan jelas. Di awal cerita atmosfir drama yang dia bentuk sangat bagus sekali, meskipun di akhir cerita agak 'cheesy' dengan adanya sebuah kalimat "aku cinta" yang agak canggung kalau ditulis di cerita tersebut.

Lalu dilanjutkan dengan Audri, ia bercerita mengenai fanatisme klub bola. Cerita dia di dominasi oleh sebuah dialog-dialog debat kusir tentang enaknya nonton bola di stadion atau di tv.

Nia, cerita Nia sangat naratif sekali. Bahkan saat dibacakan, kita seakan mendengar seorang ibu yang sedang diintrogasi di kepolisian untuk menceritakan kronologis suatu kejadian. Deskripsi dan suasananya jelas, tapi dengan cerita yang sedikit agak rumit. Saya jadi agak lupa dengan alurnya. Tapi meskipun cerita Nia rumit, cerita Nia nyaman sekali untuk dibacakan. Mungkin, karena deskripsi yang sangat jelas. Bahkan deskripsi pasca kecelakaan pun linu nya tersampaikan.

Setelah Nia, Sapta membacakan ceritanya. Ceritanya mengenai zina/maksiat/apapun itu. Sapta di awal cerita seperti memberikan teaser untuk akhir cerita, karena cerita yang dibuat Sapta kali ini mempunyai banyak sekali lompatan lompatan waktu dan adegan. Sehingga cerita tersebut seperti soal matematika yang disuruh membutikan bagaimana 1+1=2, yang dikerjakan oleh anak pintar dengan adanya lompatan-lompatan langkah mengerjakan. Meski akhirnya bocoran akhir cerita di awal mampu dijaili sedikit sehingga menimbulkan sedikit twist dicerita.

Dani, dia menuliskan cerita dengan latar suasana pengadilan. Mengenai seorang tersangka yang sedang diadili. Ok, saya cukup lupa bagaimana alur cerita tersebut berlangsung. Tapi ada yang saya ingat sekali, saat si tokoh berkata "karena saya cinta negara ini." Dani membacakannya dengan intonasi yang sangat pas. sehingga ending cerita ini membuat saya cukup ingat dengan cerita.

Setelah Dani, Sabiq (saya) mendapatkan gilirannya. Saya bercerita mengenai seseorang yang gagal mendapatkan coklat valentine. Ya, dan hanya menyisipkan cerita yang sesuai tema saat si ibu menyuruh si tokoh aku untuk berhenti merokok. Saat saya selesai bercerita, kita lalu membahas segmen-segmen untuk siapa tulisan ini dibaca. Karena terlalu banyaknya kata 'besar' yang digunakan dalam cerita ini, dan menurut Sapta kata kata 'besar' tersebut tidak cocok untuk tulisan ini. Dan kata Nia, si tokoh aku pasti sangat teredukasi sekali. Dan kata Dani, cerita galau SMA memang banyak menggunakan kata besar ini. Kecondongan yang saya gunakan untu menggunakan kata kata 'besar' mungkin karena ketertarikan saya menggunakan kata kata bahasa Inggris yang di-Indonesia-kan tanpa mengubahnya menjadi Bahasa Indonesia itu sendiri. Seperti translate menjadi translasi, bukan menjadi terjemahan.

Lalu pertemuan mengenai cinta altruistik ini pun selesai.




Muhammad Sabiq Hibatul Baqi adalah peserta termuda (masih SMA) yang menulis data diri di Facebook sebagai: Raw. Sok nyeni. Sok eksperimentalis. Kedatangannya pertama kali ke RLWC adalah saat menulis teknik puisi akrostik. Ia menulis puisi sederhana tentang bebek dengan sangat aneh (dalam konteks baik) sehingga keberadaannya langsung berbekas di benak writer's circle. Sabiq juga pernah berniat bolos try out karena memilih hang out dengan peserta writer's circle di H-1.

Sabtu, 25 Februari 2012

Membangun Cerita Fantasi

Ada sesuatu yang berbeda kemarin (25/2). Writer's circle kedatangan tamu seorang komikus Kairo yang tinggal di Kanada, bernama Marwan El Nashar. Ia berbagi tentang pengalamannya menulis cerita fantasi dalam komik yang tentunya bisa diaplikasikan dalam karya bentuk dan genre apapun: novel, cerita pendek, thriller, romance, dan lainnya.

Sesi sharing

Pada awalnya, Marwan bercerita tentang karya yang sedang ia kerjakan dan akan ditawarkan pada penerbit. Ia memperlihatkan tentang hak cipta, ulasan per chapter, serta sinopsis cerita secara keseluruhan. Contoh sinopsis cerita itu bisa kita lihat di bagian belakang buku. Menurut Marwan, semakin pendek (misalnya lima hingga delapan baris) dan semakin to the point, maka akan semakin mudah mendapatkan perhatian penerbit . Jangan lupa memberi tanda (seperti bold) pada kata kunci dalam sinopsis.

Dari komik yang diperlihatkannya, Marwan memperlihatkan sebuah gambar yang menggunakan panel. Maksudnya agar pembaca bisa lebih fokus dan ada efek perubahan (morphing effect). Dalam karya visual seperti komik, untuk membuat sebuah efek seperti itu bisa dilakukan dengan membuat panel. Sementara di film bisa menggunakan lensa. Lalu bagaimana di novel? Tentunya permainan kata-kata dalam penggambaran, punch line, atau juga ketegangan (suspense) dapat menggambarkan efek perubahan atau efek fokus pada cerita.

Contoh kerangka karangan yang sistematis dan terogranisir

Marwan memiliki dua plot utama dengan beragam sub-plot di dalam karyanya. Sub-plot ini cerita yang paralel dengan cerita utama yang bisa dijadikan hook dan twist.  Cara agar keseluruhan ceritanya tetap berhubungan bisa dilakukan dengan menggunakan timeline, membuat kerangka karangan yang sistematis dan terorganisir. Justru kerangka karangan ini merupakan hal yang penting karena merupakan fondasi dari sebuah cerita dan tentunya agar tidak melebar kemana-mana. Dan hal yang terpenting dari membuat sebuah cerita adalah ketahui dulu akhir ceritanya.

Membangun cerita fantasi tidak mudah karena harus menciptakan sesuatu yang baru namun setting atau karakter harus terasa masuk akal. Maka penulis harus membuat cerita yang detil tetap melakukan riset jika ingin membawa isu tertentu. Marwan sendiri melakukan riset dengan membaca Al-Quran dan Injil untuk ceritanya ini.

Untuk karyanya, Marwan bisa membuat hingga 18 tokoh dengan karakter tersendiri. Wah, bagaimana caranya agar karakternya tetap kuat dan tidak membingungkan membaca? Untuk hal tersebut, Marwan memilih untuk membayangkan tokoh dengan karakter yang dekat dengan kesehariannya seperti teman atau orang-orang yang pernah dikenalnya. Setelah dari itu, ia hanya menambahkan detil-detil lainnya misalnya bagaimana tokoh berperilaku dan berkata di beragam situasi dan seterusnya. Agar lebih realistis, tentu tokoh tidak melulu memiliki sifat baik. Ia harus memiliki sifat buruk agar tetap terlihat lebih manusiawi.

Senin, 06 Februari 2012

Susu

Hari ini (04/02) berbeda. Kursi-kursi di Reading Lights sudah diatur sedemikian rupa, microphone serta kabel bertebaran di pojok ruangan. Hari ini hari yang berbeda karena Reading Lights akan mengadakan coffee sharing yaitu membahasa tentang kopi serta perjalanan kopi di Reading Lights sebagai coffee corner. Saat saya datang, salah satu pegawai bilang bahwa sudah ada Theo (penyiar radio MGT FM) di belakang. Theo, yang pernah ikut beberapa sesi writer's circle, akan membawakan acara hari ini.


Sementara orang-orang mulai berdatangan dan suasana semakin ramai, sebuah kelompok kecil yang dihadiri Farida dan Fadil sedang sibuk menyalin dan membicarakan film. Setelah Dani, Sabiq, dan David Hutahuruk datang, akhirnya kami mulai sesi nulis dengan tema 'susu' yang ditulis Dani. Alasan Dani mengambil susu sebagai tema adalah ia melihat booth susu Greenfield di depan Reading Lights yang menjadi bagian sempurna dari kopi produk Reading Lights yaitu capuccino.

Susu sebenarnya tema yang gampang-gampang susah. Membikin cerita tentang susu yang biasa itu gampang, tapi membikin cerita tentang susu yang out of the box atau luar biasa itu sulit. Buktinya beberapa peserta agak kesulitan mencari wangsit ketika waktu 30 menit sudah ditetapkan untuk membuat satu cerita selesai. Bahkan Sabiq yang sudah mondar mandir, bakar rokok, baru bisa membuat cerita saat 15 menit telah berlalu.




Saya yang membacakan cerita pertama kali karena enggan dapat giliran terakhir. Saya menulis kisah tentang seorang pemuda tanggung bernama Hasyim yang sedang memerah susu sapi. Saat memerah susu sapi, pikirannya membayangkan ke fase kanak-kanak dan membayangkan air susu sapi ini sebagai air susu ibunya. Keinginan infantil ini bisa dibaca lebih lanjut di blog saya.

Dani menulis tentang kisah yang belum jelas bercerita tentang apa dan mau dibawa kemana. Bercerita dengan setting (yang boleh dipersepsikan) penculikan, seorang perempuan bernama Dira dipaksa untuk meminum susu oleh seorang lelaki. Akhirnya ia meminum susu itu sambil bertanya-tanya dia ada dimana, sedang apa, dan mau apa. Lalu lelaki berbeda datang mengganti segelas susu baru. Kesal karena tidak boleh keluar, Dira melempar gelas susu yang baru tersebut kemudian ia meronta sehingga perlu ditenangkan oleh kedua susu tersebut hingga ia pingsan. Saat terbangun, gelas susu ke tiga sudah hadir tepat di depan matanya.

Sabiq menulis tentang dua orang bernama Kemarau dan Hujan. Dengan deskripsi yang detil tentang latar belakang setiap karakter, mereka dipertemukan secara sengaja dengan kejadian-kejadian yang selalu bikin mereka bersama oleh suster yang menyusui mereka saat di rumah sakit. Singkatnya, Sabiq bercerita tentang fenomena saudara sesusu.

Berbeda dengan Sabiq yang begitu naratif, David menuliskan cerita dengan senjata utamanya: dialog. Ia bercerita sebuah percakapan antara manusia bernama Pak Dasep dengan kuda yang sedang diperahnya bernama Horsi. Setelah bercakap-cakap dengan Horsi dan juga Miun--seorang anak SD--mereka pindah kandang selanjutnya untuk melanjutkan percakapan perbedaan sapi, kuda, dan domba.

Perpaduan narasi dan dialog dibawakan oleh Farida. Ia bercerita tentang pasangan suami istri dimana sang istri menolak menyusui anaknya karena enggan badannya rusak. Jika alasannya protein, sang istri memilih memberikan anak tersebut dengan susu sapi yang dijual di toko-toko. Perdebatan yang menarik antara suami dan istri yang menyentil logika ini bisa dibaca langsung di blog-nya Farida.

Fadil membacakan awal ceritanya dengan suasana murung, terutama deskripsinya yang membuat kemurungan semakin nyata. Diceritakan tentang seorang remaja perempuan yang sedang memandang cermin dan merasa tidak suka dengan dirinya karena ia merasa tidak sempurna seperti Mia, teman sekelasnya cantik, pandai olahraga, punya banyak teman, dan sempurna. Kemurungan berakhir ketika ibunya menyuruh ia mengambil segelas susu panas dari ibunya. Susu adalah pelengkap pola makan yang membuat kita sehat dan sempurna--terngingat ucapan gurunya di pikiran si tokoh. Setelah susu diteguk, ia merasa sempurna.

Kekayaan gaya menulis (dialog, deskripsi, narasi) pada setiap peserta mencerminkan kekayaan yang terkandung dalam susu secara harfiah atau filosofis. Maka, pertemuan ini mencerminkan bahwa hal keseharian yang biasa ditemui juga bisa menjadi ide kepenulisan itu sendiri.

Untuk pertemuan minggu depan (Sabtu, 11/02) Fadil akan menjadi fasilitator dengan membawakan potongan cerita pendek dimana peserta harus membuat kelanjutan ceritanya. Bagi yang ingin mengikuti workshop, silahkan datang pukul 16.30 di Reading Lights. Tanpa syarat dan tanpa bayaran. Sampai jumpa minggu depan!



Nia Janiar

Jumat, 20 Januari 2012

Rohani dalam Tulisan


Kira-kira sudah jam 16.00 kala itu, ketika saya sampai di Reading Lights. Belum ada tanda-tanda kehidupan dari anak-anak Reading Lights Writer’s Circle (RLWC). Tak satupun anggota klub yang telah menunjukkan batang hidungnya. Jangan diartikan secara harfiah lho, kalo cuma batang hidungnya yang nongol, ya, percuma aja nggak bakalan bisa nulis juga.

Wah, jangan-jangan, nggak ada kegiatan nih, atau mungkin pindah tempat, pikir saya. Maklum, sudah terlalu lama tidak datang jadi, nggak tahu soal pengumuman apapun. Saya memang sudah terlalu lama membolos dari klub yang baik hati ini karena tak pernah memecat anggotanya yang doyan membolos, hehehe.

Entahlah, mungkin mereka sedang sibuk dengan kegiatan lainnya padahal, cuaca lagi bagus-bagusnya, dan tidak ada macet berkepanjangan sama sekali. Lama menunggu, Sabiq pun tiba tentu lengkap dari ujung kepala sampai ujung kaki tidak hanya batang hidungnya. “Belum pada dateng, nih?” tanyanya. “Belum nih, kacau.” “Wah, gimana nih, nggak ada ide, euy.” “Tauk, deh.” Parahnya, orang yang biasa jadi fasilitator, tidak ada yang bisa hadir semua. Nia, sedang ada kegiatan di Jakarta, Andika juga tidak bisa hadir. Wah, galau cuman berdua doang. Jadilah kita membentuk band The Galauers kalau hanya berdua, alamat main catur ini, sih…

Menurut Sabiq, rekannya ada yang mau ikutan bergabung dengan klub. Jika temannya itu jadi datang, kita sepakat untuk memulai kegiatan. Sekira pukul 5 sore, rekannya yang bernama Audry itu, tiba. Sembari menunggu kedatangan anggota lainnya, biasalah, ngobrol-ngobrol perkenalan dan tak lama, Sapta pun datang. Suit suit, cieh, cieh tak seperti biasanya, Sapta rapi banget sore itu pake kemeja, dimasukkin lagi. Udah gitu, pake sepatu lengkap dengan kaos kaki yang matching sama warna sepatunya. Katanya sih, resolusi 2012, tampil rapi. Okelah kalo begitu…

Seperti biasa, jika belum ada tema untuk menulis, maka, sistem yang dipakai adalah sistem “Dikocok Tegang”. Eits, jangan berburuk sangka dulu ya, maksudnya, setiap peserta diharuskan menulis tema di sepotong kertas, kemudian, diundi dengan cara dikocok. Lalu, timbul perasaan tegang, harap-harap cemas, tema siapa yang akan dipilih untuk dijadikan bahan menulis. Ya, betul sekali, sistem yang dipakai mirip dengan sistem arisan. Setelah melalui proses undian, yang terpilih adalah tema dari Sabiq yaitu, rohani.

Sesuai dengan proses undian, maka, berturut-turut peserta membacakan karyanya. Peserta yang mendapat giliran pertama membacakan karyanya adalah, Audry, The New Rookie of the Year. Audry menulis tentang kegiatannya yang dilakukannya saat dini hari ketika semua orang sudah terlelap dan menurutnya, mengasyikkan karena ia bisa lebih ‘khusyuk’ karena heningnya suasana. Kurang lebih sih, begitulah. Sorry ya, kalo salah dan terlalu banyak interpretasi hehe. Jika ditinjau dari susunan kata dan tata bahasanya tulisan ini pada prinsipnya, baik. Saya sependapat dengan komentar Sapta kalo tulisan Audry itu lebih mirip seperti jawaban dari pertanyaan”Describe yourself.” Yah, selalu ada awal dari sesuatu. Kali ini, kita maafkan lain kali, jangan begitu, ya hehe bercanda kok, Audry, tenang aja. Jangan kapok untuk datang ke mari ya, Bos!

Sapta mendapat giliran selanjutnya. Tulisan Sapta menurut saya adalah tulisan yang paling bagus di antara peserta yang hadir, nggak percuma deh, kemeja dimasukkin (hehe, apa hubungannya?). Yang menarik dari tulisan ini adalah, karena tokohnya malaikat, suatu sudut pandang yang baru. Dikisahkan kalau sang malaikat, sedang mengawasi dunia dari kejauhan. Saya suka dengan tulisan ini karena banyak analogi-analoginya, pengandaian-pengandaiannya tapi, tetap mudah dipahami. Akhir ceritanya juga tidak mudah ditebak. Inti dari cerita ini adalah orang suka sekali mengambil dan menerapkan sesuatu dan menjiplak mentah-mentah tentang apapun termasuk agama, tanpa memperhatikan apakah hal tersebut cocok untuk diterapkan katakanlah di Indonesia, misalnya. Bagusnya lagi, ceritanya membuat orang untuk penasaran untuk membacanya sampai selesai dan sehabis membaca, barulah orang tahu kalau si tokoh adalah malaikat. Well Done, dude! Hei, penonton kok, pada diem aja? Tepuk tangannya mannaa? Jangan bengong aja, ayo, kita elu-elukan Sapta, “Elu, elu, elu!”

Berikutnya, sang pencetus ide, Sabiq. Inti ceritanya adalah seorang ibu yang anaknya tertular virus HIV AIDS karena diperkosa seorang pria pengidap pedofili. Awalnya, perasaan sang ibu bercampur-baur antara kesal dan sedih atas kejadian anaknya tersebut. Namun akhirnya, sang ibu tetap mengupayakan yang terbaik bagi kesembuhan anaknya tapi, sang anak tetap tak terselamatkan nyawanya. Prinsipnya, cerita ini bagus mungkin hanya perlu perbaikan sedikit dan juga sedikit riset tentang masa inkubasi virus HIV AIDS.

Terakhir, adalah cerita karangan saya. Inti ceritanya, tentang seorang perempuan yang hendak melakukan penebusan dosa karena ia berzinah dengan pacarnya kepada pendeta di bilik pengakuan dosa. Bukannya mendapat pencerahan, ia justru disuruh kembali berzinah dengan pacarnya itu. Alasan sang pendeta karena di manual hanya tercantum sanksi berupa denda jika telah dua kali melakukan perzinahan sementara, sang gadis baru melakukan satu kali perzinahan. Jangan serius kali coy! Ini benar-benar murni gurauan belaka. Maaf berribu maaf jika ada yang tersinggung tidak ada maksud apa-apa kecuali hanya untuk melucu, melemaskan urat syaraf yang tegang.

Sekian dan sampai jumpa. Salam!



Satyo Aji Karyadi, lebih akrab disapa Aji, adalah peserta writers' circle yang kedatangannya paling sulit diprediksi. Kadang ia datang setiap minggu, tetapi kadang-kadang ia lama tidak muncul hanya untuk muncul lagi dan membuktikan kebertahanannya. Pria tinggi dan berkacamata ini sebetulnya pendiam, tetapi ada tiga fakta yang patut diketahui tentangnya. Pertama, Aji telah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Kedua, seperti yang diakuinya, Aji suka menulis tentang politik dan sepak bola (Kadang-kadang tajuk tulisan politiknya cukup ajaib.