Sabtu, 05 Juni 2010

Murderous Slasher of Psychopath

Saat itu di daerah Jalan Cipaganti, jam menunjukan pukul 16.45. Saya bergegas mengejar waktu sebisa mungkin karena biasanya jadwal menulis dimulai pukul 16.30, berati saya akan terlambat. Jalan Cipaganti dan Jalan Setiabudi sangat padat merayap luar biasa saat long weekend sehingga saya harus melindas aspal secepat mungkin (dengan penuh kesabaran :D ) untuk segera sampai di Reading Lights (RL)--pikir saya.

Begitu sampai, saya langsung memakirkan kendaraan kemudian bergegas menuju ke lantai dua. Menurut saya, cahaya di ruangan tempat peserta berkumpul itu cukup redup dibandingkan dengan cahaya di ruangan sebelahnya. Pada saat itu acara menulis sudah dimulai. Saat melangkah di lantai dua saya semakin antusias untuk ikut berkegiatan lalu menghampiri lingkaran peserta. Saya melihat peserta kali ini cukup banyak dibanding biasanya lalu menyusul beberapa peserta lainnya setelah saya seperti Sapta, Kiki, Dani, Arifin, dan Fadil. Ah, saya kira saya yang paling terlambat, pikir saya.

Tema kali ini adalah SLASHER. "Wah apaan nih?" tanya saya. Andika langsung menyodorkan selembar kertas dalam bahasa Inggris pada saya berisi panduan untuk mengungkap dan merangkai isi cerita yang akan dibuat mengenai slasher. Slasher adalah sebuah sub-genre dalam film horor dimana yang menjadi daya tarik dalam genre ini adalah aksi sang psikopat yang memburu mangsa, lalu menghabisinya dengan senjata, dan caranya masing-masing. Tentu saja biasanya yang menjadi sasaran adalah pria-pria idiot dan wanita-wanita berdada besar yang selalu lari tidak karuan atau bersembunyi di kolong meja jika sedang dikejar. Singkatnya saya langsung menorehkan tinta pada kertas notes setelah berpikir cukup lama untuk memahami dan mencari ide cerita.

Here is the show. Bagi saya ini adalah durasi terlama dari waktu yang biasanya diberikan Andika untuk menulis. Waktu hampir menunjukan pukul 7 saat cerita mulai dibacakan. Yang mendapat kehormatan untuk membacakan cerita pertama adalah Andika. Tulisannya cukup mengundang rasa keingintahuan saya terhadap ide pengambilan cerita dan tokoh-tokoh yang ia gunakan dalam tulisannya kali ini. Mungkin terinspirasi teroris yang bersebrangan dengan para muslim--gumam saya.

Andika menulis tentang seorang pria Protestan yang memiliki seorang nenek beragama Islam. Si pria tidak pernah sekalipun menginjakan kaki di surau sebelumnya. Hingga pada suatu hari neneknya menyuruh ia mengantarkan minuman ke surau untuk jamaah yang sedang mengaji. Di sana ia bertemu dengan seorang bapak-bapak bersorban yang menahannya untuk ikut sholat berjamaah bersama mereka tetapi si pria menolak keras hingga akhirnya hilang kesadaran karena pukulan keras dikepalanya. Saat sadar kembali, ia sudah diikat serta merasa akan "diislamisasi" tetapi karena tetap menolak si bapak-bapak bersorban itu menghukum dengan mencabut kuku si pria, tetap menolak keras dan si pria berkata 'Yesus', si bapak-bapak itu mengarahkan pisau ke dada si pria.

Sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi, datanglah suatu peristiwa yang akhirnya menyelamatkan si pria tersebut. Sebelum ia kehilangan kesadaran karena mencium terlalu banyak CO2, ia melihat seorang wanita renta menyelamatkannya. Saat ia tersadar kembali ternyata neneknyalah yang menyelamatkannya dari peristiwa kebakaran itu hingga si nenek meninggal.

Kini giliran saya yang membacakan cerita mengenai seorang psikopat yang berkepribadian ganda karena memiliki masa lalu yang kelam sebagai seseorang yang hampir dikorbankan pamannya untuk sesajen terhadap setan supaya si paman tetap memiliki kekuasaan memimpin sebuah sekte satanic. Sebenarnya paparan cerita yang saya tulis belum tuntas karena terlalu asyik dengan paparan detail-detail aksi si pembunuh.

Diawali dengan seorang pria yang mengejar-ngejar gadis hingga si gadis tertangkap dan hilang kesadaran saat itu karena hantaman yang besar dikepalanya. Saat gadis itu sadar, ia berada di sebuah ruangan yang bau, kotor, dan menjijikan. Ia terikat di atas ranjang elektrik yang bisa memutarnya ke segala arah hingga ia di posisikan vertikal terbalik lalu si psikopat mulai beraksi dengan menguliti pipinya dan kuping si korban satu per satu. Cerita yang saya bacakan baru saya tulis sampai disitu.

Pembacaan cerita kini beralih pada Sapta yang menceritakan tentang seorang wanita bernama Jasmine yang check in di sebuah hotel dengan seorang pria bernama Danesh untuk memadu kasih. Aktivitas ranjang mereka dimulai dengan permintaan Jasmine yang ingin melampiaskan hasratnya dengan style bercinta ala "penyiksaan". Danesh pun mengiyakan, membuka baju, dan pasrah saat tangannya diborgol oleh Jasmine dan diikatkan ke ujung ranjang sambil terlentang. Danesh tidak sabar melihat aksi Jasmine dan fantasinya mulai meninggi, Jasmine pun memang bukan wanita biasa karena ia langsung mengeluarkan tikus got yang sudah dipersiapkan untuk memenuhi fantasinya.

Serta merta Danesh mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya dan mencaci maki Jasmine atas tindakan gilanya. Danesh mulai panik dan Jasmine kegirangan, aksinya semakin menggila saat mengeluarkan pisau dan mengkebiri Danesh. Kemudian Jasmine mengangkat kursi dan meletakan ujung kaki kursi ke perut Danesh dan mendudukinya hingga perutnya terurai, kemudian ia juga membiarkan tikus got yang ia bawa itu untuk bekerja memenuhi titah tuannya. Setelah cerita dibacakan ruangan cukup ramai dengan komentar para peserta yang mengungkapkan ada unsur yang bisa dijadikan lanjutan dari stensilan atau sekretaris yang dendam terhadap bos nya. Tapi bagaimanapun juga ritme tulisan Sapta sangat rapi dari step awal hingga akhir cerita.

Para peserta semakin menahan nafas ketika cerita-cerita berikutnya dibacakan. Kini giliran Kiki yang duduk di sebelah Sapta dan Anggi yang membacakan cerita. Kiki membacakan cerita mengenai seorang siswi SMU bernama Lisa mendapatkan tugas untuk membersihkan laboratorium Biologi dan keadaan laboratorium saat itu kotor menjijikan. Ia membersihkan sisa-sisa bangkai amphibi yang digunakan untuk praktik dan baunya benar-benar sangat memuakan. Pada saat membersihkan LAB, ia menemukan percikan darah di sudut ruangan dan ternyata percikan itu berasal dari arah seorang guru biologi yang memiliki kelainan psikologis karena ia sedang memakan kodok dengan lahapnya. Degup jantung Lisa semakin kencang ketika melihat sebuah bola mata menggelinding melewatinya. Saat si guru biologi hendak beraksi dengan kegilaannya, Lisa melarikan diri tanpa mempedulikan apa yang telah terjadi pada dirinya mendapati keadaan tubuhnya yang terluka dan tusukan beling di tangannya.

“Tulisannya tidak mengada-ngada dan sangat realistis,” komentar Anggi. Andika manambahkan, “Sangat bersemangat dan menggugah.”

Para peserta semakin dimanjakan dengan cerita bertema slasher ini. Kini saatnya Dani yang membacakan cerita. Cerita diawali oleh seorang klien yang merasa puas sekali dengan baju yang ia gunakan saat fitting di sebuah studio tailor milik pria bernama Pak Hukong. Salah satu karyawan di studio tersebut yang bernama Andrew, merasa terkagum-kagum saat memperhatikan cara Pak Hukong mengepas baju klien yang pikirnya sangat sempurna hingga Andrew tidak tersadarkan sejenak saat Pak Hukong meminta Andrew untuk mencatat beberapa koreksi dari bagian baju yang dirasa masih belum sempurna.

Saat jam 10 lewat, tidak terasa bagi Andrew karena ia tertidur saat menunggu Pak Hukong yang belum pulang juga, terpaksa ia menerima tawaran Pak Hukong untuk menuju ruang studio bawah tanah dan mengerjakan pekerjaan tailor itu sendirian. Tetapi saat Andrew berhasil memasuki ruangan tersebut, sebuah keganjilan terjadi: Andrew melihat sebuah patung untuk mengepas baju yang terlihat begitu nyata seperti manusia. Ternyata patung itu adalah mayat manusia yang sudah diawetkan dan memiliki bentuk badan serta ukuran persis sempurna seperti si klien.
Cerita yang dibacakan Dani dengan sangat tidak terduga. Para pendengar dituntun perlahan untuk memasuki ketegangan pada klimaks yang luar biasa mengejutkan. Menurut salah satu peserta, penggunaan kalimat 'bau formalin yang menyengat' masih kurang tepat digunakan.

Kini saatnya Anggi yang membacakan tulisannya. Kisahnya mengenai seorang wanita yang berprofesi sebagai tour guide yng sedang memandu sekelompok anak remaja melihat-lihat gedung serta goa bersejarah. Ketegangan memuncak saat beberapa orang dinyatakan hilang. Kemudian ia dan temannya, John, mencari orang-orang yang hilang tersebut di dalam goa hingga mereka mendengar jeritan yang memekakkan telinga di dalam goa. Mereka pun menghampiri asal jeritan itu dan tercengang saat melihat sesosok makhuk bertaring, bermata merah, dan mengerikan, sedang melahap tubuh salah seorang korban yang sedang mereka cari. Mereka pun lari tidak karuan di dalam kegelapan itu hingga mendapati Lyn, salah satu rekan mereka, terbaring tidak berdaya dengan keadaan sudah tidak memiliki lagi dada yang selalu dibanggakannya. Di sebelah Lyn terdapat Jonas yang juga sama tidak berdayanya, mungkin karena ulah makhluk mengerikan itu. Saat mereka tercengang, si wanita semakin memekik ketakutan ketika melihat dengan mata kepala sendiri saat John berhasil disandera oleh makhluk mengerikan itu untuk dijadikan korban selanjutnya.

Seperti biasa paparan Anggi sangat rapi dan jelas sekali, setelah sebelumnya Anggi mengeluh untuk menyerah dengan tulisannya kali ini. Tetapi hasil cerita yang dibacakan Anggi justru menjebak dengan membuat peserta kagum dan tidak seperti yang dikeluhkan Anggi sebelumnya. Beberapa peserta berpendapat tulisannya pas sekali untuk cerita remaja seperti Fear Street.

Beranjak ke cerita selanjutnya milik Niken yang tentu saja sangat "psikologi" sekali seperti biasanya. Niken baik sekali dalam memainkan ritme ceritanya. Dimulai dengan seorang gadis bernama Sophie yang sedang mengamati ruangan dimana ia berada. Sophie berpikir ruangan ini sangat indah sekali karena dipenuhi dengan lukisan indah kesukaannya serta kolam ikan lengkap dengan ikannya. Tapi ia mulai sadar bahwa ada yang tidak beres di ruangan itu. Setelah beberapa lama, ia menyadari bahwa tidak ada pintu sama sekali di ruangan tempat ia berada sekarang sehingga membuat ia panik dan kelaparan di ruangan itu. Akhirnya dengan terpaksa untuk bertahan hidup, Sophie memakan ikan di kolam indah itu satu per satu hingga benar-benar habis.
Setelah 10 jam dan tidak ada yang bisa dimakannya lagi, dengan pikiran yang kalut, ia memutuskan untuk memakan daging tangannya sendiri. Awalnya merasa kesakitan hingga akhirnya ia memaksakan diri untuk menggerogoti dirinya sendiri hingga tewas. Didapati kedua tangannya sampai sikut hilang dan kakinya sampai lutut enyah. Sophie didapati tewas sebagai percobaan ke 7 maka dilanjutkan dengan korban pada percobaan selanjutnya yaitu percobaan 8.

Cerita Niken membuat saya cukup terkejut dan masih berbekas di benak saya mengenai cerita kegilaan percobaan manusia yang dilakukan si psikopat.

Meskipun reaksi para peserta saat mendengarkan cerita masih dibarengi dengan ringisan tanda mereka terbawa suasana kengerian, tapi peserta mulai terbiasa dengan aksi-aksi psikopat, dan kini saatnya tiba bagi Maknyes untuk membacakan cerita.

Yoga, salah satu editor senior sebuah majalah, disekap duduk di kursi berbahan sintetis dengan keadaan telanjang bulat dalam sebuah ruangan studio yang sangat dingin sekali. Sebelumnya ia sempat hilang kesadaran sebelum terbangun di ruangan itu.

Sesosok pria berpotongan rambut asimetris dengan rantai-rantai di saku celananya, ciri khas anak band, memasuki ruangan dan mulai mengoceh terhadap Yoga tentang ketidaksukaannya terhadap tulisan yang dibuat Yoga mengenai band-nya yang dianggap kampungan di majalah tersebut karena, dalam tulisannya, Yoga cukup piawai membeberkan kealergiannya terhadap band si pria itu.

Untuk melampiaskan kekesalannya yang sudah memuncak, si pria menempelkan earphone ke telinga Yoga dengan volume suara yang paling full hingga gendang telinga Yoga pecah dan membuat ia sempat hilang kesadaran beberapa saat lalu terbangun lagi dengan keadaan tuli. Belum puas dengan aksinya, kali ini si pria memotong jari jemari Yoga dengan golok hingga Yoga hilang kesadaran lagi. Setelah Yoga terbangun untuk kesekian kali aksi gila, kegilaan si pria semakin memuncak saat menggunting kedua pipi dari mulut Yoga.

Cerita Maknyes seperti biasanya sangat menghibur para peserta dengan ide yang dipaparkan berhasil mencampuradukan kengerian dan humor. Menurut beberapa peserta performance tokoh psikopat yang digambarkan mirip dengan Rizky The Titans. Tetapi saya justru punya pendapat lain karena saya berpikiran sosok itu mirip dengan Andika Kangen Band yang juga memiliki rambut asimetris.

Para peserta kali ini dibuat semakin penasaran dengan cerita selanjutnya yang akan dibacakan oleh Mahel dimana ceritanya kental akan unsur tradisional: dua wanita berkebaya dan berkonde ala jaman penjajahan berada di sebuah ruangan. Salah satu dari wanita itu adalah Arimbi dengan keadaan perut yang besar karena hamil tua dan cucuran air mata yang tiada hentinya karena ia disekap di ruangan itu. Wanita lainnya lagi bernama Nyai Anastasi yang memiliki dendam kesumat terhadap Arimbi karena suaminya yang telah membuat Arimbi hamil. Tanpa belas kasih, Nyai Anastasi membelek perut Arimbi dan mencabik-cabik isi di dalam perut itu dengan sadisnya serta mengambil jabang bayi yang ada didalamnya. Bayi itu dipotong dadu dan daging segar dari si bayi di hancurkan seperti minuman jus oleh Nyai Anastasi kemudian diserahkan kepada suaminya bernama Suwondo untuk diminum sampai habis.

Suwondo yang telah menggauli 100 wanita itu pun tiada berdaya memenuhi titah Nyai Anastasi yang kejam untuk meminum cairan segar yang berasal dari daging si jabang bayi. "Jangan macam-macam dengan waria," ujar Nyai Anastasi kepada Suwondo. Kekejamannya sangat mewakili adegan slasher. Mahel menambahkan mengenai pengertian waria, "Persepsinya tergantung pada masing-masing pendengar dan pembaca," ucap Mahel.

Regi, peserta writer's circle selanjutnya, mendapatkan bagian untuk membacakan cerita setelah menunggu 8 peserta lainnya selesai membacakan cerita masing-masing. Kali ini Regi menceritakan tentang seorang putri kerajaan yang tertidur seperti sleeping beauty. Hingga tibalah seorang pangeran yang akan mencium si putri untuk membuat si putri sadar kembali dari tidurnya. Namun nafas si putri busuk sekali hingga ia tidak kuasa untuk menciumnya. Sebelum si pangeran mendaratkan ciumanya, si putri membelalakan mata dan berkata, "Mana ciumanku?" sambil menjulurkan lidahnya yang panjang dan mengerikan semua orang yang berada di istana ketakutan dan berlarian kesana kemari. Si pangeran mati oleh juluran lidah si putri yang panjang dan mematikan akhirnya satu persatu pengawal dan orang-orang yang berada di istana mati karena ulah sadis si putri. Hanya satu pria yang tersisa di istana itu dan ia tiba-tiba kehilangan kesadarannya. Saat si pria bangun, ia sudah berada di samping si putri yang mengerikan itu. Si putri lalu berkata "Mana ciumankuuuuu????"

Menurut Sapta, putri kejam ini digambarkan seperti Putri Syalala dan teko ajaib menurut Sapta. Sedangkan menurut saya, saat si putri berkata “Mana Ciumanku???” membuat saya cukup terusik dan discomfort karena saya membayangkan wajah putri mengerikan itu sama menyebalkannya seperti Ratu Hati berkepala besar yang merupakan tokoh antagonis di Alice in Wonderland.

Akhirnya tiba waktunya para peserta untuk bernafas lega setelah pembacaan cerita terakhir yang disampaikan oleh Arifin selesai dibacakan. Arifin sangat piawai dalam mendeskripsikan adegan slasher yang sangat mengerikan itu, sehingga dalam ceritanya ia langsung fokus terhadap penjabaran detil-detil dari kengerian yang dilakukan si psycho killer seperti dalam adegan serial killer di film-film yang membuat bulu kuduk bergidik.

Tema kali ini membuat para peserta keluar dari comfort zone-nya masing-masing, namun demikian ternyata para peserta mampu dan cerdas sekali menungkapkan ide cerita meskipun mungkin sebagian dari mereka tidak menyukai tema seperti ini.



Resti S Tarbandi. Seorang Auditor dan mahasiswi yang menyukai hal-hal berbau seni meskipun dirinya bukan seniman. Menulis merupakan alat untuk mencurahkan beberapa hal yang sering terlintas dibenaknya yang terkadang tidak bisa diungkapkan kepada orang lain secara verbal. Ia sangat tertarik sekali terhadap tulisan-tulisan yang berbau teori konspirasi.

7 komentar:

cempedak mengatakan...

tampak menyeramkan, keringetan sendiri bacanya, hahahaha

Pradana P.M. mengatakan...

Beuh. Nama penjahitnya Holcombe euy. Bagus-bagus kok dijadiin "Hukong...."

Andika mengatakan...

gw suka jurnal ini, komplit, hehehe..

Anonim mengatakan...

7 halaman, Dik!

Anw, ada yang gue mau tanyakan:
@Niken: Orangnya terjebak 10 jam? Sebegitukelaparannyakah?

@Mahel: Gue agak terkejut lalu ngakak pas baca kata waria. Entah mengapa.

@Sapta: Gue suka karya lo, Ta!! Tikus got mengingatkan gue pada film Taking Lives.

@Kiki: Berarti orang2 yang suka makan swike itu memiliki kelainan psikologis? Hehe.

@Regie: Gue ngakak banget baca "Mana ciumankuuuu??" Nafsu abis :D



Nia
mynameisnia.com

white-demon-fox mengatakan...

kok cerita yang ditulis di jurnal kayaknya lebih serem daripada yang gue tulis yaa????

hihihihihihiihihi

Talitha Mafachir mengatakan...

kapan gw gabung kalian yah....aduuuh ga sempet aja nih....njessssssss kangen sama lo deh!

G4reeLa mengatakan...

Nia, orangnya sih udah kekurung berhari2. 10 jam itu adalah jarak dari si tokohnya makan yang terakhir kali sebelum dia memutuskan makan tanggannya sendiri.

Baiklah, sekarang gw mau narsis. Berhubung gw bangga banget atas keberhasilan gw menulis sesuai tema, maka tulisannya udah gw publish di http://g4reela.blogspot.com/ dan di http://nniikkeenn.multiply.com/journal/item/93/Akibat_Slasher?replies_read=8

hahah!