Halo, apa kabar semua? Sudah lama tidak bersua dalam blog ini. Hampir setahun lamanya kami tidak update hasil pertemuan dan tulisan. Tapi kami sekarang punya cerita yang luar biasa untuk dibagikan.
Sekitar bulan Agustus di tahun 2010, kami pernah melakukan sebuah pertemuan khusus untuk membicarakan dan mengeksekusi ide kami untuk membuat sebuah karya komunitas yang sudah ada dari tahun 2004. Karena kami adalah sebuah kumpulan penulis, maka kami memutuskan untuk membuat kumpulan cerita pendek. Sapta, salah satu dari kami, mengusulkan untuk menulis cerita yang terinspirasi dari abjad-abjad dari A hingga Z. Misalnya penulis menuliskan tentang catur ketika mendapatkan huruf L.
Kemasannya sudah terbayang yaitu seperti buku ini akan dibuat seperti kamus yang berisi urutan alfabet. Karena kami jumlahnya banyak dan demi asas keadilan, maka abjad dipilih secara random. Setiap gulungan kertas berisi huruf dimasukkan ke dalam sedotan lalu setiap orang memilih.
Enam tahun berdiri tentu banyak anggota datang dan pergi. Banyak pula yang sudah tidak berdomisili di Bandung. Oleh karena itu, para penulis yang jauh atau tidak bisa hadir saat pemilihan huruf diwakilkan oleh yang hadir. Karena dipilih secara acak, maka penulis harus terima-terima saja saat mendapatkan (terutama) huruf yang jarang digunakan seperti Q, W, X, atau Z. Kemudian proses penulisan berlangsung. Rizal muncul sebagai pilot project-nya.
Project ini sempat terendap dan terbengkalai. Proses pembuatannya pun ada saja kendalanya. Ada yang miskomunikasi sehingga ada yang harus keluar dari proyek, ada yang merasa tidak mampu mengejar jumlah kata kemudian mundur, atau ada yang sulit dihubungi. Setelah rampung pun karya ini masih berdiam diri, seolah-olah mobil yang kehabisan bahan bakar. Syukurlah, Farida memberi angin sangat segar bahwa Grasindo berminat dengan konsep antologi yang kami miliki.
Dengan proses yang relatif singkat, lalu lahirlah ia, anak pertama komunitas kami di bulan September 2013. Dengan nama A to Z by Request, ia dibandrol dengan harga Rp47.000 dan tersedia di toko buku besar seluruh Indonesia.
Kelahiran anak kami ini akan dirayakan pada 16 November 2013 di Gramedia Merdeka, Bandung. Acaranya akan dimulai pada pukul 14.00 hingga pukul 16.00. Kami, para penulis, akan sangat senang jika teman-teman mau meluangkan waktunya untuk datang dan berkenalan dengan buku antologi pertama kami, A to Z by Request, yang lahir dari kecintaan kami pada menulis.
Oh ya, di hari yang sama, kami akan melakukan wawancara di Raka FM 98.8 pukul 11.00. Untuk yang berada di luar kota, sila streaming.
Acara ini sama seperti hal yang kami percayai bahwa Reading Lights Writer's Circle adalah ruang terbuka untuk siapa saja. Reading Lights Writer's Circle adalah memfasilitasi, memberi, dan juga menerima.
Jurnal Mingguan Karya Peserta Writers' Circle di Reading Lights Bookshop & Coffee Corner, Bandung.
Rabu, 06 November 2013
Selasa, 13 November 2012
Cinta karena Biasa
Entah
bagaimana menjelaskan hubungan saya dengan writer’s
circle dalam satu kata:
Rumit?
KDRT?
Hampir
enam tahun hubungan terjalin, kata ‘cinta’ tak pernah disebut. ‘Sayang’
menghilang. ‘Senang’ datang dan pergi.
‘Bosan’
berkali-kali ditelan, seperti pada hari itu.
***
Saat jam menunjukkan pukul tiga, Andika
masih asyik di depan komputer, memeriksa keadaan Box Office Amerika akhir pekan
itu. Ia ingin menonton Daniel Day-Lewis memerankan Presiden Lincoln. Ia ingin
mengunduh trailer filmnya, tetapi sejam
lagi writer’s circle. Andika menghela
napas keras. Dari jendela ia melihat gumpalan awan gelap menggantung di
kejauhan – turunnya hujan bukan lagi pertanyaan. Kalau mau nggak datang sebetulnya hari ini, batin Andika. Namun ia
telanjur berjanji pada Farida akan datang hari itu. Sekali lagi Andika menghela
napas, tetapi tak terlalu keras. Tanpa menunda lagi, ia segera mengambil …
sapu.
***
Setiap hendak bepergian, ada prinsip
yang selalu dipegang Andika: rumah ditinggal dalam keadaan rapi. Selimut mesti dilipat.
Lantai paling tidak disapu. Jika ada piring dan peralatan dapur yang kotor maka
harus dicuci. Ketika pulang, ia ingin kerapian dan kebersihan itu ‘memeluknya’.
Sebelum berangkat writer’s circle, ada banyak yang harus dilakukan Andika. Semalam ia
baru menamatkan Great House, sebuah novel tentang orang-orang yang kakinya
terantai masa lalu. Bangun kesiangan, ia lantas terlalu banyak bermalasan
dengan laptop menyala di perut. Membaca berbagai penafsiran
novel, kadang-kadang ia menyetujui pendapat beberapa kritikus. Kadang-kadang
tidak. Andika membaca ulang, mencari poin-poin yang dilewatkannya, lama sekali.
Lalu menentukan dan mengunduh bacaan selanjutnya. Setelah menamatkan novel
dewasa, ia senang membaca novel anak-anak. Tahu-tahu hari sudah sore.
Setelah menyapu, masih ada piring,
cangkir, dan wajan kotor masih menumpuk. Bekasnya sarapan, minum kopi, serta
teh. (Ia ingat harus lebih banyak minum air putih.) Bekas Ibu menumis ikan,
telur, dan tomat. Mencuci piring kelihatannya cepat, tetapi sering membuat
terlena. Tahu-tahu waktu telah terulur panjang. Andika bergegas, Apa yang mesti dimasukkan? STNK, cek! Buku menulis, cek! Tempat pensil, cek! Laptop, cek! Oke, Semua siap?
Siap? Di luar Andika memutuskan memakai sandal karena yakin akan hujan.
Kaus kaki dan sepatu pun dimasukkan dalam tas yang kemudian dibungkus lapisan
tahan air. Saat mengunci pintu, Andika meraba sakunya, lalu kembali ke rumah
untuk mengambil dompet. Ketika keluar, ia teringat bahwa Nia mungkin datang,
lalu mengambil kartu pos dari Marty dan Neni untuk dipamerkan. Kali ini Andika
ingat menyalakan lampu teras, kalau-kalau belum ada yang pulang saat hari
gelap. Setelah pintu terkunci, ia pun memicu motornya.
***
Antrian
sirkus, bioskop, maupun wahana di Dufan mungkin menyenangkan. Di
ujungnya ada sesuatu yang diinginkan dan menunggu membuat sesuatu itu semakin
istimewa. Cukup membuat Andika tertegun
menyadari hanya ada writer’s circle
di ujung antrian panjang kendaraan di Perempatan Pahlawan. Hanya writer’s circle terdengar berlebihan.
Sebetulnya tak ada yang salah dengan writer’s
circle, selain ia merasa terlalu sering melakukannya. Seperti makanan
kesukaan yang dimakan terlalu sering dalam jangka waktu panjang. Ketika ia
sudah hapal rasa makanan sebelum melahapnya, makanan itu kehilangan keistimewaannya.
Beberapa pertemuan lalu Andika bersukarela menulis jurnal writer’s circle, tetapi sejumlah percobaaan mandek di tengah-tengah
lantaran ia merasa apa yang dilaluinya biasa.
Ia tak kepingin menulis hal serupa terus-menerus.
***
Ketika gerimis pertama mendarat, Andika
telah terlepas dari kemacetan. Motor-motor berseliweran di samping kiri dan
kanan. Mungkin tak seorangpun yang mau kehujanan. Langit gelap, tujuan masih
jauh, Andika menepi dan memakai jas hujan. Gerimis sempat berhenti, tetapi di
Jalan Surapati hujan turun deras dan semakin deras. Angin bertiup kencang,
secara kasat mata membelokkan jatuhnya air. Jarak pandang semakin menurun.
Motor-motor menepi. Mobil-mobil menyalakan lampu darurat. Jalan raya mulai
dilalui juga arus air, sampai ke tengah. Kalau
mau nggak datang, sebetulnya hari ini,
pikir Andika. Namun ia tetap melaju. Cepat sekali ia berubah pikiran. Hujan
angin membuat toko buku Reading Lights terasa
begitu … jauh. Begitupun ingatan akan interaksi dengan Dani, Ririe, serta para
peserta reguler writer’s circle lainnya.
Bersamaan dengan merembesnya air ke dalam jas hujan, muncul juga kata ‘kangen’.
Pelupuk mata Andika mulai terasa hangat. Ketika sulit mencapai writer’s circle, tiba-tiba satu-satunya
keinginannya adalah berada di dalam lingkaran itu.
Mencapai jalan layang Pasupati, Andika
urung naik karena khawatir di atas angin makin keras. Ia lurus dan berbelok ke
Jalan Ir. H. Juanda, lalu menyadari itu keputusan yang salah.
Jalan raya sudah berubah menjadi sungai
deras.
Mobil dan motor mengantri. Namun antrian
tidak bergerak maju untuk waktu cukup
lama. Andika ingin mematikan mesin motor, tetapi takut tidak bisa menyala lagi.
Asap-asap putih menguar dari kendaraan. Permukaan air semakin lama semakin
tinggi dan arusnya makin deras. Di bahu jalan lebih tinggi dan deras. Andika
gigit jari. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak. Gelombang air besar. Pohon tumbang. Jika sedang ada laki-laki yang
disukainya, Andika yakin akan menyerukan namanya keras-keras supaya mendapat
kekuatan. Namun tidak ada. Andika mematikan motornya, meminta pengendara motor
di sebelahnya mundur sedikit supaya ia bisa lewat. Dan bisa. Kini tinggal
memarkir di pelataran Evieta Klappertart yang permukaannya tak tersentuh air, tetapi
arus di lajur kiri yang deras membuat motornya sulit dikendalikan, seperti
didorong tanpa henti. Andika maju sambil menekan pedal rem … dan berdoa.
Untungnya motor naik ke permukaan aman dengan selamat. Andika mencoba
menyalakan mesin … dan bisa.
***
Andika meneruskan perjalanan dengan
berjalan kaki. Trotoar jalan tertutup gelombang air. Masih ingat cerita pejalan
kaki yang hilang ditelan lubang trotoar? Andika masih.
Ia berjalan, sesekali melompat, di
antara-taman-taman di samping trotoar yang berubah wujud seperti pulau-pulau
kecil. Pelan-pelan hujan berhenti, tetapi di darat air masih deras. Antrian
mobil berujung di SMA 1, sebuah mobil di urutan terdepan berhenti karena mesin
mati. Di jembatan penyeberangan seorang perempuan memotret barisan mobil di
bawahnya. Andika ikut naik. Di satu sisi mobil-mobil mengantri, di sisi lain
air mengalir ke bawah. Tahun 2004-2006, Andika bersekolah di SMA 1, tetapi tak
pernah mengalami banjir seperti ini. Tapi
Bung ini tahun 2012. Ketika esok
harinya googling, ia baru tahu
belakangan banjir separah itu memang kerap terjadi.
Setelah memarkir motor, langkah dan perasaan
Andika semakin ringan. Ia merasa kemungkinannya bertemu writer’s circle justru meninggi. Di depan ITB, hujan tinggal
gerimis. Andika mulai berjalan sambil bersenandung. Ketika bertemu tukang
gorengan, ia membeli dua tahu, dua cireng, dan satu tempe yang dimakannya
duluan. Langkahnya terhenti lagi ketika bertemu tukang batagor.
***
Jelang pukul enam, Andika sampai di toko
buku Reading Lights. Di ruang
belakang, Farida menyentuh jaketnya, “Ini air?! Ini minum yang anget-anget
dulu.” “Wah, wah,” Dani berkomentar, “Coba dilepas dulu. Kentang gorengnya
habisin saja.” “Hahaha, itu kan punya Sapta,” timpal Ririe. “Ini minum, teh
gua. Jumbo, lho.” Andika pun menuruti semua ucapan itu.
***
“Jadi
tema menulisnya apa?” tanya
saya.
“Cinta
karena biasa,” jawab Ririe.
“Oh, ya?”
Sejenak saya diam sambil
mengeluarkan barang-barang dari tas yang basah. Cinta karena biasa, pikir saya. Di
buku menulis yang setengah halamannya basah dirembesi air, saya mulai
menuliskan cerita hubungan saya dengan writer’s circle.
***
Andika Budiman
PS: Saya bersukarela menulis jurnal pada tema Depth of Field yang difasilitatori oleh Indra. Sayangnya jurnal itu
tidak kesampaian dengan alasan writer’s
block. (“Deuu!”) Setelah minggu itu sebetulnya writer’s circle tetap berlangsung meskipun tak tercatat dalam
jurnal, temanya berturut-turut sebagai berikut: mendeteksi satu cerita jujur di
antara dua cerita bohong, menulis berdasarkan sampul buku pilihan, menulis
cara-cara kurang menyenangkan untuk mati, menulis cerita tentang berpisah untuk
kembali, menulis kartu pos untuk peserta di sebelah kita, dan menulis cerita
dari situasi tidak mungkin.
Minggu, 16 September 2012
Ringkasan dan Adegan
Dari buku Writing Fiction karya Janet Burroway, Indra--fasilitator writer's circle hari Sabtu (15/9)--memilih ringkasan (summary) dan adegan (scene) sebagai latihan menulis. Para penulis diminta untuk melakukan flashback yang berhubungan dengan setting tempat dan waktu yang diingat secara spesifik seperti pekerjaan, tradisi keluarga, dan lainnya. Misalnya ringkasan dari cerita adalah main di sawah saat berlibur ke rumah kakek lalu adegannya adalah ketika digigit ular saat berada di sawah.
Penulis pertama yang membacakan karyanya adalah Opie yang buru-buru karena akan menonton video mapping di Gedung Sate. Opie menulis ringkasan mengenai ia dan teman-teman kuliahnya yang merencanakan liburan. Dari berbagai tempat, akhirnya mereka mereka memutuskan pergi ke Ujung Genteng. Kemudian adegan ditarik saat hubungan ia dan salah satu temannya menjadi renggang. Jurang yang diantara mereka berdua terus berlangsung hingga mereka lulus dan bekerja.
Kemudian saya meminta diri untuk membacakan karya saya selanjutnya. Ringkasan yang saya tulis adalah ketika saya berlibur ke Sorong, Irian Jaya. Adegan spesifiknya adalah ketika saya dan teman-teman dikejar burung kasuari.
![]() |
| Ini dia penampakannya |
Indra bercerita tentang pengalaman saat ia berada di Jakarta ketika masih duduk di bangku kelas 3 SD sebagai ringkasan ceritanya. Kemudian adegan yang ia tulis adalah saat ia dikerjai oleh teman-teman perempuannya dimana ia didandani seperti perempuan dan dipaksa rambutnya agar lurus. Wangi bedak, baby oil, dan suara tinggi khas perempuan pun menjadi detil ceritanya. Jakarta, baginya, sama seperti perempuan: tidak pernah sama.
Sementara Belinda, teman baru kami, bercerita tentang tokoh yang menulis puisi yang terinspirasi dari bungkus permen. Tokoh mengingat dimana ada seorang nenek yang memberi permen kepada seorang anak yang kemudian anak itu mengeluh karena permennya pahit. Belinda menjelaskan di akhir tulisan bahwa "tidak semua yang menarik itu enak".
Dilanjut Rizky, ia menulis ringkasan tentang seorang tokoh yang ada di food court yang memilih mojok sendiri dan mendengar musik di iPod. Tokoh adalah tipe orang yang mudah terusik dengan orang-orang yang berisik. Adegannya adalah ketika seorang teman datang dan menyuruh tokoh untuk mencoba bergabung dengan teman-teman lainnya. Akhir cerita Rizky ini menimbulkan perdebatan panjang diantara kami tentang open ending dengan ending yang menggantung. Mungkin bisa jadi PR pertemuan selanjutnya.
Ringkasan mengenai seorang tokoh "aku" yang berada di rumah sakit ditulis oleh Dani. Di sana, si "aku" ditemani oleh Arin, gadis tercantik di kelas. Saat tokoh siuman, ia bingung mendapati dirinya berada di rumah sakit dengan perut yang terasa sakit. Ternyata kejadian sebelumnya adalah teroris menyandera anak-anak sekolah lalu si "aku" melindungi Arin dari bom sehingga organ dalamnya memar dan ginjalnya rusak.
Sebagai penutup, Marty menulis ringkasan saat ia berada di Reading Lights. Saat akan buka puasa, seorang staf Reading Lights mengingatkannya untuk berhati-hati agak kertas penutup kuenya tidak termakan. Karena kesal, tokoh sempat mengeluh dalam hati bahwa ia bukan pemakan kertas. Tahunya benar saya, si tokoh tidak sengaja memakan kertas kue. Kontan ini membuat si tokoh malu sendiri.
Latihan menulis kali ini begitu membantu penulis untuk menuliskan satu adegan/kejadian spesifik dari sebuah cerita yang cukup besar. Agar adegan terasa fokusnya, penulis bisa menuliskan detil setting seperti apakah saat itu hari sedang hujan, bagaimana detil tempatnya, bagaimana setting waktunya (pagi/siang/sore/tahun beraapa), dan lainnya. Selain setting, penulis juga bisa menambahkan dialog agar lebih lancar peceritaannya.
Nia Janiar. Pekerja swasta yang bolak-balik Bandung-Jakarta. Kini lebih banyak menulis non fiksi ketimbang fiksi. Untuk lihat catatan kesehariannya, sila berkunjung ke: http://mynameisnia.blogspot.com/
Selasa, 26 Juni 2012
Emosi Dalam Cerita
Emotion:
an affective state of consciousness in which feelings are experienced.
Emosi adalah tema menulis di RLWC pada tanggal
23 Juni 2012.
Adalah saya yang membawa tema ini setelah
beberapa minggu absen dari kegiatan menulis bersama. Tema ini berawal dari
obrolan saya dengan seorang kawan yang menulis naskah teater; baginya, berbeda
dengan karya fiksi tertulis, tantangan membuat naskah teater adalah membangun
karakter dan mood yang spesifik
dengan keterbatasan waktu dan ruang panggung pementasan.
Saya sadar, penulis cerita fiksi punya lebih
banyak kebebasan untuk mengekspresikan karakter cerita dibandingkan penulis
naskah teater atau penulis skenario film. Hal ini adalah anugerah sekaligus
kutukan. Anugrahnya, penulis cerita fiksi punya lebih banyak cara untuk
menyampaikan ceritanya. Kutukannya, kebebasan bisa membuat penulis terjebak
untuk “mengatakan” ketimbang “menunjukkan”. Padahal, tentu saja, berbeda dengan
karya tulis ilmiah, karya tulis fiksi tidak hanya berisi fakta-fakta yang
“dikatakan”, melainkan juga mood,
emosi, yang harus dirasakan dan dialami, bukan dikatakan.
Tujuan saya memilih emosi sebagai tema kali
ini adalah agar penulis bisa berlatih dan belajar menciptakan mood sesuai dengan penghayatan emosi si
tokoh. Tantangannya dengan tema ini, tentu saja, adalah membawa pembaca untuk
ikut merasakan perasaan sang tokoh cerita; sesuatu yang jauh lebih kompleks
dibandingkan dengan “mengatakan” apa yang sedang sang tokoh rasakan.
Untuk latihan kali ini, saya menggunakan 6
emosi dasar dari artikel di Wikipedia. Tiga di antaranya bersifat positif: happiness, excitement, dan tender; tiga lainnya bersifat negatif: sadness, anger, dan fear. Melalui kertas undian, masing-masing penulis mendapatkan satu
jenis emosi secara acak dan kemudian menuliskan cerita dengan upaya membawa
pembaca untuk merasakan emosi sang tokoh utama.
Saya yang pertama kali membacakan cerita. Cerita
dibuka dengan “aku” yang sendirian, mabuk-mabukan sejak menerima e-mail
perpisahan dari orang yang dikasihinya. Ia terus-terusan minum untuk melupakan
semua kenangan yang kini menyakitkan, dan ia ingin menjadi tiada. Emosi yang
coba saya bangkitkan adalah sadness,
yang saya bangun melalui penghayatan ruang (ruangan kosong dengan botol-botol
bir yang kosong), kenangan-kenangan manis yang sudah berlalu, serta penggunaan
objek metafora (mendung yang menjelma hujan). Penulis lain bisa dengan mudah
menebak bahwa emosi dasarnya adalah sadness.
Andika berkomentar bahwa kesan sadness
bisa diperkuat lagi jika saya memasukkan benda-benda yang bermuatan kenangan
dan bukan hanya kenangan-kenangan manis yang bersifat general saja. Saya setuju dengan masukan Andika, bahwa objek-objek
yang bermuatan emosi bisa digunakan untuk menggambarkan emosi (bahkan bisa
dibilang ini salah satu cara yang paling kuat).
Berikutnya adalah Indra, yang bercerita
tentang Panca, seorang pemuda penggangguran yang masih tinggal dengan ibunya.
Sepanjang cerita Panca tampak menyembunyikan banyak kebohongan; ia berbohong
sudah shalat, dan ia berbohong tentang kelulusannya, karena pada kenyataannya
ia di-DO. Dalam cerita ini ada adegan di mana sang ibu dan Panca berdebat,
karena sang ibu peduli pada masa depan anaknya sementara Panca sendiri merasa
tidak nyaman dengan keingintahuan ibunya. Sebenarnya, Indra mendapatkan emosi tender, yaitu emosi positif yang tenang
seperti cinta kasih atau ketulusan. Namun Indra sendiri salah memaknai emosi tender (yang ia maknakan sebagai emosi
negatif). Lepas dari tepat tidaknya penggambaran emosi tender dalam cerita ini, saya tertarik dengan cara Indra
menggambarkan guilt, yang sebenarnya
juga termasuk emosi dasar namun tidak digunakan dalam latihan menulis kali ini.
Selain membuka kebohongan-kebohongan Panca secara naratif, Indra juga mampu
menampilkan rasa bersalah (guilt)
Panca melalui dialog dengan ibunya. Saya belajar bahwa emosi/mood
pun bisa dibangun melalui dialog. Beberapa pendengar yang lain juga mengatakan
bahwa mereka bisa merasakan tender
dari kepedulian ibunya, meskipun menurut saya emosi tender ini hanya jadi bagian kecil dari cerita.
Setelah Indra, ada Nia yang berinisiatif bercerita
tentang Raya, yang diam-diam membolos sekolah untuk membeli sebuah buku langka
dari seorang kenalannya, untuk melengkapi koleksi bukunya di rumah. Setelah
adegan menyelinap-menyelinap supaya tidak ketahuan, Raya berhasil meletakkan
buku tersebut di jajaran koleksinya dan “tubuhnya mengembang”. Emosi yang Nia
coba tunjukkan adalah happiness. Di
sini Nia melakukan penggambaran melalui media yang belum digunakan oleh saya
dan Indra, yaitu penghayatan tubuh (“tubuhnya mengembang”). Saya sendiri merasa
yang lebih banyak diangkat dalam cerita ini adalah excitement, melalui adegan-adegan menyelinap dari orangtua demi
mendapatkan buku itu, namun penggunaan penghayatan tubuh itu cukup berhasil
menggambarkan happiness. Andika
menambahkan bahwa untuk memperkuat emosi happiness-nya,
mungkin bagian akhir cerita (ketika koleksi bukunya lengkap dan tubuhnya
mengembang) bisa dijadikan awal. Saya setuju dengan Andika; mungkin cara itu
bisa membuat emosi dominan di cerita ini menjadi happiness.
Setelah berkomentar, Andika membacakan ceritanya.
Tokohnya bernama Doni, yang bertemu kembali dengan teman lamanya di suatu
pementasan. Sepanjang pementasan ia menjadi lebih aware dengan pakaian yang dikenakannya, merasakan kursi menjadi
panas, dan mulai berkeringat di selangkangan. Namun setelah pementasan itu
mereka tidak lagi saling berhubungan, sehingga Doni menjadi harap-harap cemas.
Dika sendiri mencoba menggambarkan excitement,
namun saya merasa maknanya menjadi rancu dengan anxiety, yang lebih dekat dengan fear. Lepas dari perdebatan mengenai excitement atau anxiety,
saya suka dengan cara Andika yang menggambarkan emosi tokoh melalui penghayatan
tubuh, mirip dengan Nia (meskipun banyak yang mempertanyakan perihal keringat
di bagian selangkangan).
Setelah Andika, Sabiqlah yang membawakan
cerita tentang “aku”, seorang siswa SMA yang kecewa karena saat datang ke
sekolah, teman-temannya tidak menyiapkan pesta kejutan untuknya karena sedang
fokus dengan UN. Emosi dasarnya adalah anger,
dan hal ini mudah ditangkap oleh para pendengar yang lain. Hal ini ditunjukkan
dengan dialog batin sang “aku”, yang memberikan alasan-alasan mengapa ia
kecewa. Catatan tambahan dari Indra, ternyata emosi dasar anger pun bisa disampaikan secara lucu. Artinya, emosi dasar masih
bisa tersampaikan dengan baik, seperti apa pun genre ceritanya (dalam hal ini
saya pikir cerita Sabiq bersifat komikal).
Berikutnya, Cesar memulai ceritanya dengan
kepanikan di sana-sini. Seorang wanita bingung harus lari ke mana, akhirnya
memilih diam dan bersembunyi, berharap akan selamat, namun akhirnya ia terkena
“hujan kelamin”. Terma “hujan kelamin” sendiri sudah membuat cerita Cesar
menjadi salah satu cerita yang paling diingat dalam sesi ini. Lepas dari terma
“hujan kelamin” yang fenomenal itu, Cesar cukup bisa membangun emosi fear dengan menunjukkannya melalui
perilaku sang wanita, yang berlari, lalu bersembunyi, dan menjambaki rambutnya
sendiri dalam persembunyiannya. Menurut saya, emosi fear bisa terbangun lebih kuat bila Cesar membuat karakter utama
yang bisa diidentifikasi oleh dari awal cerita dan bukan hanya menciptakan setting tanpa karakter yang spesifik.
Setelah Cesar, Almer bercerita tentang tokoh
aku yang mengumpat karena terus-terusan diumpati kakaknya, karena membawa
makanan yang tidak enak. Seperti cerita Sabiq, tidak sulit juga menangkap emosi
dasar anger dari cerita ini. Almer
menunjukkannya dengan dialog batin berupa umpatan, maupun pemberian motif yang
menjelaskan perasaan “aku”.
Sebagai penutup, Farida membawakan cerita yang
cukup panjang. Tokoh utamanya adalah Tono, yang mulai mengamati ritual aneh
orangtuanya setiap malam. Dari obrolan dengan temannya, Ari, Tono tahu bahwa
akan ada yang datang ke desa, dan akan ada anak yang hilang, seperti kakak Tono
dulu. Malamnya, Tono sulit tidur. Ia melihat pohon rambutan berbayang-bayang,
mendengar suara derak jendela, dan jantungnya menggedor-gedor, sebelum kemudian
ia mendengar suara kakaknya, dan gelap. Dituturkan dengan gaya horror/thriller klasik, mudah sekali bagi
pendengar untuk merasakan fear. Dalam
hal ini Farida menggunakan cara bertingkat untuk membangun mood yang kuat, mulai dari ritual-ritual orangtuanya, foreshadowing (obrolan dengan Ari bahwa
akan ada anak yang hilang), penghayatan objek/metafora (pohon bambu, kuburan,
pohon rambutan yang berbayang-bayang, jendela yang berderit), dan penghayatan
tubuh (jantung yang menggedor-gedor). Sedikit catatan saja dari saya:
penggunaan pohon bambu, kuburan, dan pohon rambutan yang berbayang-bayang bisa
menjadi lebih kuat jika Farida tidak menambahkan keterangan tambahan (pohon
bambu dan kuburan membangkitkan imaji-imaji di kepalanya). Tanpa harus
“dikatakan”, pohon bambu, kuburan, dan pohon rambutan sudah cukup kuat untuk
menimbulkan imaji yang kuat di benak pembaca.
Dari sesi menulis kali ini, saya dan
teman-teman banyak mempelajari hal baru untuk menggambarkan dan membangun emosi
dalam cerita. Di antaranya yang ditampilkan dalam cerita-cerita yang ditulis
dalam sesi ini adalah:
- Penghayatan ruang (mis. Kosong, penuh, lepas, gelap)
- Penghayatan objek/pemanfaatan objek sebagai metafora (mis. Botol bir, awan, hujan, pohon, makam)
- Penghayatan tubuh (mis. Kesadaran penampilan, perasaan mengembang, degup jantung), atau perilaku (mis. berlari, bersembunyi, menjambaki rambutnya sendiri)
- Dialog (antar tokoh atau dialog batin), yang biasanya dipadukan dengan motif (bagaimana tokoh diperlakukan orang lain, alasan mengapa tokoh merasa suatu emosi tertentu)
- Foreshadowing (khususnya untuk fear/anxiety).
Andika dan Indra menambahkan ada beberapa
teknik lain yang bisa dipakai, di antaranya:
- Irama/pace (panjang-pendek kalimat untuk membangun ketegangan), yang saya pikir bisa diperluas menjadi penghayatan waktu (mis. Ingin cepat-cepat besok, waktu berlalu sangat lambat, waktu berlalu sangat cepat, tidak ingin saat ini berakhir).
- Penggunaan huruf vokal dominan. Andika menerangkan bahwa dalam puisi penggunaan vokal “a” lebih identik dengan emosi seperti happiness sementara vokal “i” lebih identik dengan emosi sadness. Penggunaan konsonan tertentu juga bisa membangkitkan emosi tertentu misalnya “r” untuk anger, atau bahwa “a” lebih sesuai dengan emosi aktif (anger, happiness, excitement) sementara “i” lebih sesuai dengan emosi pasif (tender, sadness, fear)... tapi ini hanya hipotesis saya pribadi :D
Dengan pembahasan tentang cara-cara
menggambarkan emosi berakhir pula pertemuan sesi ini. Apakah ada cara
menggambarkan emosi yang terlewat oleh kami? Silakan di-share dengan kami :)
Rizal Affif. Di luar tugas-tugasnya sebagai freelance HR consultant, ia menghabiskan
waktunya untuk blogging, menulis
novel, dan bersepeda gunung. RLWC adalah salah satu kesempatannya menyegarkan
diri di sela-sela kesibukannya menilai para calon manajer untuk menghidupi
dirinya. Ia baru saja meluncurkan Harmoniselife (www.harmoniselife.com), sebuah
blog mengenai gaya hidup natural, serta sedang
berusaha merampungkan novel perdananya di sela-sela kesibukannya.
Selasa, 05 Juni 2012
Luka yang Kusembunyikan
Penyakit yang berbintil-bintil menyerupai jengger ayam ini tidak akan kubilang siapa-siapa selain dokter, Tuhan, serta istriku yang sudah mengetahuinya. Waktu itu ia menjerit kemudian bersumpah serapah jijik melihatnya. Ia juga menuduhku sudah bermain kotor dengan perempuan lain sehingga aku mendapatkan penyakit ini. Tidak, tidak ada yang tahu selain kami berempat.
Tapi rupanya yang memiliki penyakit memalukan seperti ini tidak hanya aku, teman-temanku yang lain memilikinya. Atau jika bukan penyakitnya, tetapi latar belakang penyakit atau kejadiannya cukup memalukan. Aku tahu kisah orang-orang itu dari teman-temanku yang menuliskannya. Misalnya Andika Budiman yang bercerita tentang Tono, bocah berusia 7 tahun, yang memutuskan disunat karena alasan yang sangat infantil--ia ingin mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Walaupun ia harus mengalami sakit terutama saat pergantian perban atau saat kepala penis yang agak basah menempel di celananya.
Atau Farida Susanty yang berkisah tentang seorang pemuda bernama Anto yang datang ke sekolah dengan keadaan babak belur di wajah dan kaki. Ia bercerita bahwa ia dipukuli geng motor karena ada salah satu perempuan dari sekolah tetangga yang menyukai Anto. Tetapi yang mengetahui sebenar-benarnya cerita Anto hanyalah Rino. Rino tahu bahwa Anto berbohong. Ia mengalami luka-luka karena karena lupa menurunkan kedua kakinya saat motornya berhenti di lampu merah.
Selain itu ada Dani yang bercerita tentang Haris yang memiliki luka di kelapa yang cukup besar sehingga harus di perban. Dengan modus yang hampir sama dengan cerita Farida, Haris berkata bohong pada orang-orang yang menanyakan perihal lukanya. Padahal sebenarnya Haris terkantuk layar monitor saat ngantuk. Aku sempat bertanya perihal dimana rasa malunya (karena kupikir ini tidak lebih memalukan dariku yang memiliki jengger), lalu Dani menjawab bahwa hal seperti itu cukup memalukan untuk anak-anak IT.
Lalu temanku satu lagi, Almer, mencoba bercerita namun ceritanya tidak selesai. Intinya ia akan bercerita tentang seorang ksatria yang mengembara dengan luka menganga. Sementara itu Rizky bercerita tentang kisah yang agak-agak surealis (sehingga aku agak kurang mengerti). Tanda surealis ini terlihat ketika ia bercerita tentang seseorang yang memiliki luka di dahi yang semakin lama semakin membesar dan tidak bisa ditutupi oleh perban. Rupanya Rizky menarik garis yang jauh kepada sebuah pemaknaan seseorang tentang luka yang memalukan: semakin malu terhadap luka, maka seseorang akan merasa semakin besar lukanya.
Ah, lega juga menyadari bahwa aku tidak sendiri. Oh ya, kalau mau tahu ceritaku, bisa dilihat di sini. Oh, akhirnya yang tahu tidak kami berempat lagi.
Tapi rupanya yang memiliki penyakit memalukan seperti ini tidak hanya aku, teman-temanku yang lain memilikinya. Atau jika bukan penyakitnya, tetapi latar belakang penyakit atau kejadiannya cukup memalukan. Aku tahu kisah orang-orang itu dari teman-temanku yang menuliskannya. Misalnya Andika Budiman yang bercerita tentang Tono, bocah berusia 7 tahun, yang memutuskan disunat karena alasan yang sangat infantil--ia ingin mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Walaupun ia harus mengalami sakit terutama saat pergantian perban atau saat kepala penis yang agak basah menempel di celananya.
Atau Farida Susanty yang berkisah tentang seorang pemuda bernama Anto yang datang ke sekolah dengan keadaan babak belur di wajah dan kaki. Ia bercerita bahwa ia dipukuli geng motor karena ada salah satu perempuan dari sekolah tetangga yang menyukai Anto. Tetapi yang mengetahui sebenar-benarnya cerita Anto hanyalah Rino. Rino tahu bahwa Anto berbohong. Ia mengalami luka-luka karena karena lupa menurunkan kedua kakinya saat motornya berhenti di lampu merah.
Selain itu ada Dani yang bercerita tentang Haris yang memiliki luka di kelapa yang cukup besar sehingga harus di perban. Dengan modus yang hampir sama dengan cerita Farida, Haris berkata bohong pada orang-orang yang menanyakan perihal lukanya. Padahal sebenarnya Haris terkantuk layar monitor saat ngantuk. Aku sempat bertanya perihal dimana rasa malunya (karena kupikir ini tidak lebih memalukan dariku yang memiliki jengger), lalu Dani menjawab bahwa hal seperti itu cukup memalukan untuk anak-anak IT.
Lalu temanku satu lagi, Almer, mencoba bercerita namun ceritanya tidak selesai. Intinya ia akan bercerita tentang seorang ksatria yang mengembara dengan luka menganga. Sementara itu Rizky bercerita tentang kisah yang agak-agak surealis (sehingga aku agak kurang mengerti). Tanda surealis ini terlihat ketika ia bercerita tentang seseorang yang memiliki luka di dahi yang semakin lama semakin membesar dan tidak bisa ditutupi oleh perban. Rupanya Rizky menarik garis yang jauh kepada sebuah pemaknaan seseorang tentang luka yang memalukan: semakin malu terhadap luka, maka seseorang akan merasa semakin besar lukanya.
Ah, lega juga menyadari bahwa aku tidak sendiri. Oh ya, kalau mau tahu ceritaku, bisa dilihat di sini. Oh, akhirnya yang tahu tidak kami berempat lagi.
- Harri
Sabtu, 19 Mei 2012
Penyesalan Selalu Datang Terlambat
Katanya. Saya mungkin menggunakan judul itu untuk membenarkan kesalahan saya yang terlambat membuat jurnal tentang rasa bersalah. Duh, Farida. Rasa bersalah yang mengiringi laporan jurnal menulis tentang rasa bersalah. Tapi seterlambat apapun, saya tetap ingin menulisnya untuk menebus kesalahan saya.
Saat itu tidak banyak peserta RLWC yang datang menghadiri pertemuan. Hanya ada saya, Andika, Rizal, Dani, dan Mbak Riri. Sisanya tidak datang atau tidak ikut menulis. Di sebelah kami ada Marwan, yang sebelumnya pernah memberikan presentasi tentang pembuatan komik di salah satu sesi RLWC. Dia juga tidak ikut menulis.
Beberapa saat, kami juga kesulitan mencari tema. Hingga saya tiba-tiba teringat tentang sesuatu yang saya baca sebelumnya, tentang rasa bersalah. Rasa bersalah katanya disebabkan oleh nilai yang berbeda antara nilai sosial dengan nilai kita, atau perasaan bahwa kita telah melanggar suatu nilai tertentu. Rasa bersalah bisa membuat orang melakukan apapun untuk menebus rasa bersalah itu.
(termasuk tetap menulis walau sudah terlambat)
Ternyata usulan tema saya diterima oleh peserta lain, dan akhirnya kami menulis tentang rasa bersalah. Beberapa menganggapnya sulit, tapi akhirnya kami kerjakan juga.
Cerita pertama dibacakan oleh Andika. Andika menggunakan gaya khasnya yang cukup memperhatikan detil dan mengalir. Ceritanya dituturkan oleh seorang narator yang menceritakan tentang hubungannya dengan temannya yang berubah sejak dia menemukan kesalahan temannya dalam hal yang sama-sama mereka sukai, menggambar. Cerita ini menimbulkan banyak pertanyaan di peserta lain, dan kami harus memastikan dan bertanya pada Andika tentang isi dari ceritanya. Mungkin karena pembatas setting yang kurang jelas, atau hal lain. Tapi Andika (dengan sabar, ya?) menjelaskan ceritanya. Jujur saya juga belum terlalu yakin apa yang saya simpulkan di sini pun sudah betul isi ceritanya. Andika bisa berkomentar.
Cerita selanjutnya datang dari Rizal. Rizal ternyata menggunakan perasaan pribadinya untuk menulis cerita ini. DIa menulis tentang seseorang yang tidak dapat menghayati ibadah yang dilakukannya, tapi tetap melakukannya demi ibunya, temannya, dan pacarnya. Peserta memuji gaya bahasa Rizal di cerita ini dan berkomentar bahwa rasa bersalahnya dapat terasa di cerita ini. Yang baik untuk disorot mungkin cara Rizal menjelaskan tentang shalat tanpa menyebutkan bahwa itu shalat. Ini salah satu cerita favorit saya darinya.
Kemudian Dani membacakan juga. Dani menceritakan tentang rasa bersalah seorang perempuan yang menjadi simpanan seorang gubernur yang ditembak mati. Dani mengakui ini terinspiras dari All The King's Men, sebuah film.
Selanjutnya Mbak Riri juga membagi rasa bersalahnya, dalam ceritanya tentang hasil audit yang dipalsukan dan bagaimana seseorang bisa berhenti merasa bersalah karena situasi yang mendorongnya. Para peserta tertarik dengan masalah audit ini dan merasa mendapat pengetahuan baru dari cerita Mbak Riri.
Saya sendiri? Saya tadinya ingin menulis sebuah rasa bersalah personal, tapi ternyata saya tidak tega. Saya menulis tentang seorang laki-laki yang mengidap obsessive compulsive disorder karena rasa bersalah pribadinya. Tapi nampaknya ceritanya juga kurang jelas sampai peserta lain tidak mengerti di endingnya. Sudahlah :p
Sekarang rasa bersalah saya sudah sedikit tertebus.
Mohon dimaafkan.
Farida Susanty adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran yang kecanduan siaran televisi berlangganan. Sekonyong-konyong tubuhnya akan terpaku di depan televisi apabila ada film-film seru di channel HBO. Genre film favorit Farida beragam di kisaran indie, teen-flick, drama, dll. Ia sudah menelurkan 4 buah buku yaitu Dan Hujan Pun Berhenti, Karena Kita Tidak Kenal, serta dua antologi. Sekarang ini ia sedang dalam proses menerbitkan buku selanjutnya. Kunjungi blognya http://lovedbywords.tumblr.com/
Saat itu tidak banyak peserta RLWC yang datang menghadiri pertemuan. Hanya ada saya, Andika, Rizal, Dani, dan Mbak Riri. Sisanya tidak datang atau tidak ikut menulis. Di sebelah kami ada Marwan, yang sebelumnya pernah memberikan presentasi tentang pembuatan komik di salah satu sesi RLWC. Dia juga tidak ikut menulis.
Beberapa saat, kami juga kesulitan mencari tema. Hingga saya tiba-tiba teringat tentang sesuatu yang saya baca sebelumnya, tentang rasa bersalah. Rasa bersalah katanya disebabkan oleh nilai yang berbeda antara nilai sosial dengan nilai kita, atau perasaan bahwa kita telah melanggar suatu nilai tertentu. Rasa bersalah bisa membuat orang melakukan apapun untuk menebus rasa bersalah itu.
(termasuk tetap menulis walau sudah terlambat)
Ternyata usulan tema saya diterima oleh peserta lain, dan akhirnya kami menulis tentang rasa bersalah. Beberapa menganggapnya sulit, tapi akhirnya kami kerjakan juga.
Cerita pertama dibacakan oleh Andika. Andika menggunakan gaya khasnya yang cukup memperhatikan detil dan mengalir. Ceritanya dituturkan oleh seorang narator yang menceritakan tentang hubungannya dengan temannya yang berubah sejak dia menemukan kesalahan temannya dalam hal yang sama-sama mereka sukai, menggambar. Cerita ini menimbulkan banyak pertanyaan di peserta lain, dan kami harus memastikan dan bertanya pada Andika tentang isi dari ceritanya. Mungkin karena pembatas setting yang kurang jelas, atau hal lain. Tapi Andika (dengan sabar, ya?) menjelaskan ceritanya. Jujur saya juga belum terlalu yakin apa yang saya simpulkan di sini pun sudah betul isi ceritanya. Andika bisa berkomentar.
Cerita selanjutnya datang dari Rizal. Rizal ternyata menggunakan perasaan pribadinya untuk menulis cerita ini. DIa menulis tentang seseorang yang tidak dapat menghayati ibadah yang dilakukannya, tapi tetap melakukannya demi ibunya, temannya, dan pacarnya. Peserta memuji gaya bahasa Rizal di cerita ini dan berkomentar bahwa rasa bersalahnya dapat terasa di cerita ini. Yang baik untuk disorot mungkin cara Rizal menjelaskan tentang shalat tanpa menyebutkan bahwa itu shalat. Ini salah satu cerita favorit saya darinya.
Kemudian Dani membacakan juga. Dani menceritakan tentang rasa bersalah seorang perempuan yang menjadi simpanan seorang gubernur yang ditembak mati. Dani mengakui ini terinspiras dari All The King's Men, sebuah film.
Selanjutnya Mbak Riri juga membagi rasa bersalahnya, dalam ceritanya tentang hasil audit yang dipalsukan dan bagaimana seseorang bisa berhenti merasa bersalah karena situasi yang mendorongnya. Para peserta tertarik dengan masalah audit ini dan merasa mendapat pengetahuan baru dari cerita Mbak Riri.
Saya sendiri? Saya tadinya ingin menulis sebuah rasa bersalah personal, tapi ternyata saya tidak tega. Saya menulis tentang seorang laki-laki yang mengidap obsessive compulsive disorder karena rasa bersalah pribadinya. Tapi nampaknya ceritanya juga kurang jelas sampai peserta lain tidak mengerti di endingnya. Sudahlah :p
Sekarang rasa bersalah saya sudah sedikit tertebus.
Mohon dimaafkan.
Farida Susanty adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran yang kecanduan siaran televisi berlangganan. Sekonyong-konyong tubuhnya akan terpaku di depan televisi apabila ada film-film seru di channel HBO. Genre film favorit Farida beragam di kisaran indie, teen-flick, drama, dll. Ia sudah menelurkan 4 buah buku yaitu Dan Hujan Pun Berhenti, Karena Kita Tidak Kenal, serta dua antologi. Sekarang ini ia sedang dalam proses menerbitkan buku selanjutnya. Kunjungi blognya http://lovedbywords.tumblr.com/
Rabu, 16 Mei 2012
Kau -- Sudut Pandang Kedua
Jam tiga sore – dari sudut toko buku Reading Lights, kau melihat
arus lalu lintas tak sepadat saat kau kemarin pulang. Di depanmu menunggu
halaman putih kosong, tetapi matamu tak bisa lepas dari pemandangan di balik
jendela. Pohon-pohon berdahan tinggi daunnya bergerak-gerak dihembus angin.
Sinar matahari memunculkan beraneka warna hijau. Kau lebih ingin berada di luar
daripada apapun. Namun, tidak semua keinginan mesti dituruti, kan? Perhatianmu
kembali ke halaman kosong. Mencoba menulis, tetapi tak bisa. Mungkin lebih
sulit memulai sesuatu jika dilakukan terlambat. Namun adakah kata terlambat
jika sesuatu itu berarti? Kau berhenti mencari alasan. Kau mengingat-ingat lagi
apa yang terjadi dalam pertemuan writer's circle dua pekan silam,
pertemuan di mana kau bertugas menulis jurnalnya.
Kau ingat, kau datang lebih cepat daripada peserta lainnya. Kau tidak
ingat, seperti apa cuaca hari itu. Padahal kau biasa memulai tulisan dengan
menggambarkan cuaca. Kau ingat, buku yang kaubaca sambil menunggu yang lain. Wise
Children oleh Angela Carter. Indra Permadi tiba beberapa saat setelahmu,
mengeluarkan buku Writing Fiction: A Guide to Narrative Craft oleh Janet
Burroway. Kalian pun bertukar bacaan. Buku Indra banyak memuat latihan,
penjelasan, contoh fiksi yang baik, bahkan naskah fiksi penuh coretan. Ketika
kau meminta Indra menjadi fasilitator menulis, laki-laki itu segera mengiyakan.
Belakangan Indra selalu memakai pewangi yang tak kau ingat ia pakai dua
tahun silam. Wangi serupa pernah kauendus saat menemani seorang teman
berbelanja di gerai The Body Shop. White Musk Sport for Men. (Kau membayangkan
reaksi temanmu Dani dan Nia ketika membaca kalimat barusan.) Lalu Dea datang.
Kalian terlibat pembicaraan lokal mengenai serunya berkirim kartu pos. Ketika
Ririe datang, kalian bergabung dengan Sabiq dan Almer yang telah menyulut rokok
di ruang belakang. “Kita mulai sekarang?” tanya Indra. Waktu menunjukkan pukul
setengah lima lebih, kau mengangguk. “Atau kita menunggu sebentar lagi?” tawar
Indra. “Bagaimana kalau ada yang datang lagi? Menjelaskannya jadi dua kali, kan?”
Kau geli. Indra tak menyebut nama, tetapi kaupikir yang dimaksudkannya adalah
Dani.
Sore itu, Indra muncul dengan tema dan latihan tentang sudut pandang.
Pertama-tama ia menjelaskan macam-macam sudut pandang: orang pertama, orang
kedua, dan orang ketiga. Dalam sudut pandang orang pertama, cerita dinarasikan
oleh 'aku' atau 'saya', sementara pada sudut pandang orang kedua penulis
menempatkan karakternya sebagai 'kau' atau 'kamu', “Seperti dalam surat,” Indra
mencontohkan. Lalu ada juga cerita bersudut pandang orang ketiga di mana
penulis menempatkan karakternya sebagai 'dia'. “Pada prakteknya sudut pandang
ketiga dapat sangat bervariasi, penulis bisa berperan sebagai Tuhan yang
menunjukkan isi hati semua karakternya, dan bisa juga tetap fokus pada
karakter-karakter tertentu,” jelas Indra. Konon semua sudut pandang ini sama
pentingnya. Sebuah cerita lama dapat memiliki rasa baru ketika dituturkan
dengan sudut pandang lain. Untuk membuktikannya, Indra meminta setiap peserta
menulis dengan sudut pandang yang paling jarang digunakan, “Tulislah cerita
menegangkan dengan sudut pandang orang kedua.” Setelah timer dipasang,
segenap peserta mulai sibuk dengan alat tulis masing-masing.
***
Andika! Kamu tahu contoh buku yang memakai sudut pandang
orang kedua?
Hmm, apa ya? Serial pilih-sendiri-petualanganmu? Biasanya
di akhir setiap kejadian, pembaca ditanyai apa tindakan yang mereka pilih
selanjutnya. Seingat saya, dalam serial ini pembaca dirujuk sebagai 'kamu'. Oh,
ya! The Perks of Being a Wallflower.
Novel ini terdiri dari serangkaian surat yang ditulis Charlie, tokoh utama buku
ini, kepada orang yang tak dikenalnya. Novel yang terdiri dari surat disebut
epistolary novel. Pada pertemuan writer's circle, Indra mencontohkan The Great Gatsby. Saya belum membacanya,
tetapi kata Indra tokoh utamanya justru bukan si narator, melainkan si Gatsby.
Ketika akhirnya Gatsby mati, si naratorlah yang kemudian memetik pelajaran dari
pengalaman hidup Gatsby.
Menurut kamu seberapa penting 'sudut pandang' dalam fiksi?
Penting sekali! Mengubah-ubah sudut pandang adalah salah
satu cara menghindari kejemuan ketika menulis sebuah kejadian yang sering kita
tulis. Pertemuan writer's
circle, misalnya. Saya sendiri lebih suka membaca novel yang sudut
pandangnya kaya daripada novel yang latarnya kaya(!). Saya ingat saat pertama
kali membaca Biru-nya Fira Basuki. Novel ini memakai sudut pandang orang
pertama dengan narator berganti-ganti. Itu membuat Biru begitu lain dan
berkesan di mata saya, Semakin lama, saya menemukan semakin banyak buku
bersudut pandang menarik. The Accidental-nya Ali Smith bergulir dengan
sudut pandang dari setiap anggota suatu keluarga dan semuanya menggunakan stream
of consciousness. Memoar Dave Eggers selincah senam dalam memainkan sudut
pandang orang pertamanya. Karakter anjing dalam Two Caravans-nya Marina
Lewycka dapat 'berbicara' dan berperan penting dalam penuturan cerita. Kamu
punya judul lain?
Saya? Awal tahun ini saya menamatkan Freedom-nya Jonathan Franzen. Buku
itu nyaris setebal empat senti, tetapi tidak sekalipun saya bosan
membacanya. Saya percaya rahasianya terletak pada variasi penuturan Franzen.
Saya pernah membaca di sebuah surat kabar Inggris Jonathan Franzen dan
beberapa penulis lainnya berbagi 'aturan menulis' mereka kepada para penulis
pemula. Salah satu aturan Franzen: 'Selalu gunakan sudut pandang orang ketiga,
kecuali sudut pandang orang pertamamu berbeda dan ia terus memaksa muncul.'
Hm, saya setuju untuk alasan saya sendiri. Jujur saya
paling tidak sabar jika membaca cerita bersudut pandang orang pertama di mana
tokohnya laki-laki; dan konflik utamanya bagaimana ia mendapatkan hati
perempuan yang disukainya. Dengan sudut pandang orang pertama, saya sulit
menempatkan diri di posisi kedua tokoh itu.
***
Sesi membaca pun dimulai dengan berakhirnya sesi menulis selama setengah
jam. Kau menawarkan diri membaca pertama. Tulisanmu menceritakan 'kamu',
seorang remaja laki-laki yang menulis surat berisi rahasia tentang dirinya.
Surat itu diselipkan ke dalam tas ayahnya pagi-pagi sebelum beliau pergi kerja.
Ketegangan lantas dirasakan remaja itu sepanjang hari, di sekolah, di angkutan
kota, sebelum nantinya ia mesti pulang dan menghadapi kedua orang tuanya. Dea
berkomentar tulisanmu bagus, tetapi seperti tak ada hubungan antara narator
dengan tokoh utama. Dan berhubung cerita belum selesai, Almer menanyakan
akhirannya. “Sudut pandang yang digunakan sudut pandang orang kedua, narator
tidak masuk dalam cerita,” Indra menyimpulkan. “Nah, apa Bung Andika merasa ceritanya
cocok dengan sudut pandang ini?” Kala itu jawabanmu untuk Almer dan Indra
“Belum tahu,” dan “Tidak!” Kini kau tahu bagaimana cerita akan berakhir, serta
bagaimana sudut pandang orang kedua dapat membantu mengakhirinya.
Tulisan Indra berkisah tentang percakapan telepon sepasang laki-laki dan
perempuan. Awalnya si laki-laki menceritakan detil tentang kecelakaan yang
disaksikannya di jalan. Namun lama-lama percakapan memanas – si perempuan
seperti kesal, dan si laki-laki mencoba menenangkannya dengan cara yang salah.
(“Kamu sedang menstruasi, ya?” tanya si laki-laki. “Kalau bukan sama aku, nanti
kamu cerita sama siapa?” tanyanya lagi.) Berhubung Indra hanya menulis ucapan
si tokoh laki-laki, peserta writer's circle yang lain jadi membayangkan
apa yang kiranya diucapkan si tokoh perempuan. Indra menggunakan sudut pandang
orang kedua di mana naratornya ikut menjadi karakter. Kau setuju ceritanya
cocok menggunakan sudut pandang ini, tetapi kau percaya topik percakapan
teleponnya bisa lebih menegangkan.
Ini bagian sulit, kau sungguh lupa Dani menulis apa. (“Tulisan gua gagal,”
ujarnya sebelum membaca.) Di writer's circle, kalian terbiasa mendengar
tulisan Dani tentang perang, militer, cinta, maupun cerita fiksi ilmiah. Kalau
tidak salah, tulisannya sejenis monolog seseorang yang kehilangan kekasihnya.
Ia menulis tema ini dari waktu ke waktu. Kau yakin tulisannya tidak akan
terlalu gagal. Jika Dani mengatakan demikian, besar kemungkinan itu demi
menurunkan ekspektasi.
Tulisan Dea pendek dan mengejutkan, judulnya 'Rahasia.' Seingatmu
begini tulisannya:
MALIIIIING!
Iya kamu!
Ayo mengaku! Kamu maling, kan?
Sudah jangan banyak bicara! Kamu telah mencuri!
Kamu mencuri baca tulisan ini.
Semua geli mendengar pembacaan Dea. Tulisannya seperti apa yang biasa dituliskan
di halaman pertama buku harian anak-anak. Kau mulai memahami keunggulan sudut
pandang orang kedua dibandingkan sudut pandang yang lainnya. Sudut pandang ini
membuat pembaca merasa dilibatkan ke dalam tulisan – seperti diajak bicara. Hal
yang sama juga ditemukan dalam tulisan Ririe yang berjudul ‘Cue Cards’. Berikut cuplikannya:
Point A
Hi!
Kamu baru saja menemukan Point A. Silahkan matikan GPS-mu sekarang untuk
menghemat baterai, masukkan dalam dry bag yang tersedia, dan bawalah bersamamu.
Bersama cue card ini, kamu akan menemukan sebuah dayung. Di ujung jalan ini ada
sebuah perahu kayak, ikuti aliran sungai hingga ke hilir. Saat melihat
pelampung dengan bendera hijau, menepilah dan tambatkan perahu di pilar yang
tersedia. Petunjuk menuju point B ada disana. Hati-hati ya!
Kata ganti 'kamu' dalam sudut pandang orang kedua dalam cerita Dea dan
Ririe tak terbatas hanya tertuju pada satu tokoh, tetapi juga bisa pada entah
berapa banyak pembaca.
Di sisi lain, ‘kamu’ dalam tulisan Sabiq dan Almer tertuju pada satu orang
saja. Cerita Sabiq adalah surat untuk seorang pahlawan-penyelamat-kota.
Meskipun tak menyebut nama, Sabiq memberikan banyak petunjuk mengenai identitas
si pahlawan. Salah satunya bahwa ia fotografer. “Spiderman, ya?” tebak Almer. Sabiq mengiyakan. Meskipun tulisan ini
menarik, Indra menunjuk kurangnya konsistensi Sabiq dengan sudut pandang yang
digunakan. Di beberapa bagian, tulisannya memberi informasi terlalu banyak,
seakan penulis adalah Tuhan yang tahu semua. Padahal pada awalnya tulisan itu
dimaksudkan sebagai surat. Saran Indra, sebaiknya Sabiq memilih antara menulis
dengan sudut pandang terfokus, atau sejak awal menulis dengan sudut pandang
penulis-tahu-semua.
Almer menuturkan kisah sentimentil tentang dua orang teman yang melarikan
diri setelah merampok bank. Di mobil, salah satu di antara mereka mengajak
berbicara yang lain – memaki-maki, menyesali kebodohan yang lain, meratap, serta
mengenang masa lalu. Namun semua itu
tidak dijawab, karena yang diajak bicara sudah tak sadarkan diri karena
tertembak. “Sudut pandang orang kedua, narator termasuk ke dalam cerita,” ujar
Indra. Seperti yang sudah-sudah, Almer lancar dalam mengungkapkan ceritanya. Kalimatnya
sederhana dan minim kesan dibuat-buat. Sekalipun ke depannya ia tak ikut writer’s circle, kau berharap akan
membaca lebih banyak lagi tulisannya.
***
Andika! Setelah tiga hari akhirnya kamu menyelesaikan jurnal ini! Kamu
memulai pada sore cerah di Reading Lights dan berakhir pada sore hujan di rumahmu. Bagaimana perasaanmu saat ini?
Capek. Tidak yakin saya sudah melakukan
hal yang betul.
Apa yang membuatmu tidak yakin?
Saya menulis menggunakan sudut pandang
orang kedua dengan alasan yang mungkin tidak jelas. Saat pertemuan writer’s circle, Indra, Dea, Dani, Ririe, Sabiq, dan Almer punya alasan yang jelas
menggunakan sudut pandang itu. Indra karena tokohnya sedang melakukan
percakapan via telepon. Dea, Ririe, dan Sabiq karena tak berhadapan langsung
dengan yang diajak bicara. Lalu Almer karena yang diajak bicara tak bisa
menjawab. Setelah pertemuan writer’s circle berakhir, saya baru menyadari bahwa sudut pandang ini juga bisa dipakai
menggambarkan percakapan dengan diri sendiri.
Coba jelaskan.
Kadang-kadang saya suka bercakap-cakap
dengan diri saya sendiri. Seperti yang kita lakukan sekarang. Ada kalanya saya
ingin bercerita, tetapi sedang sendirian – saat itulah saya berbincang dengan
diri sendiri. Ada kalanya saya ingin bercerita, tetapi ceritanya tak berharga
waktu orang lain – saat itulah saya berbincang dengan diri sendiri. Ketika berbicara
dalam hati pun, saya lebih sering menggunakan kata ganti ‘kamu’ daripada
‘saya’. Terutama untuk memotivasi diri sendiri(!). Saya mulai menulis jurnal
ini dalam keadaan malas dan sendirian, maka saya menggunakan sudut pandang
orang kedua.
Mengapa kamu tidak menulis dengan sudut pandang orang pertama atau ketiga?
Saat menulis jurnal RLWC, saya selalu
menulis dengan sudut pandang orang pertama, dan itu mulai membosankan. Lagipula
sudut pandang ini kadang-kadang gagal menggambarkan konflik batin seseorang.
Sementara itu, sudut pandang orang ketiga, dalam kasus menulis jurnal RLWC,
membuat saya berjarak dengan apa yang saya tulis. Padahal saya ada di dalamnya.
Hm. Rumit juga ya? Dan sepertinya kamu sudah capek
dan tak ingin menulis lagi. Terakhir
deh, apa yang bisa kamu petik dari pengalaman ini?
Ada berbagai sudut pandang untuk melihat dan mengisahkan
sebuah peristiwa. Carilah sudut pandang yang membuatmu bisa menuliskan sebanyak
mungkin yang ingin kauceritakan.
Andika Budiman adalah seseorang yang tidak pernah mengganti profile picture Facebook-nya.
Kamis, 05 April 2012
Ketika Bulan Menjadi (Teman)ku
Ada cenderamata yang dikirimkan dari Ryan, salah satu peserta RLWC, yang kini sedang mengenyam pendidikan S2 di Southeast University of China. Kami mengunggah karyanya di blog karena blog ini memang terbuka untuk para peserta yang ingin menaruh karyanya. Karya Ryan di bawah ini belum melalui proses edit dan berharap dikomentari:
------
Ketika Bulan Menjadi (Teman)ku
Bunyi deburan ombak di pantai laut selatan terdengar seperti teriakan caci maki dan penolakan, “Kemari-kemarilah,” bunyi deburan ombak menghantam tepi karang. Angin malam bertiup kencang, seperti memelukku, menghapus air-air hangat dalam cucurannya, dan disinilah aku berdiri bersama kekasihku, cintaku, setengah jiwaku.
Cintaku, kita bertemu disaat malam dan selalu berpisah di saat fajar, mungkin takdir yang mengijinkan kita bertemu di hari itu, atau mungkin segala sesuatunya sudah diatur dan tersirat sejak sebelum manusia dapat berjalan di tanah ini, aku tidak tahu, aku tidak mengira-ngira, tapi aku tahu, tidak pernah dapat bersama. Kau dan aku dibatasi oleh ulasan tangan Tuhan, dan perintah-Nya yang menaklukan hamba-hamba-Nya memisahkan semuanya diantara kita berdua.
Ketika langit sudah tidak menjadi penghiburku, kualihkan pandanganku kepada Dajal, sang malaikat maut, dengan harapan membayar kepadanya setengah jiwaku aku dapat memilikimu, dengan setengah jiwaku aku dapat memberikan setengahku disampingmu, tapi singa tetaplah singa walaupun kau dandani singa itu seperti kucing, dajal menerima dan mengambil setengahku lalu dengan tawa disertai telunjuknya mempermalukan aku dihadapan seluruh dunia, memperlihatkan betapa rendah dan menjijikannya diriku. Kukutuk Dajal atas sikapnya kepadaku, kukutuk Tuhan atas suratan takdirnya atas kita, kukutuk malaikat-malaikat yang hanya dapat mengikuti perintah-Nya tanpa dapat menolongku, dan lagi kukutuk diriku sendiri atas menyedihkannya diriku.
Tanganku tidak cukup panjang untuk meraihmu memang, dan kakiku tidak cukup kuat mengejarmu memang, tapi aku tahu hatiku cukup untuk menginginkanmu, tidak cukupkah itu? Ayahanda, mengapa kau biarkan aku menjadi mahluk menyedihkan ini, tidak tahu menahu soal malu dan hormat, hanya cinta mati saja. Ibunda, dimanakah engkau sekarang? Mengapa engkau tidak berada disampingku atau di punggungku, mencoba mendorongku, mendukungku, mencoba mengatakan,”Ibu ada disini nak.” Dimanakah engkau sekarang?
Kini aku tahu aku tidak memiliki seorangpun, aku hanya punya engkau cintaku, bukan, aku hanya punya cintaku kepadamu. Kesetiaan? HA!!! hanyalah kata-kata penuh dengan dusta dan racun, dibuat untuk menghangatkan hati para manusia bodoh, tuli, dan bisu. Cintaku, aku telah mengejarmu sampai menuju gerbang pintu dunia di ujung cakrawala, hanya untuk mengharapkan balasan dari cintaku, dari ungkapan isi hatiku. Kau mempermainkan hatiku , kau memberikanku senyum disertai dengan harapan kosong, dan pergi tanpa melihatku terpuruk di tanah, dan kau tidak memalingkan wajahmu kepadaku, sekalipun tidak.
Disinilah aku, di laut milik ratu selatan, berharap tubuhku bisa menjadi bayaran yang pantas atas permohonanku kepada sang ratu untuk melepas rohku untuk berada disampingmu, penyesalan memang ada, kekecewaan dan kepahitan memang terasa di bibir yang kelu ini, tapi aku ingin tidak menyesal, bersama dengan permintaanku kepada sang ratu, aku ingin berada disana, Hai, Pencuri Hatiku. Hai, Mahluk Malam. Hai, Rembulan. Diamlah di ujung langit malam sana bersama dengan mahluk mungil bercahaya itu, janganlah bersembunyi dibalik kapas langit, tidak perlu malu, tunggulah aku disana, aku hanya tinggal memberikan tubuhku kepada sang ratu dibawah sana, dan jiwaku akan bersamamu, disampingmu selamanya.
------
Ketika Bulan Menjadi (Teman)ku
Bunyi deburan ombak di pantai laut selatan terdengar seperti teriakan caci maki dan penolakan, “Kemari-kemarilah,” bunyi deburan ombak menghantam tepi karang. Angin malam bertiup kencang, seperti memelukku, menghapus air-air hangat dalam cucurannya, dan disinilah aku berdiri bersama kekasihku, cintaku, setengah jiwaku.
Cintaku, kita bertemu disaat malam dan selalu berpisah di saat fajar, mungkin takdir yang mengijinkan kita bertemu di hari itu, atau mungkin segala sesuatunya sudah diatur dan tersirat sejak sebelum manusia dapat berjalan di tanah ini, aku tidak tahu, aku tidak mengira-ngira, tapi aku tahu, tidak pernah dapat bersama. Kau dan aku dibatasi oleh ulasan tangan Tuhan, dan perintah-Nya yang menaklukan hamba-hamba-Nya memisahkan semuanya diantara kita berdua.
Ketika langit sudah tidak menjadi penghiburku, kualihkan pandanganku kepada Dajal, sang malaikat maut, dengan harapan membayar kepadanya setengah jiwaku aku dapat memilikimu, dengan setengah jiwaku aku dapat memberikan setengahku disampingmu, tapi singa tetaplah singa walaupun kau dandani singa itu seperti kucing, dajal menerima dan mengambil setengahku lalu dengan tawa disertai telunjuknya mempermalukan aku dihadapan seluruh dunia, memperlihatkan betapa rendah dan menjijikannya diriku. Kukutuk Dajal atas sikapnya kepadaku, kukutuk Tuhan atas suratan takdirnya atas kita, kukutuk malaikat-malaikat yang hanya dapat mengikuti perintah-Nya tanpa dapat menolongku, dan lagi kukutuk diriku sendiri atas menyedihkannya diriku.
Tanganku tidak cukup panjang untuk meraihmu memang, dan kakiku tidak cukup kuat mengejarmu memang, tapi aku tahu hatiku cukup untuk menginginkanmu, tidak cukupkah itu? Ayahanda, mengapa kau biarkan aku menjadi mahluk menyedihkan ini, tidak tahu menahu soal malu dan hormat, hanya cinta mati saja. Ibunda, dimanakah engkau sekarang? Mengapa engkau tidak berada disampingku atau di punggungku, mencoba mendorongku, mendukungku, mencoba mengatakan,”Ibu ada disini nak.” Dimanakah engkau sekarang?
Kini aku tahu aku tidak memiliki seorangpun, aku hanya punya engkau cintaku, bukan, aku hanya punya cintaku kepadamu. Kesetiaan? HA!!! hanyalah kata-kata penuh dengan dusta dan racun, dibuat untuk menghangatkan hati para manusia bodoh, tuli, dan bisu. Cintaku, aku telah mengejarmu sampai menuju gerbang pintu dunia di ujung cakrawala, hanya untuk mengharapkan balasan dari cintaku, dari ungkapan isi hatiku. Kau mempermainkan hatiku , kau memberikanku senyum disertai dengan harapan kosong, dan pergi tanpa melihatku terpuruk di tanah, dan kau tidak memalingkan wajahmu kepadaku, sekalipun tidak.
Disinilah aku, di laut milik ratu selatan, berharap tubuhku bisa menjadi bayaran yang pantas atas permohonanku kepada sang ratu untuk melepas rohku untuk berada disampingmu, penyesalan memang ada, kekecewaan dan kepahitan memang terasa di bibir yang kelu ini, tapi aku ingin tidak menyesal, bersama dengan permintaanku kepada sang ratu, aku ingin berada disana, Hai, Pencuri Hatiku. Hai, Mahluk Malam. Hai, Rembulan. Diamlah di ujung langit malam sana bersama dengan mahluk mungil bercahaya itu, janganlah bersembunyi dibalik kapas langit, tidak perlu malu, tunggulah aku disana, aku hanya tinggal memberikan tubuhku kepada sang ratu dibawah sana, dan jiwaku akan bersamamu, disampingmu selamanya.
Ryan
Marhalim, hanyalah mahluk biasa kelahiran 1988, Juli, tahun Naga yang penuh
dengan angan-angan belaka yang menjadi salah satu anggota RL dengan harapan
setinggi langit, sudah lulus dari Unversitas Kristen Maranatha berlatar
belakang jurusan akuntan akan tetapi melarikan diri ke arah sastra. Salah satu
latar belakang Ryan menulis adalah karena kesukaannya kepada sastra dan novel,
salah satu novelist favoritnya adalah
Pramodya Ananta Toer dengan judul “Bumi
Manusia” sedangkan pengarang luarnya adalah John Grisham, hobinya adalah
membaca berbagai macam buku dan silahkan menghadiahi buku-buku seperti
filsafat, psikologi, sejarah, dan juga hobi mengarang. Saat ini berada di
negeri bambu, tertinggal sendirian dan terlepas dari teman-teman RLnya demi menempuh
gelas Master. Tetapi karena kesukaannya kepada sastra Ryan tetap menulis dan
akan terus menulis.
Selasa, 03 April 2012
Benang Merah dalam Kumpulan Cerita
| Foto oleh Sapta P Soemowidjoko |
Hari Sabtu (31/03), 9 peserta writer's circle latihan membuat lima cerita dari satu tema yang dipilih sendiri sebagai benang merah. Konsepnya seperti membuat kumpulan cerpen, namun karena keterbatasan waktu, peserta membuat cerita mini (sepanjang 5-10 kalimat). Misalnya Andika memilih tema "dua orang sedang berdiri di atas trotoar dan menunggu taksi", maka Andika harus membuat 5 cerita dengan variasi karakter, plot, dan setting namun harus mengenai dua orang yang sedang berdiri di atas trotoar dan menunggu taksi.
Latihan semacam ini berguna bagi penulis yang ingin membuat kumpulan flash fiction, cerpen, dan lainnya. Penetapan tema utama sebagai benang merah perlu dilakukan di awal agar penulis tahu apa yang harus ditulis dan kesamaan antar ceritanya jelas. Penetapan tema di akhir dari karya-karya yang sudah selesai biasanya cenderung membuat garis merah yang dipaksakan.
Dialog yang Efektif
Sabtu (24/03), 15 peserta RLWC latihan menulis dialog tentang dua karakter memiliki perbedaan cara pandang dalam suatu masalah sehingga menimbulkan konflik. Dari latihan ini diharapkan dapat membuat dialog yang efektif, membuat dua tokoh terlihat karakternya, namun tetap menyampaikan pesan.
Berikut ini ada contoh dialog yang efektif, dapat menonjolkan karakter dua tokoh yang berbicara, dan tetap menyampaikan pesan. Diambil dari buku Bisik-Bisik oleh Reda Gaudiamo:
...
"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"
"Habis masak kawin karena mengikuti teman. Kau sendiri, memang mau kawin atau tidak?"
"Mau, Kak."
"Kenapa kawin?"
"Daripada dosa, Kak!"
"Kuhajar, kau!"
"Kak!"
"Dengar, kawin itu bukan soal dosa atau tidak dosa. Kawin itu karena kau sudah menemukan orang yang tepat. Karena kau cinta padanya!"
...
"Hei, aku tidak mengada-ada. Kau ingat temanmu, si Basri?"
"Ya, ya, aku ingat."
"Kapan dia kawin? Enam bulan lalu. Kapan cerai dia? Minggu lalu. Macam mana, tuh?"
"Aku tak akan begitu, Kak. Kami tak akan begitu. Janji."
"Jangan janji padaku. Janji pada dirimu. Tetapi sebelum kau bisa penuhi janji itu, kau harus tahu, dengan siapa kau mengikatkan diri."
"Dia gadis baik-baik."
"Aku tidak bilang apa-apa tentang dia."
"Khawatir aku, jangan-jangan Kakak tak suka."
"Aku bukan tak suka. Aku hanya tak senang melihat kalian terburu-buru kawin hanya dengan omongan orang, desakan orang tua, takut dosa. Aku tak tahu apa kata ahli agama, tetapi aku rasa, akan lebih berdosa lagi kalian kalau menikah terburu-buru dan tergesa-gesa bercerai hanya karena tak saling kenal, tak saling cinta."
"Kak, kalau orang tuanya tetap tak mau perkawinan ditunda, bagaimana?"
"Ya, tidak usah kawin!"
"Ampun!"
"Perempuan itu banyak! Melimpah-limpah. Bukan cuma dia seorang di dunia ini."
"Tapi aku ingin kawin. Aku ingin punya istri."
"Punya istri?"
"Lalu apa?"
"Bukan mau punya istri, tapi mau jadi suami."
"Apa bedanya?"
"Banyak."
"Kalau jadi suami, kau jadi pasangannya."
"Kalau punya?"
"Kau jadikan dia barang, milik."
...
Berikut ini ada contoh dialog yang efektif, dapat menonjolkan karakter dua tokoh yang berbicara, dan tetap menyampaikan pesan. Diambil dari buku Bisik-Bisik oleh Reda Gaudiamo:
...
"Umurmu ... berapa sekarang?"
"Dua puluh lima."
"Masih muda sebetulnya."
"Tapi semua temanku sudah kawin sekarang."
"Kalau teman-temanmu masuk selokan, kau juga buru-buru terjun menemani mereka?"
"Kak!"
"Habis masak kawin karena mengikuti teman. Kau sendiri, memang mau kawin atau tidak?"
"Mau, Kak."
"Kenapa kawin?"
"Daripada dosa, Kak!"
"Kuhajar, kau!"
"Kak!"
"Dengar, kawin itu bukan soal dosa atau tidak dosa. Kawin itu karena kau sudah menemukan orang yang tepat. Karena kau cinta padanya!"
...
"Hei, aku tidak mengada-ada. Kau ingat temanmu, si Basri?"
"Ya, ya, aku ingat."
"Kapan dia kawin? Enam bulan lalu. Kapan cerai dia? Minggu lalu. Macam mana, tuh?"
"Aku tak akan begitu, Kak. Kami tak akan begitu. Janji."
"Jangan janji padaku. Janji pada dirimu. Tetapi sebelum kau bisa penuhi janji itu, kau harus tahu, dengan siapa kau mengikatkan diri."
"Dia gadis baik-baik."
"Aku tidak bilang apa-apa tentang dia."
"Khawatir aku, jangan-jangan Kakak tak suka."
"Aku bukan tak suka. Aku hanya tak senang melihat kalian terburu-buru kawin hanya dengan omongan orang, desakan orang tua, takut dosa. Aku tak tahu apa kata ahli agama, tetapi aku rasa, akan lebih berdosa lagi kalian kalau menikah terburu-buru dan tergesa-gesa bercerai hanya karena tak saling kenal, tak saling cinta."
"Kak, kalau orang tuanya tetap tak mau perkawinan ditunda, bagaimana?"
"Ya, tidak usah kawin!"
"Ampun!"
"Perempuan itu banyak! Melimpah-limpah. Bukan cuma dia seorang di dunia ini."
"Tapi aku ingin kawin. Aku ingin punya istri."
"Punya istri?"
"Lalu apa?"
"Bukan mau punya istri, tapi mau jadi suami."
"Apa bedanya?"
"Banyak."
"Kalau jadi suami, kau jadi pasangannya."
"Kalau punya?"
"Kau jadikan dia barang, milik."
...
Pendalaman Emosi: Terasing
Kemarin (17/03), 14 peserta writer's circle menulis pendalaman emosi "terasing". Mengacu pada KBBI, terasing memiliki arti 'terpisah dari yang lain'. Dalam sesi ini, writer's circle berlatih bagaimana agar pembaca ikut merasakan emosi terasing di dalam cerita.
Minggu, 01 April 2012
Menunggu dan Cemburu
Jurnal Reading Lights Writer’s
Circle (3 Maret 2012)
“Menunggu dan Cemburu”
Sabtu sore itu, di Reading
Lights ada 7 orang yang berkumpul: Saya, mbak Rie, Dani, dan empat wajah baru:
Indra, Rey, dan dua orang anggota paling baru, Asri dan Mia yang dua-duanya
kuliah di ITB. Setelah menunggu dan tidak ada lagi yang lain yang datang, kami
pun memilih tema dengan cara seperti biasa, kocokan kertas. Ternyata yang
terpilih adalah tema dari saya: “Menunggu dalam kaitannya dengan cemburu kepada
orang terdekat”. Kami pun memulai sesi menulis hari itu selama setengah jam.
Setelahnya, kami pun bergiliran
membacakan tulisan kami. Yang pertama membaca adalah Indra. Ia menulis tentang
seorang tokoh pria yang selalu disalahkan dalam keluarganya, terutama ketika
Ayahnya masuk rumah sakit dan meninggal. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa sang
tokoh merasa cemburu kepada kakak perempuannya, yang selalu bersikap ketus
padanya setelah mereka dewasa. Mbak Rie berkomentar bahwa ceritanya terkesan
nyata, dan bertanya apakah itu curhat dan Indra punya kakak perempuan. Jawaban
dari penulisnya tidak, itu hanya cerita fiksi.
Berikutnya yang membacakan adalah
Dani. Dani bercerita tentang situasi di stasiun ketika masa Perang Dunia,
dengan tokoh seorang gadis yang menunggu suaminya pulang wajib militer, tanpa
ada kepastian apa pria itu masih hidup ataukah sudah mati. Cerita Dani, meski
diakui beralur lambat, cukup unik karena kecemburuan yang diangkat adalah rasa
cemburu kepada orang lain yang kerabatnya sudah meninggal. Rey berkomentar kalau
latar cerita itu seperti di Korea, menilik deskripsi musim gugur dan perubahan
warna daun yang digunakan Dani dalam ceritanya.
Setelahnya, giliran mbak Rie. Mbak
Rie menulis tentang pasangan kekasih yang bertengkar di hari kasih sayang.
Pasalnya, sang wanita mengetahui melalui gadgetnya kalau si lelaki pura-pura invisible tiap kali dia online, dan
selingkuh dengan teman dekatnya. Mbak Rie menulis cerita ini dengan harapan
bisa membuat sebuah cerita yang utuh tanpa harus berpanjang-panjang ataupun bertele-tele.
Cerita ini berhasil memancing perdebatan dengan Dani bahwa dari jumlah kata,
cerita tersebut bisa masuk ke Flash, Fiksi Mini, atau rubrik Cermin (Cerita
Mini) di Kompasiana.
Asri dan Mia yang baru pertama kali
datang, turut menyumbang tulisan untuk sesi hari itu. Cerita Asri masih pendek,
baru berupa introduction namun tak
menghalangi kami untuk memberi masukan. Sedangkan cerita Mia mengambil 3 sudut
pandang, tentang seorang mahasiswa yang sering dititipi absen oleh kawannya.
Karena kawannya itu lebih pintar darinya dalam tugas dsb., tak urung itu
membuat sang tokoh cemburu. Meski antar paragraf belum terjembatani dengan
baik, konflik dalam cerita Mia cukup tertera dengan jelas.
Setelahnya giliran Rey. Ternyata Rey
membuat dua puisi tentang menunggu kekasih, yang satu bernada positif dan yang
satunya lagi negatif. Bagi saya, saya lebih terkesan dan menyukai yang negatif,
karena proporsi detil serta deskripsinya lebih kaya. Hal ini diamini oleh mbak
Rie. Kedua puisi itu kami kritisi. Indra berpendapat ibarat sebuah prosa, kedua
puisi itu hanya kurang pada alur serta tokoh. Dani, yang tidak terlalu banyak
komentar, saya ajak menulis puisi juga, namun ia menolak karena lebih terbiasa
menulis prosa dibandingkan puisi.
Otomatis, sebagai fasilitator hari
itu, sayalah yang mendapat privilege untuk
membacakan paling akhir. Cerita saya hari itu agak panjang durasinya, tentang
seorang pria bernama Bilawa yang putus cinta karena selingkuh, ditemui kawannya
di sebuah kafe dan akhirnya harus menunggu demi sebuah happy ending versinya sendiri. Mbak Rie dan Dani sepakat kalau
bahasa tubuh serta penceritaan dari tokoh Bilawa masih terlalu feminin dan
tidak mencirikan seorang pria. Masukan ini saya catat betul. Hari itu saya
belajar bahwa menunggu, cemburu, dan juga konflik yang terkait antar keduanya
haruslah dibangun dengan cara seapik mungkin. Baik bentuk tulisannya puisi,
cerpen, ataukah fiksi mini, segala aspek serta unsur kepenulisan semisal tokoh,
dialog, dan tentu saja plot tidak boleh dilupakan, demi membangun sebuah cerita
yang mengena di hati orang yang mendengar atau membacanya.
Selepas sesi hari itu selesai, kami
pun bubar sebelum hujan benar-benar turun dan membuyarkan segala kenangan.
Saya, mbak Rie, Rey, Dani, Indra (yang baru datang lagi hari itu setelah sekian
lama) pun pulang. Kepala saya masih membawa obrolan, masukan, dan aroma Cheese
Mushroom Sandwich-nya Reading Lights petang itu. Dan endapan tanggal 3 Maret
itu pun menghasilkan jurnal ini. Semoga saya bisa datang lagi nanti.
Catatan
Penulis:
Tulisan
Mbak Rie yang dimuat di rubrik Cermin Kompasiana bisa dilihat di tautan ini,
atau di halaman Reading Lights Writer’s Circle di Facebook.
Dini Afiandri adalah salah seorang anggota yang (relatif) baru di Reading Lights Writers' Circle tetapi telah berhasil menyesuaikan diri dengan segala keanehan di sini. Siapapun yang ingin mengikuti jejak penulis bergaya "romantisme brutal" ini (menurut kata-katanya sendiri, lho) dapat langsung mengunjungi pertemuan kami setiap hari Sabtu jam setengah 5 sore di salah satu sudut Reading Lights. Eh, kok malah jadi promosi ya?
Langganan:
Postingan (Atom)




