Selasa, 30 Maret 2010

Sehari Bersama Bintang


Tema pertemuan Reading Lights Writers' Circle (RLWC) tanggal 20 Maret 2010 adalah "Sehari Bersama Bintang." Pada dasarnya kami harus menulis tentang suatu pertemuan atau suatu hari yang dihabiskan bersama dengan seorang tokoh terkenal, baik bintang ataupun pahlawan atau idola pribadi atau tokoh fiksi atau siapapun itu. Dengan lingkup petunjuk yang begitu luas, sudah pasti pilihan tokoh dan jenis tulisan yang diambil para peserta pertemuan kali ini sangatlah beragam.


Peserta yang mendapat giliran pertama untuk membacakan karyanya adalah Sapta, yang baru mengikuti pertemuan RLWC untuk kesekian kalinya. Ceritanya dibawakan dari sudut pandang seorang tokoh bernama Susilawan; tokoh ini memiliki seorang adik bernama Susilawati yang tergila-gila dengan tetangga mereka yang kebetulan seorang artis, walaupun tetangga ini ternyata masih tetap kampungan (sebagaimana ditekankan dengan penggunaan "kandang sapi" sebagai simile untuk kebiasaan kumpul kebo yang dijalankan si tetangga ini). Suatu hari, tetangga ini menemukan rumahnya telah didobrak dengan paksa, dan ia dengan begitu melodramatis memanggil polisi sekalipun ia sama sekali belum memeriksa keadaan rumahnya sendiri lebih jauh. Setelah polisi datang menyelidik, ternyata mereka menemukan Susilawati yang sedang mencoba-coba pakaian dari lemari tetangga. Cerita ini tak urung mengundang gelak tawa dari seluruh peserta yang hadir karena isinya yang begitu absurd.

Setelah itu Rizal membacakan cerita dengan kesan yang begitu berbeda. Dalam cerita ini, tokoh narator yang sedang menjalani terapi hipnosis bertemu dengan filsuf Friedrich Nietzsche dan terbawa ke dalam suatu diskusi tentang keberadaan mereka sebagai Zarathustra dan manusia paripurna, kematian Tuhan, serta munculnya Tuhan-Tuhan yang baru dalam pemahaman manusia modern. Sangat gelap dan eksistensialis, tetapi mengalir dengan baik (tidak seperti kebanyakan cerita eksistensialis yang pernah saya baca!)

Sekali lagi suasana pembacaan dibalik saat Uli membawakan cerita tentang dirinya yang menyatroni Yudhistira (salah satu dari lima bersaudara Pandawa) yang sedang bertapa di tengah hutan. Uli pada awalnya menegur Yudhistira tentang kebiasaan-kebiasaan buruknya--terutama berjudi--tetapi menjelang akhir cerita justru Yudhistira yang berbagi kebijaksanaannya dengan Uli melalui petuah "Biarlah aku membuat semua kesalahan itu agar kalian dapat belajar darinya." Cerita ini indah dan membawa filsafat yang dalam tetapi juga memiliki saat-saat lucu, seperti saat Yudhistira menanyai Uli tentang judi togel yang baru saja dibicarakannya sebagai contoh kerusakan moral yang ditimbulkan perjudian di masa kini.

Regie juga menjadi narator dari ceritanya sendiri; dalam cerita ini ia bertemu seorang wanita asing yang sedang membaca buku di Reading Lights (promosi, promosi!) dan, setelah berkenalan, menjadi begitu akrab sehingga wanita itu mendaulat Regie menjadi pemandunya selama suatu kunjungan sehari penuh berkeliling Bandung. Saat mereka berpisah, wanita itu memberi Regie kartu namanya, tetapi Regie langsung memasukkan kartu nama itu ke dompetnya--dan baru saat Regie membuka dompetnya di rumahlah ia sadar bahwa wanita yang ditemuinya itu ternyata Gong Li!

Berikutnya, cerita Andika menjabarkan kenangan-kenangan masa lalu si narator sebagai anak seorang pemilik kedai teh yang sering dikunjungi Lima Sekawan dari cerita-cerita karya Enid Blyton. Dengan cara ini Andika seolah-olah menempatkan si narator sebagai anak keenam yang memberikan berbagai pandangan baru tentang sifat dan kebiasaan masing-masing anak dalam Lima Sekawan tersebut. Cerita ini mendapatkan tanggapan yang baik terutama dari peserta-peserta lain yang juga menggemari cerita-cerita Lima Sekawan semasa kecil, di antaranya Anggi dan Pam (seorang peserta baru).

Saya sendiri bercerita tentang seorang penjelajah alam yang menemukan seorang pemuda dalam keadaan hampir mati karena kelaparan dan kelelahan. Setelah ditilik lebih lanjut, ternyata pemuda itu adalah Soeprijadi--pemimpin pemberontakan PETA pada masa penjajahan Jepang--yang hilang dari masanya sendiri karena ia terlempar maju lebih dari enam puluh tahun. Cerita selengkapnya dapat dibaca di sini.

Dalam cerita Anggi, ia hampir jatuh saat mencari angin di tepi atap sebuah bangunan tinggi tetapi akhirnya diselamatkan oleh Gary Hobson, tokoh utama serial TV Early Edition; seperti biasa, Gary dibebani tanggung jawab untuk memegang koran esok hari (yang diantarkan oleh seekor kucing) dan menyelamatkan orang-orang yang dimuat dalam berita naas di koran tersebut, termasuk tokoh narator Anggi. Walupun begitu, pada akhir cerita Anggi membalik keadaan dengan kalimat "Saat aku melihat ke dalam mata [Gary], aku tahu ada orang yang harus diselamatkan hari ini, dan orang itu bukanlah aku."

Azisa menceritakan seorang gadis yang diundang ke sebuah pesta bertema "Heroes & Villains" di Gotham City. Gadis ini awalnya merasa minder saat membandingkan kostum sederhananya dengan berbagai macam kostum penjahat dan pahlawan yang dikenakan oleh para undangan kaya di pesta tersebut. Kemudian ia menemukan seorang pria misterius berkostum Batman dan, karena begitu gemarnya dengan Batman, ia mengajak pria itu berbicara tentang perbedaan Batman dari pahlawan-pahlawan lain (walaupun sebenarnya hanya si gadis yang berbicara dan si pria hanya mendengarkan). Akhirnya, saat pria itu memperingatkannya untuk pulang karena ada bahaya yang mengintai di pesta itu, barulah si gadis sadar bahwa pria tadi bukan hanya berkostum Batman--ia benar-benar Batman. Ada dua hal yang membuat cerita ini menarik; pertama, beberapa pendengar (di antaranya saya sendiri) sudah dapat menebak bahwa Batman di pesta adalah Batman yang asli jauh sebelum tokoh si gadis narator mengetahui hal ini, dan kedua cerita ditutup oleh Oracle (salah seorang asisten Batman) yang menggoda Batman dengan perkataan "Wah, ada yang punya penggemar . . . ."

Terakhir, Pam(ela)--teman Sapta yang baru kali ini datang di pertemuan RLWC--bercerita tentang pertemuannya dengan Mitch Albom, seorang penulis inspirasional. Bagian paling menarik dari cerita ini mungkin adalah kesalahpahaman yang muncul di telinga beberapa pendengar sebelum mereka menyadari identitas pengarang ini, karena ia hanya dipanggil "Mitch" sepanjang cerita; Azisa awalnya mengira bahwa "Mitch" adalah tokoh utama yang dulu diperankan David Hasselhoff dalam serial Baywatch, tak kurang karena nama Pam sendiri yang sedikit-banyak membawa asosiasi dengan Pamela Anderson (salah satu pemeran lain dalam Baywatch).


Setelah dipikir-pikir, mungkin juga keragaman yang muncul dalam karya peserta RLWC kali ini ada kaitannya dengan jumlah peserta yang lebih banyak dari biasanya. Semoga RLWC bisa terus seramai ini!



Pradana Pandu Mahardika memiliki prinsip 'Kalau tidak ada acara, saya akan selalu datang ke Reading Lights Writer's Circle'. Laki-laki yang pernah berkata bahwa ia tidak menyukai pergi dengan para anggota suatu group lalu membicarakan hal di luar konteks group (misalnya hal-hal personal) ini memiliki kompulsi membeli buku fiksi dan non fiksi. Sudah bisa ditebak kalau ia memiliki koleksi buku banyak sekali.

Tidak ada komentar: