Selasa, 16 Februari 2010

Sing It! Write It!

Bandung, 13 Februari 2010

Dear Diary,

Aku baru pulang dari kelab menulis, nih. Seperti biasa, menyenangkan! Pertemuan writers’ circle tadi mundur setengah jam dari biasanya. Sudah barang tentu, selesainya pun lebih malam. Tema yang diangkat adalah menulis dari lagu. Kami diminta untuk mempersiapkan lagu yang akan menjadi ide untuk bahan tulisan.



writer's circle yang tidak biasanya penuh gadget


Kali ini kami mendapat seorang anggota baru, Rizal, laki-laki berwajah lugu berkulit putih berbaju hitam. Tapi aku belum banyak mengobrol sama dia, sih. Habis kayanya orangnya pendiam.

Sebelum menulis, kami memperkenalkan diri dan menceritakan biasanya menulis dimana saja. Tidak butuh waktu lama untuk itu, saatnya menulis pun dimulai. Pemoloran waktu menulis pun terjadi lagi seperti biasanya. Dari setiap durasi yang telah ditetapkan, Andika, sang moderator, menambah lima menit lagi - sekitar tiga atau empat kali. Dan setelah molor kira-kira dua puluh menit dari waktu yang telah ditetapkan oleh stopwatch di ponsel Andika, tibalah saatnya kami membacakan karya masing-masing.



Giliran pertama jatuh pada Marty yang saat itu menggunakan kaos bertema kucing yang dipuji oleh hampir semua orang. Tulisannya berkisah tentang kesepian dan kekosongan yang dirasakan oleh sang tokoh sentral Bobby. Kisah ini merupakan secuil dari kisah keseluruhan Bobby dan Diana karya Marti. Lagunya pun menebar nuansa yang serupa, tentang seseorang yang membutuhkan seseorang. Somebody milik Depeche Mode benar-benar membangun nuansa sunyi dalam gambaran di cerita Marty.



Keheningan berubah 180 derajat dengan nuansa seru dari cerita Regie. Cerita fiksi-drama-horor-action-musikal-nya berkisah tentang wanita yang berprofesi sebagai penyanyi jazz sekaligus pemburu vampir. Pertarungan a la “Buffy” dengan “Angel”-nya ternyata cocok juga jika diisi dengan backsound Fly Me to the Moon, sebuah lagu jazz manis yang bisa dengan sukses membangun ketegangan. Sang penyanyi jazz menyenandungkan lagu tersebut di sela-sela pertarungannya yang sengit melawan makhluk-makhluk yang menyeramkan. Tampaknya apabila cerita ini dibukukan, pamor Twilight akan tergeser.



Beralih kepada Andika dengan cerita yang membuatnya serta merta melakukan penyangkalan setelahnya. Ia menulis tentang dirinya sendiri yang mengagumi seseorang bernama Burhan. Karakter sang idola sebenarnya bisa jadi biasa saja untuk orang lain. Namun Andika melukiskannya sebagai orang yang spesial. Begitulah cinta, bisa membuat segalanya lebih indah. Bisa jadi tulisan Andika kali ini adalah obsesi terpendamnya. Dugaan tersebut bertambah kuat karena ternyata lagu yang menjadi inspirasinya adalah milik Wilco feat Feist berjudul You and I. Lagu yang romantis untuk menggambarkan perasaan seseorang yang lebih dari sekedar mengagumi, yaitu mencintai. Hmmm ... tampaknya ia sudah mulai ingin jujur mengenai jati dirinya :)



Lalu tibalah giliranku. Aku sudah memilih lagu dari Ben Folds, We’re Still Fighting It, dan sudah membuat ceritanya sepanjang dua alinea. Tapi setelah ditelaah, tulisan itu terlalu serius. Kalau kata anak jaman sekarang sih ‘nggak seru ah!’. Maka aku mencari lagu lain dan membuat cerita lain. Band favoritku, The Beatles, dengan lagu hits mereka, PS: I Love You, menjadi pilihanku.

Tulisanku mengetengahkan karakter-karakter bernama asing, agar terdengar lebih keren. Seorang pria hampir sempurna bernama Alexander memiliki istri bernama Rebecca. Pada suatu pagi di hari Valentine, ia mendapati sepucuk surat dari istrinya yang berisi pujian tentangnya. Di akhir surat itu tertulis PS: I Love You ... namun bukan hanya sampai situ, masih ada kata-kata lanjutannya. Beberapa peserta mengatakan tulisanku sarkas nan satir. Sontak saja aku pun berpikir, “Ah masa? Ah iya? Gengsi dong!”



Ah, dari tadi kok lagu cinta melulu ya? Untung Nia membawa nuansa berbeda dari lagu pilihannya, lagu reggae yang identik dengan santai di pantai. Ia memilih sebuah hits dari Bob Marley, Three Little Birds. Ceritanya pun berlatarkan laut, dimana tokohnya - Sirait dan Larung - berada. Ini adalah kisah perjuangan Larung untuk meraih kebebasan yang sebelumnya terrenggut karena ditipu oleh Sirait. “Don't worry about a thing, 'cause every little thing’s gonna be all right,” mengiringi perjalanan Larung saat matahari terbit menyimbolkan kebebasan. Jika ceritanya difilmkan, lagu Bob Marley itu sangat cocok sebagai closing song menuju credit title. Nia sungguh dengan pas memadukan antara laut, Bob Marley, dan terbitnya matahari … hanya satu yang tak dimasukkannya dalam cerita: ganja!



Beralih ke lagu cinta lagi. Kali ini sebuah lagu dari Landon Pigg, Falling in Love at the Coffee Shop, menjadi pilihan Niken. Namun ceritanya tak ada sangkut pautnya dengan jatuh cinta di kedai kopi, melainkan jatuh cinta di kantor. Niken mengisahkan tentang suasana kantor yang menjemukan namun berubah menjadi bergairah setelah menemukan lagu itu di internet. Para penghuni kantor jatuh cinta saat pertama kali mendengarkan lagu itu. Yaa ... begitulah gambaran suasana kerja kantoran di negara kita: lesu di tengah bulan, untuk kembali bersemangat saat mendekati gajian.



Diary, kamu tahu nggak siapa yang membawakan lagu Bunga di Tepi Jalan? Bisa jadi semua ABG (Anak Baru Gede) menjawab Sheila on 7. Namun kalau ditanyakan pada kaum ABG yang lain (Angkatan Babe Gue) sudah pasti mereka langsung menjawab Koes Plus. Tidak seperti tulisan peserta lainnya yang mengambil esensi dari lagu pilihan masing-masing dan dikembangkan menjadi cerita yang berbeda, Dea justru menjabarkan pengertian dan perasaannya sendiri tentang lagu itu. Kisah bunga cantik di tepi jalan tak pernah ada yang memerhatikan, sampai akhirnya dipetik untuk dijadikan pajangan, padahal bunga di tepi jalan memang sudah seharusnya dibiarkan. Sebelumnya Dea mengaku suka dengan lagu itu karena nadanya enak, namun begitu mendapati liriknya, ia jadi berbalik tak suka. Terkadang memang mengetahui sesuatu tak selalu baik ketimbang tak mengetahuinya.



Mahel adalah yang paling curang. Ia telah mempersiapkan agar tampil berbeda dengan yang lain. Ia membacakan tulisannya diiringi oleh lagu pilihannya, berupa musik instrumen dari film Memoirs of a Geisha, yang memang cocok sebagai backsound untuk membangun suasana dalam ceritanya. Namun ceritanya sama sekali bukan tentang geisha, bukan tentang orang dewasa, melainkan dongeng adanya.

Ada sebuah kota bernama Kota Hitam Putih yang isinya semuanya hitam dan putih. Hanya ada satu rumah yang berwarna-warni, yaitu rumah Nenek Ceri. Suatu hari ada anak sebatang kara yang datang ke kota itu dan meminta belas kasihan orang-orang di sana untuk menampungnya. Inspirasi ceritanya juga datang dari lagu Nolita Fairytale–nya Vanessa Carlton. Untuk orang yang skeptis, pasti menebak bahwa anak sebatang kara itu akan bernasib sama seperti Hansel dan Gretel. Sementara bagi orang yang ositive thinking, pasti berpikir bahwa nasib anak itu akan berakhir bahagia macam telenovela Esmeralda.



Kemudian tiba giliran Aziza. Diary, aku malu, deh. Tampaknya aku nggak pantas mengaku sebagai orang Bandung. Karena aku tak tahu mengenai legenda tujuh sumur! Dan aku jadi sanksi sama orang-orang yang ngaku orang Bandung namun tak tahu legenda itu. Dan pastinya Aziza adalah orang Bandung tulen (atau orang bukan-Bandung yang memang banyak membaca saja), karena ia menulis tentang legenda tujuh sumur di Bandung yang diramu a la dia. Bagaimana enam dari tujuh sumur itu mengalami kehancuran satu persatu dan sekarang hanya ada satu yang tertinggal. Kalau sumur terakhir itu hancur, maka kejadian di film 2012 akan terjadi pada kota ini. Lagu yang menjadi pilihannya adalah dari band asal Jerman, Rammstein. Tak dinyana, gadis manis berkacamata yang lembut tutur katanya itu mendengarkan musik rock menggelegar yang biasanya menjadi konsumsi orang-orang kasar yang jarang mandi nan bertato yang tinggal di kamar gelap yang selalu berantakan. Peribahasa don’t judge a book by its cover, sangat pas untuk menggambarkan Aziza. Jangan menilai selera musik seseorang dari penampilannya!


Lagu bernada minor memang cenderung menebar kepedihan bagi yang mendengar. Namun berbeda dengan Just For You milik Richard Cocciante yang dipilih oleh Hakmer. Aku pun baru tahu darinya, bahwa lagu bernada sendu itu bercerita tentang kebahagiaan, tepatnya kebahagiaan si penyanyi akan cinta yang dirasakannya. Ia mengaku sebelumnya telah membuat empat buah cerita, namun ia menetapkan hatinya untuk memilih satu, yang berkisah mengenai perbincangan dua insan. Wow! Empat cerita!! Bayangkan betapa cepat otaknya bekerja, terlebih lagi tangannya.



Akhirnya tibalah saatnya Dani untuk membacakan karyanya yang selalu fenomenal. Ia kembali lagi dengan dunia khayalannya yang tertuang dalam cerita fiksinya. Kali ini mengambil setting sebuah markas besar dengan karakter-karakternya adalah anggota satuan keamanan dengan pangkat yang disingkat-singkat, semacam Komsat, Komprop, dan sebagainya. Idenya diambil dari lagu dari band rock Scorpions berjudul Humanity. Dilengkapi dengan kasus tingkat tinggi, dibalut dengan tata bahasa yang juga tingkat tinggi, membuat beberapa peserta berkomentar, “Hmmm... Dani banget deh,” setelah ia menyelesaikan membaca ceritanya.


Rizal sang anggota baru mendapatkan giliran terakhir. Tulisannya adalah yang paling singkat di antara cerita yang lain, yaitu sebait tulisan berbahasa Inggris yang filosofis tentang kehidupan. “Saya nggak tahu kalau semuanya pada panjang-panjang,” katanya. Hmmm ... panjang apanya, ya? Ia pun memperkenalkan orkestra dari Jepang, Jalan-jalan, yang musiknya bernuansa Bali.

Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul 19.15. Kami baru saja menyelesaikan cerita terakhir dari Rizal, yang berarti waktu writers’ circle pun telah selesai. Durasi pertemuan kali ini adalah dua kali lipat daripada biasanya. Bagaimana tidak, karena setiap orang mendapatkan waktu dua kali lipat untuk mempresentasikan karyanya, untuk membacakan dan kemudian memutarkan lagu pilihannya. Untung saja tidak semuanya diwajibkan untuk menyanyikannya.

Sudah dulu ya, Diary. Besok aku harus bangun pagi, nih. By the way, aku menemukan gombalan baru, loh: “Kalau kau jadi musik, aku akan menjadi liriknya. Karena musik tak lengkap tanpa lirik!”

Bye, Diary!! ;)

*Kemudian diputarkan lagu ‘Dear Diary’ – Ratu.


Thya (beberapa memanggilnya Maknyes) adalah insinyur yang sudah sama sekali lupa mengenai ilmu tentang keinsinyurannya dan berjanji tak akan kembali ke bidang itu. Profesinya saat ini adalah penyiar di sebuah radio anak muda di Bandung. Hobi menulisnya dituangkan ke http://rahmathya.multiply.com dan khusus untuk cerpen-cerpennya ia tuangkan di http://ceriterathya.blogspot.com


Kamis, 11 Februari 2010

Jumpa Akrab Pembaca Buku: Menyalamatahari di Hari Minggu



Di dalam dunia literatur di Bandung, bahkan Indonesia, barangkali seorang Sundea memang memiliki tempatnya tersendiri. Mengutip pengantar Bambang Sugiharto pada buku pertamanya, Salamatahari, “Ketika orang gemar memasti-mastikan genre atawa kategori suatu karya, bahkan lantas merasa sangat kuasa menentukan kualitas dengan angka, buku ini mengaburkan semuanya. Tak jelas ini buku apa, kudu dinilai bagaimana dan mesti dibaca siapa.”

Sejak peluncuran Salamatahari pada tahun 2006, karya-karya Sundea terus menyedot perhatian pembacanya. Penulis yang sekilas mirip Feby Febiola ini telah menerbitkan sebuah buku cerita anak-anak berjudul Dunia Adin (2007), dan yang terbaru Salamatahari #2. Kemunculan bukunya yang terakhir ini semakin menarik karena tidak melalui jalur penerbitan mainstream, tetapi dengan sistem penerbitan independen.

Selain dari buku, buah pena Sundea juga mudah dinikmati dari berbagai media online. Ia pernah menulis untuk blog toko buku berbasis komunitas, Tobucil, sebelum akhirnya mengembangkan zine-zine-an online Salamatahari yang terbit setiap hari Kamis. Tulisan-tulisan Sundea, baik di buku maupun di blog, memiliki sebuah kesamaan: di dalamnya selalu ada kisah-kisah dari hal-hal kecil, yang kerap luput dari perhatian kita karena tertutupi perihal yang lebih ‘besar’. Kisah-kisah itu mengesankan penulis beranggapan bahwa kehidupan bukan miliknya sendiri, melainkan turut dimiliki oleh orang lain, sebagaimana juga oleh hal-hal lain yang menyertai ‘kehidupan’ manusia.

Berkaitan dengan itu semua, dalam suasana ulang tahun Reading Lights Bookshop and Coffee Corner, writer’s circle mengundang para penikmat karya Sundea untuk saling berjumpa dan, bersama Sundea, menyapa matahari. Dalam acara ini, para penyalamatahari (sebutan untuk orang yang membaca dan menyalami matahari) tidak hanya berkesempatan mengenal Sundea dengan lebih dekat, tetapi juga ikut berbagi kisah favorit, momen salamatahari, dan ikut menuliskan cuplikan kesehariannya melalui sudut pandang masing-masing.

Acara ini akan terselenggara pada:
Hari/tanggal: Minggu, 21 Februari 2010
Pukul: 12:00-15:00
Tempat: Reading Lights Bookshop and Coffee Corner
Jalan Siliwangi No. 16 Bandung

Sing It! Write It!

Menurut buku The Creative Writing Handbook yang ditulis oleh John Singleton dan Mary Lockhurst, kehadiran musik dapat sangat membantu penulis di dalam proses kreatifnya. Musik mampu membangkitkan emosi tertentu pada pendengarnya. Musik juga bisa membangkitkan lagi ingatan tentang masa-masa yang sudah dilupakan. Semua itu karena musik merangsang indra pendengaran.


Musik juga merupakan salah satu penanda zaman. Pernah ada masa di mana para remaja di Indonesia gandrung dengan Alphaville, Bon Jovi, atau Radiohead. Masing-masing mewakili era yang berbeda. Kerapkali kita alami saat sedang membaca novel, si penulis mendeskripsikan musik yang disukai oleh karakter-karakternya. Hal ini memberi dimensi baru dalam diri mereka, dan bisa jadi memudahkan pembaca teridentifikasi dengan jagoan-jagoan di novel itu.


Pada pertemuan writer’s circle minggu ini, masing-masing peserta akan menuliskan cerita berdasarkan lagu kesukaan, serta mungkin bersama-sama bersenandung kecil saat lagu tersebut diperdengarkan.


Jangan sampai terlupa untuk membawa soft copy lagu kesukaanmu!

Acara ini akan terselenggara pada:
Hari/tanggal: Sabtu, 13 Februari 2010
Pukul: 16.00 - 19.00
Tempat: Reading Lights Bookshop & Coffee Corner
Jalan Siliwangi 16 Bandung

Menulis Tentang Hari Tua

Hari itu, Sabtu, 6 Februari 2010, pertemuan writer’s circle diawali dengan kehadiran peserta yang amat minim, yakni tiga orang saja. Untungnya para peserta yang lain segera berdatangan sehingga suasana hari itu tidak lantas menyerupai threesome date yang aneh. Tema kami hari itu adalah “Menulis Tentang Hari Tua”. Tua di sini bisa diartikan sebagai “kondisi kita sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh mendatang,” kata Andika. Dengan wide latitude seperti itu, tulisan para peserta menjadi cukup bervariasi. Ditambah lagi, kali itu sang fasilitator tampak sedang bersemangat untuk menulis sehingga waktu yang ia berikan lebih panjang daripada biasanya.

Sebagai peserta yang memulai paling awal dan selesai paling akhir (dengan tidak menghitung Hakmer yang datang terlambat dan digosipkan telah meninggal karena TBC), Andika menulis tentang seorang laki-laki yang memiliki janji temu dengan seorang laki-laki lain, kemudian berbincang-bincang tentang kehidupan laki-laki lain tersebut sambil mengamati keadaan rumahnya. Dalam tulisannya, Andika banyak memuat deskripsi fisik yang rinci tentang keadaan rumah laki-laki itu sepert ‘nyaman dan bersih meskipun tidak bisa dibilang rapi’, ‘segar, terang, banyak kayu, ...’ sehingga tulisannya terasa sangat personal. Andika juga menyinggung permasalahan hubungan dan sedikit mengulas topik childless by choice. Di akhir tulisannya, Andika memberi kejutan bagi kami: ternyata sang ‘aku’ dalam tulisannya itu adalah laki-laki yang berbincang dengannya itu sendiri!

Dani mengaku bahwa ia dapat menebak alur cerita Dika sejak awal (bertentangan dengan Reggy yang menyatakan sebaliknya) sementara Mahel berkomentar bahwa tulisan Dika itu seperti mengunjungi diri sendiri di masa depan. Nia berkata bahwa ending cerita ini bagus dan saya jadi teringat salah satu fragmen dalam film New York, I love You di mana tokohnya bergerak maju mundur dalam batas-batas waktu yang blur. Oh ya, ini pertama kalinya saya menemukan adegan ciuman dalam tulisan Andika.

Mahel menulis tentang seorang tokoh bernama Sam yang mengingat kembali masa lalu dan menceritakan kehidupan keempat sahabatnya, mimpi-mimpi mereka, dan realita hidup yang kini mereka jalani. Profesi sahabat-sahabatnya ini bisa dibilang unik, mulai dari ahli self-healing, ibu rumah tangga yang menyambi copywriter dan penulis, backpacker, sampai bartender yang impian menjadi supermodelnya kandas di tengah jalan dan membuat Sam sedih. Di penghujung cerita, Mahel juga memberi kejutan: ternyata Sam menceritakan semua ini dari dalam peti matinya! Hiii!

Andika dan Sam. Oops, maksudnya Mahel :D


Seperti biasa, kali ini Mahel pun membubuhkan kata-kata bermakna dalam tulisannya, contohnya: “Menghadapi kematian itu tidak sulit ketika kamu mengetahui bahwa kamu sudah hidup secara penuh dan utuh”. Marty langsung berseru bahwa tulisan ini mengingatkannya pada salah satu episode Desperate Housewives sedangkan Dika “menuding” bahwa keempat orang yang diceritakan Mahel itu sebenarnya adalah alter-ego Mahel sendiri (mulai ketertarikan akan tarot, hukum, sampai impian menjadi supermodel—meskipun yang terakhir ini disangkal Mahel. Adalah Nia yang menunjukkan “fakta” bahwa Mahel selalu mencantumkan kutipan kata-kata mutiara dalam tulisan-tulisannya selama ini walaupun penempatan kata-kata mutiara adalah sesuatu yang menurut Mahel sudah coba ia hindarkan. But we love it, Mahel. Right guys?

Kali itu, saya menulis tentang seorang perempuan tua yang tengah duduk manis di sebuah halte bis sembari menanti kedatangan seseorang. Dari sudut pandang seorang perempuan yang telah menjalani banyak hal dalam hidup, kelakuan orang-orang muda di halte bis itu tampak sedikit menggelikan. Ketika orang yang ditunggunya (akhirnya) datang, mereka berdua menikmati sore sambil duduk bersebelahan dalam diam. Ya, memang sesederhana itu. Beberapa orang berkata bahwa tulisan saya “manis” sedangkan Reggy mengira saya menceritakan pertemuan kembali sepasang kekasih setelah berpuluh-puluh tahun terpisah, padahal saya bercerita tentang sekelumit kisah sepasang suami-istri di usia renta perkawinan mereka. Tampaknya, ungkapan only unfulfilled love is romantic itu ada benarnya juga ya ...

Ini menulis tentang masa tua lho, Gie, bukan masa tidur :P

Reggy bercerita tentang keadaan manusia di tahun 2037. Diceritakan tentang hujan yang penuh dengan polutan mampu melelehkan kulit dan merusakkan kendaraan, manusia dapat terlihat muda di sepanjang hidup mereka meskipun organ-organ mereka telah digantikan oleh mesin, para orang tua merasakan keterasingan yang lebih besar akibat terdapatnya kesenjangan di antara bagaimana mereka tampak di luar (forever young dan sebagainya) dan apa yang sebenarnya mereka rasakan di dalam yaitu mengalami banyak kesulitan akibat menua dan merindukan perhatian anak-anak mereka. Di usia 70 tahun, tokoh dalam tulisan Reggy tidak memiliki satu kerutan pun di wajahnya ...

“Wow! Pasti karena Ponds anti-ageing!”, celetuk Nia.

... meskipun jantungnya telah berganti dengan silikon dan kaki istrinya telah digantikan oleh mesin. Menurutnya, hal itu tidak menyenangkan karena anak-anak mereka menjadi tidak aware akan kesulitan-kesulitan yang sesungguhnya mereka hadapi. Kedua orang tua itu pun merasakan kesepian. Menurut Reggy, tulisannya ini terinspirasi oleh film Korea. Tulisannya ini kemudian memicu perbincangan tentang film-film sci-fi, mulai dari Bicentennial Man sampai Artifical Intelligence yang mampu memadukan unsur-unsur futuristik dengan aspek-aspek manusiawi yang menyentuh hati.

Senada dengan Reggy, Nia bercerita dalam setting kota di masa depan yang udaranya panas, dipenuhi pohon besi dan gedung pencakar langit, dihiasi mobil terbang, dan disesaki oleh robot-robot pekerja yang mengambil alih banyak pekerjaan manusia di sekitar tahun 2060. Sang ‘aku’ dalam tulisannya diceritakan tengah menikmati makan sup jagung yang sangat encer sehingga cepat dicerna dan “keluar lagi” bersama cucunya yang berkali-kali mencibir dirinya yang tidak akrab dengan berbagai teknologi maju di zaman itu. Sang Nenek sendiri mencibir balik cucunya dalam hati dan berargumen bahwa kemajuan zaman saat itu tidak mungkin tercapai tanpa kontribusinya di masa lalu yaitu ketika si nenek pernah menjadi aktivis perempuan dan pemimpin community development project.

Melalui deskripsi sang tokoh tentang lingkungannya, Nia juga menyinggung masalah robotisasi yang menghilangkan banyak pekerjaan manusia serta perubahan yang sangat cepat yang kemudian menimbulkan jurang antargenerasi. Yang paling fenomenal dalam tulisan Nia adalah bagian ketika ia bercerita dengan nada datar mengenai kesepiannya “... karena teman-teman saya sudah pada mati”. Cara Nia menceritakannya membuat kami semua tergelak dan menyinggungnya berkali-kali hingga akhir pertemuan.

Beberapa teman berkata bahwa tulisan Nia memberi kesan sedih, sedangkan Reggy memilih kata: depresif, sinis, dan realistis. Wow! Azisa juga berpendapat bahwa tulisan Nia realistis karena menceritakan penyesuaian seseorang dengan kondisi zaman yang berubah dengan cepat. Sementara itu, Andika bertanya mengapa tulisan Nia sering terkesan judes. Nia, yang mengaku sedang dalam mode menghasilkan tulisan yang pesimis dan terlalu subjektif, menyatakan bahwa ia sedang berusaha menghilangkan karakteristik yang Nia banget itu dalam tulisan-tulisannya, tapi belum berhasil. Hmmm ... sama seperti Mahel, why fix something that isn’t broken, Nia?

Marty bercerita tentang seorang perempuan tua bernama Lestari yang sedang mengenang anak lelaki satu-satunya yang meninggal ketika mengikuti salah satu aktivitas klub pecinta alam. Dengan tangannya yang telah berurat menua, ia memegangi foto anaknya tersebut dan mengenangnya dengan rasa sedih dan sesal karena sebenarnya ia telah melarang sang anak mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tersebut (pesan ibunda memang bertuah, ya?). Dika berkomentar bahwa Marty sering menulis tentang laki-laki pecinta alam, tapi Marty menyangkalnya.

Sementara itu, Azisa berkomentar bahwa tulisan Marty membuatnya sedih. Setelah itu, kami jadi berbincang tentang istilah-istilah berbias gender seperti ‘memerawani hutan’ atau ‘memperkosa lahan’, dan berlanjut kepada istilah-istilah aneh dalam bahasa Malaysia seperti wisma keringat untuk fitness center dan rumah sakit korban lelaki untuk RS bersalin. Sst, yang terakhir ini hoax!

Dani yang dandy yang sedang berdeklarasi

Dani, dengan setelannya yang dandy hari itu, bercerita tentang seorang laki-laki tua yang tengah mengendarai sebuah kendaraan yang ditarik kuda dengan seekor kucing di atas pangkuannya. Di tengah-tengah pembacaan novel, Dani berhasil membuat suara kucing yang sangat lucu! Selain itu yang paling mengagumkan dari tulisan Dani bukanlah alur ceritanya - yang tidak mungkin terlihat dalam tulisan sependek itu - melainkan setting-nya, sebuah perang saudara antara 'kaum bodoh' dan 'kaum tolol' di mana BBM sulit didapat, negara kacau, dan beberapa wilayah (termasuk Jakarta dan Semarang) terendam air akibat air laut naik. Jarang ada yang bisa menerapkan post-apocalyptic setting untuk cerita Indonesia dengan semeyakinkan ini. Menurut Reggy, tulisan ini ‘Dani banget’ terutama karena unsur-unsur perangnya. Beberapa menyarankan agar Dani membuatnya dalam bentuk novel.



Azisa bercerita tentang dirinya di masa tua yang tiba-tiba terantuk sebuah berita kematian temannya, Zaki, seorang laki-laki “tidak biasa” yang sudah lama tidak ia temui. Ia sangat terkejut mengetahui temannya itu meninggal. Setelah itu, berbagai “keistimewaan” temannya melintas di benaknya dan ia ceritakan dengan detil-detil yang menggelitik namun sangat mempesona. Lalu, pada tengah malam, ketika ia tengah meluapkan hasratnya dalam menggambar tanpa arah, “sesuatu” berupa makhluk hitam berbayang sinar hijau menyapanya dari belakang (terkekeh pula) dan tahulah Azisa bahwa Zaki telah mewariskan makhluk yang sebelumnya dipelihara oleh Zaki itu padanya.

What?! Menurut Azisa, memang ada salah satu temannya yang memiliki rumah di kaki Gunung Gede dan di belakang rumahnya itu memang ada “alam” lain. Ceritanya, Zaki menjaga sebuah pohon dan selalu diikuti oleh bermacam-macam makhluk seumur hidupnya. Reggy berpendapat bahwa tulisan Azisa berbau mistis sementara Mahel berkomentar bahwa karakter seperti penggambaran lingkungan, tokoh, pilihan kata dalam tulisan itu ‘Azisa banget’.

Apakah berarti Azisa mistis?

Lain lagi Andika, ia berpendapat bahwa ada metafora-metafora dalam tulisan itu yang dapat kita temui dalam kehidupan nyata sehari-hari serta makna lain dari ‘warisan’ Zaki. Sementara itu, saya tidak bisa tidak terkesima mendengarkan cerita dan pilihan kata Azisa yang magnifique serta humor-humor riang tapi depresifnya yang selalu ia sisipkan di antara nada-nada sedih dan suram. Bravo, ‘Zisa!

Hakmer - yang menjadi bulan-bulanan dalam pertemuan kali itu - mengaku bahwa tulisannya sangat jelek dan tanpa komposisi (merendah untuk meninggikan mutu). Seperti biasanya, tulisan Hakmer dinilai melankolis oleh teman-teman. Ia bercerita tentang seorang laki-laki yang di masa tuanya masih "bandel" enggan mengakui Tuhan, tidak mau menyerah, serta masih memiliki mimpi-mimpi. Salahkah bila seorang tua masih punya mimpi? Tulisan Hakmer dinilai selalu melankolis, tapi jauh dari kesan "jelek dan tanpa komposisi" seperti dikatakannya di awal. Ya, Hakmer yang tampak di-bully semua orang hari itu memang punya hobi merendah yang kronis. Ngomong-ngomong, apa bedanya gambaran Hakmer di masa tua dengan Hakmer saat ini ya?

Anggalia Putri adalah seseorang yang baru mengantongi gelar S.IP (Sarjana Ilmu Pelet) dan menggandrungi tulisan-tulisan yang personal dan tulus. Mengakui ketidakmampuannya dalam mengolah alur cerita, ia sekarang tengah berkonsentrasi pada pembuatan sketsa dan tulisan-tulisan berkarakter still dan tanpa arah.

Kamis, 04 Februari 2010

Movie Week: Bright Star (2009)

Pada pemutaran Bright Star kali ini, Mbak Danti adalah penonton pertama yang datang. Jam telah menunjukkan pukul empat lebih beberapa menit. Saya lantas memberitahukan kalau acara akan dimulai setengah jam lagi. Kemudian saya turun, dan mengelilingi Reading Lights, memeriksa kalau-kalau ada pengunjung langganan atau pengunjung baru yang juga tertarik menonton film ini.

Setelah beberapa saat berkeliling, rupanya saya tidak menemukan apa yang dicari. Minggu pemutaran film memang ekstrim dan sulit diprediksi: bisa sangat ramai, (Tokyo Sonata dan The Graduate) bisa juga sangat sepi (The Squid and The Whale). Saya pun kembali ke atas, dan mengatakan pada Mbak Danti bahwa minggu ini bisa saja sepi. “Tapi film ini nggak diputar di bioskop, kan?” tanyanya. “Nggak,” jawab saya.

Ketakutan akan ketiadaan penonton berangsur-angsur menghilang ketika Mas Aji datang, lalu diikuti dengan seorang pengunjung yang kebetulan datang ke Reading Lights dan tertarik untuk ikut menonton juga. Dani datang beberapa menit setelah film dimulai. Ina datang agak terlambat, sementara itu Marti datang hampir di paruh akhir film. Akhirnya saya pun terhanyut dalam gambar yang terproyeksi di layar.



Bright Star menceritakan tiga tahun terakhir dalam kehidupan singkat penyair Inggris era romantik, John Keats; terutama hubungan percintaan yang terjalin antaranya dengan seorang penjahit, Fanny Brawne. Film ini disutradarai Jane Campion, salah satu dari empat perempuan yang pernah masuk nominasi Academy Awards dalam kategori bergengsi Sutradara Terbaik lewat film The Piano (tiga yang lainnya adalah Lina Wertmüller, Sofia Coppola, dan yang paling baru Kathryn Bigelow).

Apabila hanya menyimak cuplikannya, cukup mudah mengambil kesimpulan bahwa Bright Star seperti period drama movie lainnya, sebut saja Sense and Sensibility, The Age of Innocence, atau Little Woman. Mendengar genre ini, mungkin yang terbayang adalah tetek bengek kostum, sekelumit pesan moral, serta kisah romantis yang berakhir tragis atau malah kelewat manis. Kalau didasarkan pada ciri-ciri tersebut, film ini memang merupakan period drama movie. Walaupun begitu, barangkali mengikuti cerita Bright Star tidaklah semudah mengikuti Sense and Sensibility, misalnya. Film ini memiliki alur yang pelan, acapkali John (Ben Whishaw) dan Fanny (Abbie Cornish) saling bercakap dengan menggunakan puisi. Tidak ada tragedi besar yang memancing atau menguras emosi, karena sejak awal penonton sudah tahu bahwa John Keats akan meninggal. Ini tentu berbeda dengan Sense and Sensibility yang jenaka, romantis, dan penuh emosi (terutama ketika Marianne yang diperankan Kate Winslet dalam kondisi kritis ketika terserang demam).

Mungkin perbedaan itulah yang membuat penonton Bright Star pada sore itu berguguran satu-satu. Penonton yang pertama kali meninggalkan ruang menonton adalah pengunjung yang kebetulan datang ke Reading Lights (saya bahkan belum sempat berkenalan dengannya). Beberapa saat kemudian Ina ikut pergi. Mas Aji berkali-kali menguap. Dua orang teman Dani datang, duduk sebentar, lantas pergi. Mbak Danti asyik dengan ponselnya, dan pergi sebelum film selesai. Ketika Bright Star berakhir, penonton hanya tinggal saya, Dani, dan Marti (Mas Aji salat Magrib menjelang ending!). “Bagaimana kesannya?” “Capek!” tukas Dani. “Tapi bagus, kan?” “Bagus, tapi capek. John Keats-nya mirip Hakmer.” Halah!


Sore hari itu, di forum writer’s circle, adalah kali ketiga saya menonton Bright Star. Pada setiap kesempatan saya selalu terhibur dengan Fanny Brawne, sang heroine yang berlidah tajam yang selalu stylish. Saya suka melihat Fanny membela diri ketika selera fashion-nya dihina oleh Mr. Brown (diperankan secara kocak oleh aktor Amerika Paul Schneider dengan aksen Skotlandia yang meyakinkan). Kemudian ketika Fanny tiba-tiba tertarik belajar puisi demi bisa dekat dengan John Keats. Saya suka keegoisan Fanny yang wajar, ketika ia seenaknya memotong pita baju adiknya untuk menghias keranjang makanan yang akan diantarkan pada adik John. Dan saya selalu suka ketika Fanny bertengkar dengan Mr. Brown dalam ‘memperebutkan’ John Keats.

Pemutaran film kemarin mungkin kurang sukses dari segi jumlah penonton. Namun itu tidak mengurangi kualitas film ini. Bagi orang-orang yang akrab dengan karya-karya John Keats, menyaksikan Bright Star mungkin akan memberikan persepsi baru tentang kehidupan penyair itu. Sementara itu bagi yang tidak, Bright Star bisa jadi membuat orang penasaran untuk membaca puisi-puisi dari era romantik.


Andika Budiman adalah fasilitator Reading Lights Writer's Circle dan penulis lepas untuk Rumah Buku/Kineruku Webzine