Rabu, 27 Mei 2009

Catatan Pinggir: Sabtu Sore. Dua puluh Tiga Mei

Aku keluar dari kamarku yang remang. Menyeret kaki yang terasa berat entah mengapa. Lima belas menit berlalu. Aku turun dari angkot dan mendapati dua orang lelaki yang telah lama ku kenal dari sebuah kelompok menulis. Kulihat Aji dan Andika. Aji yang memakai kaos kesukaannya membuat Andika berujar, “Macam-macam ya pakaian orang yang hadir di Reading Lights ini,’ ujarnya kemudian menyeruput minuman yang sudah mencapai dasar gelas.

Toko buku ini tidak terlihat tua walaupun panel raknya terbuat dari kayu. Buku-buku menempati raknya sendiri. Fiksi, non fiksi, dan majalah.

Di seberang sana para pegawai hilir mudik mengantarkan pesanan. Seorang pelayan yang sudah tampak tua dengan kumis tipis dan perut yang mulai buncit mendengar musik dari earphone yang ia pasang di telinga. Sesekali ia menggoyangkan kepala.

Dari lorong rak, muncul Yasraf Amir Piliang beserta seorang gadis dengan sepasang mata yang berbinar dan seorang perempuan berkudung berusia paruh baya. Mungkin anak dan istrinya. Si gadis duduk di atas kursi di depan kasir, Yasraf dan perempuan berkudung berdiri di sampingnya. Mereka menunggu beberapa buku yang sedang dihitung sementara pelayan dengan earphone di telinga sesekali tersenyum kepada mereka.

Di meja kami kini telah hadir Nia, teman kami. Setelah duduk sebentar, ia mengelilingi rak-rak buku dan berhenti di coffee corner untuk memesan sesuatu. Beberapa lama kemudian dua batang resoles yang cukup besar dan saus kacang diantarkan. Ia menyicipnya dengan kemayu. Tampaknya ia menikmati resoles itu. “Kita tunggu anak-anak lain sebentar lagi,” imbuhnya. Lalu ia melanjutkan upacara makannya. Aku curiga ia ingin kami tidak meninggalkannya begitu saja.

Sepuluh menit berlalu. Sekarang kami berempat sudah berada di sebuah ruangan lantai atas. Duduk dalam sofa yang empuk, dikelilingi oleh berbagai lukisan abstrak. Andika menjelaskan kalau tempat ini digunakan sebagai galeri.



Hari itu kami menulis tentang diskripsi. Selesai menulis, datang Rukmini. Gaya bicaranya begitu polos. Semua perasaan dari ujung katanya tumpah begitu saja, mengingatkanku dengan tokoh-tokoh dalam komik jepang. Ia menulis tentang dua orang yang makan di restoran yang sepi karena di lantai atasnya sedang di bangun hotel.

Seorang anggota geng nulis yang lain datang, ia adalah Uli. “Hari ini aku enggak nulis”. Kami mengangguk. Ia duduk manis di atas kursinya sambil menyeruput minuman yang entah apa namanya. Minuman dicampur dengan segelas kecil madu.

Seperti biasa, Andika menulis tentang seorang lelaki yang diseret penjaga kebun yang ternyata homo. Seharusnya nuansa cerita ini getir, tapi ia membuat atmosfernya terdengar komedikal. Dengan menamai penjaga kebun itu dengan tokoh Rudolfo saja, ia sudah terlihat kocak. Andika juga sesekali tertawa dalam membacakannya.

Nia menulis tentang perempuan yang bekerja sebagai guru pendamping untuk anak-anak yang sulit konsentrasi. Tokoh ayah dan ibu mengkritik tokoh utama dengan pertanyaan-pertanyaan pedas seperti kenapa anaknya sulit berubah. Pertanyaan ini ditanggapi oleh sang tokoh bahwa ia hanya memiliki dua setengah jam dalam seminggu. Presisi diksinya bagus. Ia seperti menulis pengalaman sendiri.

Sementara aku menulis tentang seorang lelaki yang tidak punya ikatan yang jelas dengan seorang perempuan. Dua tokoh yang sama-sama platonis.

Dan Aji keluar dari mainstream tulisannya. Ia yang semula terbiasa dengan tulisan tentang politik dan sepakbola, malah menulis tentang seorang mahasiswa yang suka sama mahasiswi yang ternyata lesbian.

Tulisan-tulisan dibaca. Lalu muncul komentar yang menggamit masalah lain. Awalnya tentang perempuan, diikuti perilaku over acting perempuan dalam masalah cinta, nyambung lagi dengan tema-tema lukisan Raden Saleh, dan bla-bla ...

Adzan magrib terdengar. Konsentrasiku hilang. Seseorang pernah berkata padaku bahwa pada pergantian waktu seperti saat itu turun para malaikat yang membawa hadiah dari Tuhan juga setan yang meniupkan imajinasi buruk pada kepala-kepala manusia.

“Baiklah kita tutup pertemuan kita”. Kata-kata Andika membangunku. “Minggu depan kita menulis tentang nonfiksi.” Tidak berapa lama kemudian, ia mengoreksinya, “Hampir lupa. Nggak jadi. Nggak jadi. Minggu depan, tanggal 30 Mei, ada workshop menulis roman yang diisi oleh dua orang penulis terkemuka. Datang ya!”

Matanya berharap.


- Anas -

2 komentar:

M. Lim mengatakan...

Anas, bagus sekali deskripsi jurnalmu ini :">

writerscircle mengatakan...

Iya, Anas memang bagus.