Jumat, 23 Maret 2012

Meneruskan Cerita dari Ronggeng Dukuh Paruk

Sabtu sore di Reading Lights, banyak juga orang yang datang untuk menulis. Selain saya, ada Dea, Nia, Farida, Indra, Sapta, Dani, Sabiq, Audrey, dan Almer. Beberapa dari mereka baru saya kenal, sementara yang lain sudah bertahun-tahun. Dan ketika sejumlah teman sudah lama tak saya jumpai, saya berjumpa dengan yang lain beberapa kali dalam seminggu. Kami semua menghadapi tantangan menulis yang sama: membuat cerita meneruskan sebuah paragraf.


Paragraf pembuka cerita kami dicuplik dari novel Ronggeng Dukuh Paruk yang sedang dibaca oleh Nia. Saya belum membaca buah pena Ahmad Tohari tersebut, tetapi saya ingat pernah membaca resensinya beberapa tahun silam saat novel yang mulanya terbit dalam tiga buku ini mulai diterbitkan dalam satu buku. Sampulnya oranye, si peresensi tak kehabisan kata-kata sanjungan. Tahun lalu rilis film Sang Penari yang terinspirasi dari cerita Dukuh Paruk. Saya sempat menonton lalu pulang dengan perasaan kagum dan senang. Ronggeng Dukuh Paruk yang dibawa Nia pada hari itu adalah edisi terbaru, yang mana sampulnya bergambar aktor dan aktris dari film Sang Penari. Tanpa berpanjang-panjang lagi, beginilah paragraf yang mengawali cerita kami:

Salah satu gubuk yang tersisa ketika terjadi kebakaran besar di Dukuh Paruk terletak hampir terkurung rumpun bambu. Isinya seorang nenek yang kini tak pernah lagi membuka matanya. Dia hanya bergerak bila ada yang mengangkat tubuhnya agar segala kotoran di bawahnya dapat disingkirkan. Sudah lima hari nenek Rasus tidak makan atau minum apa pun. Orang-orang Dukuh Paruk bergantian menjaga nenek yang dipercaya sudah hampir ajal itu. 

Setelah Nia membacakannya beberapa kali, segera kami berkutat dengan bolpen dan kertas masing-masing. Dea selesai ketika tangan kebanyakan dari kami masih sibuk mencari titik terakhir. Gagal memikat Dani jadi teman bicaranya, Dea pun membalik kertas dan mulai menggambar. Tak seberapa lama, ponsel Nia berdering. Waktu menulis sudah habis. Sekali lagi Dea jadi yang pertama membacakan tulisannya yang singkat tetapi menyentil:

Padahal maksud pembakaran gubug itu adalah “membakar semangat”. Tapi mungkin segala sesuatu yang tidak diperhitungkan kadarnya akan membawa dampak yang berbeda, bahkan bisa jadi sebaliknya. Karena terlalu lama dan dengan api yang terlalu besar, upaya “bakar semangat” pada gubug menimbulkan kegosongan. Akibatnya semangat yang harusnya membara dan menghidupkan malah mendekatkan Nenek Raus pada kematian. Ia jadi tak lagi punya cukup semangat untuk bergerak atau membuka mata sekalipun.

Sambil menjaga nenek, Rasus menangis tersedu-sedu menyesali tindakannya yang kurang berhitung. “Neneeek ... ketika membakar gubug ini aku hanya ingin membakar semangatmu. Aku ingin engkau sehebat Titik Puspa atau Laila Sari … “

Gambar di balik kertas Dea, gambar Rasus?


 Disentil Dea, yang lain tak mau kalah ingin cepat-cepat membaca. Dani pun membacakan ceritanya dengan suara sedih. Tulisan Dani merupakan monolog dari sudut pandang sekumpulan penduduk yang memandang penuh sesal ke arah kampung mereka yang telah dilalap api. Sebelum membaca, Dani menyatakan bahwa ceritanya bernada galau. Namun pada akhirnya hanya saya yang berpikir demikian. “Tapi terlepas dari galau/nggak galau gue tetap suka tulisan lu,” komentar Dea.

Sapta menawarkan diri membaca selanjutnya. Dikisahkah Abbas adalah seorang pemuda yang mendapat giliran menjaga nenek Rasus karena kebetulan sedang menganggur. Begitu Abbas menjejakkan kaki di dalam gubuk nenek, kata yang tiada henti didengarnya adalah “Haus … haus … haus ….” Mulanya Abbas merawat nenek Rasus dengan perhatian. Pemuda itu bercerita kepada nenek tentang perempuan yang akan ia nikahi. Nenek Rasus pun melihat Abbas tidak seperti melihat warga lain yang menjaganya. Akan tetapi, ketika datang seorang warga desa yang memberitahu Abbas bahwa gilirannya menjaga nenek diperpanjang, Abbas mengabaikan kata “Haus … haus … haus ….” Ketika kata-kata itu tidak lagi terdengar, Abbas memukul kentongan mengabarkan warga desa bahwa nenek sudah meninggal. Ia lantas bersiap menikahi perempuan idamannya.

“Ceritanya lengkap,” puji Indra. “Ada karakter, plot, dan ending.” Saya menyetujui. Farida menyukai cerita ini karena plotnya digerakkan tindakan karakter. Namun Audrey tidak suka karena menganggap logikanya tidak masuk. Dalam paragraf pengawal cerita, digambarkan sebagian besar rumah di Dukuh Paruh sudah rata dengan tanah. Ia membayangkan lingkungan di sekitar desa itu sudah dalam keadaan nol, di mana tidak ada kehidupan sehari-hari seperti pernikahan atau pekerjaan. Tanpa ada lapangan kerja, Audrey percaya yang menganggur seharusnya bukan hanya Abbas. Kritik Audrey ini menarik, karena justru menunjukkan perbedaan interpretasi masing-masing peserta terhadap paragraf paragraf pembuka cerita.

Perbedaan ini bisa dilihat ketika membandingkan cerita Nia dengan cerita Almer. Ketika mendengarkan Nia membacakan tulisannya, saya menangkap bahwa ia terpengaruh latar cerita yang sudah dibacanya. Dalam cerita yang berfokus pada nenek ini, Nia tidak lagi detil menggambarkan Dukuh Paruk, ia hanya menulis, “Rasus pergi meninggalkan kebobrokan Dukuh Paruk.” Sapta pun merasa terkhianati karena sebelumnya tak tahu bahwa Rasus bukanlah nama nenek, melainkan nama cucunya. Sebaliknya pembacaan Almer mengejutkan semua orang karena nenek Rasus dalam ceritanya digambarkan segar bugar. Nenek Rasus tidak mau dirawat warga bahkan mengajak berdebat seorang warga yang apes mendapat giliran. Almer menulis serta membacakan perdebatan ini dengan baik. Di satu sisi perdebatan antara Nenek Rasus dengan protagonis Almer terasa absur karena tidak mungkin terjadi di Dukuh Paruk. (“Gua rasa terjadinya mungkin di Jerman,” ujar Dani. “Soalnya logika-logika neneknya, mirip logika Heidegger.” “Hai, seger,” sahut Dea.) Namun di sisi lain, ini termasuk momen menyenangkan  writer's circe: ketika sebuah tantangan menulis memunculkan sebuah tulisan yang lain dari tulisan peserta lainnya. Meskipun - secara halus - Indra mengatakan bahwa pesan-pesan dalam dialog Almer dapat juga disampaikan dengan tak begitu tersurat, tulisan Almer menjadi personal favorite saya pada sore itu.

Berikutnya saya ingin membandingkan cerita Sabiq dengan Audrey. Masing-masing menunjukkan potensi, walaupun sore itu keduanya kurang luwes menggulirkan cerita. Sabiq mengaku sebelum sesi menulis ia memiliki ide menulis tentang badut. Walhasil, Sabiq menulis tentang seorang warga Dukuh Paruk yang menjadi badut setelah mendapat saran dari nenek Rasus. Sebetulnya cerita Sabiq cukup masuk akal, tetapi kurang ada greget atau penggambaran yang logis bagaimana itu bisa terjadi. Tulisannya pendek, kalimatnya banyak bersifat narasi, ketika selesai di benak saya muncul pertanyaan, “Lho, sudah beres lagi?” Begitupun dengan cerita Audrey yang berawal dari ide yang rumit. Audrey menulis tentang pertentangan warga dalam memaknai tradisi Ronggeng Dukuh Paruk. Banyak jeritan dalam dialog Audrey. Padahal dialog menjerit (jeritan yang bersahut-sahutan) cukup sulit dilakukan di writer's circle. Selain karena kita membacakan tulisannya sendiri, dialog menjerit perlu didahului latar belakang cerita untuk menjelaskan mengapa dialog itu diperlukan.  Biasanya penggambaran latar belakang yang jelas sulit dilakukan dalam setengah jam sesi menulis. Padahal tanpa itu, dialog semacam ini jadi kehilangan maknanya. Audrey mengaku ceritanya terpengaruh resensi Ronggeng Dukuh Paruk yang dibacanya di majalah Tempo beberapa waktu silam.

Apabila dalam menulis perhatian kebanyakan dari kami tertuju pada nenek Rasus, Rasus, atau warga yang mendapat giliran menjaga nenek Rasus, perhatian Indra tertuju pada kebakaran yang terjadi di Dukuh Paruk. Alih-alih dialog, cerita Indra banyak menggunakan kalimat berita. Ceritanya jadi seperti wacana. Alasan Indra adalah ketika sesi menulis dimulai ia sempat menanyakan di mana letak Dukuh Paruk. (“Jawa,” jawab entah Nia atau Dea.) Rupanya Indra merasa tidak percaya diri bisa menulis dialog berbahasa Jawa. Padahal dalam novelnya dialog sebagian besar justru menggunakan bahasa Indonesia dengan sedikit selipan bahasa Jawa. Seperti komentar Dani, Indra benyak berfilosofi. Begini ceritanya berakhir: Adalah bohong bila kebakaran tersebut mengangkat seluruh warga Dukuh Paruk hingga bangkit dari kenestapaan. Namun, paling tidak, ia membantu membuat warga Dukuh Paruk menyadari bahwa hidup memang penuh derita dan tidak ada yang pantas dilakukan dalam hidup kecuali disertai dengan pembongkaran, penghapusan, pembangunan kembali, pengkajian ulang, penyusunan, pembangunan ulang, pengerjaan ulang, pembentukan kembali, dan segala macam bentuk upaya manusia lainnya yang tak pernah usai dan tak pernah sempurna.

Tulisan Indra

Pembacaan Farida membuat kami sulit berkata-kata. Dalam paragraf pengawal cerita dideskripsikan bahwa Nenek Rasus tidak pernah lagi membuka matanya. Setelah delapan orang dengan karya masing-masing, Farida mengangkat bagian yang belum disentuh yang lain: mimpi-mimpi nenek Rasus. Tulisan Farida campur aduk antara masa muda nenek, pengalaman menyenangkan,  ingatan buruk, kondisi saat ini. Semua yang ada dalam kepala nenek tertuang lewat pilihan kata yang apik. Ketika banyak di antara kami yang mengakhiri cerita dengan kematian atau kepergian nenek Rasus, Farida justru membiarkan beliau dalam keadaan bermimpi. Satu jempol dari saya untuk Farida.

Sebagaimana tulisan Farida, tulisan saya juga membuat orang sulit berkata-kata. Saya curiga bukan karena hasilnya sebagus Farida, melainkan karena memang kata-katanya sudah habis saja. Saya adalah pembaca cerita kesepuluh. Dan tema ceritanya pun menurut saya biasa. Kalaupun ada yang terkesan, maka itu adalah saya sendiri. Kesan saya bukan pada tulisan saya, melainkan pada latihan menulis ini. Sudah lama saya tidak menulis cerita pendek, dan kali ini saya menulis agak panjang. Almer bilang bisa membayangkan apa yang saya deskripsikan. Ini membuat saya senang, karena ketika awal-awal ikut writer's circle kemampuan deskripsi saya bukan sesuatu yang jadi bahan omongan.

Saya lupa kapan terakhir menulis jurnal RLWC. Eh, tunggu dulu. Sekarang saya ingat. Kalau tidak salah waktu itu tema latihannya adalah bercerita tentang akhir suatu masa. (Paling tidak begitulah rencananya, pada akhirnya semua peserta menulis tentang cinta.) Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya mesti menyampaikan betapa senangnya saya mendapat giliran mengisi lagi jurnal ini. Awalnya saya ragu, tetapi rupanya mendengarkan cerita teman-teman kemudian menceritakannya lagi adalah suatu kesenangan. Saya harap semua orang datang lagi minggu depan.



Andika Budiman adalah mahasiswa HI Unpar ini suka sekali dengan kegiatan menulis, terlepas dari bentuknya, apakah cerpen, essay ataupun artikel. Dengan selera musik dan karya yang cukup non-mainstream, kritik serta saran-sarannya sangat berguna dalam diskusi setiap minggu. Saat ini ia sedang berusaha tetap hidup.

3 komentar:

Sundea mengatakan...

Andika, itu teh gambar "Kenari Fried Chicken". Kan dulu lambang KFC mirip2 gitu. Ga ada hubungannya sih sama tema hari itu =p

Andika mengatakan...

Bah! Hahahaha..

Zia mengatakan...

Kangen sama writers' circle... Salut sama temen2 yang masih pada eksis... #KeepWriting :)