Rabu, 16 Maret 2011

Jahatkah Diriku Karena Menulis Dirimu?

Sabtu, 26 Februari 2011. Kali ini pertemuan Reading Lights Writers' Circle mengangkat tema "villain" alias tokoh jahat. Bagi saya, tema ini sama sekali tidak asing karena tokoh utama dalam banyak (atau sebagian besar?) cerita yang saya tulis di luar RLWC cenderung memiliki perilaku dan acuan moral yang cenderung lebih sesuai dengan tokoh penjahat atau antagonis daripada pahlawan/protagonis pada umumnya, jadi tema ini tidak terasa kontroversial seperti yang diniatkan Mahel saat mengangkatnya menjadi topik penulisan minggu ini. Walaupun begitu, hasil-hasil penulisan minggu terasa cukup menarik karena perbedaan yang muncul dalam penafsiran setiap penulis tentang arti gagasan "tokoh jahat" itu sendiri.


Cerita pertama yang dibacakan adalah tulisan saya sendiri. Tentu saja kebanyakan pembaca di sini masih ingat cerita-cerita tentang detektif SMA seperti Conan (Kudou Shinichi) atau Kindaichi, bukan? Nah, di sini saya mencoba untuk "menjahili" gagasan dasar cerita-cerita seperti itu dengan mengisahkan pertemuan pertama seorang detektif SMA dengan lawannya, seorang pembunuh berantai yang juga masih duduk di bangku SMA--dari sudut pandang si pembunuh. Sayangnya cerita saya ini masih agak kaku karena saya belum sempat benar-benar mengembangkan kepribadian kedua tokoh utamanya.

Berikutnya, tulisan Nia menceritakan seorang pria bernama Musa Idris dan kebenciannya atas ketidakjujuran yang dilihatnya dalam perilaku para anggota organisai BAQI (Belajar Al Qur'an Intensif) di kampusnya. Kebencian ini mendorongnya untuk mengadu domba kaum Muslim dengan pemerintah beberapa tahun kemudian saat ia telah memiliki pengaruh yang cukup besar di lingkaran politik.

Saat gilirannya tiba, Sapta menjelaskan bahwa kesan yang didapatnya tentang definisi "villain" cenderung mengarah kepada tokoh penjahat super atau berkostum, jadi ia merasa agak aneh saat melihat bahwa para "penjahat" yang muncul dalam cerita-cerita sebelumnya pada dasarnya hanyalah orang biasa. Ceritanya sendiri mengangkat seorang setan yang bertubuh biru; pada awalnya ia berwarna merah, tetapi ia "dibirukan" dan dibuang ke dunia manusia karena kesalahannya menjawab pertanyaan ibu tiri Puteri Salju tentang siapakah wanita tercantik di dunia. Ada beberapa gagasan yang menarik dalam cerita ini, di antaranya tentang perusahaan atau agensi yang menjadi wadah bagi pekerjaan para setan, tetapi sayangnya awal cerita terasa agak lambat karena terlalu banyak berkutat di seputar latar belakang si setan dan perusahaannya ini.

David--seorang anggota "lama tetapi baru"--menceritakan seorang panglima yang dihasut untuk mengkhianati dan membunuh rajanya; ternyata panglima ini menerima saran tersebut dengan begitu mudah karena ia telah berpengalaman membunuh ayahnya sendiri beberapa tahun sebelumnya. Beberapa anggota lain merasa bahwa cerita ini pada awalnya tidak begitu mudah diikuti karena banyaknya paparan tentang tokoh dan latar yang dibawakan di dalamnya, tetapi saya tidak menemukan kesulitan seperti ini karena saya sudah cukup terbiasa membaca (dan menulis) cerita fantasi.

Ada satu (lagi) anggota baru, Ega, yang menulis tentang seorang calon walikota yang berbohong tentang orientasi seksualnya, tetapi setelah ia terpilih iapun mengaku bahwa ia seorang gay. Kebanyakan anggota yang datang dan ikut berkomentar saat itu (termasuk saya) tidak melihat sisi "jahat" dalam tokoh politisi ini: apakah ia lantas menjadi jahat karena ia mengucapkan sebuah kebohongan di muka umum?

Cerita terakhir dari Neni berkisah tentang seorang gadis yang melihat ibunya bunuh diri karena tak tahan dengan perilaku si ayah yang senang menyiksa keluarganya sendiri baik secara verbal maupon fisik; di bawah bayang-bayang pengalaman traumatis ini, si gadis kemudian membunuh ayahnya beberapa jam kemudian dan lalu mencoba bunuh diri juga saat ia dijebloskan ke dalam tahanan. Di sini sempat terjadi satu kekeliruan kecil yang menjadi bahan lelucon: Neni menulis bahwa si gadis "berlari-lari memanggil nama ibunya." David mengangkat hal ini dalam diskusi, lalu ditimpali dengan kesimpulan (setengah bercanda) bahwa sang ibu mungkin bunuh diri karena stres akibat mendengar anaknya sendiri memanggilnya dengan nama (bukan "Ibu" atau "Mama" seperti biasanya).


Perbedaan penafsiran yang begitu besar tentang makna "tokoh jahat" dalam cerita-cerita tersebut membuat Sapta penasaran karena sebagian besar tafsiran yang muncul tidak sesuai dengan kesan pertamanya, sehingga ia mengharapkan diskusi lebih lanjut tentang masalah ini baik dalam pertemuan RLWC berikutnya maupun di dunia maya.





Pradana Pandu Mahardhika

4 komentar:

Andy A.Fairussalam mengatakan...

Assalamu'alaikum.. ^_^
buat yang doyan corat-coret di blog gabung di grup BLOOFERS (Blog Of Friendship)

buka link ini :
http://www.facebook.com/home.php?sk=group_120411931351779

Sundea mengatakan...

Hmmm ... jahat baik jadinya relatif, ya?

Nia Janiar mengatakan...

Atau mungkin definisi villain-nya yang kurang jelas?

Pradana P. M. mengatakan...

Alah. Penulisnya aja yang (kebanyakan) pada kurang jahat.