Selasa, 16 September 2008

Film Animasi Pendek

Tidak seperti minggu-minggu sebelumnya cuaca Bandung pada Sabtu sore kemarin cerah. Matahari bersinar hangat. Cahayanya memantul ke aspal dan dari aspal memantul ke mata. Meskipun begitu, perasaan gloomy menyelimuti jiwa saya. Ini gara-gara setelah bergegas pulang dari kampus untuk mem-print cerpen dan resensi, saya mendapati diri ini terkunci dari rumah sendiri.

Merasa ditolak, saya lantas pergi ke Vertex DVD demi memuaskan gairah berbelanja. Sialnya di sana tak satu pun DVD yang menarik untuk dibawa pulang apalagi dibeli. Namun karena tak enak, saya terpaksa beli Europa-nya Lars von Trier yang besar kemungkinan tak akan pernah ditonton. Semakin muak dengan diri sendiri, saya pun melanjutkan ke Pasar Kota Kembang. Di sana lumayan, saya beli dua film dan sebuah serial TV berjudul Once and Again, yang dibuat oleh Edward Zwick (sutradara The Last Samurai, Blood Diamond, dll.) dan Marshall Herskovitz.

Dari Kota Kembang saya meluncur ke toko buku Reading Lights dan bertemu dengan fasilitator the circle yang botak dan berprofil besar. Kali ini Erick mengenakan kaos berwarna biru luntur dan celana jeans lusuh yang ujungnya digulung. Sesekali ia mendesahkan FLV player yang bergeser apabila window-nya diperbesar. Sama seperti Anda barangkali, manusia berusia 28 tahun ini juga tidak tertarik dengan cerita saya berbelanja DVD bajakan. Jadi sebaiknya saya langsung saja ke kegiatan the circle minggu ini: menonton film-film pendek.

Impersonasi Perut Erick

Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan alternatif tontonan yang baru dan menarik. Film-film pendek yang diputar didapatkan Erick dari temannya yang membeli majalah komputer terbitan Inggris. Nah, bonus dari majalah itu adalah CD yang berisi tidak kurang lima ratus film pendek. Mulai dari yang normal sampai yang nyeleneh, yang pastinya merangsang peserta the circle untuk berpikir ‘di luar kotak’.

Dan kami pun menunggu. Selama satu jam pertama peserta yang hadir adalah saya, lalu Erick, lalu ..., cuma ada saya dan Erick! Sepertinya kemarin banyak di antara kami yang buka puasa bersama teman kuliah/SMA/SMP, why can’t people move on? Bercanda. Sambil menunggu, sang fasilitator lantas memutuskan mulai memutar film-film pendek. Eh tahunya setelah tiga film pertama belum ada yang datang juga, dong! Kecuali paling keheningan yang awkward. Akhirnya Erick mengajak Niken dan Tanti bergabung. Dan semenjak itu, berturut-turut hadirlah Selvi dan Farida. Lalu suasana mulai hangat ... sebetulnya bukan yang hangat-hangat bagaimana, tetapi paling tidak Niken dan Tanti aktif berkomentar. Berikut beberapa film yang kami tonton:

1. Kiwi!
Sabtu kemarin Kiwi! merupakan andalan Erick dalam menyemarakkan suasana. Ini kisah kiwi, si burung yang tak bisa terbang karena sayapnya yang terlampau kecil. Film berdurasi 3 menit lebih 9 detik ini menceritakan usaha kiwi untuk bisa terbang. Sebuah usaha yang membuat kami semua tersentuh, siapapun dijamin akan tersentuh, bahkan Hitler, Megawati, maupun M. Ahmadinejad.

2. The Tale of How
Film pendek bernuansa fairy tale yang kata Erick sangat efektif sebagai penina bobo. Gambarnya sangat memikat. Semacam fantasi, tentang lautan dan pulau-pulau yang eksotis dan surealis. Niken bilang, ini mengingatkannya pada Tim Burton’s Nightmare Before Christmas.

Burung-burung berkaki panjang bernyanyi dalam The Tales of How

3. Ego
Kesukaannya Erick. Ceritanya tentang seorang pria ketika gosok gigi menemukan sosok di dalam cermin yang berbeda dari dirinya. Ia pun memecahkan cermin dan berusaha mengejar bayangannya itu. Mereka pun saling mengejar, saling bernyanyi, saling bermain ucing sumput di antara pepohononan. Nggak, lah. Pokoknya film ini sangat action, sangat-sangat mewakili aura Erick yang sophisticated.

"I AM sophisticated."

4. Carlitopolis
Film berbahasa Prancis tentang ilmuwan yang melakukan aneka percobaan terhadap tikus. Carlitopolis mengandalkan kemampuan bercerita stand-up, seperti stand-up comedian yang dipadukan dengan animasi dan properti betulan, yang ini kesukaan saya.

5. Musicotherapie
Berlatarkan rumah sakit jiwa para binatang, film ini menjadi favorit Niken dan Selvi. Musicotherapie bercerita tentang kegiatan hewan-hewan yang bunyinya membentuk irama musik electronic funk, kalau saya nggak salah. Niken merengek-rengek ingin meng-copy musiknya dalam bentuk MP3.

Dokter Monyet dalam usahanya mendiamkan lalat

Sebetulnya masih ada lima film lain yang Erick putarkan untuk kami. Namun lima film tersebut rasanya cukup untuk mewakili sore hari yang kami lalui bersama-sama. Barangkali sekian dulu. Percayalah kegaringan postingan kali ini tidak relevan dengan intelektualitas maupun intelegensi si penulis. Not even close.

5 komentar:

Erick S. mengatakan...

Koreksi, 50 film, bukan 500... hmm... mungkin gw perlu ngurangin makan dan mulai olah raga... mungkin...

Andika mengatakan...

Waduuh, jangan diet dan olahraga karena caption bodoh postingan gua. Berdietlah karena kebutuhan untuk hidup lebih baik, lebih bugar.

mynameisnia mengatakan...

Sepertinya kemarin banyak di antara kami yang buka puasa bersama teman kuliah/SMA/SMP, why can’t people move on?

v
v
v
v

Ouch... that hurts! Karena pada saat itu gue lagi buka bareng, jadi gak bisa datang. Wkwkwkwkw..

Andika mengatakan...

@ Nia
I knew, hahahaha.

Twelve Red Monkeys mengatakan...

ketahuilah....









*krik krik krik krik