Minggu, 16 September 2012

Ringkasan dan Adegan


Dari buku Writing Fiction karya Janet Burroway, Indra--fasilitator writer's circle hari Sabtu (15/9)--memilih ringkasan (summary) dan adegan (scene) sebagai latihan menulis. Para penulis diminta untuk melakukan flashback yang berhubungan dengan setting tempat dan waktu yang diingat secara spesifik seperti pekerjaan, tradisi keluarga, dan lainnya. Misalnya ringkasan dari cerita adalah main di sawah saat berlibur ke rumah kakek lalu adegannya adalah ketika digigit ular saat berada di sawah.

Penulis pertama yang membacakan karyanya adalah Opie yang buru-buru karena akan menonton video mapping di Gedung Sate. Opie menulis ringkasan mengenai ia dan teman-teman kuliahnya yang merencanakan liburan. Dari berbagai tempat, akhirnya mereka mereka memutuskan pergi ke Ujung Genteng. Kemudian adegan ditarik saat hubungan ia dan salah satu temannya menjadi renggang. Jurang yang diantara mereka berdua terus  berlangsung hingga mereka lulus dan bekerja.

Kemudian saya meminta diri untuk membacakan karya saya selanjutnya. Ringkasan yang saya tulis adalah ketika saya berlibur ke Sorong, Irian Jaya. Adegan spesifiknya adalah ketika saya dan teman-teman dikejar burung kasuari.

Ini dia penampakannya

Indra bercerita tentang pengalaman saat ia berada di Jakarta ketika masih duduk di bangku kelas 3 SD sebagai ringkasan ceritanya. Kemudian adegan yang ia tulis adalah saat ia dikerjai oleh teman-teman perempuannya dimana ia didandani seperti perempuan dan dipaksa rambutnya agar lurus. Wangi bedak, baby oil, dan suara tinggi khas perempuan pun menjadi detil ceritanya. Jakarta, baginya, sama seperti perempuan: tidak pernah sama.

Sementara Belinda, teman baru kami, bercerita tentang tokoh yang menulis puisi yang terinspirasi dari bungkus permen. Tokoh mengingat dimana ada seorang nenek yang memberi permen kepada seorang anak yang kemudian anak itu mengeluh karena permennya pahit. Belinda menjelaskan di akhir tulisan bahwa "tidak semua yang menarik itu enak".

Dilanjut Rizky, ia menulis ringkasan tentang seorang tokoh yang ada di food court yang memilih mojok sendiri dan mendengar musik di iPod. Tokoh adalah tipe orang yang mudah terusik dengan orang-orang yang berisik. Adegannya adalah ketika seorang teman datang dan menyuruh tokoh untuk mencoba bergabung dengan teman-teman lainnya. Akhir cerita Rizky ini menimbulkan perdebatan panjang diantara kami tentang open ending dengan ending yang menggantung. Mungkin bisa jadi PR pertemuan selanjutnya.

Ringkasan mengenai seorang tokoh "aku" yang berada di rumah sakit ditulis oleh Dani. Di sana, si "aku" ditemani oleh Arin, gadis tercantik di kelas. Saat tokoh siuman, ia bingung mendapati dirinya berada di rumah sakit dengan perut yang terasa sakit. Ternyata kejadian sebelumnya adalah teroris menyandera anak-anak sekolah lalu si "aku" melindungi Arin dari bom sehingga organ dalamnya memar dan ginjalnya rusak.

Sebagai penutup, Marty menulis ringkasan saat ia berada di Reading Lights. Saat akan buka puasa, seorang staf Reading Lights mengingatkannya untuk berhati-hati agak kertas penutup kuenya tidak termakan. Karena kesal, tokoh sempat mengeluh dalam hati bahwa ia bukan pemakan kertas. Tahunya benar saya, si tokoh tidak sengaja memakan kertas kue. Kontan ini membuat si tokoh malu sendiri.

Latihan menulis kali ini begitu membantu penulis untuk menuliskan satu adegan/kejadian spesifik dari sebuah cerita yang cukup besar. Agar adegan terasa fokusnya, penulis bisa menuliskan detil setting seperti apakah saat itu hari sedang hujan, bagaimana detil tempatnya, bagaimana setting waktunya (pagi/siang/sore/tahun beraapa), dan lainnya. Selain setting, penulis juga bisa menambahkan dialog agar lebih lancar peceritaannya.



Nia Janiar. Pekerja swasta yang bolak-balik Bandung-Jakarta. Kini lebih banyak menulis non fiksi ketimbang fiksi. Untuk lihat catatan kesehariannya, sila berkunjung ke: http://mynameisnia.blogspot.com/

Selasa, 26 Juni 2012

Emosi Dalam Cerita

Emotion: an affective state of consciousness in which feelings are experienced.

Emosi adalah tema menulis di RLWC pada tanggal 23 Juni 2012.

Adalah saya yang membawa tema ini setelah beberapa minggu absen dari kegiatan menulis bersama. Tema ini berawal dari obrolan saya dengan seorang kawan yang menulis naskah teater; baginya, berbeda dengan karya fiksi tertulis, tantangan membuat naskah teater adalah membangun karakter dan mood yang spesifik dengan keterbatasan waktu dan ruang panggung pementasan.

Saya sadar, penulis cerita fiksi punya lebih banyak kebebasan untuk mengekspresikan karakter cerita dibandingkan penulis naskah teater atau penulis skenario film. Hal ini adalah anugerah sekaligus kutukan. Anugrahnya, penulis cerita fiksi punya lebih banyak cara untuk menyampaikan ceritanya. Kutukannya, kebebasan bisa membuat penulis terjebak untuk “mengatakan” ketimbang “menunjukkan”. Padahal, tentu saja, berbeda dengan karya tulis ilmiah, karya tulis fiksi tidak hanya berisi fakta-fakta yang “dikatakan”, melainkan juga mood, emosi, yang harus dirasakan dan dialami, bukan dikatakan.

Tujuan saya memilih emosi sebagai tema kali ini adalah agar penulis bisa berlatih dan belajar menciptakan mood sesuai dengan penghayatan emosi si tokoh. Tantangannya dengan tema ini, tentu saja, adalah membawa pembaca untuk ikut merasakan perasaan sang tokoh cerita; sesuatu yang jauh lebih kompleks dibandingkan dengan “mengatakan” apa yang sedang sang tokoh rasakan.

Untuk latihan kali ini, saya menggunakan 6 emosi dasar dari artikel di Wikipedia. Tiga di antaranya bersifat positif: happiness, excitement, dan tender; tiga lainnya bersifat negatif: sadness, anger, dan fear. Melalui kertas undian, masing-masing penulis mendapatkan satu jenis emosi secara acak dan kemudian menuliskan cerita dengan upaya membawa pembaca untuk merasakan emosi sang tokoh utama.


Source: Wikipedia

Saya yang pertama kali membacakan cerita. Cerita dibuka dengan “aku” yang sendirian, mabuk-mabukan sejak menerima e-mail perpisahan dari orang yang dikasihinya. Ia terus-terusan minum untuk melupakan semua kenangan yang kini menyakitkan, dan ia ingin menjadi tiada. Emosi yang coba saya bangkitkan adalah sadness, yang saya bangun melalui penghayatan ruang (ruangan kosong dengan botol-botol bir yang kosong), kenangan-kenangan manis yang sudah berlalu, serta penggunaan objek metafora (mendung yang menjelma hujan). Penulis lain bisa dengan mudah menebak bahwa emosi dasarnya adalah sadness. Andika berkomentar bahwa kesan sadness bisa diperkuat lagi jika saya memasukkan benda-benda yang bermuatan kenangan dan bukan hanya kenangan-kenangan manis yang bersifat general saja. Saya setuju dengan masukan Andika, bahwa objek-objek yang bermuatan emosi bisa digunakan untuk menggambarkan emosi (bahkan bisa dibilang ini salah satu cara yang paling kuat).

Berikutnya adalah Indra, yang bercerita tentang Panca, seorang pemuda penggangguran yang masih tinggal dengan ibunya. Sepanjang cerita Panca tampak menyembunyikan banyak kebohongan; ia berbohong sudah shalat, dan ia berbohong tentang kelulusannya, karena pada kenyataannya ia di-DO. Dalam cerita ini ada adegan di mana sang ibu dan Panca berdebat, karena sang ibu peduli pada masa depan anaknya sementara Panca sendiri merasa tidak nyaman dengan keingintahuan ibunya. Sebenarnya, Indra mendapatkan emosi tender, yaitu emosi positif yang tenang seperti cinta kasih atau ketulusan. Namun Indra sendiri salah memaknai emosi tender (yang ia maknakan sebagai emosi negatif). Lepas dari tepat tidaknya penggambaran emosi tender dalam cerita ini, saya tertarik dengan cara Indra menggambarkan guilt, yang sebenarnya juga termasuk emosi dasar namun tidak digunakan dalam latihan menulis kali ini. Selain membuka kebohongan-kebohongan Panca secara naratif, Indra juga mampu menampilkan rasa bersalah (guilt) Panca melalui dialog dengan ibunya. Saya belajar bahwa  emosi/mood pun bisa dibangun melalui dialog. Beberapa pendengar yang lain juga mengatakan bahwa mereka bisa merasakan tender dari kepedulian ibunya, meskipun menurut saya emosi tender ini hanya jadi bagian kecil dari cerita.

Setelah Indra, ada Nia yang berinisiatif bercerita tentang Raya, yang diam-diam membolos sekolah untuk membeli sebuah buku langka dari seorang kenalannya, untuk melengkapi koleksi bukunya di rumah. Setelah adegan menyelinap-menyelinap supaya tidak ketahuan, Raya berhasil meletakkan buku tersebut di jajaran koleksinya dan “tubuhnya mengembang”. Emosi yang Nia coba tunjukkan adalah happiness. Di sini Nia melakukan penggambaran melalui media yang belum digunakan oleh saya dan Indra, yaitu penghayatan tubuh (“tubuhnya mengembang”). Saya sendiri merasa yang lebih banyak diangkat dalam cerita ini adalah excitement, melalui adegan-adegan menyelinap dari orangtua demi mendapatkan buku itu, namun penggunaan penghayatan tubuh itu cukup berhasil menggambarkan happiness. Andika menambahkan bahwa untuk memperkuat emosi happiness-nya, mungkin bagian akhir cerita (ketika koleksi bukunya lengkap dan tubuhnya mengembang) bisa dijadikan awal. Saya setuju dengan Andika; mungkin cara itu bisa membuat emosi dominan di cerita ini menjadi happiness.

Setelah berkomentar, Andika membacakan ceritanya. Tokohnya bernama Doni, yang bertemu kembali dengan teman lamanya di suatu pementasan. Sepanjang pementasan ia menjadi lebih aware dengan pakaian yang dikenakannya, merasakan kursi menjadi panas, dan mulai berkeringat di selangkangan. Namun setelah pementasan itu mereka tidak lagi saling berhubungan, sehingga Doni menjadi harap-harap cemas. Dika sendiri mencoba menggambarkan excitement, namun saya merasa maknanya menjadi rancu dengan anxiety, yang lebih dekat dengan fear. Lepas dari perdebatan mengenai excitement atau anxiety, saya suka dengan cara Andika yang menggambarkan emosi tokoh melalui penghayatan tubuh, mirip dengan Nia (meskipun banyak yang mempertanyakan perihal keringat di bagian selangkangan).

Setelah Andika, Sabiqlah yang membawakan cerita tentang “aku”, seorang siswa SMA yang kecewa karena saat datang ke sekolah, teman-temannya tidak menyiapkan pesta kejutan untuknya karena sedang fokus dengan UN. Emosi dasarnya adalah anger, dan hal ini mudah ditangkap oleh para pendengar yang lain. Hal ini ditunjukkan dengan dialog batin sang “aku”, yang memberikan alasan-alasan mengapa ia kecewa. Catatan tambahan dari Indra, ternyata emosi dasar anger pun bisa disampaikan secara lucu. Artinya, emosi dasar masih bisa tersampaikan dengan baik, seperti apa pun genre ceritanya (dalam hal ini saya pikir cerita Sabiq bersifat komikal).

Berikutnya, Cesar memulai ceritanya dengan kepanikan di sana-sini. Seorang wanita bingung harus lari ke mana, akhirnya memilih diam dan bersembunyi, berharap akan selamat, namun akhirnya ia terkena “hujan kelamin”. Terma “hujan kelamin” sendiri sudah membuat cerita Cesar menjadi salah satu cerita yang paling diingat dalam sesi ini. Lepas dari terma “hujan kelamin” yang fenomenal itu, Cesar cukup bisa membangun emosi fear dengan menunjukkannya melalui perilaku sang wanita, yang berlari, lalu bersembunyi, dan menjambaki rambutnya sendiri dalam persembunyiannya. Menurut saya, emosi fear bisa terbangun lebih kuat bila Cesar membuat karakter utama yang bisa diidentifikasi oleh dari awal cerita dan bukan hanya menciptakan setting tanpa karakter yang spesifik.

Setelah Cesar, Almer bercerita tentang tokoh aku yang mengumpat karena terus-terusan diumpati kakaknya, karena membawa makanan yang tidak enak. Seperti cerita Sabiq, tidak sulit juga menangkap emosi dasar anger dari cerita ini. Almer menunjukkannya dengan dialog batin berupa umpatan, maupun pemberian motif yang menjelaskan perasaan “aku”.

Sebagai penutup, Farida membawakan cerita yang cukup panjang. Tokoh utamanya adalah Tono, yang mulai mengamati ritual aneh orangtuanya setiap malam. Dari obrolan dengan temannya, Ari, Tono tahu bahwa akan ada yang datang ke desa, dan akan ada anak yang hilang, seperti kakak Tono dulu. Malamnya, Tono sulit tidur. Ia melihat pohon rambutan berbayang-bayang, mendengar suara derak jendela, dan jantungnya menggedor-gedor, sebelum kemudian ia mendengar suara kakaknya, dan gelap. Dituturkan dengan gaya horror/thriller klasik, mudah sekali bagi pendengar untuk merasakan fear. Dalam hal ini Farida menggunakan cara bertingkat untuk membangun mood yang kuat, mulai dari ritual-ritual orangtuanya, foreshadowing (obrolan dengan Ari bahwa akan ada anak yang hilang), penghayatan objek/metafora (pohon bambu, kuburan, pohon rambutan yang berbayang-bayang, jendela yang berderit), dan penghayatan tubuh (jantung yang menggedor-gedor). Sedikit catatan saja dari saya: penggunaan pohon bambu, kuburan, dan pohon rambutan yang berbayang-bayang bisa menjadi lebih kuat jika Farida tidak menambahkan keterangan tambahan (pohon bambu dan kuburan membangkitkan imaji-imaji di kepalanya). Tanpa harus “dikatakan”, pohon bambu, kuburan, dan pohon rambutan sudah cukup kuat untuk menimbulkan imaji yang kuat di benak pembaca.

Dari sesi menulis kali ini, saya dan teman-teman banyak mempelajari hal baru untuk menggambarkan dan membangun emosi dalam cerita. Di antaranya yang ditampilkan dalam cerita-cerita yang ditulis dalam sesi ini adalah:

  1. Penghayatan ruang (mis. Kosong, penuh, lepas, gelap)
  2. Penghayatan objek/pemanfaatan objek sebagai metafora (mis. Botol bir, awan, hujan, pohon, makam)
  3. Penghayatan tubuh (mis. Kesadaran penampilan, perasaan mengembang, degup jantung), atau perilaku (mis. berlari, bersembunyi, menjambaki rambutnya sendiri)
  4. Dialog (antar tokoh atau dialog batin), yang biasanya dipadukan dengan motif (bagaimana tokoh diperlakukan orang lain, alasan mengapa tokoh merasa suatu emosi tertentu)
  5. Foreshadowing (khususnya untuk fear/anxiety).
Andika dan Indra menambahkan ada beberapa teknik lain yang bisa dipakai, di antaranya:

  1. Irama/pace (panjang-pendek kalimat untuk membangun ketegangan), yang saya pikir bisa diperluas menjadi penghayatan waktu (mis. Ingin cepat-cepat besok, waktu berlalu sangat lambat, waktu berlalu sangat cepat, tidak ingin saat ini berakhir).
  2. Penggunaan huruf vokal dominan. Andika menerangkan bahwa dalam puisi penggunaan vokal “a” lebih identik dengan emosi seperti happiness sementara vokal “i” lebih identik dengan emosi sadness. Penggunaan konsonan tertentu juga bisa membangkitkan emosi tertentu misalnya “r” untuk anger, atau bahwa “a” lebih sesuai dengan emosi aktif (anger, happiness, excitement) sementara “i” lebih sesuai dengan emosi pasif (tender, sadness, fear)... tapi ini hanya hipotesis saya pribadi :D
Dengan pembahasan tentang cara-cara menggambarkan emosi berakhir pula pertemuan sesi ini. Apakah ada cara menggambarkan emosi yang terlewat oleh kami? Silakan di-share dengan kami :)



Rizal Affif. Di luar tugas-tugasnya sebagai freelance HR consultant, ia menghabiskan waktunya untuk blogging, menulis novel, dan bersepeda gunung. RLWC adalah salah satu kesempatannya menyegarkan diri di sela-sela kesibukannya menilai para calon manajer untuk menghidupi dirinya. Ia baru saja meluncurkan Harmoniselife (www.harmoniselife.com), sebuah blog  mengenai gaya hidup natural, serta sedang berusaha merampungkan novel perdananya di sela-sela kesibukannya.

Selasa, 05 Juni 2012

Luka yang Kusembunyikan

Penyakit yang berbintil-bintil menyerupai jengger ayam ini tidak akan kubilang siapa-siapa selain dokter, Tuhan, serta istriku yang sudah mengetahuinya. Waktu itu ia menjerit kemudian bersumpah serapah jijik melihatnya. Ia juga menuduhku sudah bermain kotor dengan perempuan lain sehingga aku mendapatkan penyakit ini. Tidak, tidak ada yang tahu selain kami berempat.

Tapi rupanya yang memiliki penyakit memalukan seperti ini tidak hanya aku, teman-temanku yang lain memilikinya. Atau jika bukan penyakitnya, tetapi latar belakang penyakit atau kejadiannya cukup memalukan. Aku tahu kisah orang-orang itu dari teman-temanku yang menuliskannya. Misalnya Andika Budiman yang bercerita tentang Tono, bocah berusia 7 tahun, yang memutuskan disunat karena alasan yang sangat infantil--ia ingin mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Walaupun ia harus mengalami sakit terutama saat pergantian perban atau saat kepala penis yang agak basah menempel di celananya.

Atau Farida Susanty yang berkisah tentang seorang pemuda bernama Anto yang datang ke sekolah dengan keadaan babak belur di wajah dan kaki. Ia bercerita bahwa ia dipukuli geng motor karena ada salah satu perempuan dari sekolah tetangga yang menyukai Anto. Tetapi yang mengetahui sebenar-benarnya cerita Anto hanyalah Rino. Rino tahu bahwa Anto berbohong. Ia mengalami luka-luka karena karena lupa menurunkan kedua kakinya saat motornya berhenti di lampu merah.

Selain itu ada Dani yang bercerita tentang Haris yang memiliki luka di kelapa yang cukup besar sehingga harus di perban. Dengan modus yang hampir sama dengan cerita Farida, Haris berkata bohong pada orang-orang yang menanyakan perihal lukanya. Padahal sebenarnya Haris terkantuk layar monitor saat ngantuk. Aku sempat bertanya perihal dimana rasa malunya (karena kupikir ini tidak lebih memalukan dariku yang memiliki jengger), lalu Dani menjawab bahwa hal seperti itu cukup memalukan untuk anak-anak IT.

Lalu temanku satu lagi, Almer, mencoba bercerita namun ceritanya tidak selesai. Intinya ia akan bercerita tentang seorang ksatria yang mengembara dengan luka menganga. Sementara itu Rizky bercerita tentang kisah yang agak-agak surealis (sehingga aku agak kurang mengerti). Tanda surealis ini terlihat ketika ia bercerita tentang seseorang yang memiliki luka di dahi yang semakin lama semakin membesar dan tidak bisa ditutupi oleh perban. Rupanya Rizky menarik garis yang jauh kepada sebuah pemaknaan seseorang tentang luka yang memalukan: semakin malu terhadap luka, maka seseorang akan merasa semakin besar lukanya.

Ah, lega juga menyadari bahwa aku tidak sendiri. Oh ya, kalau mau tahu ceritaku, bisa dilihat di sini. Oh, akhirnya yang tahu tidak kami berempat lagi.


- Harri

Sabtu, 19 Mei 2012

Penyesalan Selalu Datang Terlambat

Katanya. Saya mungkin menggunakan judul itu untuk membenarkan kesalahan saya yang terlambat membuat jurnal tentang rasa bersalah. Duh, Farida. Rasa bersalah yang mengiringi laporan jurnal menulis tentang rasa bersalah. Tapi seterlambat apapun, saya tetap ingin menulisnya untuk menebus kesalahan saya.

Saat itu tidak banyak peserta RLWC yang datang menghadiri pertemuan. Hanya ada saya, Andika, Rizal, Dani, dan Mbak Riri. Sisanya tidak datang atau tidak ikut menulis. Di sebelah kami ada Marwan, yang sebelumnya pernah memberikan presentasi tentang pembuatan komik di salah satu sesi RLWC. Dia juga tidak ikut menulis.

Beberapa saat, kami juga kesulitan mencari tema. Hingga saya tiba-tiba teringat tentang sesuatu yang saya baca sebelumnya, tentang rasa bersalah. Rasa bersalah katanya disebabkan oleh nilai yang berbeda antara nilai sosial dengan nilai kita, atau perasaan bahwa kita telah melanggar suatu nilai tertentu. Rasa bersalah bisa membuat orang melakukan apapun untuk menebus rasa bersalah itu.

(termasuk tetap menulis walau sudah terlambat)

Ternyata usulan tema saya diterima oleh peserta lain, dan akhirnya kami menulis tentang rasa bersalah. Beberapa menganggapnya sulit, tapi akhirnya kami kerjakan juga.

Cerita pertama dibacakan oleh Andika. Andika menggunakan gaya khasnya yang cukup memperhatikan detil dan mengalir. Ceritanya dituturkan oleh seorang narator yang menceritakan tentang hubungannya dengan temannya yang berubah sejak dia menemukan kesalahan temannya dalam hal yang sama-sama mereka sukai, menggambar. Cerita ini menimbulkan banyak pertanyaan di peserta lain, dan kami harus memastikan dan bertanya pada Andika tentang isi dari ceritanya. Mungkin karena pembatas setting yang kurang jelas, atau hal lain. Tapi Andika (dengan sabar, ya?) menjelaskan ceritanya. Jujur saya juga belum terlalu yakin apa yang saya simpulkan di sini pun sudah betul isi ceritanya. Andika bisa berkomentar.

Cerita selanjutnya datang dari Rizal. Rizal ternyata menggunakan perasaan pribadinya untuk menulis cerita ini. DIa menulis tentang seseorang yang tidak dapat menghayati ibadah yang dilakukannya, tapi tetap melakukannya demi ibunya, temannya, dan pacarnya. Peserta memuji gaya bahasa Rizal di cerita ini dan berkomentar bahwa rasa bersalahnya dapat terasa di cerita ini. Yang baik untuk disorot mungkin cara Rizal menjelaskan tentang shalat tanpa menyebutkan bahwa itu shalat. Ini salah satu cerita favorit saya darinya.
Kemudian Dani membacakan juga. Dani menceritakan tentang rasa bersalah seorang perempuan yang menjadi simpanan seorang gubernur yang ditembak mati. Dani mengakui ini terinspiras dari All The King's Men, sebuah film.

Selanjutnya Mbak Riri juga membagi rasa bersalahnya, dalam ceritanya tentang hasil audit yang dipalsukan dan bagaimana seseorang bisa berhenti merasa bersalah karena situasi yang mendorongnya. Para peserta tertarik dengan masalah audit ini dan merasa mendapat pengetahuan baru dari cerita Mbak Riri.

Saya sendiri? Saya tadinya ingin menulis sebuah rasa bersalah personal, tapi ternyata saya tidak tega. Saya menulis tentang seorang laki-laki yang mengidap obsessive compulsive disorder karena rasa bersalah pribadinya. Tapi nampaknya ceritanya juga kurang jelas sampai peserta lain tidak mengerti di endingnya. Sudahlah :p

Sekarang rasa bersalah saya sudah sedikit tertebus.
Mohon dimaafkan.



Farida Susanty adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Padjadjaran yang kecanduan siaran televisi berlangganan. Sekonyong-konyong tubuhnya akan terpaku di depan televisi apabila ada film-film seru di channel HBO. Genre film favorit Farida beragam di kisaran indie, teen-flick, drama, dll. Ia sudah menelurkan 4 buah buku yaitu Dan Hujan Pun Berhenti, Karena Kita Tidak Kenal, serta dua antologi. Sekarang ini ia sedang dalam proses menerbitkan buku selanjutnya. Kunjungi blognya http://lovedbywords.tumblr.com/

Rabu, 16 Mei 2012

Kau -- Sudut Pandang Kedua


Jam tiga sore – dari sudut toko buku Reading Lights, kau melihat arus lalu lintas tak sepadat saat kau kemarin pulang. Di depanmu menunggu halaman putih kosong, tetapi matamu tak bisa lepas dari pemandangan di balik jendela. Pohon-pohon berdahan tinggi daunnya bergerak-gerak dihembus angin. Sinar matahari memunculkan beraneka warna hijau. Kau lebih ingin berada di luar daripada apapun. Namun, tidak semua keinginan mesti dituruti, kan? Perhatianmu kembali ke halaman kosong. Mencoba menulis, tetapi tak bisa. Mungkin lebih sulit memulai sesuatu jika dilakukan terlambat. Namun adakah kata terlambat jika sesuatu itu berarti? Kau berhenti mencari alasan. Kau mengingat-ingat lagi apa yang terjadi dalam pertemuan writer's circle dua pekan silam, pertemuan di mana kau bertugas menulis jurnalnya.

Kau ingat, kau datang lebih cepat daripada peserta lainnya. Kau tidak ingat, seperti apa cuaca hari itu. Padahal kau biasa memulai tulisan dengan menggambarkan cuaca. Kau ingat, buku yang kaubaca sambil menunggu yang lain. Wise Children oleh Angela Carter. Indra Permadi tiba beberapa saat setelahmu, mengeluarkan buku Writing Fiction: A Guide to Narrative Craft oleh Janet Burroway. Kalian pun bertukar bacaan. Buku Indra banyak memuat latihan, penjelasan, contoh fiksi yang baik, bahkan naskah fiksi penuh coretan. Ketika kau meminta Indra menjadi fasilitator menulis, laki-laki itu segera mengiyakan.

Belakangan Indra selalu memakai pewangi yang tak kau ingat ia pakai dua tahun silam. Wangi serupa pernah kauendus saat menemani seorang teman berbelanja di gerai The Body Shop. White Musk Sport for Men. (Kau membayangkan reaksi temanmu Dani dan Nia ketika membaca kalimat barusan.) Lalu Dea datang. Kalian terlibat pembicaraan lokal mengenai serunya berkirim kartu pos. Ketika Ririe datang, kalian bergabung dengan Sabiq dan Almer yang telah menyulut rokok di ruang belakang. “Kita mulai sekarang?” tanya Indra. Waktu menunjukkan pukul setengah lima lebih, kau mengangguk. “Atau kita menunggu sebentar lagi?” tawar Indra. “Bagaimana kalau ada yang datang lagi? Menjelaskannya jadi dua kali, kan?” Kau geli. Indra tak menyebut nama, tetapi kaupikir yang dimaksudkannya adalah Dani.

Sore itu, Indra muncul dengan tema dan latihan tentang sudut pandang. Pertama-tama ia menjelaskan macam-macam sudut pandang: orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga. Dalam sudut pandang orang pertama, cerita dinarasikan oleh 'aku' atau 'saya', sementara pada sudut pandang orang kedua penulis menempatkan karakternya sebagai 'kau' atau 'kamu', “Seperti dalam surat,” Indra mencontohkan. Lalu ada juga cerita bersudut pandang orang ketiga di mana penulis menempatkan karakternya sebagai 'dia'. “Pada prakteknya sudut pandang ketiga dapat sangat bervariasi, penulis bisa berperan sebagai Tuhan yang menunjukkan isi hati semua karakternya, dan bisa juga tetap fokus pada karakter-karakter tertentu,” jelas Indra. Konon semua sudut pandang ini sama pentingnya. Sebuah cerita lama dapat memiliki rasa baru ketika dituturkan dengan sudut pandang lain. Untuk membuktikannya, Indra meminta setiap peserta menulis dengan sudut pandang yang paling jarang digunakan, “Tulislah cerita menegangkan dengan sudut pandang orang kedua.” Setelah timer dipasang, segenap peserta mulai sibuk dengan alat tulis masing-masing.

***

Andika! Kamu tahu contoh buku yang memakai sudut pandang orang kedua?
Hmm, apa ya? Serial pilih-sendiri-petualanganmu? Biasanya di akhir setiap kejadian, pembaca ditanyai apa tindakan yang mereka pilih selanjutnya. Seingat saya, dalam serial ini pembaca dirujuk sebagai 'kamu'. Oh, ya! The Perks of Being a Wallflower. Novel ini terdiri dari serangkaian surat yang ditulis Charlie, tokoh utama buku ini, kepada orang yang tak dikenalnya. Novel yang terdiri dari surat disebut epistolary novel. Pada pertemuan writer's circle, Indra mencontohkan The Great Gatsby. Saya belum membacanya, tetapi kata Indra tokoh utamanya justru bukan si narator, melainkan si Gatsby. Ketika akhirnya Gatsby mati, si naratorlah yang kemudian memetik pelajaran dari pengalaman hidup Gatsby.

Menurut kamu seberapa penting 'sudut pandang' dalam fiksi?
Penting sekali! Mengubah-ubah sudut pandang adalah salah satu cara menghindari kejemuan ketika menulis sebuah kejadian yang sering kita tulis. Pertemuan writer's circle, misalnya. Saya sendiri lebih suka membaca novel yang sudut pandangnya kaya daripada novel yang latarnya kaya(!). Saya ingat saat pertama kali membaca Biru-nya Fira Basuki. Novel ini memakai sudut pandang orang pertama dengan narator berganti-ganti. Itu membuat Biru begitu lain dan berkesan di mata saya, Semakin lama, saya menemukan semakin banyak buku bersudut pandang menarik. The Accidental-nya Ali Smith bergulir dengan sudut pandang dari setiap anggota suatu keluarga dan semuanya menggunakan stream of consciousness. Memoar Dave Eggers selincah senam dalam memainkan sudut pandang orang pertamanya. Karakter anjing dalam Two Caravans-nya Marina Lewycka dapat 'berbicara' dan berperan penting dalam penuturan cerita. Kamu punya judul lain?

Saya? Awal tahun ini saya menamatkan Freedom-nya Jonathan Franzen. Buku itu nyaris setebal empat senti, tetapi tidak sekalipun saya bosan membacanya. Saya percaya rahasianya terletak pada variasi penuturan Franzen. Saya pernah membaca di sebuah surat kabar Inggris Jonathan Franzen dan beberapa penulis lainnya berbagi 'aturan menulis' mereka kepada para penulis pemula. Salah satu aturan Franzen: 'Selalu gunakan sudut pandang orang ketiga, kecuali sudut pandang orang pertamamu berbeda dan ia terus memaksa muncul.'
Hm, saya setuju untuk alasan saya sendiri. Jujur saya paling tidak sabar jika membaca cerita bersudut pandang orang pertama di mana tokohnya laki-laki; dan konflik utamanya bagaimana ia mendapatkan hati perempuan yang disukainya. Dengan sudut pandang orang pertama, saya sulit menempatkan diri di posisi kedua tokoh itu.

***

Sesi membaca pun dimulai dengan berakhirnya sesi menulis selama setengah jam. Kau menawarkan diri membaca pertama. Tulisanmu menceritakan 'kamu', seorang remaja laki-laki yang menulis surat berisi rahasia tentang dirinya. Surat itu diselipkan ke dalam tas ayahnya pagi-pagi sebelum beliau pergi kerja. Ketegangan lantas dirasakan remaja itu sepanjang hari, di sekolah, di angkutan kota, sebelum nantinya ia mesti pulang dan menghadapi kedua orang tuanya. Dea berkomentar tulisanmu bagus, tetapi seperti tak ada hubungan antara narator dengan tokoh utama. Dan berhubung cerita belum selesai, Almer menanyakan akhirannya. “Sudut pandang yang digunakan sudut pandang orang kedua, narator tidak masuk dalam cerita,” Indra menyimpulkan. “Nah, apa Bung Andika merasa ceritanya cocok dengan sudut pandang ini?” Kala itu jawabanmu untuk Almer dan Indra “Belum tahu,” dan “Tidak!” Kini kau tahu bagaimana cerita akan berakhir, serta bagaimana sudut pandang orang kedua dapat membantu mengakhirinya.

Tulisan Indra berkisah tentang percakapan telepon sepasang laki-laki dan perempuan. Awalnya si laki-laki menceritakan detil tentang kecelakaan yang disaksikannya di jalan. Namun lama-lama percakapan memanas – si perempuan seperti kesal, dan si laki-laki mencoba menenangkannya dengan cara yang salah. (“Kamu sedang menstruasi, ya?” tanya si laki-laki. “Kalau bukan sama aku, nanti kamu cerita sama siapa?” tanyanya lagi.) Berhubung Indra hanya menulis ucapan si tokoh laki-laki, peserta writer's circle yang lain jadi membayangkan apa yang kiranya diucapkan si tokoh perempuan. Indra menggunakan sudut pandang orang kedua di mana naratornya ikut menjadi karakter. Kau setuju ceritanya cocok menggunakan sudut pandang ini, tetapi kau percaya topik percakapan teleponnya bisa lebih menegangkan.

Ini bagian sulit, kau sungguh lupa Dani menulis apa. (“Tulisan gua gagal,” ujarnya sebelum membaca.) Di writer's circle, kalian terbiasa mendengar tulisan Dani tentang perang, militer, cinta, maupun cerita fiksi ilmiah. Kalau tidak salah, tulisannya sejenis monolog seseorang yang kehilangan kekasihnya. Ia menulis tema ini dari waktu ke waktu. Kau yakin tulisannya tidak akan terlalu gagal. Jika Dani mengatakan demikian, besar kemungkinan itu demi menurunkan ekspektasi.

Tulisan Dea pendek dan mengejutkan, judulnya 'Rahasia.' Seingatmu begini tulisannya:
MALIIIIING!
Iya kamu!
Ayo mengaku! Kamu maling, kan?
Sudah jangan banyak bicara! Kamu telah mencuri!
Kamu mencuri baca tulisan ini.

Semua geli mendengar pembacaan Dea. Tulisannya seperti apa yang biasa dituliskan di halaman pertama buku harian anak-anak. Kau mulai memahami keunggulan sudut pandang orang kedua dibandingkan sudut pandang yang lainnya. Sudut pandang ini membuat pembaca merasa dilibatkan ke dalam tulisan – seperti diajak bicara. Hal yang sama juga ditemukan dalam tulisan Ririe yang berjudul ‘Cue Cards’. Berikut cuplikannya:

Point A
Hi! Kamu baru saja menemukan Point A. Silahkan matikan GPS-mu sekarang untuk menghemat baterai, masukkan dalam dry bag yang tersedia, dan bawalah bersamamu. Bersama cue card ini, kamu akan menemukan sebuah dayung. Di ujung jalan ini ada sebuah perahu kayak, ikuti aliran sungai hingga ke hilir. Saat melihat pelampung dengan bendera hijau, menepilah dan tambatkan perahu di pilar yang tersedia. Petunjuk menuju point B ada disana. Hati-hati ya!

Kata ganti 'kamu' dalam sudut pandang orang kedua dalam cerita Dea dan Ririe tak terbatas hanya tertuju pada satu tokoh, tetapi juga bisa pada entah berapa banyak pembaca.

Di sisi lain, ‘kamu’ dalam tulisan Sabiq dan Almer tertuju pada satu orang saja. Cerita Sabiq adalah surat untuk seorang pahlawan-penyelamat-kota. Meskipun tak menyebut nama, Sabiq memberikan banyak petunjuk mengenai identitas si pahlawan. Salah satunya bahwa ia fotografer. “Spiderman, ya?” tebak Almer. Sabiq mengiyakan. Meskipun tulisan ini menarik, Indra menunjuk kurangnya konsistensi Sabiq dengan sudut pandang yang digunakan. Di beberapa bagian, tulisannya memberi informasi terlalu banyak, seakan penulis adalah Tuhan yang tahu semua. Padahal pada awalnya tulisan itu dimaksudkan sebagai surat. Saran Indra, sebaiknya Sabiq memilih antara menulis dengan sudut pandang terfokus, atau sejak awal menulis dengan sudut pandang penulis-tahu-semua.

Almer menuturkan kisah sentimentil tentang dua orang teman yang melarikan diri setelah merampok bank. Di mobil, salah satu di antara mereka mengajak berbicara yang lain – memaki-maki, menyesali kebodohan yang lain, meratap, serta mengenang masa lalu.  Namun semua itu tidak dijawab, karena yang diajak bicara sudah tak sadarkan diri karena tertembak. “Sudut pandang orang kedua, narator termasuk ke dalam cerita,” ujar Indra. Seperti yang sudah-sudah, Almer lancar dalam mengungkapkan ceritanya. Kalimatnya sederhana dan minim kesan dibuat-buat. Sekalipun ke depannya ia tak ikut writer’s circle, kau berharap akan membaca lebih banyak lagi tulisannya.

***
Andika! Setelah tiga hari akhirnya kamu menyelesaikan jurnal ini! Kamu memulai pada sore cerah di Reading Lights dan berakhir pada sore hujan di rumahmu. Bagaimana perasaanmu saat ini?
Capek. Tidak yakin saya sudah melakukan hal yang betul.

Apa yang membuatmu tidak yakin?
Saya menulis menggunakan sudut pandang orang kedua dengan alasan yang mungkin tidak jelas. Saat pertemuan writer’s circle, Indra, Dea, Dani, Ririe, Sabiq, dan Almer punya alasan yang jelas menggunakan sudut pandang itu. Indra karena tokohnya sedang melakukan percakapan via telepon. Dea, Ririe, dan Sabiq karena tak berhadapan langsung dengan yang diajak bicara. Lalu Almer karena yang diajak bicara tak bisa menjawab. Setelah pertemuan writer’s circle berakhir, saya baru menyadari bahwa sudut pandang ini juga bisa dipakai menggambarkan percakapan dengan diri sendiri.

Coba jelaskan.
Kadang-kadang saya suka bercakap-cakap dengan diri saya sendiri. Seperti yang kita lakukan sekarang. Ada kalanya saya ingin bercerita, tetapi sedang sendirian – saat itulah saya berbincang dengan diri sendiri. Ada kalanya saya ingin bercerita, tetapi ceritanya tak berharga waktu orang lain – saat itulah saya berbincang dengan diri sendiri. Ketika berbicara dalam hati pun, saya lebih sering menggunakan kata ganti ‘kamu’ daripada ‘saya’. Terutama untuk memotivasi diri sendiri(!). Saya mulai menulis jurnal ini dalam keadaan malas dan sendirian, maka saya menggunakan sudut pandang orang kedua.

Mengapa kamu tidak menulis dengan sudut pandang orang pertama atau ketiga?
Saat menulis jurnal RLWC, saya selalu menulis dengan sudut pandang orang pertama, dan itu mulai membosankan. Lagipula sudut pandang ini kadang-kadang gagal menggambarkan konflik batin seseorang. Sementara itu, sudut pandang orang ketiga, dalam kasus menulis jurnal RLWC, membuat saya berjarak dengan apa yang saya tulis. Padahal saya ada di dalamnya.

Hm. Rumit juga ya? Dan sepertinya kamu sudah capek dan tak ingin menulis lagi. Terakhir deh, apa yang bisa kamu petik dari pengalaman ini?
Ada berbagai sudut pandang untuk melihat dan mengisahkan sebuah peristiwa. Carilah sudut pandang yang membuatmu bisa menuliskan sebanyak mungkin yang ingin kauceritakan.



Andika Budiman adalah seseorang yang tidak pernah mengganti profile picture Facebook-nya.