Kamis, 24 Desember 2009

Liburan!

Pernahkah Anda menonton film fiksi ilmiah Minority Report yang dibintangi Tom Cruise? Atau bahkan membaca cerita pendek tulisan Philip K. Dick yang mengilhami film tersebut? Tema penulisan Reading Lights Writers'Circle (RLWC) pada tanggal 19 Desember 2009 ini agak mirip dengan gagasan dasar cerita tersebut, walaupun diwarnai oleh suasana liburan akhir tahun. Pendek kata, masing-masing peserta diminta menuliskan suatu cerita tentang pengalaman yang mungkin akan mereka dapatkan selama masa liburan Natal dan Tahun Baru di penghujung tahun 2009 ini.


Indra, Marty, dan Anggi

Ki-ka: Andika, Wahyu, Hakmer, Dani

Indra mengawali pembacaan karya dengan suatu cerita yang menyentuh. Dalam cerita ini Indra--yang tidak dapat menikmati liburan karena terpaksa bekerja lembur di akhir tahun--menerima panggilan telepon dari ibunya di rumah. Pada awalnya ia agak kesal karena iri dengan ibunya yang selalu bisa menikmati liburan sebagai seorang ibu rumah tangga yang tidak perlu bekerja di kantor, tetapi tak lama kemudian ia sadar bahwa pekerjaan ibu rumah tangga adalah suatu pekerjaan dua puluh empat jam yang tidak memberikan kesempatan apapun untuk libur atau cuti. Akhirnya ia dapat merasakan hangatnya kebersamaan keluarga walaupun hanya lewat pembicaraan lebih lanjut di telepon dan renungan tentang kenakalannya sendiri dalam suatu liburan keluarga saat ia masih berusia tujuh tahun. Cerita ini berisi cukup banyak baris dialog, dan belakangan Indra menyatakan bahwa pengalamannya di RLWC selama ini membuatnya lebih mampu dan berani dalam menulis cerita seperti itu (dibanding dengan cerita-ceritanya dulu yang relatif lebih miskin dialog).

Berikutnya, Marty menulis tentang liburan yang dihabiskannya dengan membaca di kamarnya sendiri dan merajut syal untuk ayahnya; salah satu alasannya untuk tidak keluar rumah dalam liburan ini adalah salah satu liburan sebelumnya yang sedianya akan menjadi liburan romantis bersama pacarnya tetapi malah berubah menjadi bencana.

Anggi menceritakan suatu perjalanan ke Kalimantan sebagai penerjemah untuk seorang peneliti orangutan. Di tengah perjalanan ini Anggi (atau paling tidak tokoh penggantinya dalam cerita) nekat terjun ke sungai untuk menolong seseorang yang nyaris tenggelam ditarik oleh siluman buaya yang bergentayangan di sungai itu, tetapi sayangnya ia malah ikut mati tenggelam dan dikirim pulang dalam peti mati bersama orang yang tidak dapat ditolongnya itu. Anggi membaca cerita ini dengan nada yang ceria sehingga menimbulkan kesan ironis yang lucu tetapi juga membawa semacam humor gelap.

Bagaimana dengan Nia? Ceritanya mengulas rentang waktu tiga hari (24-26) Desember yang dilewatkannya dengan sebuah maraton gosip--pertama-tama dengan para rekan kerjanya di sebuah warung seafood, lalu dengan teman-teman SMPnya di kafe Kopi Ireng dan sebuah tempat karaoke, kemudian dengan para koleganya dari majalah online RuangPsikologi. Tak ayal beberapa tema psikologi dan filsafat (yang tentunya berkaitan erat dengan gosip!) ikut terbawa dalam cerita ini.

Saya tidak mendapat inspirasi dari liburan akhir tahun ini karena saya belum bisa memperkirakan apa yang akan saya lakukan selama liburan tersebut, jadi saya memilih untuk "banting setir" dan menulis cerita khayal tentang seorang perwira kavaleri yang tidak lagi dapat menikmati liburan di akhir tahun 2015 akibat perang saudara di Indonesia setelah pemanasan global melelehkan setengah es Kutub Selatan pada malam natal 2012 dan menyebabkan kekacauan di seluruh dunia. Banyak pertanyaan yang muncul tentang latar dan penokohan cerita ini karena sejujurnya saya belum sempat memikirkan setiap rincian dan cerita inipun sebenarnya dimaksudkan sebagai suatu cara untuk menjajaki pilihan-pilihan yang mungkin saya ambil seandainya saya ingin mengembangkannya lebih lanjut. Latar cerita ini (yang sebagian besar fiktif) sempat menuai protes dari Indra yang awalnya mengira bahwa kami benar-benar harus menulis tentang hal-hal yang benar-benar mungkin terjadi dalam liburan akhir tahun 2009 ini.

Hakmer bercerita tentang lima janji yang dibuatnya kepada dirinya sendiri untuk tahun baru 2010: lebih rajin pergi ke gereja, hidup sehat, kuliah dengan lebih serius, menjadi "lebih dan lebih," dan mencari pacar baru. Lalu ia membeberkan rincian tentang masing-masing janji dan kegagalannya dalam memenuhi janji-janji tersebut--kecuali janji keempat yang dapat diartikan gagal memenuhi niat tahun baru dengan lebih tragis.

Cerita Wahyu mengangkat liburan ke pantai yang dimulai dengan berbagai macam rencana (termasuk menyewa penari telanjang) tetapi berakhir datar, tak kurang karena rasa malu dan segan antara teman-teman (dan bahkan kakak-beradik) saat mereka hendak menjalankan rencana-rencana gila mereka.

Andika membawakan cerita tentang perjalanan yang terpaksa dilakukannya ke Magelang untuk mengenalkan calon istri kakaknya kepada neneknya. Perjalanan ini harus dilakukannya dengan cepat karena calon istri kakanya itu ternyata sudah terlanjur hamil muda, sehingga sang kakak harus cepat-cepat menikah sebelum tersebar kabar miring. Naasnya, sang nenek ternyata tidak begitu berkenan dengan kurangnya bibit, bebet, dan bobot calon cucu menantunya; bahkan bujukan dari cucu yang paling disayanginya (Andika) tidak begitu berhasil dalam melunakkan hatinya. Akhir cerita ini "dipelintir" dengan manis saat tokoh Andika mengungkapkan bahwa mungkin ia menjadi cucu tersayang karena ia tidak akan membawa seorang wanita ke dalam keluarga besarnya--apapun maksudnya itu!


Secara resmi, pertemuan kali ini berakhir cepat karena para peserta RLWC harus segera berangkat untuk menghadiri resepsi pernikahan seorang staf Reading Lights. Saya baru mengetahui adanya resepsi ini tak lama setelah pertemuan dimulai, jadi saya tidak sempat berganti pakaian untuk memberikan kesan yang lebih formal; tetapi paling tidak nasib saya tidak setragis Hakmer yang sama-sama baru diberitahu tentang resepsi ini dan terpaksa mengenakan sandal jepitnya karena ia tidak membawa alas kaki lain. Di sisi lain, Andika mengganti bajunya dengan setelan jas yang membuatnya menjadi pusat perhatian, bahan pembicaraan, dan korban hujatan saat kami sedang bersiap-siap sebelum berangkat. Salah satu penyebabnya adalah potongan jasnya yang aneh--bagian depannya memiliki dua baris kancing (double-breasted) yang seharusnya dipasangkan dengan sepasang bukaan samping di dasar punggung jas, tetapi pada nyatanya hanya ada satu bukaan tengah (center slit) yang lebih cocok dengan jas yang hanya memiliki sebaris kancing (single-breasted) sehingga jas tersebut terasa agak sempit dan canggung saat Andika sedang duduk. Mungkinkah ada seseorang yang akan menceritakan kekeliruan potongan jas ini seandainya saya sempat mengetahuinya dan mengemukakannya sebelum kami mulai menulis?




Pradana Pandu Mahardika memiliki prinsip 'Kalau tidak ada acara, saya akan selalu datang ke Reading Lights Writer's Circle'. Laki-laki yang pernah berkata bahwa ia tidak menyukai pergi dengan para anggota suatu group lalu membicarakan hal di luar konteks group (misalnya hal-hal personal) ini memiliki kompulsi membeli buku fiksi dan non fiksi. Sudah bisa ditebak kalau ia memiliki koleksi buku banyak sekali.


Rabu, 09 Desember 2009

Menyelami Foto Dengan Mata, Menulis Dengan Tangan dan Hati

Hari Sabtu yang lalu, udara tidak jelas panasnya. Salah seorang sahabat saya memberi komentar ini disebabkan karena adanya acara outdoor di daerah Saparua yang menggunakan para pawang sakti untuk mencegah hujan, oleh karenanya cuaca hari itu panas sekali. Namun menjelang sore, udara mulai terasa dingin. Kurang lebih pada saat itulah saya datang ke Reading Lights untuk ikut menulis bersama di RL Writers' Circle (RLWC) yang sudah dua minggu tidak bisa saya hadiri.

Saya datang sekitar pukul empat lebih. Ketika datang, dua peserta pertama yang saya lihat adalah Nia dan Andika yang sedang duduk di pojok favorit. Setelah menyapa mereka, Andika pun memberi tahu bahwa hari itu kita akan menulis cerita fiksi berdasarkan kesan yang kita tangkap melalui sebuah buku foto yang dibawa Andika.



Ketika melihat buku foto tersebut, kesan pertama yang saya tangkap adalah gambar-gambar di foto itu sangat bagus, Dengan pengetahuannya, Andika menceritakan buku foto itu yang merupakan salah satu karya fotografi tahun 60an -- menangkap kesenduan Amerika di masa yang disebut golden age-nya Amerika.

Tidak lama kemudian dua peserta RLWC yang belum saya kenal datang dan Andika mengenalkan saya kepada mereka: Mayang dan Natalia. Beberapa saat kemudian datang lagi peserta langganan RLWC, Martina. Setelah itu, kami berlima pun sepakat untuk pindah ke "ruang belajar" tercinta kami di lantai dua.

Andika segera memulai kegiatan hari itu dengan mempersilahkan kami memilih foto-foto yang ada di buku foto. Karena buku foto yang dibawa dan digunakan hanya satu, kami terpaksa bergiliran melihat dan memilih foto didalamnya. Sempat muncul protes konyol tentang bagaimana kalau dirobek-robek saja lembaran bukunya supaya kami semua bisa melihat isinya tanpa perlu bergiliran. Pada saat kami memilih, dua peserta RLWC lain muncul yaitu Hakmer dan Dani. Setelah selesai memilih, kami segera menulis. Kurang lebih 30 menit waktu yang kami habiskan untuk menerjemahkan visual foto melalui tulisan.

Setelah batas waktu yang ditentukan, Andika menyatakan sesi menulis berakhir. Dia bertanya siapa yang akan membaca duluan, saya berseru dengan keras, "Andika duluaaaannn!!!" dan karena mayoritas suara peserta RLWC ikut mendukung, maka Andika mendapat giliran pertama untuk membaca (saya harap Andika tidak dendam. Hehe ...)



Pilihan Andika adalah sebuah foto yang menggambarkan seorang pria di depan mesin jukebox di sebuah bar di daerah Las Vegas, Nevada. Kok saya bisa tahu lokasinya? Karena ada keterangan foto di belakangnya. Andika menceritakan pria itu bernama Deni yang sedang mencari Deri -- kakaknya yang hilang saat istri Deri hendak melahirkan. Monolog Deni mengalir dan menceritakan sebuah rahasia terpendam tentang rasa iri yang Deni rasakan kepada kakaknya dan menjadi pendorong dia memperkosa iparnya sendiri di malam pengantin kakaknya. Ceritanya menurut saya sangat bagus dan tidak terduga. Hampir semua peserta RLWC menyukai cerita itu. Walau kalau dipikir-pikir sih, ceritanya cukup kelam.


Andika, saya-lah yang kena giliran membacakan tulisan saya. Saya memilih sebuah foto yang mengambarkan counter sebuah family restaurant yang bagian atas restoran dihiasi dengan hiasan natal dan ada seorang waitress ber-makeup tebal dan berwajah sedih. Berhubung sudah suasana Natal, saya coba mengambil suasana itu ke dalam cerita saya, Dengan tokoh utama Laura, seorang waitress di sebuah restoran di kota Hollywood, yang terjebak dalam rayuan kekasihnya yang menjanjikan kehidupan seorang artis di Hollywood. Namun kehidupan Laura di Hollywood jauh sekali dari mimpinya. Kekerasan fisik dan kesedihan membuat dia merindukan keluarganya yang jauh dan terutama salju tidak pernah turun di Hollywood. Komentar yang saya dapat sangat menyenangkan. Beberapa peserta merasa kalo cerita saya sangat Amerika (ternyata banyak menonton serial Amerika membantu saya untuk membuat cerita ini juga!)


Dilanjutkan dengan Nia yang mengambil foto seorang ibu dengan kedua anaknya di mobil. Cerita Nia diawali dengan kehebohan kedua anak, saat sang ibu membangunkan mereka terburu-buru, menyuruh berpakaian, dan bersiap-siap untuk sebuah perjalanan. Dalam perjalanan, Nia membangun ketegangan dengan kebisuan sang ibu, dan pernyataan-pernyataan si anak yang sedikit menyerempet kriminal, kejahatan, dan penyiksaan. Ternyata semua ketegangan itu memuncak saat sang ibu memarkirkan mobilnya untuk ... berbelanja di supermarket obral! Saya yakin semua peserta RLWC pada saat itu tertipu dengan ending tak terduga namun lucu ini. Seperti biasa, Nia dengan kemampuan kata-katanya, mampu membangun rasa penasaran audience-nya.


Dilanjutkan dengan Martina yang mengambil foto perayaan 4th July. Marty memusatkan ceritanya kepada tokoh bernama Marty dan saudara sepupunya yang menghadiri perayaan 4th July. Marty mengambarkan perasaan senang dan kekaguman infantil yang mereka rasakan dan juga pola pandang anak-anak itu terhadap perayaan tersebut. Sayang Marty tidak mengembangkan ceritanya lebih dalam, padahal ceritanya sangat bagus dan sangat mewakili perasaan anak-anak (apa karena Martina baru pulang dari sebuah workshop menulis buku anak-anak?)



Hakmer membacakan karyanya tentang pandangannya terhadap foto seorang pemuda dan wanita dalam mobil di tengah gurun. Manuel, seorang pemuda dalam pelarian dengan sang Ibu, merasa sangat letih dan mulai muak dengan perjalanan yang mereka alami -- mobil yang mereka tumpangi dan pemandangan monoton yang itu-itu aja. Seperti biasa, Hakmer menggunakan banyak alegori dan metafora dalam tulisannya. Tulisan yang sangat bagus menurut kami.


Mayang bercerita dari foto seorang wanita kulit hitam dengan anak kulit putih. Wanita berkulit hitam itu bernama Rachel, seorang budak bebas yang terjebak sebuah konspirasi aneh yang melibatkan penculikan anak majikannya. Selain itu, salah satu temannya Rachel - seorang wanita kulit putih miskin - ternyata mencoba menjodohkan Rachel dengan sang majikan melalui penculikan. Komentar pertama yang keluar dari salah satu peserta RLWC adalah 'telenovela!' yang disetujui oleh sebagian besar peserta RLWC. Tapi menurut saya, cerita Mayang justru mungkin yang lebih mudah dijual jika diteruskan menjadi sebuah novel komersil karena ada konflik cerita yang berlandaskan cinta didalamnya.


Peserta yang membacakan karya selanjutnya adalah Natalia. Lia, panggilan akrab Natalia, menulis melalui foto yang menggambarkan seorang wanita paruh baya yang tersenyum lebar di tengah padang rumput. Natalia menggambarkan sang wanita sedang menunggu suami dan anaknya pulang dari perang. Namun harapan positiflah yang mampu membawa wanita itu dapat melalui hari-hari dengan tersenyum. Cerita Natalia sangat positif serta mengalir dengan tenang dan pasti. Sangat menyenangkan untuk didengar. Bagi sebagian peserta, kisah yang dibuat Lia adalah kisah yang paling menggambarkan susana yang ditangkap dalam foto tersebut.


Dani, peserta yang terakhir membacakan karyanya, menulis sangat jauh dari foto yang ada. Dia bercerita tentang peperangan di dunia fantasi yang melibatkan burung raksasa yang dapat ditunggangi, prajurit-prajurit tua dengan baju zirah tua, pahlawan dengan busur, dan ketepatan memanah yang luar biasa. Kami semua bertanya dimana kolerasi antara foto dengan ceritanya, Dani dengan enteng menjawab, "Fotonya menggambarkan tentang sekelompok orang tua yang memakai pakaian ketinggalan jaman". Dani hanya mengambil sebagian kecil dari foto tersebut.

Akhirnya kegiatan kami pun berakhir dengan sebuah pelajaran bahwa cara pandang dan kesan seseorang terhadap suatu masalah itu berbeda, namun tetap akan menghasilkan sebuah cerita yang mengalun dengan indahnya.




Regian Permana. Lahir lebih dari 20 tahun yang lalu. Menyukai lagu-lagu Jepang dan Korea. Penggemar berat cerita fantasi dan dongeng - terutama dongeng-dongeng Asia tentang siluman rubah. Mungkin itulah yang menyebabkan cowok narsis ini mempunyai Facebook: Siluman Rubah Regie, YM: liyujingbai (siluman rubah putih), dan Livejournal: http://white-demon-fox.livejournal.com. Usut punya usut, menurut cerita nenek Regie, nenek moyangnya di Cina dulu adalah seorang (atau seekor) rubah, sehingga untuk mengenal Regie harus berhati-hati karena siapa tahu garis darah itu masih menurun kepadanya ...

Kamis, 19 November 2009

Movie Week: Tokyo Sonata (2008)


Setelah dua bulan tidak pernah lagi menonton film bersama, akhirnya pada Sabtu pekan lalu (14/11) writer’s circle melakukannya kembali. Kali ini film yang ditonton adalah Tokyo Sonata, sebuah film Jepang produksi tahun 2008. Hadir di toko buku Reading Lights sore itu: saya, Indra, Dea, Lia, Theo, Dani, the newcomer Nindi, Marti, Niken, Ina, Mahel, Maknyes, dan Nia yang datang ketika film sudah hampir berakhir.

Sebetulnya memilih film untuk disimak bersama sebulan sekali di writer’s circle itu susah-susah gampang. Dengan film-film internasional (Halah!) sebagai tema besar kegiatan ini, tidak mudah untuk menyenangkan hati semua peserta writer’s circle dengan selera menontonnya masing-masing. Sementara Marti suka costume drama movies yang romantis, Dani terobsesi dengan film peperangan a la miniseri Band of Brothers, dan Dea kurang suka menonton film berdarah-darah yang memunculkan perasaan tak enak. Lalu - katakanlah - Mahel menyukai film-film drama atau thriller psikologis, yang di atas kertas cocok dengan latar belakang Niken dan Nia yang kuliah di Fakultas Psikologi. Namun, siapa sangka Nia ternyata lebih suka film yang banyak action dan sedikit ngomong? Belum lagi Indra hanya rela menonton film klasik yang kental sisi literaturnya, berbalik seratus delapan puluh derajat dengan selera Maknyes yang agak nge-pop. Kemudian Theo yang diam-diam suka menempatkan diri sebagai karakter film tentu mengharapkan pemeran utama perempuan yang kuat sesuai dengan dirinya, lain dengan Lia yang … duh, jadi adu domba begini.


Intinya Tokyo Sonata menceritakan jatuh bangun seorang pria Jepang dalam menjaga kehormatannya. Di Tokyo pada masa Perang Irak (belum pulih benar dari krisis dan mesti berhadapan dengan kekuatan-kekuataan ekonomi baru), alkisah Ryuhei (Teruyuki Kagawa) kehilangan di-PHK dari perusahaan tempatnya bekerja. Demi mempertahankan kewibawaannya di mata istri dan anak-anaknya, laki-laki berusia empat puluhan tahun itu berpura-pura masih bekerja. Setiap pagi Ryuhei itu berangkat dari rumah bersetelan jas lengkap dengan dasi. Sementara ketika matahari mulai meninggi, ia berkeliaran di taman dan mengantri pembagian makan siang gratis.

Rumah tangga Ryuhei kemudian bergejolak saat istrinya, Megumi, mulai mengendus status pengangguran suaminya. Megumi pun menghadapi dilema: apakah ia akan melakukan konfrontasi terhadap Ryuhei, atau tetap berpura-pura tidak tahu sampai keadaan membaik, tetapi sampai kapan? Apalagi watak Ryuhei yang keras terhadap keluarga semakin menguji batas kesabaran Megumi.

Ketika menyimak film ini, kebanyakan peserta writer’s circle seperti main tebak-tebakan dengan film ini. Kami berkomentar, berasumsi, sambil bertanya-tanya, “Bagaimana kelanjutan ceritanya?” Kadang-kadang kami bisa menebaknya, kadang-kadang tebakan kami sangat meleset. Tokyo Sonata adalah film yang lucu tetapi tidak konvensional. Penonton bisa tertawa karena melihat antrian yang tetap tertib meskipun yang barisan orang yang mengantri sangat panjang. Orang-orang Jepang memang disiplin dan tahu malu. Ketika seorang guru ketahuan membaca hentai di kereta, padahal tengah menegur muridnya yang kedapatan memegang manga di tengah pelajaran, maka kehormatan guru tersebut hilang di mata murid-muridnya. Bukan karena hentai-nya, tetapi karena kemunafikannya. Adegan-adegan ‘aneh’ tentang bagaimana cara orang Jepang dalam menjaga kehormatan ini mengemuka sepanjang film, sampai-sampai Lia mendesah frustrasi, “OMG! Ini film tentang apa sih? Aneh banget!”

Seusai film sempat ada diskusi singkat tentang seperti apa Tokyo Sonata. “Apakah film ini kelewat menyedihkan?” tanya saya. “Enggak,” kata peserta writer’s circle yang lain. Beberapa peserta yang lain menganggap film ini, “Anti-klimaks,” tukas Theo. “Gue mengharapkan ending yang lebih dramatis,” timpal Mahel. Menanggapi hal tersebut, Niken mengatakan bahwa ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada manusia ketika mereka mengalami kejadian yang menggoyahkan kehidupan mereka: 1. Mereka (kita) mungkin akan mati; 2. Mereka akan terus melanjutkan hidup dengan sikap seakan kejadian tersebut tidak pernah terjadi. Hal ini disetujui Nindi yang menganggap film ini memberinya inspirasi karena membuktikan bahwa orang bisa terus bangkit setelah mengalami kemungkinan terburuk di dalam hidupnya.

Ketika masing-masing peserta diminta memberikan rating, rentangnya cukup jauh dari dua setengah sampai empat bintang. Maknyes hanya memberikan dua setengah bintang karena ada satu adegan yang sangat gelap sehingga gadis berkacamata itu tidak bisa melihat apa-apa. “Itu adegan apaan sih? Hubungan seksual penuh gairah?” komentarnya bingung. Dan ketika mayoritas orang memberikan rating antara dua setengah bintang dan tiga, ternyata ada satu orang yang memberikan rating empat bintang: Dani! Peserta writer’s circle yang biasanya paling grumpy. Seketika itu saya tersadar bahwa dalam memilih film mungkin saya tidak bisa menyenangkan hati semua orang. Namun, asalkan ada satu orang saja yang menikmati film pilihan saya, perasaan saya sudah cukup senang.

Tokyo Sonata disutradarai Kiyoshi Kurosawa (tidak ada hubungan dengan Akira) yang identik dengan film-film horor. Film ini memenangkan Prix Un Certain Regard pada Festival Film Cannes 2008. Prix Un Certain Regard adalah penghargaan untuk bakat-bakat baru yang menyuguhkan orisinalitas.

Sampai jumpa pada pemutaran film lainnya! Saran dan masukan sangat diharapkan.




Andika Budiman adalah peserta setia di Reading Lights Writer’s Circle. Mahasiswa HI Unpar ini suka sekali dengan kegiatan menulis, terlepas dari bentuknya, apakah cerpen, esei ataupun artikel. Dengan selera musik dan karya yang cukup non-mainstream, ia aktif memberi kritik serta saran-sarannya dalam diskusi setiap minggu. Saat ini ia sedang berusaha tetap hidup, dengan bernapas.




Rabu, 11 November 2009

Mendeskripsikan Suasana Yang Hadir Pada Satu Benda

Syahdan, sebuah toko buku kecil di sudut Siliwangi menjadi tempat pertemuan sebuah writer’s circle. Kami mengadakan workshop kecil dengan mendeskripsikan suasana yang hadir dari satu benda. Kami tidak beramai-ramai hari itu. Sebagian dari kami berhalangan hadir untuk sesuatu yang lain. Saya sendiri datang kepagian karena tak dinyana lalu lintas terlalu lancar pada hari itu. Setelah menyapa Andika, saya ingat bahwa saya belum men-defrag otak. Saya pun mendengarkan musik relaksasi Dolphin Dreaming dan melamun.

Andika, fasilitator kami, meminta saya untuk menulis jurnal kali ini. Saya menyanggupinya. Kemudian saya melihat Reggie yang ternyata sudah datang lebih dulu namun ia berada di lantai dua. Setelah membacakan instruksi yang disadur secara bebas dari buku “Daripada Bete, Nulis Aja!”, maka saya, Reggie dan Andika sibuk mencari benda untuk kami deskripsikan.

Sementara Reggie dan Andika berjalan menyusuri toko buku, saya memutuskan untuk duduk di tempat saya. Namun kami semua sama: mencari benda untuk diperhatikan. Tak lama Azisa muncul, diikuti Danny dan Hakmer. Kami berlima memutuskan untuk memulai sesi penulisan setelah semua orang telah diberikan kesempatan memperhatikan objek apa yang ingin mereka tulis.

Pembacaan cerita dibuka dengan Reggie yang seperti biasa membuat kami terpana dengan kemampuan mendongengnya. Dia menceritakan sebuah parable singkat tentang rasa cinta sebuah garpu terhadap sebuah pisau. Pisau itu tidak sebaru dan sebersih pisau lain. Justru pisau yang sudah memiliki beberapa bercak hitam itu sangat menarik di mata sang garpu yang sedih, ketika keduanya dipisahkan dari Piring alias Lingkaran Putih yang mengikat kami berdua. Saya menyukai gaya penceritaan Reggie yang mengandalkan simplicity namun manis.

Sesi pembacaan dilanjutkan dengan Azisa yang membuat cerita semi fiksi tentang seseorang yang menghitung jumlah burung di panel hiasan di belakang sofa yang saya duduki. Cerita itu membuat kami semua tersenyum. Khas Azisa. Tulisan kontemplatif dimana suasana hati dari sang penghitung ikut berpengaruh kepada akurasi dari hasil penghitungan itu sendiri. Unik dan manis.

Saya dengan mendapatkan giliran ketiga yang belakangan baru saya ketahui bahwa 3 adalah nomor yang saya dapatkan via numerologi. Saya mendeskripsikan suasana yang saya dapatkan apabila melihat bentangan pohon-pohon rimbun di balik jendela di belakang sofa. Saya membuat perbandingan antara betapa memusingkannya pemandangan tersebut apabila saya tidak mempergunakan kacamata dan sebaliknya. Suasana tersebut saya narasikan dengan perasaan seseorang yang sedang jatuh hati. Bahwa perasaan seseorang ketika jatuh hati seolah dia mempergunakan sebuah kacamata yang dipreskripsikan khusus untuknya. Semua hal menjadi jelas.

Azisa mengkritik tulisan saya dengan mengatakan bahwa terkadang apabila mempergunakan kacamata justru keburukan dari sesuatu akan menjadi jelas. Sebaliknya, Andika mengatakan bahwa dia cukup menyukai analogi tersebut. Terlepas dari beragam feedback yang saya dapatkan hari ini, saya senang karena reaksi yang cukup banyak setelah saya menghadiri pertemuan yang kesekian kali.

Berikutnya giliran Andika yang (lagi-lagi) mendapatkan urutan keempat seperti dua minggu lalu ketika teman saya Marty kedapatan bagian menulis jurnal. Andika cukup mengocok tawa kami semua ketika dia menceritakan sebuah kisah “nyata” yang menjadi “fiksi” tentang pengalamannya bertemu saya yang kebetulan datang cukup awal. Cerita dimulai dari percakapan singkat antara saya dan Andika yang diselingi jeda panjang karena saya asyik mendengarkan musik relaksasi hingga rasa frustasinya karena saya diamkan. Aneh. Padahal menurut saya justru dalam diam kadang kita tercerahkan. Apa ini semua murni karena saya kesal karena dia mendeskripsikan betapa besarnya perut saya di dalam ceritanya? Ah, well.

Danny berikutnya. Seperti biasa dia menghadirkan sebuah cerita fiksi yang menurut Reggie merupakan based on beberapa fiksi yang sudah ada. Cakrawala yang saya miliki tidak memungkinkan saya untuk mengetahui secara detail siapa saja tokoh-tokoh tersebut namun saya selalu bisa menemukan sesuatu yang beda dari tulisan Danny. Kali ini, writer’s circle dihibur dengan sebuah percakapan lucu dari sebuah pemimpin kapal besar yang galak dan bawahannya yang baik hati namun pandir. Makian-makian khas seperti ‘monyet tengik!’ membuat saya merasa sedang membaca buku-buku lawas seperti The Legend of Condor Heroes dengan suasana di sebuah kapal. Oh iya, mendekati akhir cerita kami baru sadar bahwa benda yang menjadi fokus Danny adalah peti meja kayu yang ada di tengah-tengah lingkaran. Butuh imajinasi hebat untuk membuat cerita seperti itu.

Hakmer menceritakan suasana yang dapat ia deskripsikan dari sebuah lukisan perempuan yang sedang menyibak rambut tebalnya. Berdasarkan lukisan tersebut, Hakmer menulis perasaan kontemplatif seseorang tentang seseorang yang ia kagumi dan cintai. Pada akhir tulisannya, Hakmer menarik kesimpulan bahwa ia harus memilih apakah dia harus mencoba mencari sesuatu yang baru atau menjadi seseorang yang mempunyai hati. Konsepsi tersebut hadir berdasarkan pengandaian bahwa cinta itu berada dalam sebuah pertaruhan.

Andika mengetukkan pena sebagai tanda bahwa waktu membatasi pertemuan kami pada hari itu. Namun pembatas waktu itu diangkat ketika sesosok perempuan datang dan memberikan vibrasi yang lain ke dalam toko buku ini. Adalah Marty, penulis terakhir yang datang hari itu karena harus menghadiri sebuah pertemuan. Kami memaafkannya keterlambatannya karena dia membawakan makanan kecil yang cukup untuk mengganjal perut. Marty menceritakan kisah tentang seseorang yang melamun di sebuah makam istrinya. Deskripsi Marty begitu bagus untuk hal-hal yang sangat Harlequin dan Hallmark. Flashback yang ia hadirkan begitu puitis tanpa bahasa yang terkesan dilebih-lebihkan.

Writer’s circle ditutup untuk kedua kalinya dengan ketukan pena Andika. Pembatas waktu kembali dipasang sebelum halaman-halaman kami buka lagi pada pertemuan selanjutnya. Bersamaan dengan matahari mulai bersiap-siap pulang, writer’s circle bersiap-siap pula untuk lanjutan episode kami masing-masing.



Amahl S. Azwar adalah seorang pemuda lulusan Universitas Parahyangan yang kini sedang magang di Departemen Luar Negeri. Menghabiskan hari kerjanya di Jakarta tidak membuat pria yang biasa disapa Mahel ini untuk pergi ke Bandung dan menghabiskan malam minggunya bersama Reading Lights Writer's Circle. Untuk melihat tulisan Mahel lainnya, silahkan mengunjungi blog pribadinya: http://www.mcmahel.blogspot.com/

Rabu, 04 November 2009

Alasan Bangun Pagi Hari Minggu


Launching buku Salamatahari #2
"Hidupmu adalah limpahan hadiah yang tiba tidak tiba-tiba". Salamatahari #2 merangkum sebagian dan akan tiba pada:
Minggu, 8 November 2009
Pukul 10 teng
Di Taman Lalu Lintas Jl. Belitung No. 1, Bandung
Menghadiahkan:
1. Musik dari Deu GaLih, Klab Klassik String Trio, Karnatra
2. Bazaaar Tomat
3. Onde Mande
4. Theoresia Rumthe
5. Para Penyelamatahari Sekalian
HTM: 35.000.00
(Salamatahari #2, eksklusif ttd Sundea, tiket Taman Lalu Lintas, dan cenderamatahari untuk 100 pemesan pertama)

Informasi dan Reservasi:
Nita (085721890338)
dipansenja@yahoo.com