Selasa, 03 April 2012

Dialog yang Efektif

Sabtu (24/03), 15 peserta RLWC latihan menulis dialog tentang dua karakter memiliki perbedaan cara pandang dalam suatu masalah sehingga menimbulkan konflik. Dari latihan ini diharapkan dapat membuat dialog yang efektif, membuat dua tokoh terlihat karakternya, namun tetap menyampaikan pesan.

Berikut ini ada contoh dialog yang efektif, dapat menonjolkan karakter dua tokoh yang berbicara, dan tetap menyampaikan pesan. Diambil dari buku Bisik-Bisik oleh Reda Gaudiamo:


...

"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"
"Habis masak kawin karena mengikuti teman. Kau sendiri, memang mau kawin atau tidak?"
"Mau, Kak."
"Kenapa kawin?"
"Daripada dosa, Kak!"
"Kuhajar, kau!"
"Kak!"
"Dengar, kawin itu bukan soal dosa atau tidak dosa. Kawin itu karena kau sudah menemukan orang yang tepat. Karena kau cinta padanya!"

...

"Hei, aku tidak mengada-ada. Kau ingat temanmu, si Basri?"
"Ya, ya, aku ingat."
"Kapan dia kawin? Enam bulan lalu. Kapan cerai dia? Minggu lalu. Macam mana, tuh?"
"Aku tak akan begitu, Kak. Kami tak akan begitu. Janji."
"Jangan janji padaku. Janji pada dirimu. Tetapi sebelum kau bisa penuhi janji itu, kau harus tahu, dengan siapa kau mengikatkan diri."
"Dia gadis baik-baik."
"Aku tidak bilang apa-apa tentang dia."
"Khawatir aku, jangan-jangan Kakak tak suka."
"Aku bukan tak suka. Aku hanya tak senang melihat kalian terburu-buru kawin hanya dengan omongan orang, desakan orang tua, takut dosa. Aku tak tahu apa kata ahli agama, tetapi aku rasa, akan lebih berdosa lagi kalian kalau menikah terburu-buru dan tergesa-gesa bercerai hanya karena tak saling kenal, tak saling cinta."
"Kak, kalau orang tuanya tetap tak mau perkawinan ditunda, bagaimana?"
"Ya, tidak usah kawin!"
"Ampun!"
"Perempuan itu banyak! Melimpah-limpah. Bukan cuma dia seorang di dunia ini."
"Tapi aku ingin kawin. Aku ingin punya istri."
"Punya istri?"
"Lalu apa?"
"Bukan mau punya istri, tapi mau jadi suami."
"Apa bedanya?"
"Banyak."
"Kalau jadi suami, kau jadi pasangannya."
"Kalau punya?"
"Kau jadikan dia barang, milik."

...



Pendalaman Emosi: Terasing

Kemarin (17/03), 14 peserta writer's circle menulis pendalaman emosi "terasing". Mengacu pada KBBI, terasing memiliki arti 'terpisah dari yang lain'. Dalam sesi ini, writer's circle berlatih bagaimana agar pembaca ikut merasakan emosi terasing di dalam cerita.


Minggu, 01 April 2012

Menunggu dan Cemburu


Jurnal Reading Lights Writer’s Circle (3 Maret 2012)
“Menunggu dan Cemburu”

            Sabtu sore itu, di Reading Lights ada 7 orang yang berkumpul: Saya, mbak Rie, Dani, dan empat wajah baru: Indra, Rey, dan dua orang anggota paling baru, Asri dan Mia yang dua-duanya kuliah di ITB. Setelah menunggu dan tidak ada lagi yang lain yang datang, kami pun memilih tema dengan cara seperti biasa, kocokan kertas. Ternyata yang terpilih adalah tema dari saya: “Menunggu dalam kaitannya dengan cemburu kepada orang terdekat”. Kami pun memulai sesi menulis hari itu selama setengah jam.

            Setelahnya, kami pun bergiliran membacakan tulisan kami. Yang pertama membaca adalah Indra. Ia menulis tentang seorang tokoh pria yang selalu disalahkan dalam keluarganya, terutama ketika Ayahnya masuk rumah sakit dan meninggal. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa sang tokoh merasa cemburu kepada kakak perempuannya, yang selalu bersikap ketus padanya setelah mereka dewasa. Mbak Rie berkomentar bahwa ceritanya terkesan nyata, dan bertanya apakah itu curhat dan Indra punya kakak perempuan. Jawaban dari penulisnya tidak, itu hanya cerita fiksi.

            Berikutnya yang membacakan adalah Dani. Dani bercerita tentang situasi di stasiun ketika masa Perang Dunia, dengan tokoh seorang gadis yang menunggu suaminya pulang wajib militer, tanpa ada kepastian apa pria itu masih hidup ataukah sudah mati. Cerita Dani, meski diakui beralur lambat, cukup unik karena kecemburuan yang diangkat adalah rasa cemburu kepada orang lain yang kerabatnya sudah meninggal. Rey berkomentar kalau latar cerita itu seperti di Korea, menilik deskripsi musim gugur dan perubahan warna daun yang digunakan Dani dalam ceritanya.

            Setelahnya, giliran mbak Rie. Mbak Rie menulis tentang pasangan kekasih yang bertengkar di hari kasih sayang. Pasalnya, sang wanita mengetahui melalui gadgetnya kalau si lelaki pura-pura invisible tiap kali dia online, dan selingkuh dengan teman dekatnya. Mbak Rie menulis cerita ini dengan harapan bisa membuat sebuah cerita yang utuh tanpa harus berpanjang-panjang ataupun bertele-tele. Cerita ini berhasil memancing perdebatan dengan Dani bahwa dari jumlah kata, cerita tersebut bisa masuk ke Flash, Fiksi Mini, atau rubrik Cermin (Cerita Mini) di Kompasiana.

            Asri dan Mia yang baru pertama kali datang, turut menyumbang tulisan untuk sesi hari itu. Cerita Asri masih pendek, baru berupa introduction namun tak menghalangi kami untuk memberi masukan. Sedangkan cerita Mia mengambil 3 sudut pandang, tentang seorang mahasiswa yang sering dititipi absen oleh kawannya. Karena kawannya itu lebih pintar darinya dalam tugas dsb., tak urung itu membuat sang tokoh cemburu. Meski antar paragraf belum terjembatani dengan baik, konflik dalam cerita Mia cukup tertera dengan jelas.

            Setelahnya giliran Rey. Ternyata Rey membuat dua puisi tentang menunggu kekasih, yang satu bernada positif dan yang satunya lagi negatif. Bagi saya, saya lebih terkesan dan menyukai yang negatif, karena proporsi detil serta deskripsinya lebih kaya. Hal ini diamini oleh mbak Rie. Kedua puisi itu kami kritisi. Indra berpendapat ibarat sebuah prosa, kedua puisi itu hanya kurang pada alur serta tokoh. Dani, yang tidak terlalu banyak komentar, saya ajak menulis puisi juga, namun ia menolak karena lebih terbiasa menulis prosa dibandingkan puisi.

            Otomatis, sebagai fasilitator hari itu, sayalah yang mendapat privilege untuk membacakan paling akhir. Cerita saya hari itu agak panjang durasinya, tentang seorang pria bernama Bilawa yang putus cinta karena selingkuh, ditemui kawannya di sebuah kafe dan akhirnya harus menunggu demi sebuah happy ending versinya sendiri. Mbak Rie dan Dani sepakat kalau bahasa tubuh serta penceritaan dari tokoh Bilawa masih terlalu feminin dan tidak mencirikan seorang pria. Masukan ini saya catat betul. Hari itu saya belajar bahwa menunggu, cemburu, dan juga konflik yang terkait antar keduanya haruslah dibangun dengan cara seapik mungkin. Baik bentuk tulisannya puisi, cerpen, ataukah fiksi mini, segala aspek serta unsur kepenulisan semisal tokoh, dialog, dan tentu saja plot tidak boleh dilupakan, demi membangun sebuah cerita yang mengena di hati orang yang mendengar atau membacanya.

            Selepas sesi hari itu selesai, kami pun bubar sebelum hujan benar-benar turun dan membuyarkan segala kenangan. Saya, mbak Rie, Rey, Dani, Indra (yang baru datang lagi hari itu setelah sekian lama) pun pulang. Kepala saya masih membawa obrolan, masukan, dan aroma Cheese Mushroom Sandwich-nya Reading Lights petang itu. Dan endapan tanggal 3 Maret itu pun menghasilkan jurnal ini. Semoga saya bisa datang lagi nanti.


Catatan Penulis:
Tulisan Mbak Rie yang dimuat di rubrik Cermin Kompasiana bisa dilihat di tautan ini, atau di halaman Reading Lights Writer’s Circle di Facebook.



Dini Afiandri adalah salah seorang anggota yang (relatif) baru di Reading Lights Writers' Circle tetapi telah berhasil menyesuaikan diri dengan segala keanehan di sini. Siapapun yang ingin mengikuti jejak penulis bergaya "romantisme brutal" ini (menurut kata-katanya sendiri, lho) dapat langsung mengunjungi pertemuan kami setiap hari Sabtu jam setengah 5 sore di salah satu sudut Reading Lights. Eh, kok malah jadi promosi ya?

Jumat, 23 Maret 2012

Meneruskan Cerita dari Ronggeng Dukuh Paruk

Sabtu sore di Reading Lights, banyak juga orang yang datang untuk menulis. Selain saya, ada Dea, Nia, Farida, Indra, Sapta, Dani, Sabiq, Audrey, dan Almer. Beberapa dari mereka baru saya kenal, sementara yang lain sudah bertahun-tahun. Dan ketika sejumlah teman sudah lama tak saya jumpai, saya berjumpa dengan yang lain beberapa kali dalam seminggu. Kami semua menghadapi tantangan menulis yang sama: membuat cerita meneruskan sebuah paragraf.


Paragraf pembuka cerita kami dicuplik dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sedang dibaca oleh Nia. Saya belum membaca buah pena Ahmad Tohari tersebut, tetapi saya ingat pernah membaca resensinya beberapa tahun silam saat novel yang mulanya terbit dalam tiga buku ini mulai diterbitkan dalam satu buku. Sampulnya oranye, si peresensi tak kehabisan kata-kata sanjungan. Tahun lalu rilis film Sang Penari yang terinspirasi dari cerita Dukuh Paruk. Saya sempat menonton lalu pulang dengan perasaan kagum dan senang. Ronggeng Dukuh Paruk yang dibawa Nia pada hari itu adalah edisi terbaru, yang mana sampulnya bergambar aktor dan aktris dari film Sang Penari. Tanpa berpanjang-panjang lagi, beginilah paragraf yang mengawali cerita kami:

Salah satu gubuk yang tersisa ketika terjadi kebakaran besar di Dukuh Paruk terletak hampir terkurung rumpun bambu. Isinya seorang nenek yang kini tak pernah lagi membuka matanya. Dia hanya bergerak bila ada yang mengangkat tubuhnya agar segala kotoran di bawahnya dapat disingkirkan. Sudah lima hari nenek Rasus tidak makan atau minum apa pun. Orang-orang Dukuh Paruk bergantian menjaga nenek yang dipercaya sudah hampir ajal itu. 

Setelah Nia membacakannya beberapa kali, segera kami berkutat dengan bolpen dan kertas masing-masing. Dea selesai ketika tangan kebanyakan dari kami masih sibuk mencari titik terakhir. Gagal memikat Dani jadi teman bicaranya, Dea pun membalik kertas dan mulai menggambar. Tak seberapa lama, ponsel Nia berdering. Waktu menulis sudah habis. Sekali lagi Dea jadi yang pertama membacakan tulisannya yang singkat tetapi menyentil:

Padahal maksud pembakaran gubug itu adalah “membakar semangat”. Tapi mungkin segala sesuatu yang tidak diperhitungkan kadarnya akan membawa dampak yang berbeda, bahkan bisa jadi sebaliknya. Karena terlalu lama dan dengan api yang terlalu besar, upaya “bakar semangat” pada gubug menimbulkan kegosongan. Akibatnya semangat yang harusnya membara dan menghidupkan malah mendekatkan Nenek Raus pada kematian. Ia jadi tak lagi punya cukup semangat untuk bergerak atau membuka mata sekalipun.

Sambil menjaga nenek, Rasus menangis tersedu-sedu menyesali tindakannya yang kurang berhitung. “Neneeek ... ketika membakar gubug ini aku hanya ingin membakar semangatmu. Aku ingin engkau sehebat Titik Puspa atau Laila Sari … “

Gambar di balik kertas Dea, gambar Rasus?


 Disentil Dea, yang lain tak mau kalah ingin cepat-cepat membaca. Dani pun membacakan ceritanya dengan suara sedih. Tulisan Dani merupakan monolog dari sudut pandang sekumpulan penduduk yang memandang penuh sesal ke arah kampung mereka yang telah dilalap api. Sebelum membaca, Dani menyatakan bahwa ceritanya bernada galau. Namun pada akhirnya hanya saya yang berpikir demikian. “Tapi terlepas dari galau/nggak galau gue tetap suka tulisan lu,” komentar Dea.

Sapta menawarkan diri membaca selanjutnya. Dikisahkah Abbas adalah seorang pemuda yang mendapat giliran menjaga nenek Rasus karena kebetulan sedang menganggur. Begitu Abbas menjejakkan kaki di dalam gubuk nenek, kata yang tiada henti didengarnya adalah “Haus … haus … haus ….” Mulanya Abbas merawat nenek Rasus dengan perhatian. Pemuda itu bercerita kepada nenek tentang perempuan yang akan ia nikahi. Nenek Rasus pun melihat Abbas tidak seperti melihat warga lain yang menjaganya. Akan tetapi, ketika datang seorang warga desa yang memberitahu Abbas bahwa gilirannya menjaga nenek diperpanjang, Abbas mengabaikan kata “Haus … haus … haus ….” Ketika kata-kata itu tidak lagi terdengar, Abbas memukul kentongan mengabarkan warga desa bahwa nenek sudah meninggal. Ia lantas bersiap menikahi perempuan idamannya.

“Ceritanya lengkap,” puji Indra. “Ada karakter, plot, dan ending.” Saya menyetujui. Farida menyukai cerita ini karena plotnya digerakkan tindakan karakter. Namun Audrey tidak suka karena menganggap logikanya tidak masuk. Dalam paragraf pengawal cerita, digambarkan sebagian besar rumah di Dukuh Paruh sudah rata dengan tanah. Ia membayangkan lingkungan di sekitar desa itu sudah dalam keadaan nol, di mana tidak ada kehidupan sehari-hari seperti pernikahan atau pekerjaan. Tanpa ada lapangan kerja, Audrey percaya yang menganggur seharusnya bukan hanya Abbas. Kritik Audrey ini menarik, karena justru menunjukkan perbedaan interpretasi masing-masing peserta terhadap paragraf paragraf pembuka cerita.

Perbedaan ini bisa dilihat ketika membandingkan cerita Nia dengan cerita Almer. Ketika mendengarkan Nia membacakan tulisannya, saya menangkap bahwa ia terpengaruh latar cerita yang sudah dibacanya. Dalam cerita yang berfokus pada nenek ini, Nia tidak lagi detil menggambarkan Dukuh Paruk, ia hanya menulis, “Rasus pergi meninggalkan kebobrokan Dukuh Paruk.” Sapta pun merasa terkhianati karena sebelumnya tak tahu bahwa Rasus bukanlah nama nenek, melainkan nama cucunya. Sebaliknya pembacaan Almer mengejutkan semua orang karena nenek Rasus dalam ceritanya digambarkan segar bugar. Nenek Rasus tidak mau dirawat warga bahkan mengajak berdebat seorang warga yang apes mendapat giliran. Almer menulis serta membacakan perdebatan ini dengan baik. Di satu sisi perdebatan antara Nenek Rasus dengan protagonis Almer terasa absur karena tidak mungkin terjadi di Dukuh Paruk. (“Gua rasa terjadinya mungkin di Jerman,” ujar Dani. “Soalnya logika-logika neneknya, mirip logika Heidegger.” “Hai, seger,” sahut Dea.) Namun di sisi lain, ini termasuk momen menyenangkan  writer's circe: ketika sebuah tantangan menulis memunculkan sebuah tulisan yang lain dari tulisan peserta lainnya. Meskipun - secara halus - Indra mengatakan bahwa pesan-pesan dalam dialog Almer dapat juga disampaikan dengan tak begitu tersurat, tulisan Almer menjadi personal favorite saya pada sore itu.

Berikutnya saya ingin membandingkan cerita Sabiq dengan Audrey. Masing-masing menunjukkan potensi, walaupun sore itu keduanya kurang luwes menggulirkan cerita. Sabiq mengaku sebelum sesi menulis ia memiliki ide menulis tentang badut. Walhasil, Sabiq menulis tentang seorang warga Dukuh Paruk yang menjadi badut setelah mendapat saran dari nenek Rasus. Sebetulnya cerita Sabiq cukup masuk akal, tetapi kurang ada greget atau penggambaran yang logis bagaimana itu bisa terjadi. Tulisannya pendek, kalimatnya banyak bersifat narasi, ketika selesai di benak saya muncul pertanyaan, “Lho, sudah beres lagi?” Begitupun dengan cerita Audrey yang berawal dari ide yang rumit. Audrey menulis tentang pertentangan warga dalam memaknai tradisi Ronggeng Dukuh Paruk. Banyak jeritan dalam dialog Audrey. Padahal dialog menjerit (jeritan yang bersahut-sahutan) cukup sulit dilakukan di writer's circle. Selain karena kita membacakan tulisannya sendiri, dialog menjerit perlu didahului latar belakang cerita untuk menjelaskan mengapa dialog itu diperlukan.  Biasanya penggambaran latar belakang yang jelas sulit dilakukan dalam setengah jam sesi menulis. Padahal tanpa itu, dialog semacam ini jadi kehilangan maknanya. Audrey mengaku ceritanya terpengaruh resensi Ronggeng Dukuh Paruk yang dibacanya di majalah Tempo beberapa waktu silam.

Apabila dalam menulis perhatian kebanyakan dari kami tertuju pada nenek Rasus, Rasus, atau warga yang mendapat giliran menjaga nenek Rasus, perhatian Indra tertuju pada kebakaran yang terjadi di Dukuh Paruk. Alih-alih dialog, cerita Indra banyak menggunakan kalimat berita. Ceritanya jadi seperti wacana. Alasan Indra adalah ketika sesi menulis dimulai ia sempat menanyakan di mana letak Dukuh Paruk. (“Jawa,” jawab entah Nia atau Dea.) Rupanya Indra merasa tidak percaya diri bisa menulis dialog berbahasa Jawa. Padahal dalam novelnya dialog sebagian besar justru menggunakan bahasa Indonesia dengan sedikit selipan bahasa Jawa. Seperti komentar Dani, Indra benyak berfilosofi. Begini ceritanya berakhir: Adalah bohong bila kebakaran tersebut mengangkat seluruh warga Dukuh Paruk hingga bangkit dari kenestapaan. Namun, paling tidak, ia membantu membuat warga Dukuh Paruk menyadari bahwa hidup memang penuh derita dan tidak ada yang pantas dilakukan dalam hidup kecuali disertai dengan pembongkaran, penghapusan, pembangunan kembali, pengkajian ulang, penyusunan, pembangunan ulang, pengerjaan ulang, pembentukan kembali, dan segala macam bentuk upaya manusia lainnya yang tak pernah usai dan tak pernah sempurna.

Tulisan Indra

Pembacaan Farida membuat kami sulit berkata-kata. Dalam paragraf pengawal cerita dideskripsikan bahwa Nenek Rasus tidak pernah lagi membuka matanya. Setelah delapan orang dengan karya masing-masing, Farida mengangkat bagian yang belum disentuh yang lain: mimpi-mimpi nenek Rasus. Tulisan Farida campur aduk antara masa muda nenek, pengalaman menyenangkan,  ingatan buruk, kondisi saat ini. Semua yang ada dalam kepala nenek tertuang lewat pilihan kata yang apik. Ketika banyak di antara kami yang mengakhiri cerita dengan kematian atau kepergian nenek Rasus, Farida justru membiarkan beliau dalam keadaan bermimpi. Satu jempol dari saya untuk Farida.

Sebagaimana tulisan Farida, tulisan saya juga membuat orang sulit berkata-kata. Saya curiga bukan karena hasilnya sebagus Farida, melainkan karena memang kata-katanya sudah habis saja. Saya adalah pembaca cerita kesepuluh. Dan tema ceritanya pun menurut saya biasa. Kalaupun ada yang terkesan, maka itu adalah saya sendiri. Kesan saya bukan pada tulisan saya, melainkan pada latihan menulis ini. Sudah lama saya tidak menulis cerita pendek, dan kali ini saya menulis agak panjang. Almer bilang bisa membayangkan apa yang saya deskripsikan. Ini membuat saya senang, karena ketika awal-awal ikut writer's circle kemampuan deskripsi saya bukan sesuatu yang jadi bahan omongan.

Saya lupa kapan terakhir menulis jurnal RLWC. Eh, tunggu dulu. Sekarang saya ingat. Kalau tidak salah waktu itu tema latihannya adalah bercerita tentang akhir suatu masa. (Paling tidak begitulah rencananya, pada akhirnya semua peserta menulis tentang cinta.) Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mesti menyampaikan betapa senangnya saya mendapat giliran mengisi lagi jurnal ini. Awalnya saya ragu, tetapi rupanya mendengarkan cerita teman-teman kemudian menceritakannya lagi adalah suatu kesenangan. Saya harap semua orang datang lagi minggu depan.



Andika Budiman adalah mahasiswa HI Unpar ini suka sekali dengan kegiatan menulis, terlepas dari bentuknya, apakah cerpen, essay ataupun artikel. Dengan selera musik dan karya yang cukup non-mainstream, kritik serta saran-sarannya sangat berguna dalam diskusi setiap minggu. Saat ini ia sedang berusaha tetap hidup.

Senin, 12 Maret 2012

Cinta Altruistik

Awalnya tema dipilih karena saya sempet bercerita mengenai buku tentang seorang kakek yang mengajari banyak hal kepada cucunya yang autis melalui surat-surat. Dan salah satu surat tersebut membahas mengenai cinta altruistik.

Sampe sekarang saya nulis jurnal pun, saya googling mengenai cinta altruistik hasilnya masih belum se-khusus apa yang dibahas buku yang saya baca tersebut, mungkin memang frase ini masih belum dikenal umum kali yah, karena di wikipedia versi Inggris hanya memiliki konten altruism saja. Dan bukunya ilang dikamar, jadi saya masih belum sempet membaca ulang buat definisi cinta altruistik tersebut :|

Yah, yang intinya cinta altruistik itu lebih ke arah memberi kasih sayang tanpa mengharapkan kasih sayang tersebut berbalas. Sempat dibahas mengenai batasan batasan cinta altruistik dengan unrequited love itu sampai mana batasannya. Karena menurut beberapa penulis (termasuk saya, masih kurang mengetahui batasan yang real cinta altruistik dan cinta tak terbalas)

Untuk mengambil contoh cinta altruistik itu mungkin adalah kasih sayang orang tua kepada anaknya, yang kalau tidak salah saya baca pada buku tersebut.


Kali ini, kita mendapatkan teman baru bernama Rangga. Rangga menulis cerita seorang lelaki dan gadis buta. Penuturan cerita rangga cukup langsung dan jelas. Di awal cerita atmosfir drama yang dia bentuk sangat bagus sekali, meskipun di akhir cerita agak 'cheesy' dengan adanya sebuah kalimat "aku cinta" yang agak canggung kalau ditulis di cerita tersebut.

Lalu dilanjutkan dengan Audri, ia bercerita mengenai fanatisme klub bola. Cerita dia di dominasi oleh sebuah dialog-dialog debat kusir tentang enaknya nonton bola di stadion atau di tv.

Nia, cerita Nia sangat naratif sekali. Bahkan saat dibacakan, kita seakan mendengar seorang ibu yang sedang diintrogasi di kepolisian untuk menceritakan kronologis suatu kejadian. Deskripsi dan suasananya jelas, tapi dengan cerita yang sedikit agak rumit. Saya jadi agak lupa dengan alurnya. Tapi meskipun cerita Nia rumit, cerita Nia nyaman sekali untuk dibacakan. Mungkin, karena deskripsi yang sangat jelas. Bahkan deskripsi pasca kecelakaan pun linu nya tersampaikan.

Setelah Nia, Sapta membacakan ceritanya. Ceritanya mengenai zina/maksiat/apapun itu. Sapta di awal cerita seperti memberikan teaser untuk akhir cerita, karena cerita yang dibuat Sapta kali ini mempunyai banyak sekali lompatan lompatan waktu dan adegan. Sehingga cerita tersebut seperti soal matematika yang disuruh membutikan bagaimana 1+1=2, yang dikerjakan oleh anak pintar dengan adanya lompatan-lompatan langkah mengerjakan. Meski akhirnya bocoran akhir cerita di awal mampu dijaili sedikit sehingga menimbulkan sedikit twist dicerita.

Dani, dia menuliskan cerita dengan latar suasana pengadilan. Mengenai seorang tersangka yang sedang diadili. Ok, saya cukup lupa bagaimana alur cerita tersebut berlangsung. Tapi ada yang saya ingat sekali, saat si tokoh berkata "karena saya cinta negara ini." Dani membacakannya dengan intonasi yang sangat pas. sehingga ending cerita ini membuat saya cukup ingat dengan cerita.

Setelah Dani, Sabiq (saya) mendapatkan gilirannya. Saya bercerita mengenai seseorang yang gagal mendapatkan coklat valentine. Ya, dan hanya menyisipkan cerita yang sesuai tema saat si ibu menyuruh si tokoh aku untuk berhenti merokok. Saat saya selesai bercerita, kita lalu membahas segmen-segmen untuk siapa tulisan ini dibaca. Karena terlalu banyaknya kata 'besar' yang digunakan dalam cerita ini, dan menurut Sapta kata kata 'besar' tersebut tidak cocok untuk tulisan ini. Dan kata Nia, si tokoh aku pasti sangat teredukasi sekali. Dan kata Dani, cerita galau SMA memang banyak menggunakan kata besar ini. Kecondongan yang saya gunakan untu menggunakan kata kata 'besar' mungkin karena ketertarikan saya menggunakan kata kata bahasa Inggris yang di-Indonesia-kan tanpa mengubahnya menjadi Bahasa Indonesia itu sendiri. Seperti translate menjadi translasi, bukan menjadi terjemahan.

Lalu pertemuan mengenai cinta altruistik ini pun selesai.




Muhammad Sabiq Hibatul Baqi adalah peserta termuda (masih SMA) yang menulis data diri di Facebook sebagai: Raw. Sok nyeni. Sok eksperimentalis. Kedatangannya pertama kali ke RLWC adalah saat menulis teknik puisi akrostik. Ia menulis puisi sederhana tentang bebek dengan sangat aneh (dalam konteks baik) sehingga keberadaannya langsung berbekas di benak writer's circle. Sabiq juga pernah berniat bolos try out karena memilih hang out dengan peserta writer's circle di H-1.