Rabu, 28 April 2010

Catatan Panjang: Kartu Pos dan Sang Pencipta Konflik

Pertemuan writers’ circle kali itu terdiri dari dua sesi. Di sesi pertama, kami diminta untuk menulis sebuah pesan kartu pos. Demi mendengar tema itu, semua peserta tercenung beberapa saat. Beberapa orang, seperti saya, Uli dan Dea, sampai merasa perlu untuk menggambar kartu pos itu sendiri, lengkap dengan tempat perangko dan tempat menulis alamat, untuk memperkirakan panjang tulisan yang harus dibuat. Selain harus mempertimbangkan ruang yang tersedia, kami juga dituntut untuk berpikir keras agar dapat memunculkan sesuatu yang bermakna dari tulisan sependek itu. Inilah hasilnya:


Nia mengirim kartu pos kepada seseorang bernama Umbra di Amerika Serikat. Pilihan nama yang tidak biasa ini membuat saya bertanya apakah nama ini berhubungan dengan istilah Umbra dan Penumbra. Namun, ternyata nama ini hanyalah nama pertama yang terlintas di benak Nia tanpa ada kaitan apapun dengan apa yang saya kira. Nia memberitahu Umbra bahwa foto-foto yang ia terima darinya telah ia simpan dengan baik di sebuah tempat tersembunyi, di dalam laptop, di dalam sebuah hidden folder dengan password khusus, yaitu sebuah “tanggal ketika kamu sadar bahwa kamu tidak lagi muda.” Tulisan Nia ini membuat peserta lain berspekulasi tentang apa objek foto-foto tersebut. Saya cenderung menduga bahwa itu adalah foto-foto affair mereka berdua. Uli berfantasi lebih jauh dengan mengungkapkan dugaannya bahwa foto-foto tersebut adalah foto-foto pembunuhan. Di tengah dugaan-dugaan “binal” kami, Nia memilih untuk menyimpan jawaban misteri tersebut untuk dirinya sendiri.

Dika menulis pesan yang cukup panjang dan memakan waktu yang cukup lama untuk menulisnya sehingga beberapa anak berseru, “Dika curaaaang!” Dika menulis untuk seseorang bernama Ezra, bercerita bahwa ia terkenang akan sosok orang tersebut ketika mereka duduk berdua di Canary Bakery seraya memandang hujan berdua. Dika juga mengenang perasaannya saat menatap Ezra dalam momen-momen itu. Tulisan Dika, persis seperti yang saya curigai sebelumnya, mengandung deskripsi tempat dan suasana yang sangat kaya alias rich description. Dika hanya tersenyum lebar ketika antisipasi saya tersebut terbukti benar. Oya, saya sendiri merasa bahwa tulisan Dika kali ini sangat romantis.

Sapta menulis tentang pengalamannya menyambangi Jawa Tengah dan Jawa Timur beberapa waktu sebelumnya. Tidak seperti para peserta yang lain, ia mengirim beberapa kartu pos sekaligus, yang pertama dari Solo, di mana ia bercerita tentang lampu-lampu eksotis yang ditaruh dalam sangkar burung, yang langsung mengundang kekagumannya. Dari Semarang, ia menyinggung soal banyaknya “kucing” di sana dan bercerita tentang sebuah “gereja hantu” yang selalu gagal ia abadikan dalam foto. Dari Jogja, ia mewanti-wanti temannya agar berhati-hati karena harga barang-barang di sana mahal-mahal dan juga karena “tukang becaknya membunuh kita dengan senyuman.” Di akhir cerita, Sapta memberi tahu para peserta yang masih belum mengerti bahwa istilah “kucing” di Semarang itu sebenarnya merujuk pada gigolo.

Semua peserta mendapati hal ini sebagai informasi yang sama sekali baru. Uli mempertanyakan korelasi antara kucing dan gigolo (sebagaimana PSK perempuan dan kupu-kupu). Dea mencoba menjawabnya dengan menghubungkan kucing dengan “tukang nyolong”. Tapi, bahkan hingga pertemuan berakhir, pertanyaan tersebut masih belum terjawab. Imajinasi Sapta yang lumayan liar hari itu mengandaikan dibuatnya sebuah film hitam putih tanpa suara yang bercerita tentang seorang buronan yang bersembunyi dari kota ke kota dengan hanya meninggalkan jejak berupa kartu-kartu pos. Hmmm... sebagai tambahan, foto-foto eksotis petualangan Sapta yang menunjukkan lampu sangkar burung, gereja hantu, dan restoran pembuat kantong bolong itu dapat dilihat di akun facebook-nya lho!

Hakmer, yang perhatiannya saat itu lebih tersita oleh apa yang ia lakukan di dunia maya, akhirnya bersedia juga untuk menulis. Ia mengirimi seorang “gadis misterius” (sebut saja namanya Mawar) sebuah kartu pos dari Venice, di mana ia bercerita tentang pemandangan di sana (Gondola! Gondola! Gondola!). Nada pesan di kartu pos Hakmer cukup sendu. Meskipun berada di salah satu tempat paling romantis sedunia, ia malah mengungkapkan ketidakpuasannya yang sudah mencapai tahap akut. Di akhir pesan, Hakmer mengungkapkan harapannya untuk dapat sesegera mungkin bertemu dengan Sang Gadis. Isi hati Hakmer terpatri jelas dalam tulisannya kali ini, meskipun identitas Mawar tetap tidak diketahui hingga akhir cerita, bahkan hingga akhir pertemuan hari itu.

Kali ini, saya menulis untuk Hakmer, entah kenapa. Saya mengirimi Hakmer kartu pos dari Jepara, kota persinggahan untuk mencapai Karimun Jawa yang merupakan tujuan liburan impian saya. Ceritanya, saya menemukan kartu pos lucu bergambar seseorang yang sedang tenggelam di samping sebuah perahu (ironis, karena esok harinya saya harus naik speedboat untuk sampai ke Karimun Jawa). Saya menuliskan harapan saya untuk tidak tenggelam dalam perjalanan, sebagaimana saya berharap agar Hakmer tidak “tenggelam” di tempatnya berada saat itu karena menurut saya, “semua cinta, baik yang Eros-like maupun Platonis, selalu memiliki kekuatan untuk menenggelamkan.”

Dea menulis pesan kartu pos yang sangat unik, bercerita kepada seseorang tentang keberadaannya di sebuah tempat bernama Pulsang, yang ternyata singkatan dari Pulau Pisang. Dea bercerita tentang betapa menyenangkannya Pulsang itu, bagaimana di sana terdapat banyak sekali jenis pisang, dan bagaimana Dea berpikir bahwa sang penerima kartu pos akan senang sekali kalau bisa ke sana. Siapakah sebenarnya penerima kartu pos itu? Dea menyebutnya Onde, lagi-lagi sebuah nama yang tidak lazim. Menjawab rasa penasaran kami, Dea tiba-tiba mengeluarkan sebuah boneka monyet dari tasnya: Onde!!! Onde alias “Onyetnya Dea” pun menjadi tamu kami sore itu. Uli berkomentar bahwa tulisan-tulisan Dea menimbulkan perasaan ringan dan “enak” baginya sementara bagi Sapta yang telah membaca Salamatahari, tulisan-tulisan Dea selalu bernada optimis, tidak seperti penulisnya yang tampak agak depresif. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa Dea menulis ketika tidak sedang depresi dan membiarkan sisi-sisi depresifnya tidak terekam dalam tulisan.

Menulis tentang tulisan Uli kali ini tidak mudah, terutama karena tulisan di jurnal ini tidak akan mampu menggambarkan emosi yang tumpah ruah saat Uli membacakan tulisannya. Kartu pos Uli berasal dari Opa Uli yang telah meninggal sepuluh tahun yang lalu. Opa menyapa Uli, cucu tercintanya di Bumi, dan menyampaikan nasihat-nasihatnya yang bijak khusus untuk Uli.

Di tengah-tengah pembacaan tulisannya, Uli tidak bisa menahan air matanya hingga ia terpaksa berhenti sejenak. Pembacaan tulisan Uli sempat diambil-alih oleh Dea sampai Uli merasa mampu untuk melanjutkannya. Uli terkenang akan sosok Sang Opa, seorang dosen artistek Unpar yang juga penyuka sastra dan ilmu-ilmu sosial. Di mata Uli, Opa-nya lumayan galak, namun penyayang. Dalam ceritanya, nasihat Opa yang paling menyentuh bagi Uli adalah berikut ini: “....teruslah belajar, teruslah mencintai, dan jangan menyimpan dendam yang hanya akan melelahkanmu.” Menurut Uli, akhir-akhir ini ia memang cenderung cepat marah sehingga akhirnya lelah sendiri. Dika mengajukan tafsirannya mengenai tulisan Uli, yaitu bahwa Uli menasihati diri sendiri melalui suara Opanya. Sementara itu, para peserta lain tampak terlalu terserap dalam suasana haru saat itu sehingga tidak dapat mengomentari tulisan Uli, kecuali Hakmer yang berpendapat bahwa tulisan Uli sangat sentimental dan “eksistensialis” (apapun maksudnya) sehingga membuatnya “merasa sedikit manusiawi” hari itu.

Dalam pertemuan kali ini, Dani membuat pengakuan bahwa ia “mencuri kesempatan” untuk memasukkan tulisan kali ini ke dalam plot cerita yang telah ia buat sebelumnya. Seorang gadis bernama Anya mengirimi Yan sebuah kartu pos yang berisi pemberitahuan akan kepulangannya ke Indonesia, meskipun ia sudah diperingati oleh Yan untuk tidak berbuat demikian. “Aku sudah bosan dilindungi,” begitu kata Anya yang sudah membulatkan tekad akan menghadapi apapun yang mungkin terjadi di sana, termasuk serangan teroris yang menurut Yan mungkin akan harus dihadapinya. Nada tulisan Dani kali ini, menurut beberapa peserta, sangat feminin, tercermin antara lain dalam “Salam Sayang” yang menjadi penutup pesan Anya untuk Yan. Nada tulisan Dani kali ini sedikit terlalu formal bagi selera Hakmer, sementara Uli berpendapat bahwa formalitas dalam tulisan tersebut justru cocok dengan setting cerita tertentu, misalnya setting tahun 80-an.

Di sesi kedua, kami diharapkan untuk menulis tentang seorang karakter yang sangat menginginkan sesuatu, tapi di akhir cerita tidak mendapatkan sesuatu yang sangat ia inginkan itu.


Dika bercerita tentang seorang laki-laki bernama Rahmat yang akan berkencan dengan seorang gadis bernama Aisyah. Ia melakukan berbagai “ritual” seperti mencuci motornya bersih-bersih, berpakaian yang rapi, menyemir sepatu pantalonnya sampai mengkilat, memakai parfum banyak-banyak, dan berdoa agar cuaca hari itu cerah secerah-cerahnya. Tak disangka tak dinyana, di tengah jalan hujan turun dengan amat deras sehingga ia terlambat sampai di rumah Aisyah. Meskipun beberapa peserta, seperti Hakmer dan Sapta, berharap bahwa cerita itu akan berakhir tragis (misalnya dengan ketiadaan Aisyah), Dika memberi Rahmat sebuah happy ending, di mana Aisyah malah mengajaknya menikmati secangkir teh sambil menunggu hujan reda. “Lalu, apa hal yang sangat diinginkan Rahmat, yang pada akhirnya tidak tercapai olehnya?” tanyaku penasaran. “Ya, cuaca yang cerah!” jawab Andika, lalu mengeluarkan senyumnya yang khas sambil memandangi saya seakan-akan saya -- dengan sangat tidak bertanggung jawab -- telah melewatkan keseluruhan inti ceritanya. Baiklah, Dika...

Sapta menulis tentang seorang karakter bernama Ajal yang memiliki seorang teman perempuan bernama Ovo, yang dulu pernah sangat cantik sebelum ia harus terbaring di ICU dengan tubuh kurus kering dan darah yang terus mengalir dari sela-sela kakinya. Ajal berteman baik dengan Ovo, meskipun mereka nyaris tidak pernah berbicara dan meskipun Ovo “tidak segadis statusnya” karena Ovo adalah seorang gadis malam. Dalam kondisinya yang genting itu, Ovo bercerita pada Ajal tentang impian-impiannya, salah satunya adalah untuk pergi ke tanah suci bersama Ibundanya. “Sudah tidak bisakah, ‘Jal?” tanya Ovo pada Ajal. Ajal tidak bisa berkata apa-apa hingga akhirnya Ovo meninggal dunia.

Kali ini, Sapta kembali memberi kami “kengerian a la Sapta” karena ia membacakan cerita yang tragis ini sembari tersenyum-senyum. Dika berkomentar bahwa ia menyukai metafor-metafor yang digunakan Sapta. Saya sendiri sudah bisa merasakan kekhasan tulisan Sapta, yaitu dalam kebiasannya menggunakan untaian frase sedemikian rupa hingga saya merasa “terbanting”, misalnya dalam kalimat ini: “...karena Ovo adalah hidup, Ovo adalah lampu malam, Ovo adalah seorang pelacur.” Pemilihan kata “pelacur” yang begitu banal di akhir kalimat ini, setelah sebelumnya menggunakan berbagai metafor yang cukup dalam, sungguh khas Sapta.

Opik, a new guy to me, menulis tentang seorang gadis yang impiannya adalah melanjutkan S-2 di Belanda. Gadis itu bercerita panjang lebar tentang rencana-rencananya yang membuatnya terpesona. Namun, gadis itu tidak pernah mencapai impiannya tersebut karena sesuatu alasan, yaitu “tiiiiiiiiiiiit” (original censor by Opik). Opik hanya memberi tahu kami bahwa gadis itu sudah pergi ke surga, dan bahwa ia meninggalkan nasihat ini untuknya: “Jangan kalah dengan kondisi jika kau mau mencapai apa yang kau cita-citakan.”

Dika dan Uli berkomentar bahwa tulisan Opik kali itu lain dengan tulisan-tulisannya sebelumnya, yang biasanya penuh dengan metafor. Mereka mencontohkan tulisan Opik yang pernah membuat seorang karakter pembantu bernama Anastasia, sesuatu yang tidak biasa. Menurut Opik, ia mencoba berubah karena teman-temannya pernah mengkritik dan menganjurkannya agar tidak membuat tulisan yang “membuat orang yang membaca mengernyitkan dahi.” Tapi, Uli dan Sapta berpendapat bahwa semakin berkernyit dahi orang yang membacanya, semakin baguslah tulisan itu. Sementara itu, Nia berpendapat bahwa tidak apa-apa menggunakan bahasa yang lebih sederhana. Lagipula, ide tulisan Opik menurutnya sudah tidak biasa.

Nia menulis tentang seorang fotografer persisten yang sangat menginginkan foto Gunung Tambora yang sedang mau meletus. Sang fotografer nekat kemudian menyewa seorang tukang perahu yang juga nekat untuk berperahu ke dekat Gunung Tambora yang sedang terbatuk-batuk itu demi mengambil gambarnya dari dekat. Ia harus membayar mahal untuk kenekatannya itu: perahu mereka terbalik tepat ketika Tambora mengeluarkan letupannnya yang penuh keindahan!

Tulisan Nia kali ini penuh dengan detail geografis (yang membuat saya kagum karena saya sangat bodoh dalam hal itu), namun sekaligus terasa puitis. Gaya pembacaan Nia selalu menjadi hiburan tersendiri karena ia bisa membuat peristiwa yang paling tragis sekalipun (terbaliknya perahu dan raibnya si tukang perahu) menjadi sesuatu yang memancing tawa kami. Dani bahkan berkomentar bahwa cerita itu adalah “cerita orang mati yang menyenangkan.” Nia juga mampu membuat Gunung Tambora seakan-akan hidup dan “beradu tanding” dengan si fotografer nekat. “Seakan-akan di antara Gunung dan orang itu ada emosi dan saling berlomba,” komentar Uli. Untuk merasakan hiburan ganda dari Nia ini, kamu benar-benar harus datang dan mendengar sendiri Nia membacakan tulisannya!

Dani memulai pembacaan ceritanya dengan sebuah autokritik. Menurutnya, ia salah memilih POV (point a view) dalam ceritanya kali itu. Dani menulis tentang seorang relawan Oxfam yang bertengkar dengan seorang korban bencana alam yang memotong antrian untuk mendapatkan semangkuk bubur. Sang relawan menyuruh pemotong antrian tersebut untuk kembali ke dalam antrian sementara sang pemotong antrian berkeras untuk mendapatkan bubur dengan caranya sendiri. Mereka berdua bertengkar hingga akhirnya memicu bentrokan fisik yang berakhir dengan tersenggolnya panci bubur (poor portridge!). Dani berpendapat bahwa tulisan tersebut akan lebih bagus jika ia memilih sudut pandang orang pertama, baik sudut pandang sang relawan maupun sang pemotong antrian, hanya saja ia merasa malas untuk mengubah cerita yang telah mulai terbentuk itu. Uli pun mendukung pendapat Dani. Terlepas dari persoalan sudut pandang dalam cerita, Dani (seperti biasa) berhasil membangun adegan pertengkaran itu dengan baik sehingga membuat saya bisa membuat bayangan yang sangat hidup di kepala saya.

Kali itu, Uli kembali menulis tulisan yang mengandung kritik sosial. Uli bercerita tentang sepasang suami-istri di Singapura yang sangat sukses secara finansial, Mr. dan Mrs. Lim, yang tengah berjuang untuk mendapatkan “sesuatu yang sangat berharga” lewat seorang agen lelang. Uli menggambarkan dengan penuh detail betapa di tengah kesuksesan pribadi serta kemajuan dan kemakmuran negara mereka, pasangan tersebut jauh dari kondisi berbahagia. Pada akhirnya, mereka gagal mendapatkan apa yang sangat mereka inginkan tersebut, seorang bayi cantik bermata sipit, bayi Indonesia keturunan China untuk melengkapi keluarga mereka.

Dani dan Dika berkomentar bahwa Uli selalu membuat tulisan yang mengandung “kritik sosial yang gimanaaaa gitu.” Saya sendiri tidak bisa berkomentar apa-apa karena tulisan Uli selalu simply awesome. Sementara itu, penggunaan kata chinese dalam tulisan Uli yang berbahasa Indonesia mengundang protes Dani dan pada akhirnya memicu perdebatan yang cukup hangat (dan lama) tentang penggunaan yang benar dari kata Cina, China, Chinese, dan Tionghoa (sementara saya berkali-kali menendang kaki Andika di belakang meja).

Dea masih menulis tentang Onde. Kali ini, ia bercerita tentang bagaimana Onde tergeletak tidak berdaya di atas tempat tidur ketika dirinya pergi. Betapa Onde ingin dapat melakukan hal-hal yang tidak dapat ia lakukan dalam bentuknya saat itu. Dea yang biasanya membuatnya hidup sedang tidak ada dan ia benci keadaaan itu.

Tulisan Dea bisa membuat saya membayangkan perasaan ketidakberdayaan yang besar jika kita tidak bisa menggerakkan tubuh kita sendiri. Saya sendiri mempunyai boneka tangan yang bernama Popo, tapi saya tidak pernah berpikir untuk membuatnya menginginkan atau tidak menginginkan sesuatu. Dea memang super kreatif!

Hakmer menulis sesuatu yang serius kali itu (memangnya dia pernah menulis sesuatu yang tidak serius?). Ia bercerita tentang seorang anak, Joni, yang harus menerima kenyataan bahwa dalam hidup, ia tidak bisa selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, sebagaimana dinyatakan oleh Rolling Stone dalam salah satu lagunya. Joni ingin es krim, ingin sepeda, dan beberapa hal lainnya, namun ia malah dimarahi oleh mamanya. Kemudian, Joni merepresi semua hal yang ia inginkan dan mengembangkan sebuah kompleks di mana ia berbalik membenci dan merasa jijik akan hal-hal yang dulu sangat ia inginkan, seperti es krim dan sepeda itu.

“Anak kecil dengan motivasi yang menyeramkan,” komentar Uli. Pribadi Joni dalam tulisan Hakmer memang terasa agak gelap, meskipun Uli berpendapat bahwa anak-anak sekarang memang “menyeramkan,” misalnya anak yang kecanduan merokok pada usia balita atau anak-anak SD yang tawuran sambil membawa-bawa pedang. Tulisan Hakmer, sebagaimana dicermati Uli, mengandung beberapa kalimat yang berima, membuatnya selalu terdengar puitis.

Pertemuan hari itu ditutup oleh penjelasan Andika tentang tema menulis yang diberikannya kali itu. Menurutnya, tema pertama dimaksudkan untuk melatih kami agar dapat membuat tulisan pendek yang berisi, sedangkan tema kedua adalah latihan bagi kami untuk bisa membangun konflik dalam cerita. “Perbedaan antara apa yang kita inginkan dan kita dapatkan adalah cara termudah untuk membangun konflik dalam cerita,” kata Dika. Saya setuju dengan pendapat Dika, sementara Dani berpendapat bahwa lebih mudah baginya untuk membangun konflik secara alamiah seiring dengan perkembangan cerita daripada disuruh membangun konflik secara sadar. Begitulah pertemuan kami kali itu. Ide pertemuan kali itu datang dari Indra, yang meskipun sedang berada di Australia, ternyata tetap peduli pada kami dengan mengirimkan ide-idenya lewat e-mail pada Andika. Terima kasih, Indra :)




Anggalia Putri adalah seseorang yang baru mengantongi gelar S.IP (Sarjana Ilmu Pelet) dan menggandrungi tulisan-tulisan yang personal dan tulus. Mengakui ketidakmampuannya dalam mengolah alur cerita, sekarang ia berkonsentrasi pada pembuatan sketsa dan tulisan-tulisan berkarakter “still” dan tanpa arah.

3 komentar:

Andika mengatakan...

"...senyumnya yang khas sambil memandangi saya seakan-akan saya -- dengan sangat tidak bertanggung jawab -- telah melewatkan keseluruhan inti ceritanya."

Hahaha, perasaan elu aja, Nggi..

Anonim mengatakan...

Anggi hebat, laporannya detail sekali.


Nia
mynameisnia.com

yusufsaragih mengatakan...

tulus... wajah nya..)