Minggu, 20 November 2011

Sudden Death

Pernahkah Anda merasa waktu yang Anda miliki saat ini cukup untuk hidup? Apakah Anda pernah berpikir bahwa hidup di dunia terlalu singkat atau terlalu panjang?

“Mereka yang beruntung adalah yang tidak dilahirkan ke dunia dan yang mati muda, sedangkan yang tidak beruntung adalah yang mati tua.” Itulah kata-kata Sok Hoe Gie. “Kematian” itulah yang menjadi tujuan akhir setiap hidup manusia. Tapi pertanyaannya, kapan kita akan mati?

Waktu menunjukan pukul 17.00 ketika saya sampai di RLWC. Di sana sudah tersedia Nia Janiar, pasangan Rizal Affif & Neno, dan Farida Susanty yang sedang bercanda untuk memulai sesi RLWC kali ini. Entah siapa yang memulai tetapi kali ini tema yang kami pilih adalah sudden death. Waktu sebanyak 30 menit diberikan untuk mulai menulis.

Rizal membawa kita semua kepada dunia keluarga yang terdiri dari 3 orang anggota; Yusuf, Fatimah dan si kecil buah hati keluarga itu. Dunia memang tidak adil, si kecil yang baru berumur beberapa bulan meninggalkan keluarga tersebut dan membuat kebahagiaan hancur berkeping-keping. Semenjak itu Yusuf menyalahkan Tuhan, Yusuf menyalahkan Fatimah, dan Fatimah hanya membisu menahan pekikan caci-maki dari Yusuf.

Yusuf kian hari semakin menjadi-jadi, kekerasan menjadi kegiatan sehari-hari di saat makan, mandi, tidur, dan bahkan ketika Fatimah memohon kepada Tuhan. Yusuf, ketika pulang dari mabuknya, mulai memukuli Fatimah dengan botol. Kesedihan yang tidak tertahankan membuat Fatimah berteriak dan menangis.
Kepanikan adalah sesuatu yang seharusnya tidak pernah Yusuf ijinkan masuk ke dalam dirinya, begitu juga Fatimah. Yusuf mencoba menghindari caci maki tetangganya dan mencoba membekap Fatimah dengan bantal. Ketika itu Yusuf melihat anaknya di dalam lorong di tempat yang terang, ketika Yusuf mencoba menggapainya namun ia terjatuh ke dalam kegelapan. Cerita ditutup dengan Fatimah yang digiring polisi dan mayat yusuf yang tertusuk pecahan botol di matanya.

Moral of the Story: Jangan minum dengan botol beling, tetapi cukup kaleng alumunium.

Farida memilih menjadi korban akan kematian mendadak. Ia adalah seorang yang sudah bosan akan kehidupan sehari-harinya. Pagi hari, bangun, sarapan, mandi , siang hari, makan, malam hari, makan malam, dan tidur. MONOTON, itulah yang dibenci sang aku yang menginginkan kejutan sesuatu yang berbeda. Namun kejutan yang seharusnya membuat dia tertawa terbahak-bahak, senang, dan bahagia, malah tidak untuk kali ini.

Dalam hari yang gelap hujan sang aku pulang ke rumahnya yang sudah dia tinggali selama bertahun-tahun. Ketika sang aku masuk ke dalam rumah, dia mendapati sesosok wajah baru yang dia tidak kenal. Tidak sedetik sang aku sudah kehilangan lehernya. Bahkan dia tidak sempat tertawa terbahak-bahak atau bahagia karena “kejutan” ini.

Moral of the Story: Rutinitas tidak membunuh, kejutanlah yang membunuh.

Janiar memang menyukai alam. Dia juga mungkin menyukai lelaki alam: mendaki gunung. Radit dan ketiga temannya menembus hutan mendaki gunung untuk mencapai telaga yang konon airnya semerah darah. Tentu saja perjalanan ini tidak 1 atau 2 jam tetapi butuh waktu berhari-hari. Radit dan teman-temannya memutuskan untuk berkemah saat hari sudah gelap, terlalu berbahaya untuk melanjutkan di dalam kegelapan. Akan tetapi dalam kegelapan binatang liar masuk ke dalam tenda dan mengais-ais tas Radit dan kawan-kawan. Dilemparkan sebuah pisau dan binatang itu lari kesakitan. “Itu babi hutan!” kata teman Radit. Ketika semua telah siap pergi, Radit mencari-cari pisau di dalam tasnya dan teman-temannya telah mendahuluinya. Namun Radit tidak pernah menyusul teman-temannya karena alih-alih pisau, ia malah mendapatkan “dewa kematian” yang berupa ular kecil nan berbisa. Dan Radith akan selamanya menjadi lelaki alam.

Moral of the Story: Nature sucks, City GOOD

Saya ingin mengetahui bagaimana menjadi Tuhan. Apa yang Tuhan rasakan ketika mencabut nyawa seseorang? Sang aku adalah tuhan, aku membawa kita mengenali rencana Tuhan mengambil nyawa seorang suami bernama Hendra yang bangun pagi dan hendak bersepeda. Aku menginginkan Hendra dengan rencana yang telah Aku persiapkan dengan matang untuk mengambil kembali Hendra dari dunia manusia. Kubuat istri Hendra yang seharusnya bangun pagi dan bersepeda bersamanya tidak mampu bangun dilanda rasa kantuk.

Hendra harus sendirian bersepeda lalu Kubuat Brian—pemuda yang baru saja malam sebelumnya patah hati semakin sedih hingga bermabuk-mabukan dan pulang dengan pikiran muram. Kubuat adik-kakak yang bermain di pinggir jalan raya berkelahi sehingga sang adik melompat ke jalan menghindari pukulan sang kakak. Brian terkejut akan sang adik yang lari ke tengah jalan. Mobil Brian berhasil menghindari sang adik, tapi tidak Hendra yang sedang bersepeda.

Adegan ditutup dengan sang Aku melihat keadaan dunia; sang adik yang menangis ketakutan dan orang tuanya berlari menghampiri ketakutan, Brian yang berteriak akan penyesalan, bunyi telepon ke ambulans dan polisi, dan dalam beberapa saat kemudian akan Kudengar teriakan tangisan istri Hendra.

Moral of The Story: Jangan bersepeda jika istri masih mengantuk.

Manusia hidup bersama waktu, tapi kapan waktu akan meninggalkan manusia ?

Sekian jurnal RLWC untuk Sabtu, 19 november 2011.



Ryan Marhalim. Seorang bocah dengan banyak impian. Salah satunya untuk menjadi penulis novel ternama bak Pramoedya Ananta Toer. Kegiatannya selain menggentayangi Reading lights Writers' Circle adalah menghadiri sebuah kelompok okultisme (occultism).

Minggu, 06 November 2011

Berbicara Melalui Non Verbal

Awan hitam menggantung di seluruh penjuru langit. Baru-haru ini awan-awan hitam menjadi langganan pemandangan di bulan November. Seperti kata Guns N' Roses, sekarang adalah November Rain. Cuaca dingin serta repotnya harus hujan-hujanan membuat saya berprasangka pasti RLWC kali ini akan sepi. Betul saja. Saat saya datang, baru ada Mbak Riri, yang disusul oleh Farida dan Abi. Dan setelah menunggu, sepertinya tidak ada yang datang lagi.

Farida memberi ide menulis tentang rokok tapi cerita bergerak bukan berdasarkan dialog, melainkan gesture, mimik atau ekspresi muka, perilaku, dan lainnya. Aksi non lisan ini namanya non verbal. Latihan ini memberi kita kesempatan mengeksplorasi lebih luas untuk menajamkan pengamatan pada gerak gerik seseorang. Justru non verbal ini dapat memberikan pesan-pesan tersirat yang menguatkan sebuah tulisan. Selain bilang 'dia menangis', bisa dijelaskan 'keningnya mengkerut, bibirnya ditarik ke bawah, lalu perlahan-lahan matanya basah.' Rokok--yang sebenarnya bisa dipilih tema apa saja--mengerucutkan tulisan agar tidak terlalu luas. Cocok bagi yang jago atau sedang belajar tentang deskripsi.

Saya menuliskan tentang seorang istri yang tidak setuju dengan perilaku merokok suaminya. Mbak Riri menuliskan tentang seorang pria yang mencoba berhenti merokok kemudian diiming-imingi hingga dia merokok lagi, lalu ketahuan oleh pacarnya. Abi (dalam 15 menit karena terlambat) menulis dari sudut pandang rokok sebagai pembunuh kesehatan manusia. Dan Farida menulis tentang perempuan yang ikut-ikutan merokok agar ia bisa menemani sesaknya merokok, sebagaimana yang dirasakan laki-laki yang disukainya.

Semua cerita itu sama: tidak ada dialog, deskriptif, naratif, menekankan pada gerak-gerik, dan ditulis dengan baik.

Ngomong-ngomong, ini dia video klip November Rain. Semoga rahmat ini tidak malah menghambat sebuah aktivitas.







Nia Janiar. Seorang travel writer yang akhir-akhir ini lebih sering menulis feature wisata majalah. Rela meninggalkan pekerjaannya sebagai pengajar agar bisa jadi penulis. Nia belum menerbitkan buku sama sekali (kecuali skripsi). Dapurnya bisa dilihat di http://mynameisnia.blogspot.com/

Senin, 31 Oktober 2011

Kejahatan dalam Tulisan

Wah, buffering lagi, buffering lagi. Lagi-lagi, buffering. Iklannya sih, katanya, nggak pake buffering-bufferingan tapi, ternyata, lama bin lelet jadinya, I like slow. Ini mungkin yang dinamakan in the praise of slowliness di masa yang begitu mengagungkan keadaan yang serba cepat, instant, seketika itu juga.

Saya memutuskan koneksi internet setelah membuka situs Youtube dan menonton videoklip band-band favorit sewaktu SMA dulu. Bernostalgia sesekali ternyata mengasyikkan juga supaya hidup nggak terlalu stress.

Udah weekend aja nih, nggak berasa. Semua orang mungkin suka dengan hari Sabtu. Walaupun kadang-kadang rencana untuk ngilangin stress gagal terrealisasi karena macet berkepanjangan di jalan. Bukannya sembuh, malah tambah stress.

Di saat musim yang kadang panas dan kadang hujan, harus cepat-cepat pergi sebelum benar-benar hujan sehingga ada alasan pembenar untuk tidak pergi. Saudara kita yang bernama hujan ini, memang sering meledek kalau kita memutuskan untuk pergi, dia akan turun dengan derasnya. Sebaliknya, kalau kita memutuskan tidak pergi, dia pun tidak jadi turun. Entahlah, mungkin karena dia sayang sama kita kalau kita pergi dia akan menangis, kalau kita tinggal di rumah dia tidak jadi menangis. Mungkin dia juga mau mengetes sejauh mana kekuatan mental kita ah, baru segitu aja udah nyerah, cemen lu…


Untuk menyembuhkan penyakit writer’s block akut yang sudah terlalu lama saya idap, saya pun pergi ke Readinglights (perasaan, dari dulu, writer’s block melulu…). Mungkin alasan kemalasan saya semata hehehe. Sabtu memang harinya orang untuk banyak beralasan ini dan itu. Kalau saya pribadi sih, Sabtu adalah harinya untuk menonton sepakbola yang disiarkan langsung oleh televisi secara gratis. Apalagi kalau sudah mendung menggelayut, pertanda Tuan Hujan ini akan menitikkan air matanya wah, ada alasan pembenar untuk bermalas-malasan, bikin secangkir kopi hangat, sambil mata memelototi layar kaca. Nggak tahu deh, buat saya, sepakbola itu udah jadi bagian dari hidup. Sepi rasanya kalau nggak ada sepakbola. Saya sepertinya sudah dikutuk untuk selalu suka sepakbola. Nggak ada protes deh, buat sepakbola walaupun tetap ada juga hal-hal negatif dari sepakbola. Sudah telanjur jatuh cinta, sih…

Saya pun tiba di Reading Lights dan bertemu dengan Sapta yang sedang asyik dengan laptopnya. Biasalah, sedikit chit-chat antar teman jika sudah cukup lama tak bersua. Untungnya, saya udah punya kegiatan yang sedikit bisa membanggakan jika ada yang bertanya, “Sekarang, lagi sibuk apa, Ji?”. Lumayanlah, ketimbang jawaban yang itu-itu saja yang sudah tertebak seperti, yah, gitu, deh atau wah, sibuk apa ya? Nggak tahu, deh..atau bisa juga well, you know stuff like that atau yah you knowlah little this, little that ... Jawaban khas orang bingung atau yang nggak punya banyak kegiatan tapi selalu sok sibuk dan sok banyak beralasan seperti saya hehehe.

Bak membuka kotak Pandora (buset!), bermunculanlah satu persatu peserta Reading Lights Writer’s Circle (RLWC). Total ada tujuh orang yang datang, Sapta, Farida, Danny, Riri, Sabiq, David, dan saya.

Setelah berembuk tentang tema apa yang akan menjadi bahan tulisan, kita akhirnya memutuskan untuk menulis tentang crime (kejahatan). Tema ini kita ambil setelah mendengar cerita dari kawan kita Farida yang mendapat tugas dari kampus untuk mewawancarai narapidana di sebuah penjara di Bandung yang namanya saya lupa.


Cerita pertama datang dari Danny. Cerita ini memang belum selesai baru permulaan dari kisahnya secara keseluruhan. Inti ceritanya yang bisa saya tangkap sih, tentang seorang saksi pembunuhan yang akhirnya setelah dua puluh tahun kemudian, dibunuh oleh pembunuhnya itu sendiri. BAGUS.

Lalu giliran adik kecil kita, cieeeh… Mr. Highschool Boy, hehehe. Sabiq menulis cerita tentang seseorang perempuan yang akhirnya mengaborsi janin yang ada di rahimnya setelah hamil di luar nikah setelah menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual. Kayak gitu bukan sih, ceritanya, bro? Sorry ya, kalo salah. Salah-salah dikit, nggak apa-apa kali, ama temen ini. Prinsipnya sih, ceritanya bagus tapi, mungkin karena terburu-buru, ada beberapa bagian yang harus diperjelas. Not bad at all for the beginner. Alah, belagu bener ya gua? Kayak udah expert aja. Sorry kawan, hanya bercanda. Pokoknya mah, BAGUS.

Cerita selanjutnya datang dari somebody who pull the trigger alias sang pemicu timbulnya ide, Farida. Saya suka ceritanya karena sudah ‘jadi’ dan juga, menimbulkan rasa penasaran untuk membacanya terus sampai akhir cerita. Kisahnya tentang orang baik-baik, berpendidikan tinggi, yang hidupnya harus berakhir di penjara karena membunuh orang. Suatu hari karena dia terburu-buru, ia berdebat dengan seseorang yang menjengkelkan dan terpaksa memukul orang tersebut dengan dongkrak hingga mati. Dalam cerita itu juga dikisahkankan kalau keluarga si tokoh adalah keluarga yang bermasalah dengan ayah yang pengangguran, kerap menyiksa isterinya sehingga akhirnya dibunuh oleh kakak sang tokoh. Ia pun akhirnya, dibiayai oleh sang paman yang juga berwatak keras dan temperamental. BAGUS.

Kali ini, tidak seperti biasanya, Riri bisa menyelesaikan cerita sampai tuntas. Good for you, Riri. Dan bagusnya lagi, cerita yang dibuat juga unik, spesial karena tokohnya seekor anjing. Berbeda dari kebanyakan cerita-cerita peserta lainnya yang mengambil sudut pandangnya dari manusia. Kisahnya tentang seekor anjing yang majikannya adalah seorang pembunuh. Ceritanya semakin menarik ketika tanpa sengaja si anjing mengorek tanah dan menemukan tulang dari mayat yang dibunuh dan dikubur oleh majikannya di rumahnya. Mudah-mudahan sih bener begitu ya, ceritanya? Sorry ya, kalau terlalu banyak dikarang-karang dan terlalu banyak penafsiran hilang fokus sih, hehehe. BAGUS.

Lanjut, pada kisah karya Sapta. Sepertinya, kisah ini bagus kalau dijadikan sekuel atau lanjutan dari kisah karya Farida. Ceritanya, soal orang yang dipenjara karena sesuatu hal yang tidak disebutkan dalam cerita. Di penjara, dia dikurung dalam sel dengan 3 narapidana lainnya yang menjadikannya budak pemuas seks. Singkat cerita, malam berganti malam, “kekasih-kekasih” si tokoh saling membunuh untuk mendapatkan “cinta” dari si tokoh. Karena dianggap menjadi penyebab terjadinya peristiwa saling bunuh tersebut, pihak penjara akhirnya, memindahkannya ke ruang sel lain yang tersendiri. Mungkin betul rencana si tokoh untuk menuliskan kisahnya itu dalam bentuk buku, akan menjadi lebih tebal lagi. Wah, bisa jadi bestseller tuh, novelnya. BAGUS.

Kisah selanjutnya, datang dari kawan lama kita, David. Ceritanya sangat-sangat lucu, dengan dialog-dialog khas Sunda yang mengocok perut kita. Ceritanya, tentang seseorang yang didakwa melakukan suatu tindak pidana dan sedang diinterogasi polisi. Kekuatan dari cerita ini walaupun belum sepenuhnya selesai adalah, percakapan informal yang memang biasa terjadi antara tersangka kejahatan dengan polisi di wilayah Bandung dan sekitarnya. Dialognya, kalau menurut saya, memang khas banget kalo pelaku kejahatannya kasus-kasus seperti maling ayam, maling jemuran, dan semacamnya. Bagian yang paling tidak bisa saya lupakan adalah ketika si polisi menanyakan nama tersangka dan dia menjawab Andre Otong. Lalu si polisi menuding, kalau dia bohong karena pakai kaos tulisannya Jajang. Dengan setengah mati ia meyakinkan kalau ia memang Andre Otong adapun kaos yang dipakainya memang milik temannya, Jajang yang ia pinjam setelah ia bermalam di rumah temannya itu. Udah gitu, sang polisi menemukan sebuah KTP atas nama Pepen Surepen kontan saja, membuat polisi makin curiga dan gemas. Si tokoh pun mati-matian meyakinkan kalau itu KTP temannya yang terbawa olehnya. BAGUS.

Terakhir, cerita buatan saya. Seperti biasa, saya menulis tentang cerita yang ringan-ringan saja. Itu mungkin spesialisasi saya untuk membuat cerita yang jayus bin garing, makanya, ditambahin air aja, biar basah wkwkwk… Jadi, ceritanya soal seorang bernama Bobby yang disidang karena kasus pencurian sepeda. Ini karena dia salah menafsirkan pernyataan seorang perempuan yang memintanya untuk mengambil “miliknya” yang paling berharga. Lalu, ia memilih mengambil sepeda milik perempuan itu dan didakwa melakukan tindak pidana pencurian. Entahlah, ada atau tidak pria setolol itu. Yah, namanya juga cerita hehehe. Ditambahin BAGUS nggak ya? Nggak usah deh. Wah, udah telanjur tuh, udah nggak bisa dihapus lagi.

Omong-omong, mau tahu alasan saya meletakkan kata bagus dengan huruf kapital pula di setiap ulasan karya rekan-rekan? Saya jadi teringat dengan almarhum Pak Tino Sidin guru melukis dan menggambar. Entah, masih ada yang ingat atau tidak dengan beliau. Saya suka sekali dengan acara belajar menggambar yang diasuh Pak Tino Sidin di TVRI zaman baheula pisan. Nah, di acara tersebut, Pak Tino selalu mengucapkan kata bagus setiap ia habis membacakan gambar karya anak-anak yang mengirimkan karyanya kepada Pak Tino. Ketika ditanya, mengapa Pak Tino selalu bilang kata bagus? Beliau berkata, “Sebenarnya, BAGUS itu singkatan dari Belajarlah Gambar-Menggambar Untuk Seni.” Akhirnya, saya jadi ikut-ikutan beliau deh, pakai kata bagus setiap kali habis mengulas karya rekan-rekan sekalian. Mungkin dalam hal ini, maknanya jadi, Belajarlah Tulis-Menulis Untuk Bahasa alah, garing banget…

O.K. There’s nothing left to say… Tetap asah penamu, mas bro, mbak sis. Sampai ketemu minggu depan!


Satyo Aji Karyadi, lebih akrab disapa Aji, adalah peserta writers' circle yang kedatangannya paling sulit diprediksi. Kadang ia datang setiap minggu, tetapi kadang-kadang ia lama tidak muncul hanya untuk muncul lagi dan membuktikan kebertahanannya. Pria tinggi dan berkacamata ini sebetulnya pendiam, tetapi ada tiga fakta yang patut diketahui tentangnya. Pertama, Aji telah mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran. Kedua, seperti yang diakuinya, Aji suka menulis tentang politik dan sepak bola (Kadang-kadang tajuk tulisan politiknya cukup ajaib. Membandingkan Stalin dengan Charlie Chaplin, misalnya). Ketiga, dalam tulisan ini Aji mengutip lagu Message in a Bottle-nya The Police. Apakah laki-laki ini suka The Police? Apakah kesukaannya ini merupakan indikator dari usia Aji yang sebenarnya? Ah, barangkali cuma anak-anak writer circle dan malaikat yang juga tahu.

Rabu, 26 Oktober 2011

To: Han

Salah satu karya peserta RLWC, Farida Susanty, akan difilmkan. Cerpennya yang berjudul Tuhan dalam bukunya Karena Kita Tidak Kenal diinterpretasikan oleh komunitas Semiotika Embun Pagi. Berikut adalah trailer-nya.


Untuk pemutaran secara penuh, akan dilakukan di sebuah acara:

Mangga Malam Mingguan
29 Oktober 2011, Pk. 19.00 WIB
di Story Lab, Bandung
Jl. Mangga No. 14, Bandung

Mari kita dukung hasil perkawinan dunia kepenulisan dan perfilman di Indonesia!

Minggu, 23 Oktober 2011

Mundur Pada Masa Lalu

Dalam realita kehidupan sehari-hari, waktu memang senantiasa melaju ke depan. Dari masa lalu, ke detik ini, lalu ke masa depan. Namun, dalam dunia tulisan, dalam dunia imajinasi, apa pun bisa terjadi. Termasuk waktu yang bergerak mundur ke belakang. Tema kami minggu ini.


Adalah saya yang terakhir kali membacakan cerita saya, karena saya juga menjadi penulis jurnal. Saya berkisah tentang tokoh aku mabuk-mabukan di kamarnya, karena ia baru mengundurkan diri, atau lebih tepatnya, memecat dirinya sendiri dari pekerjaannya yang gemilang. Pemecatan ini adalah buntut dari kinerja si aku yang terus menurun, akibat patah hati dengan rekan kerjanya yang memilih menikah dengan orang lain. Padahal si tokoh aku ini selalu siap dijadikan tempat curhat si rekan kerja. Rekan kerjanya ini, adalah cintanya pada pandangan pertama. Nia berkomentar bahwa cerita saya ini bisa menggambarkan emosi tokoh si aku, yang merasa patah hati dan ditinggalkan, dengan realistis.

Sebelum saya, ada Dani yang menyatakan bahwa ceritanya kali ini adalah cerita terburuk yang ditulisnya beberapa waktu terakhir. Dani bercerita tentang Tegar, yang mendapati Raisa jatuh dan tewas di hadapannya sepulang ia membeli telur di warung. Di warung itu orang-orang ramai membicarakan kecelakaan yang baru terjadi. Tegar memang kehabisan stok telur, dan ia jengkel karenanya, dan ia semakin jengkel ketika mendengar Raisa, mantan pacarnya, menangisi teman-temannya yang baru mengalami kecelakaan. Dalam kejengkelannya, ia berteriak pada Raisa, “Mati saja sana!” Saya berkomentar bahwa cerita Dani ini justru termasuk yang bagus dan sangat bisa dinikmati. Meskipun saya tidak percaya Tegar mampu bersikap sekejam itu pada mantan pacar yang ia putuskan sendiri. Mungkin lebih masuk akal jika Raisa dan Tegar tidak punya hubungan spesial, atau jika Raisa yang dulu memutuskan Tegar.

Sebelum Dani ada Nia, yang kembali menggunakan nama Musa Idris. Musa Idris adalah pria yang diinginkan oleh banyak wanita, tapi ia sendiri selalu menghindari wanita. Saat SMA, wanita yang disukainya pun meninggalkannya karena ia tidak pernah mau ditempeli. Dari masa lalunya terkuak bahwa dulu saat ia masih sangat kecil ia menyaksikan ayah dan ibunya bertengkar, sebelum kemudian ibunya meninggalkan rumah, tidak menghiraukan dirinya yang terus-menerus memanggil dengan tangisan. Menurut saya cerita ini adalah “psikologi banget”.

Sapta juga kembali menulis dengan tema sadis. Sapta berkisah tentang Cindy, gadis sakit jiwa yang baru saja membantai sebuah keluarga dengan bahan kimia yang dihidangkan sebagai minuman. Cindy pergi naik angkot dan membeli racun itu setelah mendengar Maya, anak kecil dalam keluarga itu, bercerita bahwa ayah ibunya sering membicarakan Cindy diam-diam di kamar. Cindy yang memaksakan diri untuk bergabung dengan keluarga ini, baik sebagai istri kedua atau pembantu, dengan ancaman. Ancaman bahwa Cindy melihat mayat yang pasangan itu buang ke sungai. Saya kesulitan memahami cerita ini, dan baru memahaminya setelah istri saya menjelaskan dengan alur maju. Mungkin karena gaya penuturan maupun bahasanya yang unik, atau saya saja yang terbiasa dengan hal-hal sederhana. Karena hanya saya yang tampaknya kurang paham.

Sebelum Sapta, Farida bercerita tentang seorang gadis yang baru mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia berjuang menghubungi nomor seorang pria, dan kini suara yang mengangkatnya adalah suara seorang wanita. Pria itu adalah pria yang akhirnya memutuskan untuk meninggalkannya demi wanita lain. Pria itu adalah pria yang dulu sangat dekat dan akrab dengannya.

Dan, yang mendapat kesempatan membacakan ceritanya pertama kali adalah Abi, peserta baru yang datang minggu ini. Abi memulai ceritanya dengan 2 lembar kertas yang diremas. Ia benci kertas itu seperti ia membenci alkohol, yang ia minum bersama seorang pria di Eropa sana. Tokoh aku ini merasa sakit hati karena tujuan awalnya untuk berkuliah di sana sudah berbelok. Di akhir cerita, sang pria menawarkannya 2 lembar kertas. Satu tiket pulang ke Indonesia. Satu lamaran pernikahan. Di sinilah pembukaan cerita berlangsung; tokoh aku meremas 2 lembar kertas tersebut. Sapta berkomentar bahwa Abi punya pemilihan kata yang bagus dalam menulis. Saya setuju.

Dan demikianlah. Adalah Sapta yang memilih tema “alur mundur” untuk sesi menulis kali ini. Demikian sesi menulis 22 Oktober 2011 dimulai; demikian pula jurnal ini berakhir.




Rizal Affif. Seorang pria yang sedang merintis lagi jalan untuk kembali ke impian lamanya menjadi penulis. Setelah beberapa tahun terdampar di dunia konsultansi Human Resource Management sebagai freelance Assessor. Sebuah konsekuensi akibat banyak menunda menulis selama kuliah dan semasa SMA.