Selasa, 05 Juli 2011

Bergaya Hidup Miskin

Orang bilang hidup adalah pilihan. Keberadaan kita yang sekarang adalah produk atau hasil dari pilihan-pilihan yang kita buat.

Adalah juga pilihan, setelah sekitar lebih dari dua bulan absen, akhirnya saya kembali hadir di pertemuan Reading Lights Writers’ Circle hari itu (Sabtu, 2/7). Di sore yang cerah itu, saya dan Nia melangkah masuk ke Reading Lights CafĂ© dan menemukan Sapta, Rizal, dan Neno yang sudah lebih dulu datang.

Sebelum memulai sesi kali ini, kami berbincang-bincang tentang beberapa hal. Beberapa kali Sapta bertanya akan menulis apa hari ini, tapi tak jua ada yang memberikan tema. Hingga akhirnya di tengah perbincangan (saya lupa tentang apa), tercetuslah sebuah ungkapan `miskin sebagai gaya hidup`. Mendengar ini, Sapta pun menobatkan ungkapan tersebut—miskin sebagai gaya hidup—sebagai tema menulis kali ini, yang langsung kami setujui.

Beberapa menit setelah Neno mengaktifkan timer, Dani datang dan langsung memisahkan diri ke meja lain untuk menulis.

Tiga puluh menit berlalu cepat. Pada sesi pembacaan, saya menawarkan diri untuk membacakan karya lebih dulu. Sebab belakangan merasa kesulitan menulis cerpen utuh (apalagi hanya dalam waktu 30 menit), saya memilih menulis narrative poem.

Puisi ini bercerita tentang gadis miskin bernama Lena yang terpaksa menikah dengan duda kaya anak dua, demi melunasi hutang keluarga. Awalnya duda kaya berpikir ia tidak salah memilih istri kedua sebab Lena pandai mengurus semua hal: anak, rumah, dan isinya. Tapi, di usia 3 bulan pernikahan mereka, duda kaya mulai sadar bahwa ia bukannya tidak salah pilih istri kedua, melainkan pembantu rumah tangga. Meski sudah menjadi istri duda kaya, Lena tidak bisa membebaskan diri dari gaya hidupnya yang miskin.

Rizal menulis tentang pengusaha kaya, Abdullah, yang memanjakan sekaligus mendidik anaknya, Sultan, untuk hidup sebagai orang kaya. Hal ini sengaja ia lakukan demi mematahkan ramalan seorang wanita yang mengatakan bahwa anaknya akan memilih hidup sebagai orang miskin dan keluarganya akan mati dalam keadaan miskin. Tapi untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak; betapa kecewa dan terkejutnya Abdullah, saat Sultan datang memohon ijinnya untuk pergi berpetualang tanpa didukung fasilitas apapun. Untuk menggagalkan niatnya, Sultan pun disekap tapi berhasil kabur.

Tak lama berselang, Sultan ditemukan tewas di pedalaman Papua. Hal ini membuat Abdullah dan istrinya bersedih dan sakit-sakitan. Perlahan tapi pasti, hartanya habis untuk pengobatan yang ternyata tak berhasil menyelamatkan istrinya maupun dirinya sendiri. Saat Abdullah kehilangan semua, ia sudah tidak bisa kehilangan apapun lagi.

Rizal belum menyelesaikan tulisannya, tapi berdasarkan narasi lisan dari Rizal, Abdullah akhirnya meninggal dan kembali berkumpul bersama keluarganya. Ia menyadari bahwa anaknya mati dalam keadaan bahagia sebab telah menjalani apa yang menjadi pilihan hidupnya.

Pembacaan berikutnya adalah cerita yang ditulis Sapta. Cerita dibuka dengan penggambaran tokoh bernama Nenek Damiri yang kebingungan menghadapi cucunya yang menangis sebab lapar. Orangtua sang bayi sudah mati, sebagaimana halnya yang terjadi dengan kebanyakan penduduk desa tersebut. Cerita dilanjutkan dengan penggambaran seting yang baik tentang sungai yang kering hingga banyak ikan-ikan yang mati.

Tiba-tiba muncul Raja Tobias yang sedang berpesta pora bersama segenap penghuni kerajaan dalam rangka merayakan kemenangan dalam perang. Mereka berbahagia di atas kesedihan para wanita dan anak-anak yang kehilangan suami atau ayah mereka dalam peperangan tersebut. Lalu muncul wanita muda dengan pakaian terbuka, yang duduk di sebuah taman menunggu pelanggan datang. Adalah Anita namanya, wanita desa yang mengadu nasib ke kota, namun terjerumus ke dalam jurang pelacuran. Ia lupakan semua nasihat orang tua untuk selalu menjaga agamanya. Semua hal butuh proses dan waktu, tapi Anita rupanya tak mau bersusah-susah bekerja untuk mendapatkan uang.

Rupanya, Sapta menulis tiga cerita yang masing-masing menggambarkan miskin air, miskin hati, dan miskin agama.

Sebab Dani menolak membacakan karyanya—yang katanya belum selesai—tibalah kini giliran Nia. Tak seperti biasanya, menurut peserta lain, tulisan Nia kali ini sedikit ngepop. Nia menulis tentang tokoh aku yang jatuh cinta pada Adri. Si aku sering mengintip Facebook Adri untuk mencari tahu adakah dia disebut-sebut di statusnya. Tapi usahanya sia-sia.

Hingga suatu hari, nasib mempertemukan mereka kembali, dan kali ini tokoh Aku berkesempatan untuk bisa dekat dengan Adri. Kupu-kupu dalam perut masih mengepak, tapi tidak seheboh dulu, begitu kata Aku untuk menggambarkan perasaanya. Dari obrolan mereka, Aku tahu bahwa Adri belum ingin punya pacar dengan alasan tak mau repot mengurusnya. Tahulah Aku bahwa Adri memang miskin hatinya.

Dengan selesainya pembacaan cerita dari Nia, maka berakhirlah pertemuan RLWC hari Sabtu kemarin. Masing-masing kami menulis dan menginterpretasikan ungkapan miskin sebagai gaya hidup dengan cara yang berbeda-beda. Bagaimanapun, itu adalah pilihan yang kami buat. Cheers!



Neni Iryani

http://lilalily.blogspot.com/

2 komentar:

Anonim mengatakan...

gw suka banget tema kemaren.. kangen kaliannn ^^

Devi

Reading Lights Writer's Circle mengatakan...

Paradoks banget ya.. miskin jadi gaya hidup ;)