Selasa, 10 Mei 2011

Setia: Setiap Tikungan Ada

Entah apa konspirasi semesta di hari Sabtu (07/05), yang pasti tema yang terpilih adalah “setia” yang diusung oleh Agnes (biasa dikenal Agee). Yek. Saya harus nulis apa tentang setia?

Agee meminta kami berpuisi tentang setia. Namun puisi ditolak mentah-mental oleh Rizal dan saya dengan argumen bahwa setia adalah tema yang sempit untuk dijadikan puisi. Agee tetap bersikukuh. Saya mencoba mencari jalan tengah bagaimana jika menulis cerpen tapi di dalamnya ada puisi. Akhirnya, dengan putus asa, Agee memutuskan, “Bebas saja deh mau nulis apa.” Bebas di sini maksudnya terserah mau menulis puisi, cerpen, opini, dan lainnya.

Hmmm … agak paradoks. Setia itu bukan masalah bebas. Karena bukankah setia itu justru salah satu bentuk keterikatan terhadap sesuatu?

Aji, yang biasa menulis humor sosial, menulis opini tentang keraguan dari makna setia di zaman sekarang yang bisa ditukar dengan apa saja. Setia bisa dibeli uang. Setia bisa hancur karena kekuasaan. Dalam imajinasi saya, kritisisme Aji terhadap setia seperti Nietzsche yang mengumandangkan konsep nihilistik. Setia itu tidak ada!

Batik adalah lambang pernikahan. Pernikahan adalah lambang kesetiaan. Mungkin.

Rizal menulis kisah horror tentang hantu yang setia menunggu kekasihnya hingga kekasihnya menikah dan meninggal sekalipun. Saya terjebak dengan “seolah-olah” linier dalam cerita Rizal yaitu hanya sepasang kekasih yang sayangnya tidak ditakdirkan bersama, ternyata ada twist di belakangnya yaitu salah satu dari mereka adalah si hantu yang setia menunggu.

Karena tidak mau terjebak dalam romantisme, saya memilih tema setia yang lebih luas yaitu tentang seseorang yang setia dengan komitmen penggunaan kerudung. Saya menuliskan seorang perempuan yang rela melepas kerudung karena mau pergi Jerman. Di sana saya melakukan kesalahan bahwa Jerman sebagai negara yang melarang penggunaan kerudung padahal yang benar adalah pelarangan mengenakan burqa.

Agee, dengan gaya bahasa yang sungguh menggelikan yang biasa ditemui di surat-surat cinta, bercerita tentang seorang perempuan bernama Nia yang terlalu setia sehingga membunuh mantan pasangannya yang bernama Ranu Pane karena tidak rela menikah dengan orang lain di hari mantannya itu menikah. Oh, …

Setelah itu, Ryan, yang datang terlambat namun selesai juga, menulis tentang seorang ayah yang setia pada negara, ibu yang setia dengan ayah, dan anak yang setia dengan Hitler. Menurut saya kalimat “Hail Hitler!” sebagai ending cukup konklusif yang bisa menggambarkan secara keseluruhan secara efektif.

Ada Neni yang datang tapi dia tidak menulis. Dengan setia ia mendengarkan teman-teman membacakan karyanya.

Dani setia pada kedua kakinya

Dari keseluruhan, saya paling ingat dengan tulisan Dani. Ia menuliskan kisah tentang robot pengantar susu yang melakukan rutinitas tertentu. Sebetulnya Dani menceritakan issue perbedaan tipis antara setia dengan tidak punya pilihan.

Jadi pikirkan sekali lagi jika kamu merasa cukup setia dengan apa yang kamu yakini sekarang. Apa itu karena patut dijadikan acuan atau karena benar-benar tidak punya pilihan?



Nia Janiar. Menyukai tulisan dan sedang berlatih untuk menulis fiksi maupun non fiksi dengan genre travel writing yang merupakan gabungan antara travel, jurnalisme, sastra, observasi, dan refleksi. Kunjungi blognya di http://mynameisnia.blogspot.com/

1 komentar:

Sundea mengatakan...

Ya ampun ... gue lupa kalo sebulan yg lalu seharusnya gue nulis jurnal ... maaf, ya, Teman-teman ... kapan2, ya, digantinya ...

Btw, gue ketawa baca bagian ini:

"Ada Neni yang datang tapi dia tidak menulis. Dengan setia ia mendengarkan teman-teman membacakan karyanya."

Neni bagian eksekusi kesetiaan =D