Rabu, 13 Januari 2010

Masa Lalu yang Tidak Pernah Mengkristal

Banyak orang tidak suka hujan karena hujan membuat mereka tidak leluasa bergerak. Tapi aku suka sekali dengan hujan. Jika hujan tiba, hal yang paling suka aku lakukan adalah tidur di kamar sambil mendengarkan musik klasik dengan jendela dan pintu kamar yang terbuka. Menikmati tetesan air hujan yang jatuh menabrak ubin lalu memental membentuk percikan-percikan kecil. Tetesan kecil itu kemudian ditabrak oleh tetesan yang lebih besar sehingga membentuk konfigurasi indah.

Sore tadi juga hujan tetapi tidak aku habiskan di kamar. Aku ingin mengunjungi klab nulis, tempat berkumpulnya orang-orang yang senang menulis. Aku tidak berharap banyak yang anggotanya ikut, mungkin saja mereka tidak datang karena masih dalam suasana tahun baru.

Keluar dari rumah, udara dingin, dan rinai menyergap. Aku berjalan cepat menembus serpihan-serpihan hujan, berjalan melewati jalan yang mendaki, ciri khas jalan kota ini. Berdiri di bawah kanopi tukang jualan makanan, menunggu datangnya angkot yang melewati jalan Siliwangi.

Di dalam angkot, aku ditanya, “Apakah ini angkot yang akan melewati GOR Pajajaran?”

Aku memandangnya, menelisik.

“Nonton bareng persib, A',” ia menukas cepat seperti mengetahui pikiranku.

Aku berpikir keras dan menjawab, “Salah, Mas, pake angkot yang biru yang arahnya berlawanan dengan angkot ini. Nah itu angkotnya.”

Orang muda itu mengucapkan terima kasih.

Sial. Ternyata angkotnya salah.

Reading Lights masih seperti dulu. Buku-buku berjajar rapi, beberapa gadis sedang ngerumpi, dan bau roti bakar menyeruak. Sambil menunggu anggota yang lain, aku berbicara dengan moderator klab nulis. Sebuah obralan khas orang yang sudah lama tidak bertemu. Dalam dua puluh menit ke depan, ia akan mengajak peserta untuk menulis tentang masa lalu - masa yang sedikit samar-samar karena ia begitu lama terabaikan. Kenangan pada usia tujuh tahun.

Kami duduk di atas sofa empuk berwarna merah marun. Kursi rotan yang dulu telah diganti. Kami duduk menghempaskan diri dan melompat pada kejadian tujuh tahun. Suasana menjadi demikian hening, tiba-tiba masa lalu menjadi demikian penting. Setelah albumnya dibuka, masa lalu menjadi warna warni.

Apakah kamu seorang lelaki yang pernah mencoba memakai celana dalam perempuan dalam keadaan terbalik? Apakah kamu pernah merasa terabaikan karena diperlalukan pilih kasih oleh seorang guru? Apakah kamu pernah merasa sedih karena pindah rumah? --- setidaknya itulah sebagian masa lalu yang dikeluarkan para anggota yang hadir pada saat senja yang sedikit kabur.

Aku tidak ingin menuliskan pengalaman-pengalaman itu detail dengan tokoh-tokohnya. Toh semua orang punya masa lalu yang bagaimanapun akan sulit untuk dilupakan karena ia akan terus membayangi di sepanjang perjalanan hidup seseorang.

Dulu aku pernah bertanya tentang tentang masa lalu. Apa pentingnya masa lalu karena, toh, hal yang nyata adalah saat sekarang. Pada akhirnya aku merasa bahwa masa lalu adalah tali penghubung antar waktu yang dimiliki manusia. Ia adalah pengantar manusia pada sesi hidup selanjutnya. Ketika aku menengok masa laluku, tiba-tiba masa lalu menjadi demikian penting karena masa lalu adalah tali kendali perilaku, bingkai perspektif, dan jejak karakter.

Beruntunglah mereka yang punya pengalaman mancing bersama kakek mereka di pantai, diantarkan oleh ayah mereka dengan sepeda tua untuk beli es krim ke kota karena mendapat juara sepuluh di kelas, atau dimasakkan oleh bunda sebutir telur sebagai hadiah ulang tahun. Sesungguhnya sial bagi mereka yang mendapatkan masa kecil mereka dengan pengabaian, hinaan, dan penolakan.

Masa kecil yang gembira dan penuh kehangatan itu telah kita bungkus dalam sebuah album yang bernama kenangan yang akan kita buka ketika jiwa-jiwa sedang lelah dan tertunduk lesu. Tak salah penyair mistik Lebanon, Gibran, berkata, “Kenangan adalah hadiah terindah yang dibawa kemana-mana.”

Andi Anas sudah lama tidak hadir di Reading Lights Writer's Circle. Kehadiran terakhirnya cukup membekas di hati para peserta yang hadir pada saat itu karena ia berkata bahwa ia sedang detoks musik. Musik - baginya - hanya akan membuat perasaan menjadi lebih senang atau lebih sedih. Tentunya ini mencengangkan karena banyak manusia yang tidak bisa terlepas dari musik. Pemikiran-pemikiran lain seringkali tercermin ke dalam tulisan-tulisan yang membawa angin filsafati dalam pesonanya sendiri. Inilah ciri khasnya.

4 komentar:

Siluman Rubah Regie mengatakan...

wah celana dalam kwkwkwkwwkwk..... hmmm, Anas banget nih review-nya ... seolah-olah Anas ga ikut terlibat ..... nicey ....

Nia Janiar mengatakan...

Iyah, Anas banget yah.

Sundea mengatakan...

Miss you all ...

Nia Janiar mengatakan...

De, kok enggak pernah ke RLWC lagi?