Senin, 07 Februari 2011

Experience is Everything


Experience is everything … terutama yang pertama.

Menurut tokoh filsuf besar dari benua Eropa sana, manusia nalarnya dibatasi oleh alat indera; mata, telinga, tangan, dan lain-lain—yang kita sebut sebagai indera perasa, indera pengecap, dan indera pendengar. Dari indera-indera tersebut semua hal menjadi titik pembentuk manusia atas kesadaran dia dan juga atas tingkat intelegensinya. Pengalaman adalah salah satu pembentuknya. Tapi apakah pengalaman pertama juga? Atau hanya sebagai alat pemicu alam bawah sadar manusia? Itulah yang kita cari ...

Mengingat pertama kali saya datang ke RL, rasanya tidak nyaman. Saya rasa itu juga yang terjadi dengan teman-teman yang baru datang ke RL atas undangan saudari F. Saat itu cukup banyak yang datang. Andika—setelah sekian lama—kembali berlakon sebagai moderator kali ini yang mengusung tema pengalaman pertama. Rupanya waktu 30 menit lebih tidak menjadikan karya beberapa orang selesai. Mereka perlu lebih dari yang ditentukan. Tapi toh ini ‘kan cuma pengalaman.

Andika menjadi orang pertama yang membacakan karyanya. Ceritanya berkisah tentang pengalaman pertama sang tokoh saat menjadi pemandu museum. Sangat disayangkan, ia tidak dapat menyelesaikan ceritanya dalam tempo waktu yang ditentukan.

Berputar kepada saya. Cerita saya berlandaskan pemikiran bagaimana jika rasanya seorang anak yang hidupnya sempurna tapi ternyata ia memiliki seorang ibu adalah sosok laki-laki transeksual. Itulah pengalaman yang ingin saya gali. Namun sayang, saya kurang mampu memberikan persiapan untuk mengagetkan pembaca.

Lalu beralih kepada Farida. Untuk para anak kecil sebaiknya tidak mendengar ceritanya. Walaupun cerita adalah bocah kecil yang pertama kali menggunakan telepon—hanya saja—untuk beberapa bagian tidak terdengar seperti telepon. Telepon memang MULTIFUNGSI.

Selanjutnya adalah karya-karya pendatang baru. Ringga yang berupaya menulis pengalaman seorang yang mencoba olahraga rafting tapi tidak dapat diselesaikan, mungkin karena faktor kedatangannya juga cukup telat. Selain itu ada Fuad yang rupanya seorang penggemar atau dia membuat tokoh penggemar seorang musikus terkenal, Iwan Fals. Fuad membuat tokoh ini gegar untuk bertemu sang idola, hanya sayang terlalu banyak metafora di dalam cerita ini.

Ada juga orang baru yang bernama Aga yang merupakan salah satu newbie yang paling unik. Satu hal yang membuatnya demikian karena dia menggunakan Bahasa Inggris dalam penulisannya dan tentunya juga kepada pembacaannya. Walau bertema tentang hal sepele yaitu membeli baju biru dengan diskon 70%, Aga bisa memasukkan emosi dengan baik. Bahkan sangat baik. Tulisannya membuat kita semua masuk ke dalam emosi yang marah dan kesal atas kejadian karena ternyata baju biru itu memiliki kerusakan.

Seni dengan BBnya berhasil menciptakan karya yang romantic. Walaupun saya bukan penggemar hal-hal yang bersifat percintaan, tapi karyanya luar biasa. Dia membuat pengalaman pertama diputuskan pacaran yang kemudian akhirnya diubah menjadi pengalaman pertama dilamar. Ini sangat luar biasa. Terakhir ada Shofa yang memiliki gaya retorika sama seperti saya, menuliskan bagaimana perasaannya menulis dan berkumpul di RL untuk pertama kalinya.

Uli mencoba membawa kita untuk bermain game, namun sebelumnya kita dibawa ke dunia khayalan ROCK and ROLL, dimana sex, drugs, music menjadi satu. Ternyata ia menuliskan pengalaman pertama bermain guitar hero. Apakah anda tertarik untuk bermain? Tak penting karena Sapta menceritakan kehalusan sebuah cerita untuk memakan buah dan saya lupa lanjutan ceritanya. Forgive me, Sapta. Jika Sapta benar-benar menceritakan cara hidup sehat dengan makan buah, Nia justru sebaliknya. Dia mendalami tiga hal sekaligus dengan membawa kita ke dunia gelap, perampokan, drugs, dan masuk penjara ini Nia ikatkan menjadi satu lingkaran setan. Ia dapat mendalami perasaan dari seorang makhluk biasa menjadi makhluk pengidap narkoba hingga menuju kriminalitas.

Selanjutnya ada cerita Mahel yang ternyata puitis sekali sehingga membingungkan saya dan beberapa orang. Ia bercerita tentang makan jamur beracun (mushroom) yang membuat halusinasi untuk pertama kalinya.

Tiga orang sisanya adalah Rizal yang menceritakan tentang orang yang selamat dari kecelakaan pesawat dan menuju proses kanibalisme. Tapi sekali lagi, waktunya tidak cukup untuk Rizal. Hakmer, setelah sekian lama, mampu membuat gayanya keluar dengan membuat hantu yang bercerita karena dia mati oleh sepotong coklat yang disuapakan oleh wanita pujaannya. Ini terjadi karena sang tokoh alergi terhadap cokelat. Jika dikaitkan dengan Valentine, mungkin ini adalah bloody valentine, atau tepatnya bloody chocolate valentine.

Dan yang terakhir adalah Dani sebagai makanan penutup karena ia menceritakan kisah tragis yang paling dicari oleh tokoh. Agak sadomasochist, bukan? Bagaimana jika Anda ditampar oleh pacar Anda dan Anda hanya tertawa begitu saja? Apakah Anda menikmatinya? Atau membencinya?? Tamparan dari Dani adalah penutup untuk dansa kita di panggung RL. Bukankah pengalaman adalah segalanya? Tapi pengalaman tidak terbatas ... banyak sekali yang tidak kita ketahui. Banyak sekali. Ini bukan pengalaman pertama saya menulis jurnal, hanya saja ini gaya baru saya dalam menulis jurnal.

Hanya untuk mereka yang berpengalaman.

K.R.M

Jumat, 04 Februari 2011

Stream of Consciousness

Dulu writer's circle pernah bercita-cita untuk menulis di luar tempat biasa kami menulis. Entah itu di cafe, alam bebas ... pokoknya outdoor. Out the door. Tapi door-nya siapa?

Lalu saya kemukakan lagi isu outdoor ini agar tidak jadi wancana belaka. Waktunya adalah saat orang-orang sedang merayakan Imlek dan lokasinya ditetapkan di Kebun Binatang Bandung. Saya mewanti-wanti agar mereka tidak seperti lebah yang hidupnya berkoloni (maksudnya kalau satu orang tidak datang, maka jadi tidak datang semua--editor).

Sepertinya saya datang pukul 9 tepat dan menemukan di pintu gerbang dekat tong sampah itu tidak ada siapa-siapa kecuali orang-orang yang jualan kacang. Untuk hiburan di dalam--katanya. Memangnya siapa yang mau hiburan? Saya mau menulis. Lagipula memangnya binatang butuh hiburan? Lagipula beruang makan kacang? Aneh. Lalu orang-orang itu bertanya-tanya apakah saya menunggu rombongan. Saya acuhkan saja karena memang betul saya menunggu rombongan.

Akhirnya datang Rizal dan disusul Neno. Rizal sudah berkali-kali bilang mau masuk tapi saya bilang sebaiknya tunggu yang belum datang. Rizal bilang begini, "Ini namanya punishment untuk orang yang tepat waktu!" Wah, betul juga. Mari kita masuk!

Foto oleh Sapta P Soemowidjoko

Setelah terbirit-birit karena Rizal main-main dengan ular liar kecil, akhirnya Neni datang, disusul Farida, Sapta, Dini, dan Marti. Sayangnya Dini dan Marti terlambat hampir dua setengah jam yadi saat kami sudah duduk-duduk nyaman di atas paving block lembab. Maka, mereka tidak keliling kebun binatang dan langsung menulis saja.

Ki-ka: Marty, Neni, Sapta, Farida, Dini, Neno, Rizal

Di sana saya sharing teknik menulis yang saya dapatkan dari Wikipedia yaitu stream of consciousness. Stream of consciousness adalah mode narasi yang memperlihatkan point of view dari seorang individu dengan cara menuliskan proses berpikir karakter baik secara monolog atau dihubungkan dengan tindakan-tindakannya. Yang terbayang di kepala saya adalah ketika individu melihat suatu objek lalu objek tersebut mencetuskan pikiran tentang sesuatu lalu menyambung ke sesuatu lalu menyambung lagi sehingga malah ceritanya jadi jauh dari objek pertama kali yang dilihat. Jadi tidak masalah jika hasilnya random dan overlapping karena pikiran terkadang begitu.

Di awali oleh Neni yang sebetulnya sedari tadi mencari-cari jerapah di kebun binatang Bandung. Agak kecewa mungkin karena di sana tidak ada, maka ia menuliskannya dalam tulisan. Neni, yang membuat dirinya sendiri sebagai tokoh cerita, menceritakan secara monolog bahwa jerapah mengingatkan ia pada boneka jerapah yang sering ia ajak bicara ketika ia berada di Jerman. Walaupun boneka jerapah hanya diam, rupanya ia adalah teman baik dalam mendengarkan. Ibu angkatnya yang di Jerman pun berkata bahwa boneka jerapah itu adalah teman Neni pulang dan akan membawa keberuntungan.

Tulisan Neni ini begitu alami dan terasa mengalir. Siapa yang menyangka dari binatang yang tidak ada bisa membawa pikirannya terbang hingga negara tetangga!

Selanjutnya Marty membacakan tokoh yang sedang galau akut walaupun angin sepoi-sepoi kebun binatang mengikis kegalauan tetapi tidak bisa menghilangkan galau itu sendiri. Di sini Marty tidak banyak menggunakan binatang sebagai pencetus idenya (mungkin karena tidak jalan-jalan keliling kebun binatang), ia menggunakan objek di sekitarnya: pohon, matahari, angin.

Sebetulnya saya lagi cemas karena saat itu sudah mendung takut hujan maka tulisan saya diawali dengan cuaca mendung, lalu berpikir tentang binatang-binatang dan para tukang yang mungkin akan lari terbirit-birit menghindari hujan, monyet yang tidak berhentinya menjerit, siamang galau yang makan pepaya dengan dramatisnya, perahu di arena air yang mengingatkan pada liburan, dan bola-bola cair yang banyak dijual dan mengingatkan pada keceriaan di hari Minggu.

Berbeda jauh dengan saya, Rizal menceritakan jalan pikiran sebuah akar pohon yang ada di dekat kandang macan tutul! Selama penulisan, Rizal mencoba untuk tidak memberi petunjuk bahwa tokoh yang dimaksud adalah akar pohon. Selain perbedaan cerita, perbedaannya lainnya terletak pada proses yang berpikir yang sistematis sehingga saya saat itu harus bertanya, "Rizal, apakah kalau berpikir, elu tersistematis seperti itu?" "Iya," ujarnya. Hebat. Rupanya stream of consciousness itu tidak selamanya random.

Dini bercerita beruang madu yang berasal dari Jepang yang memiliki keluarga bernama Sule, Sueb, dan Karmila. Ceritanya mengingatkan saya pada cerita fabel. Cerita Dini dikomentari oleh Sapta bahwa Dini terlalu banyak tokoh dan nama (ada 6 dalam satu cerita) sehingga ceritanya sulit diikuti. Atau proses berpikirnya Dini bisa sebanyak itu dalam satu episode waktu?

Selanjutnya Farida menuliskan cerita kontemplatif tentang seorang manusia yang ingin memiliki creature seperti hewan-hewan yang dilihatnya. Ia mendamba jemari yang tidak beraturan (tampaknya ini berasal dari tangan monyet yang panjang-panjang), ia juga mendamba kulit dengan warna-warna, dan lainnya. Cerita diakhir dengan manusia dan hewan yang saling bertatapan lalu si hewan--melalui mata--mengisyaratkan bahwa manusia ini betul-betul tidak suka menjadi dirinya.

Sepertinya overlapping terjadi dalam cerita Farida dimana ia menangkap makna dari berbagai macam objek lalu disatukan dalam satu buah lapisan cerita. Seperti yang dijelaskan di awal bahwa stream of consciousness bisa sebegini overlapping-nya.

Foto oleh Sapta P Soemowidjoko

Dan akhirnya sesi menulis ditutup oleh Sapta yang bercerita tentang pikiran-pikiran seorang tokoh yang tidak suka dengan Pak Haji beserta istri sehingga ia melemparkan anak mereka ke kandang beruang saat ia diajak ke kebun binatang. Salah satu kalimat dalam ceritanya, dengan gaya sarkas, dituliskan kira-kira begini, "Kenapa Pak Haji mau melihat monyet padahal dengan bercermin saja dia sudah melihat monyet?"

Sebenarnya tulisan Sapta ini menginspirasi saya untuk membawa writer's circle ke alam pikiran orang gila dan menuliskannya. Rupanya saya sudah dapat narasumbernya.

Maka itulah teknik yang coba kami latih pada siang di bawah pohon beringin itu, ditengah-tengah banyak orang yang mondar-mandir sehingga agak semerawut--kontradiksi dengan keteraturan yang disekat oleh jeruji kandang binatang. Agaknya pikiran juga begitu: acak-acakan tapi manusia mampu mensistematiskannya.





Nia Janiar. Menghabiskan setiap Sabtu sore di komunitas tulis Reading Lights Writers' Circle dan menulis artikel di Ruang Psikologi. Pemilik http://mynameisnia.blogspot.com.

Rabu, 19 Januari 2011

Demi Keselamatanmu, Bacalah Ini

Sabtu, 15 Januari 2011

Kepada Yth.
Seluruh manusia fana
di tempat

Halo,

Aku kirim surat ini agar kau tahu bahwa harimu sudah dekat. Aku sudah tahu rencananya, aku sudah mengetahuinya, maka aku akan mengingatkanmu untuk bersiap.

Aku ceritakan sedikit agar kau tidak kaget. Saat ini, salah seorang dari mereka yang bernama Sapta, bilang bahwa ia mendapat ide dari Farida Susanty untuk menulis surat yang ditujukan kepada seseorang yang besok pasti mati. Bacalah surat ini sampai habis, agar kau mengerti, agar kau bersiap-siap, karena mungkin kau yang menjadi target mereka selanjutnya.

Kuberi petunjuk contoh-contoh surat yang mereka buat selama 40 menit. Dibalut oleh kata-kata yang dirangkai dengan baik namun tidak bisa menyembunyikan kegetiran tentang kematian itu sendiri. Begini kronologis pembacaannya:

1. Nia bercerita tentang seorang perempuan mengirim surat yang berisikan tentang rencana pembunuhan. Perempuan itu membuat kisah manuskrip palsu untuk membuat Sakti (teman perjalanannya) mau menghabiskan 10 bulan bersamanya untuk mencari manuskrip yang tidak pernah ada. Karena tokoh akan diperistri dan tentunya akan ia akan merindukan Sakti di malam-malam nanti, ia merencanakan sebuah penembakan Sakti di perbatasan timur Papua. Dalam kondisi sekarat, Sakti membaca surat ini yang ditujukan kepadanya.

Salah satu dari mereka, Sapta, terdistrak oleh rima yang tujuan awalnya sengaja dibuat untuk kesan dramatis. Dani sempat salah tangkap bahwa manuskripnya ada di Papua padahal Papua hanyalah tempat mereka bersinggah saja. Sisanya mungkin baru sadar isi surat di atas setelah ada penjelasan bahwa itu adalah sebuah rencana pembunuhan.

Kau bisa mengecek petunjuk selanjutnya di sini.

2. Dani, yang seperti membuat buku self-destruct, menuliskan cara-cara membunuh dalam sebuah surat yang dituliskan oleh tokoh utama: menarik pelatuk senapan jarak jauh dari semak-semak pegunungan dimana target berada di dalam rumah dan sudah tepat posisinya, target dipotong dengan beragam pisau dapur yang dimilikinya, disetrum pisau cukur, racun yang dititipkan lewat pipa air, asap dari knalpot, dan lainnya.

Menarik pada awalnya tapi detail yang banyak membuat agak membosankan. Kau harus paham ini, manusia. Detail kadang tidak terlalu penting.

Lalu ia menceritakan lagi sebuah cerita yang dianggap lebih bisa dinikmati. Ia bercerita tentang seorang penguntit yang membuat surat sebagai tanda peringatan kepada orang yang sedang dicintainya karena akan dibunuh oleh beberapa orang yang tidak jelas. “Aku tak memintamu untuk menghargaiku, apalagi menjawab cintaku. Tetapi larilah. Bersembunyilah. Selamatkan dirimu, yang kuhargai lebih dari apapun di dunia ini.”

3. Lalu, salah satu peserta mereka yang termuda—Ryan—membuat cerita tentang dua orang yang bersahabat selama 40 tahun, menganalogikan diri mereka sebagai dua raja yang memerintah sebuah kerajaan, yang walaupun pernah saling mencaci maki dan mengeluarkan seluruh pengetahuan tentang kata-kata hina, mereka tetap saling menyayangi. Diceritakan tentang perasaan walaupun saling berjauhan tapi masih merasa berada di sampingnya. Sang sahabat menuliskan surat ini ketika sudah tiba saatnya sebuah kerajaan kehilangan salah satu rajanya.

Mereka mencium aroma homoseksual di sini karena hubungan persahabatan mungkin tidak sebegitu terobsesinya.

Tetaplah membaca, mungkin kau menemukan petunjuk lainnya.

4. Terselip sebuah cerita manis yang dituliskan oleh Rizal. Dibuka dengan kalimat “mendaki gunung adalah simulasi masuk surga”, ia berkisah tentang dua orang sahabat yang suka mendaki gunung dan berbagi tentang pengalaman keindahan hingga salah seorang sahabatnya terbaring di rumah sakit karena kecelakaan di flyover Pasupati. Sudah 3 bulan si keluarga sahabat berusaha untuk memperpanjang nyawanya dengan mesin sementara ada obsesi mereka berdua yang belum tercapai yaitu mendaki gunung selatan. Cerita dengan manisnya ditutup, “Mungkin jika sudah dicabut oksigenmu, kamu bisa pergi ke gunung selatan sendirian tanpa perlu didampingi.”

Gunung dan bromance agaknya mengingatkan mereka pada film Brokeback Mountain. Bagaimanapun, cerita ini manis adanya dan emosi sedihnya sungguh terasa.

5. Dengan tidak biasa, Andika membuka ceritanya dengan seorang tokoh yang suka bermimpi jika ada yang mau meninggal dan kali ini mantan pacarnya, Yudi, yang mengunjungi mimpinya. Yudi ini digambarkan sebagai sosok yang tidak disukai oleh tokoh utama. Tokoh utama mencibir tentang Yudi yang broken home dan tidak lulus kuliah. Dunia Yudi bagai gudang sempit yang penuh kotoran yang didalamnya penuh tikus-tikus. “Memutuskanmu adalah hal terbaik yang pernah kualami. Kini kuucapkan selamat karena selamat tinggal dan sampaikan salamku kepada Tuhan.” ujar tokoh utama.

Awal cerita yang tidak biasa, surat diisi dengan metafora yang baik, dan klimaks pada akhir cerita. Hari ini milik Andika.

6. Fasilitator kali ini, Sapta, bercerita tentang Nada Astina—seorang pemahat patung—yang memiliki kegemaran berbicara dengan orang asing ketika ia sedang berpergian ke Yogyakarta dengan menggunakan kereta. Di sana ia bertemu dengan wanita setengah baya bernama Retno yang tidak menikah karena 25 tahun yang lalu, wanita ini divonis dokter tidak akan berumur panjang. Dengan alibi tidak ingin menyakiti dan meninggalkan orang yang disayangi, maka ia memutuskan untuk hidup sendiri. Sayangnya, vonis 25 tahun yang lalu itu tidak terbukti dan ia masih hidup sampai sekarang sehingga ia agak menyesal karena percaya vonis dokter.

Menutup ceritanya, Sapta menulis begini:
“Di depan peron, Nada disambut oleh keluarga besarnya. Ibu, bapak, dan kelima adiknya. Berlarian berebut memeluk Nada, air mata berhamburan di mata mereka, Nada berusaha menahan tangis. Sayang, Nada tidak berhasil menepati janjinya. Janji untuk air mata yang tak akan jatuh lagi dari sudut matanya, air mata yang sudah kering beberapa bulan lalu saat vonis dokter menyatakan dirinya tidak akan berumur panjang dan esok adalah batas hari itu. Hari ini Nada melihat kenyataan bila vonis itu hanyalah diagnosa, hanyalah dugaan manusia. Dokter bukan Tuhan. Harapan itu ada. Ibu Retno adalah buktinya.

Hari ke dua Nada di Jogja tangisan keluarga Nada kembali terdengar, bahkan lebih kencang, kala itu Nada menepati janjinya untuk tidak menangis..

Tapi memejamkan mata untuk selamanya.”

Kau tahu, kalian para manusia, bahwa twist yang disajikan Sapta kali ini begitu lembut dan tidak patah karena penjelasan menuju akhir ceritanya cukup baik dan klimaks tetap terjaga hingga akhir.

7. Dini membuat surat perpisahan berdasarkan kisah nyata. Ia memberikan surat ini untuk Sammy, yang belakangan diberitahu bahwa itu adalah sebuah handphone Siemens yang diganti menjadi Nokia. Dini menceritakan dan memperlakukan seolah-olah itu adalah seorang manusia.

Mereka sudah menyangka bahwa tokoh yang ditulis Dini bukanlah orang tapi seekor hewan atau sesuatu, tapi siapa yang menyangka bahwa Dini menulis surat untuk handphone yang sudah musnah karena terjatuh saat menunggang kuda?

Apakah kau sudah membaca polanya bahwa setiap orang yang membaca surat di atas akan mati esok harinya? Ada kata-kata terakhir? Jika tidak, kini tengoklah ke belakang, mungkin ada seorang perempuan yang akan menikammu perlahan-lahan.


Salam,


Nia Janiar

Sabtu, 15 Januari 2011

Merekayasa Dongeng


Sabtu, 08 Januari 2011. Akhirnya setelah sekian lama saya telah kembali ke komunitas menulis ini, tidak terasa sudah setahun saya bersama dengan mereka. Ketika saya datang Andika, Rizal, dan Dani sudah hadir di RL bagian depan. Mereka menyalami saya selamat tahun baru (itu yang saya ingat). Tak lama kemudian Dani menyuruh kami berempat untuk cepat naik, tak lain alasannya karena datangannya Nia. Mungkin Nia dan Dani merupakan musuh bebuyutan, tak heran Dani datang dengan membawa busur panahnya. Rupanya hari itu Reading Lights cukup penuh, karena di tempat bagian belakang—tempat yang biasa kami menulis—dipenuhi oleh komunitas lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk ke lantai atas sebagai markas besar komunitas menulis kami. Tak apalah walapun hanya lima orang, markas besar tetap markas besar.

Dari lima orang yang hadir, hanya dua orang yang primitif yang menulis dengan buku dan bolpen, sedangkan sisanya dengan laptop. Tapi ternyata tidak, Dani berbaik hati untuk menulis secara primitif juga. Tibalah kami pada sesi mencari topik dan tentu saja ini adalah sesi yang tersulit karena topik itu sulit ditentukan. Akhirnya saya sabagai pemimpin (maunya) mengajukan topik rekayasa dongeng dan cerita rakyat. Hal ini muncul di pikiran saya karena saya baru saja membaca buku yang berjudul The Book of Lost Thing yang juga menceritakan sebuah cerita dan dalam cerita tersebut dimasukan unsur-unsur dongeng. Mereka semua setuju, akan tetapi ada suatu hambatan yaitu bahwa pengetahuan kami terhadap dongeng tidak begitu “tinggi”.

Setelah sekian lama (saya skip waktu menulisnya karena memang makan waktu yang cukup lama) menulis, akhirnya kami tiba pada sesi membaca. Oh, perlu diketahui bahwa Sapta dan Uli datang di tengah-tengah kesibukan mereka (walapun saya tidak yakin mereka sibuk). Nia menjadi orang pertama yang membacakan karyanya tentang Sangkuriang. Nia mengubah cerita ini menjadi incest yang benar-benar terjadi antara Sangkuriang dan ibunya, sedangkan sang anjing memiliki keturunan lain setelah kabur dari Sangkuriang. Akhir dari kisah ini adalah anak hasil hubungan Sangkuriang dan ibunya terluka dan dimakan oleh keturunan dari anjing—sang ayah Sangkuriang.

Berikutnya Sapta yang menjadi orang kedua yang membacakan karyanya. Terlihat gayanya disini—sadism—Sapta mengambil cerita Timun Mas sebagai rekayasanya. Akan tetapi disini yang diceritakan adalah tentang keturunan Timun Mas yang ke-7 yang sangat ambisius, sehingga dia berniat mengangkat Buto Ijo yang tenggelam ke permukaan laut untuk membuktikan kepada dunia bahwa Buto Ijo itu ada. Tragis nasib sang keturunan, atau memang sengaja dibuat tragis, dan sepertinya memang sengaja dibuat tragis oleh Sapta, sehingga ketika bangkai Buto Ijo mencapai permukaan laut dan ditaruh di daratan. Buto Ijo kembali bangkit dan memakan keturunan Timun Mas ini, dengan sumpah serapah, dan Sapta menggambarkan dimakannya keturunan Timun Mas ini seperti kita memakan kacang. Dan itulah cerita sadis Sapta. Hati-hati dengan orang ini.

Dan kali ini adalah giliran Andika yang ternyata mengambil Timun Mas juga. Cerita Andika me-modernisasi cerita Timun Mas dengan mengganti dengan ayah Timun Mas adalah seorang arsitek terkenal yang berselingkuh dengan pembantunya sehingga menghasilkan anak dan istrinya yang merupakan seorang sastrawan. Pada awalnya mereka menolak anak tersebut, akan tetapi karena mereka menginginkan anak itu, maka mereka setuju untuk mengadopsi anak ini menjadi anak mereka. Sang pembantu setuju dengan syarat uang dan ketika anak tersebut berumur 10 tahun, ia akan mengambil kembali. Singkatnya setelah lewat 10 tahun, anak ini dibawa dengan paksa. Pada waktu dibawa, anak ini dibekali dengan alat-alat sama seperti Timun Mas. Dan dimulailah kekonyolan saat dimana anak itu berlari, dia melemparkan alat-alatnya yang menjadi lumpur, bonteng, dan laut. Perubahan cerita yang logis dan serius menjadi serba sihir membuat cerita ini sangat konyol. Akhirnya cerita tamat sesuai dengan dongeng Timun Mas.

Tiba giliran Dani. Ceritanya cukup sederhana karena Dani mengambil cerita The Beauty and The Beast. Disini Dani mengajak kita untuk menjadi orang ke-3, menjadi tokoh baru dalam cerita tersebut. Dani membuat cerita ini kelam dengan membuat bad ending, sehingga judul ceritanya adalah The Beast and The Beast. Karena pada akhirnya The Beauty yang dijual ke kastil The Beast ikut menjadi The Beast dan memburu ayahnya yang menjualnya.

Akhirnya tiba giliran saya yang mengambil cerita Peter Pan. Akan tetapi saya mengganti Peter Pan ini sebenarnya adalah monster jejadian yang kerjanya memangsa anak kecil, membujuk mereka ke Neverland untuk dimakan dan tidak pernah kembali lagi (sehingga menjadi asal usul Neverland). Tapi sepertinya saya gagal membuat cerita ini kelam karena mereka semua tertawa mendengar saya bercerita. Mungkin yang salah adalah penggunaan bahasa penulisan kali ya?

Terakhir Rizal. Dia cukup pusing untuk dongeng sehingga Rizal memutuskan untuk membuat historical fiction. Perang para sunan dengan syekh menjadi inti ceritanya. Rizal menggambarkan betapa rumitnya keadaan perang waktu kerajaan Demak menyebarkan Islam. Pada akhirnya, cerita ini berakhir sesuai dengan cerita sebenarnya, yaitu kekalahan sang syekh.

Uli, yang datang paling terakhir tidak menulis, karena sudah tidak sempat lagi.

Menurut saya, kelemahan yang tampak adalah pengetahuan kita akan dongeng terlalu sedikit sehingga kurang begitu baik dalam merekayasa dongeng. Dan inilah jurnal dari saya.



K. Ryan Marhalim. Seorang bocah dengan banyak impian. Salah satunya untuk menjadi penulis novel ternama bak Pramoedya Ananta Toer. Kegiatannya selain menggentayangi Reading lights Writers' Circle adalah menghadiri sebuah kelompok okultisme (occultism).

Rabu, 29 Desember 2010

Cinta . . . di akhir suatu masa

Meskipun Natal, rupanya Sabtu lalu Reading Lights buka seperti biasa. Siang itu cuaca cerah. Saya datang, mencoba melanjutkan sebuah tulisan yang belum jelas akan berakhir di mana. Setelah dua jam, teman-teman mulai berdatangan. Dani dan Anggi muncul di Reading Lights dengan berpeluh keringat … apa yang dilakukan keduanya?! Oh, rupanya mereka berjalan kaki dari Taman Bacaan Pitimoss di Jalan Banda. Tak lama kemudian, Maknyes datang dengan potongan rambut barunya. Seperti Anggi, sudah lama juga sejak gadis berkacamata ini menampakkan hidungnya di pertemuan writer’s circle. Dua dara ini sehari-hari sibuk di ibukota. Selanjutnya datang berturut-turut Neni, Rizal, dan Retno. Pertemuan pun dimulai.

Terinspirasi momen berakhirnya tahun 2010, Dani mengajukan sebuah tema yang kami anggap menarik. “Kita menulis tentang berakhirnya suatu era,” ujarnya. Lebih rincinya lagi, berakhirnya suatu masa yang akan membawa perubahan bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. “Berakhirnya era internet!” ujar saya sambil membayangkan. “Berakhirnya Facebook!” timpal Maknyes. “Berakhirnya cinta romantis!” tambah Anggi, sekalian curhat. Setelah semua peserta berpikir-pikir mau menulis apa, latihan menulis pun dimulai.

Lima belas menit berlalu. Tulisan saya hampir beres, satu paragraf lagi selesai. Teman-teman yang lain masih asyik menulis. ”Tambah?” tanya Dani. Semua mengangguk. ”Berapa menit?” ”Lima menit,” sahut saya. ”Sepuluh menit saja,” akhirnya Dani memutuskan. Sepuluh menit berlalu, setelah saling tunjuk soal siapa yang membuat jurnal untuk pertemuan kali ini (”Saya utang satu jurnal!” protes Neni ketika ditunjuk. ”Saya utang dua!” seru Rizal tak mau kalah.), sesi pembacaan karya pun dimulai. Saya membaca pertama. Kali ini cerita saya agak menyerempet science fiction, saya sangat menikmati proses menulisnya, ide-ide seperti berlompatan dari kepala. Cerita ini tentang berakhirnya era ’cinta organik’. Setelah cerita selesai, Dani meminta saya untuk mem-posting-nya ke blog.

Maknyes lalu membacakan cerita yang diawali dengan potongan keseharian orang-orang yang berbeda. Ibu-ibu rumah tangga yang menangis sejadi-jadinya, pegawai-pegawai wanita yang menitikkan air mata, sampai ibu-ibu pejabat yang kehilangan satu-satunya teman ketika tidak ada kondangan. Apa gerangan yang berakhir tanggal 22 Desember 2022? Mengapa Anas, yang dua kali tinggal kelas, sekarang berjanji untuk belajar keras? Rupanya Fitri dan Farrel sudah dipastikan hidup bahagia selamanya. Sinetron Cinta Fitri berakhir di season kelima belas. Para peserta writer’s circle pun tertawa geli. Sekali lagi Maknyes menunjukkan kelihaiannya mengambil hal-hal teraneh dalam budaya pop, dan menceritakannya kembali dengan selucu-lucunya.

Sore itu, Dani menulis cerita yang di luar kebiasaannya. Ia menulis tentang kehilangan cinta! Alih-alih menulis tentang ‘pistol’, ‘ledakan’, ‘peluru’, ‘seragam’, atau ‘pasukan’, beginilah tulisan Dani: Hanya ada bantal dan seprai yang dingin tak bernyawa. Dengan sedikit enggan kupaksakan diri membuka mata. Benar saja, ranjang di sebelahku kosong melompong. Dan sudah begitu selama beberapa hari terakhir ini. Aku tak tahu lagi apa yang harus kurasakan saat ini. Bodoh? Sedih? Marah? Maknyes pun tidak bisa menahan keheranannya. Saat Dani membaca, ia pun menyela, “Bo! Gua udah lama nggak dateng ke writer’s circle tulisan Dani kok jadi kayak begini?!” Pipi Dani pun bersemu memerah. Tulisan Dani berakhir ketika ternyata cintanya itu kembali. Berakhirlah masa-masa kesendirian si tokoh utama. Cinta tokoh cerita Dani, rupanya tidak ditujukan kepada manusia, tetapi kepada seekor kucing. “Antiklimaks, deh,” ujar saya dalam hati.

Selanjutnya Rizal membacakan ceritanya yang gelap. Tentang berakhirnya cinta juga, entah virus apa yang menyerang anak-anak writer’s circle sore itu. “Ini fiksi ya,” ujar Rizal, langsung membuat kami meragukan kebenaran pernyataan itu. Cerita ini diawali monolog panjang tentang pria yang patah hati karena ditinggal mantan kekasihnya menikah. Mendengarkan penuturan Rizal, saya sempat berpikir, “Oh, ternyata si Rizal begini,” sampai cerita berganti haluan seratus delapan puluh derajat, di mana si pria mulai menarik-narik pelatuk pistol penuh berisi timah panas; menembak mati pengantin pria, mantan kekasihnya, sebelum akhirnya dirinya sendiri. Dan semuanya berakhir. Rizal mengaku kaget sendiri dengan kekelaman ceritanya itu.

Sekali lagi, seorang peserta writer’s circle menulis tentang berakhirnya cinta: Neni. Dalam cerita yang kental beraroma curcol, Neni menulis begini: Semua ada waktunya: ada tanggal terbit dan tanggal kadaluwarsa. Ada masa dimana sesuatu yang awalnya hangat akan berubah menjadi dingin bahkan basi. Karenanya, jangan heran atas reaksiku saat mendengar kabar terbaru darimu. Rasaku padamu sudah basi sejak lama. Meskipun cukup lama waktu yang kubutuhkan berikut deretan usaha yang kuupayakan demi melupakanmu; saat rasa ini sampai pada tanggal kadaluwarsa, semua baik-baik saja. Kami tak kuasa menahan geli, karena tulisan Neni ini seperti cerita Rizal dari sudut pandang perempuan. Terlebih ketika Neni mengakhirinya dengan: Aku turut berbahagia saat mendengar kabar pernikahanmu. Lalu cepat lupa. Karena kini, sudah ada dia yang memenuhi hati dan isi kepala!

Anggi menutup sesi pembacaan kali ini dengan cerita tentang sebuah rezim yang sungguh digdaya. Pada masa itu, seorang laki-laki tidak bisa lagi memaksakan kebutuhan seksualnya kepada perempuan melalui force. Apabila laki-laki ingin bercinta dengan istrinya, ia harus membujuk si istri agar mau melakukannya, bisa dengan bunga, coklat, atau kata-kata rayuan. Pada prakteknya, kemauan si istri amat susah diikuti karena ia sampai menentukan waktu-waktu kapan si suami bisa mencumbunya. Telat sedikit, tidak ada jatah untuk bulan ini. Alhasil, si suami pun frustrasi dan bercinta dengan suami frustrasi lainnya. ”Khas Anggi banget, ya! Ada gay-gay-nya,” komentar Rizal. Saya pikir ada benarnya juga. Cerita-cerita Anggi banyak bermuatan seksual, tetapi tidak membahas kenikmatannya. Misalnya, tentang perempuan yang berselingkuh, anak perempuan yang dipegang-pegang ayahnya, dan rezim di mana perempuan memegang kendali dalam hubungan seksual. Hm.

Dani lantas resmi mengakhiri pertemuan writer’s circle. Kami tak beranjak dari tempat duduk masing-masing, saling bercerita, dan membahas tentang macam-macam. Saya tak habis pikir mengapa cinta justru menjadi tema pada sore hari itu.


- Andika Budiman