Rabu, 08 September 2010

Keragaman Hari Raya Keagamaan


Di penghujung bulan Ramadhan, agenda terakhir writer’s circle adalah menulis dengan tema ‘hari raya keagamaan’ dalam rangka untuk menghayati keberadaan hari besar yang beberapa hari lagi akan dilalui umat Islam. Mungkin. Setidaknya itu menurut saya, tapi entahlah tujuan pemilihan tema itu menurut Rizal—fasiliator writer’s circle pada pertemuan Sabtu kemarin.

Keberagaman agama di antara kami menghasilkan keberagaman hari raya yang ditulis. Namun, antara sayangnya dan entah kenapa, ada pemaknaan negatif terdapat pada mayoritas hasil tulisan peserta. Misalnya ada yang menulis pengorbanan domba di Idul Adha sebagai pembantaian, hari Idul Fitri yang penuh formalitas dan basa basi, seorang designer atheis bernama Clair mati bunuh diri di hari raya suci Clarism, juga seorang laki-laki yang tidak bisa bersalam-salaman dengan tangan-tangan orang yang sudah dibunuhnya untuk meminta maaf.

Jika persepsi negatif muncul secara masif, ada apakah ini?

Namun dibalik kenegatifan para peserta, terselip cerita manis yang ditulis oleh Uli. Ia menuliskan tentang dua suami istri yang berbeda agama. Si istri sempat merasa menyesal menikahi orang yang berbeda agama karena pasangannya hanya menganggap dingin hari rayanya dan ia harus shalat Idul Fitri sendirian. Ternyata saat pulang, pasangannya memasakkan opor untuknya—walaupun dengan bumbu instan.

Ah, manis sekali.

Sekalian ada pemberitahuan bahwa writer’s circle akan diadakan lagi hari Sabtu tanggal 18 September 2010 pukul 16.30. Saya, mewakili seluruh peserta Reading Lights Writer’s Circle, mengucapkan Selamat Idul Fitri bagi yang merayakannya. Mungkin tulisan Ayu Utami dalam buku Manjali dan Cakrabirawa cocok untuk saat ini. Kira-kira isinya begini:

Manusia tidak mengampuni. Mereka hanya bisa berdamai dengan sisi gelap manusia.




Nia Janiar. Sarjana psikologi yang bekerja sebagai pengajar anak berkebutuhan khusus. Selain itu, ia adalah kontributor untuk webzine Ruang Psikologi. Untuk melihat tulisan-tulisannya, silahkan berkunjung ke: www.mynameisnia.blogspot.com

2 komentar:

Sundea mengatakan...

Endingnya nendang banget, Ni, "manusia tidak mengampuni. Dia hanya bisa berdamai dengan sisi gelap manusia".

Bukannya #ikcol, ya, ini kok bersesuaian sama tema www.salamatahari.com minggu ini ... hehehe ...

Nia Janiar mengatakan...

Iya, kebetulan nemu tulisan yang tepat aja buat ending-nya.

Siiip, meluncur ke sana!